perkembangan peserta didik

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Remaja dalam bahasa aslinya disebut adolescence , berasal dari bahasa adolescene yang artinya tumbuh atau tumbuh untuk mencapai kematangan. Bangsa primitif dan orang-orang purbakala memandang masa puber dan masa remaja berbeda dengan periode lain dalam rentang kehidupan. Anak dianggap dewasa apabila sudah mampu mengadakan reproduksi. Perkembangan lebih lanjut mencakup kematangan mental, emosional, sosial,  dan fisik. (Siti Hartinah, 2008: 57-58)

Remaja berarti tumbuh untuk mencapai kematangan. Setiap manusia mengalami tumbuh dan berkembang, namun dalam proses tumbuh dan berkembang manusia memiliki  istilah atau sebutan yang berbeda. Seorang anak yang tumbuh untuk mencapai kematangan itulah yang disebut remaja. Kematangan yang dimaksudkan dalam hal ini adalah kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik. Seorang anak yang telah matang secara fisik dan mampu mengadakan reproduksi disebut remaja, untuk mengadakan reproduksi ini dipengaruhi oleh rentang usia anak tersebut. Seiring perkembangan fisik seorang anak, selalu diringi dengan perkembangan pola pikir seorang anak, seperti pengendalian emosi dalam proses menuju kedewasaan.

Masa remaja menurut Mappiare (1982) berlangsung antara umur 12 sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 sampai  dengan 22 tahun bagi pria. Rentang usia remaja tersebut dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu usia 12/13 sampai 17/18 tahun adalah remaja awal dan usia 17/18 tahun sampai 21/22 tahun, yaitu remaja akhir. (Siti Hartinah 2008:57)

Remaja sebetulnya tidak mempunyai tempat dalam golongan yang jelas. Mereka sudah tidak termasuk golongan anak –anak, tetapi juga belum dapat diterima secara peuh untuk masuk golongan dewasa. Oleh karena itu remaja seringkali dikenal dengan fase mencari jati diri . Remaja masih belum mampu menguasai dan memfungsikan secara maksimal fungsi fisik maupun psikisnya.

Remaja merupakan manusia yang selalu tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu remaja selalu mempunyai karakteristik. Pada masa remaja (12-18 tahun), proses tumbuh kembang di tandai dengan kematangan fungsi alat reproduksi(seksual) serta berfungsi nya system endrokrin (hormonal) yang berhubungan dengan fungsi  reproduksi. Pada masa ini juga terjadi peristiwa yang sangat penting juga memerlukan perhatian khusus, yaitu pubertas. Peristiwa tersebut akan dialami pada anak, baik laki-laki maupun perempuan, dengan ciri “menonjol” dari masing-masing jenis kelamin. Pada anak laki-laki ditandai dengan tumbuhnya rambut pubis serta membesarnya ukuran penis dan testis.Pada perempuan ditandai dengan peubahan ukuran buah dada dan tumbuhnya rambut pubis. (Aziz Alimul, 2006)

 

 

Pada masa remaja ini bayak dijumpai masalah karena masa ini merupakan proses menuju kedewasaaan dan anak ingin mencoba mandiri. Masalah yang sering dijumpai adalah perubahan bentuk tubuh, timbuhnya jerawat yang dapat menyebabkan gangguan emosional, adanya gangguan miopi, adanya kelainan kifosis dan scoliosis, penyakit infeksi, defisiensi besi khusus nya pada remaja perempuan, obesitas, kenakalan remaja, dan lain-lain. Perkembangn khusus yang terjadi pada masa ini adalah kematangan identitas seksual yang ditandai dengan berkembangnya organ reproduksi. Masa ini merupakan masa krisis identitas dimana anak memasuki proses kedewasaan dan meninggalkan masa anak-anak, sehinggan membutuhkan bantuan dari orang tua.

Masa remaja merupakan masa yang penuh dengan berbagai macam gejolak, sehingga orang tua, guru, masyarakat sekitar berperan penting sebagai pemberi pengawasan kepada anak yang menginjak dewasa. Pentingnya pengawasan karena masa remaja merupakan masa yang sedang berada di persimpangan jalan antara dunia anak-anak dan dunia dewasa.Pada dasarnya masa remaja lazimya berlangsung selama kurang lebih 11 tahun. Mulai usia 12-21 pada wanita dan 13-22 tahun pada pria.

 

 

 

Berdasarkan penjelasan diatas adapula karakteristik tentang remaja lain nya, yaitu :

  1. Konsep tentang adolescence

Pengertian dasar tentang istilah adolescence hanyalah petumbuhan ke arah pematangan. Banyak buku psikologi yang mendefinisikan adolescence dengan menunjuk kepada periode yang penuh dengan tekanan dan ketegangan(stress and strain), suatu periode dimana individu belum menjadi sesuatu.

  1. Keunikan remaja

Keunikan remaja terletak pada individu-individunya. Tampak jelas bahwa para remja dari keluarga yang sama memperlihatkan perbedaan-perbedaan dalam besar badan, intelegensi, minat dan sifat sosialnya.

            (Sitti Hartinah,2008:59)

Pertumbuhan dan perkembangan setiap remaja memiliki karakteristik yang berbeda, meskipun dalam satu keluarga. Mereka mempunyai keunikan tersendiri, sehingga menunjukkan jati diri seseorang yang berbeda antara satu anak dengan anak yang lainnya. Seperti berat badan, tingkat emosi, perilaku, dan daya, cipta, karsa antara si A dengan si B berbeda. Sehingga untuk mencapai prestasi dalam bidang akademik maupun non akademik tidak sama.

Salah satu ciri pokok dari kepribadian yang sehat mentalnya adalah memiliki kemampuan untuk mengadakan penyesuaian diri secara harmonis baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungannya. Penyesuaian diri merupakan usaha manusia untuk  mencapai keharmonisan pada diri sendiri dan pada lingkungannya sehingga rasa permusuhan, dengki, iri hati, prasangka, depresi, kemarahan dan lain-lain sebagai respons pribadi yang tidak sesuai dan kurang efisien bisa terkikis habis.( Dra. Rr. Soetjiati, 1997: 178–179 ).

Seorang anak yang sedang dalam proses tumbuh kembang harus mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan keluarga maupun lingkungan sekitar. Dalam hal ini mereka belajar bersikap dan mendapat pelajan pertama dan utama dari keluarga yaitu orang tua, itulah yang akan membentuk pembawaan seorang anak dan juga di pengaruhi oleh keadaan lingkungan sekitar, baik lingkungan edukatif dalam ruang lingkup pendidikan maupun ketika bergaul dengan teman nya.

  1. Rumusan Masalah
  2. Bagaiman deskripsi penyesuaian diri
  3. Bagaimana deskripsi tentang proses penyesuaian diri
  4. Bagaimana cara mengetahui karakteristik positif dan negatif tentang penyesuaian diri?
  5. Bagaimana cara mengetahui penyesuaian diri pada anak, anak sekolah dan remaja?
  6. Bagaimana implikasi penyesuaian diri terhadap penyelenggaraan pendidikan pada anak, anak sekolah dan remaja?

 

 

  1. TUJUAN
    1. Untuk mengetahui pengertian penyesuaian diri
    2. Untuk mengetahui proses penyesuaian diri
    3. Untuk mengetahui karakteristik positif dan negatif tentang penyesuaian diri
    4. Untuk mengetahui penyesuaian diri pada anak, anak sekolah dan remaja
    5. Untuk mengetahui implikasi penyesuaian diri terhadap penyelenggaraan pendidikan pada anak, anak sekolah dan remaja

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. 1.      Pengertian Penyesuaian Diri.

Penyesuain berarti adaptasi, yaitu dapat mempertahankan eksistensinya, atau bisa survive dan memperoleh kesejahteraan jasmaniah dan rohaniah, dan dapat mengadakan relasi yang memuaskan dengan tuntutan sosial. Penyesuaian diartikan sebagai konformitas, yaitu menyesuaikan sesuatu dengan standart atau prinsip. Penyesuaian diartikan sebagai penguasaan, yaitu memiliki kemampuan untuk membuat rencana dan mengorganisasi respon-respon sedemikian rupa, sehingga bisa mengatasi segala macam konflik, kesulitan, dan fristasi-frustasi secara efisien. Penyesuaian diartikan sebagai penguasaan dan kematangan emosional, yaitu secara positif memilliki respon emosional yang tepat pada setiap situasi. (Sitti Hartinah, 2011:184)

Jadi dapat disimpulkan bahwa, penyesuain adalah usaha manusia untuk mencapai keharmonisan pada diri sendiri dan pada lingkungannya. Mereka di tuntut untuk selalu bisa bersosialisasi dengan lingkungan sekitar sehingga tuntutan lingkungan sekitar mampu dilakukan beriringan dengan nilai yang berlaku dalam masyarakat. Sehingga penyesuaian diri dapat berjalan dengan pertimbangan dan kalkulasi dalam setiap tindakan yang dilakukan.

 

 

  1. 2.      Proses Penyesuaian diri

Proses penyesuaian diri merupakan proses bagaimana individu mencapai keseimbangan diri dalam memenuhi kebutuhan sesuai dengan lingkungan. Penyesuaian bersifat suatu proses sepanjang hayat (life long process),dan manusia terus menerus berupaya menemukan dan mengatasi tekanan dan tantangan hidup guna mencapai pribadi yang sehat. Penyesuaian yang sempurna tidak pernah di capai,karena penyesuaian yang sempurna terjadi jika manusia atau individu selalu dalam keadaan seimbang antara dirinya dengan lingkungannya dimana tidak ada kebutuhan yang tidak terpenuhi. (Siti Hartinah,2011 :184-185)

Respon penyesuaian secara baik atau buruk dapat dipandang sebagai usaha individu untuk memelihara kondisi yang seimbang. Dalam proses penyesuaian diri dapat muncul konflik, tekanan, frustasi, dan individu di dukung oleh berbagai kemungkinan untuk membebaskan dirinya dari berbagai ketegangan. Misalnya, seorang anak yang membutuhkan kasih sayang dari ibunya yang sibuk bekerja, tapi hubungan antara anak tersebut dengan ibu nya kurang kodusif. Sedangkan Anak tersebut membutuhkan perhatian penuh. Sehingga anak tersebut akan  frustasi dan berusaha menemukan pemecahan sendiri untuk membebaskan ketegangan atau kebutuhan yang belum tercapai. Dia akan mencari perhatian dengan jalan lain yang menurutnya dapat dijadikan sebagai pelampiasan.

 

 

 

  1. 3.      Cara mengetahui karakteristik positif dan negatif tentang penyesuaian diri

Perkembangan seorang individu tidak selalu dapat melakukan penyesuaian diri ke arah yang positif. Dalam perjalanan perkembangannya, dari masa kanak-kanak menuju dewasa, tentu ada hambatan-hambatan atau hal-hal yang harus dihadapi sebelum individu tersebut dapat melakukan penyesuaian diri. Hambatan-hambatan tersebut akan mempengaruhi proses penyesuaian diri terhadap lingkungannya. Jika individu tersebut mampu menghadapinya, maka ia akan mampu melakukan penyesuaian diri secara maksimal. Namun jika ia tidak mampu melalui hambatan-hambatan tersebut, ia akan mengalami proses penyesuaian diri ke arah yang kurang baik.

Berdasarkan uraian diatas, berikut akan dijelaskan mengenai karakteristik penyesuaian diri secara positif dan negative :

–          Karakteristik penyesuaian diri secara positif

Penyesuaian diri secara positif pada dasarnya merupakan perkembangan yang diharapkan terjadi pada setiap individu. Menurut Sitti Hartinah (2008: 186), penyesuaian diri secara positif ditandai hal-hal sebagai berikut :

  1. Tidak menunjukkan adanya ketegangan emosional
  2. Tidak menunjukkan adanya mekanisme-mekanisme psikologis
  3. Tidak menunjukkan adanya frustasi pribadi
  4. Memiliki pertimbangan rasional dan pengarahan diri
  5. Mampu dalam belajar
  6. Menghargai pengalaman
  7. Bersikap realistik dan obyektif

Dari sikap-sikap yang ditunjukkan diatas, dapat di tarik kesimpulan bahwa setiap pembawaan individu itu berbeda-beda karena dipengaruhi oleh lingkungan. Namun lingkungan yang positif dan pembawaan yang positif akan membentuk individu yang berperiku yang baik pula ketika mengaplikasikan nya dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam melakukan penyesuaian diri secara positif, individu akan melakukannya dalam berbagai bentuk, antara lain:

  1. Penyesuaian dengan menghadapi masalah secara langsung
  2. Penyesuaian dengan melakukan eksplorasi (penjelajahan)
  3. Penyesuaian dengan trial and error atau coba-coba
  4. Penyesuaian dengan subtitusi (mencari pengganti)
  5. Penyesuaian diri dengan menggali kemampuan diri
  6. Penyesuaian dengan belajar
  7. Penyesuaian dengan inhibisi dan pengendalian diri
  8. Penyesuaian dengan perencanaan yang cermat

            Tanda positif yang di bentuk untuk pembawaan seseorang akan diaplikasikan dengan suatu tindakan seperti diatas. Setiap kematangan proses kedewasaan seorang anak akan dibentuk bila mereka mengalami suatu masalah, karena dalam proses tumbuh kembang seorang anak akan mengalami krisis identitas dimana dibutuhkan sikap-sikap yang mendukung untuk selalu bertindak yang positif dalam setiap tindakan.

–          Karakteristik penyesuaian diri secara negatif

      Ketika seseorang tidak mampu mengendalikan dirinya secara benar, maka individu tersebut akan mengalami penyesuaian diri yang negatif. penyesuaian diri secara negatif ditandai dengan berbagai tingkah laku, yaitu :Tingkah laku yang serba salah, Tingkah laku yang tidak terarah, Emosional, Sikap yang tidak realistik, dan Agresif. (Sitti Hartinah, 2011:188)

  1. Tingkah laku yang serba salah

Seorang remaja yang memiliki penyesuaian diri negatif akan menunjukkannya dengan perilaku yang serba salah. Perilaku ini bisa berupa kebingungan untuk melakukan dan memutuskan sesuatu, tidak mampu mengambil keputusan meski ia tahu apa yang lebih baik dan seharusnya ia lakukan.

  1. Tingkah laku yang tidak terarah

Hal ini dapat dilihat dari perilaku remaja yang mudah terpengaruh oleh kebiasaan teman atau kelompoknya, atau tidak memiliki pendirian. Biasanya ia tidak berani dan tidak pernah melakukan sesuatu sendiri. Ia lebih suka menjadi pengikut dalam suatu kelompok karena ia merasa tidak mampu berdiri sendiri.

  1. Emosional

Sifat ini ditandai dengan sikap seorang individu yang mudah tersinggung bila temannya melakukan kesalahan kecil, atau mudah marah bila apa yang ia mau tidak dituruti. Ia juga mudah putus asa jika menemui hal yang sulit dipecahkan. Biasanya seorang individu yang emosional cenderung menyimpulkan sesuatu menggunakan perasaan dan mengesampingkan logika.

  1. Sikap yang tidak realistik

Individu yang mengalami penyesuaian diri yang negatif biasanya lebih senang berandai-andai, hidup dalam dunia imajinasi yang tinggi yang tidak mungkin terjadi jika dipikir secara logika. Ia senang membayangkan kehidupan layaknya artis di sinetron atau film di televisi.

  1. Agresif

Sikap ini dapat dilihat dari perilaku individu yang merasa dirinya paling benar dan ingin menguasai segalanya. Ia tidak ingin memberi kesempatan pada teman-temannya untuk mengemukakan pendapat. Jika ia tidak suka kepada seseorang, ia akan menunjukkan sikap permusuhan secara langsung.

Dari beberapa tingkah laku diatas, setiap individu akan memberikan reaksi tertentu. Ada tiga bentuk reaksi dalam penyesuaian diri yang negatif, yaitu : Reaksi bertahan, reaksi menyerang, dan reaksi melarikan diri.(Sitti Hartinah, 2011:188-189)

  1. Reaksi Bertahan

Reaksi ini dilakukan ketika remaja mengalami kegagalan , dan ia berusaha menutupi kegagalannya tersebut. Reaksi ini ditunjukkan dengan cara mencari-cari alasan untuk membenarkan tindakannya, melupakan hal-hal yang dianggapnya kurang menyenangkan dan memproyeksikan kegagalannya kepada pihak lain. Misalnya, seorang siswa yang tidak naik kelas mengatakan bahwa kegagalannya disebabkan oleh guru yang kurang menyukainya dan memberinya nilai kurang sehingga menyebabkannya tidak naik kelas.

  1. Reaksi Menyerang

Remaja yang mengalami penyesuaian diri negatif akan menunjukkan reaksi menyerang untuk menutupi kegagalan yang dialami. Reaksi ini ditunjukkan dengan tingkah laku seperti keras kepala dalam menerima kritik dari orang lain, berusaha membenarkan dirinya sendiri dan selalu ingin balas dendam serta menunjukkan sikap permusuhan.

  1. Reaksi Melarikan Diri

Dalam reaksi ini, remaja yang memiliki penyesuaian diri negatif akan melarikan diri dari segala sesuatu yang bisa menimbulkan kegagalannya. Reaksi ini ditunjukkan dengan berangan-angan, banyak tidur, mabuk-mabukkan, pecandu narkoba, hingga bunuh diri.

Faktor – faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri :

Penentu penyesuaian identik dengan faktor-faktor yang mengatur perkembangan dan terbentuknya pribadi secara bertahap. Penentu-penentu itu dapat dikelompokkan sebagai berikut:

  1. Kondisi-kondisi fisik, termasuk didalamnya keturunan, konstitusi fisik, susunan saraf, kelenjar, sistem otot, kesehatan, penyakit dan sebagainya.
  2. Perkembangan dan kematangan, khususnya kematangan intelektual, sosial, mora, dan emosional.
  3. Penentuan Psikologi, termasuk di dalamnya pengalaman, belajarnya, pengkondisian, penentu diri (self-determination), frustasi, dan konflik.
  4. Kondisi lingkungan, khususnya keluarga dan sekolah.
  5. Penentu cultural termasuk agama.

                Berdasarkan faktor –faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri diatas dapat disimpulkan menjadi tiga bagian yaitu faktor keturunan, lingkungan dan bagaimana pembawaan diri seorang anak terhadap lingkungannya. Bila lingkungan mendukung kearah yang positif dan pembawaan nya juga positif maka hasilnya dari anak tersebut akan positif pula, namun sebaliknya jika negatif lingkungan dan pembawaan nya maka hasilnya juga akan negatif.

  1. 4.      Penyesuaian Diri pada Anak, Anak Sekolah, Dan Remaja, dan permasalahannya

–          Penyesuaian diri pada anak dan permasalahannya.

Seiring dengan tumbuh dan berkembangnya fungsi-fungsi organ pada anak maka seorang anak akan semakin mampu untuk melakukan kegiatan yang lebih kompleks. Maka seorang anak dituntut untuk menyesuaikan diri dengan dirinya sendiri dan dengan lingkungannya. Penyesuaian diri ini tampak ketika seorang anak belajar berjalan, mulai mengucapkan kata-kata dari sederhana sampai kompleks, dan mulai bermain dan bergaul dengan temannya. Pada usia 6 bulan, bayi sudah lebih mengenal ibunya sendiri melalui suaranya, wajah ataupun elusan-elusan sehingga penyesuaian diri pertama kali yaitu menyesuaikan diri dengan ibunya. Makin bertambah usia, bayi makin memperluas gerakan motoriknya. Biasanya pada usia 9-14 bulan anak sangat memperhatikan keadaan di sekitarnya, terutama melalui alat permainannya. Baru pada usia 2 tahun anak memperlihatkan sikap ingin berkawan yaitu dengan tukar alat menukar permainannya, meski suasana berkawan ini tidak dapat berlangsung dalam waktu yang lama. Keinginannya untuk bermain dengan anak lain makin jelas ketika ia berusia 3 tahun. Dan pada usia 4 tahun, anak makin senang bergaul dengan anak lain terutama teman yang usianya sebaya.

Permasalahan-permasalahan pada anak akan menghambat penyesuaian diri yang sehat. Masalah yang timbul pada anak adalah ketika Ia bermain dengan anak anak-anak lain biasanya mereka bertengkar. Mereka dapat bermain bersama tetapi belum dapat bekerja sama. Masalah anak antara lain persoalan tentang masalah makanan yang di berikan kepada mereka, semakin usianya bertambah maka kebututuhan makanan akan bertambah atau pun berubah. Mereka harus bisa menyesuaikan diri dengan makanan yang berubah-ubah sesuai dengan perkembangan fisiknya, terkadang mereka memilih-milih makanan sesuai dengan keinginannya tanpa memperdulikan nilai gizinya.

–          Penyesuaian diri pada anak sekolah dan permasalahannya

Baru pada usia 5 tahun ketika memasuki sekolah, anak lebih mudah diajak bermain dalam suatu kelompok. Ia juga mulai memilih teman bermainnya, entah tetangga atau teman sebayanya yang dilakuan di luar rumah. Pada anak yang lebih besar, mereka akan memilih sendiri siapa yang akan menjadi teman bermain. Biasanya anak perempuan lebih menyukai teman perempuan karena adanya persamaan minat dan kemampuan bermain yang sama pula. Sedangkan anak laki-laki mencari teman yang ia kagumi karena misalnya pandai bermain catur atau gemar berolahraga. Di dalam proses beajar mereka juga harus menyesuaiaan diri dengan guru dan teman-teman sekolahnya. Mereka juga harus bisa membagi waktu untuk bermain dan belajar.

Di usia 5 tahun anak sekarang sudah mulai dimasukkan ke taman kanak-kanak supaya anak bisa lebih bersikap mandiri, tetapi permasalahannya mereka kadang ada yang masih takut atau tidak nyaman dengan lingkungannya yang baru sehingga mereka sering menangis saat pertama kali masuk sekolah.

–          Penyesuain diri pada remaja dan permasalahannya

Penyesuaian diri pada remaja begitu kompleks. Mereka sudah tidak hanya bersosialisasi dengan kelompok kecil tetapi harus besosialisasi dengan kelompok yang lebih besar. Maka mereka juga harus menyesuaikan diri dengan orang banyak. Dalam pendidikan, mereka dihadapkan pada pelajaran yang semakin banyak dan harus menggunakan waktu senggang mereka untuk beajar bahkan waktu bermain pun semakin berkurang. Mereka juga sudah  mulai menemukan potensi-potensi yang ada pada dirinya sehingga mereka sudah mengerti apa yang terbaik bagi diri mereka.

Sifat orang tua yang overprotective terhadap anaknya tidak baik untuk perkembangan remaja. Sikap orang tua yang otoriter yaitu memaksakan kekuasaan dan otoritas kepada remaja juga akan menghambat proses penyesuaian diri remaja.Remaja yang broken home cenderung sulit untuk meyesuaikan diri dengan lingkunganya. Kebanyakan anak-anak yang dikeluarkan dari sekolah karena tidak dapat menyesuaikan diri adalah mereka yang datang dari rumah tangga yang retak atau tidak utuh.

Pemasalahan lain yang mungkin timbul adalah penyesuaian diri yang berkaitan dengan kebiasaan belajar yang baik. Bagi siswa yang baru masuk sekolah lanjutan mungkin memgalami kesulitan dalam membagi waktu belajar yakni adanya pertentangan antara belajar dan keinginan untuk ikut aktif dalam kegiatan sosial,kegiatan ekstrakulikuler dan sebagainya.

Masalah-masalah yang timbul di antara anak sekolah antara lain juga mengenai pemilihan sekolah, anak cenderung lebih suka memilih sekolah yang mereka inginkan sendiri dari pada dipilihkan orang tuanya. Mereka lebih dapat menyesuaikan diri dengan teman-teman yang sudah mereka kenal sebelumnya.

Sikap anak sekolah yang terkadang suka memilih-milih teman dalam bergaul. Mereka lebih dapat menyesuaikan diri dengan anak-anak yang memiliki golongan yang sama, misalnya, anak orang kaya tidak mau bergaul dengan anak orang yang tidak mampu karena berbagai alasan mereka tidak bisa menyesuaiakn diri dengan kehidupan yang tidak biasa mereka lakukan di rumah.

 

 

  1. 5.      Implikasi Penyesuaian Diri Anak, Anak Sekolah dan Remaja dalam Penyelenggaraan Pendidikan.
    1. Implikasi proses penyesuaian diri anak dalam penyelenggaraan  pendidikan

     Lingkungan Informal merupakan lingkungan yang sangat berpengaruh. Lingkungan ini memberikan bekal kepada seorang anak untuk dapat mengaplikasikan nya dalam kehidupan seperti bertingkah laku yang sopan, sehingga bila melanjutkan dalam lingkungan formal, seorang anak mampu bersosialisasi dengan baik.

Pendidikan pertama yang diperoleh seorang anak adalah dari lingkungan keluarga. Maka dalam hal ini yang sangat berperan dalam mendidik anak adalah orang tua. Beberapa hal yang dapat disarankan kepada orang tua untuk membentuk lingkungan belajar yang kondusif di rumah, antara lain :

  1. Menciptakan budaya belajar di rumah.
  2. Mendorong anak untuk aktif.
  3. Memberi kesempatan kepada anak untuk mengembangkan gagasan dan ide-idenya.
  4. Menciptakan situasi yang demokratis di rumah.
  5. Memahami anak dalam mengembangkan potensinya.
  6. Menyediakan sarana belajar yang memadai.

 Dalam mendidik anak orang tua perlu menyadari bahwa kemampuan fisik dan psikis anak ada batasannya. Anak juga mempunyai keinginan, cita-cita, memerlukan kebebasan diri untuk mengisi kehidupan. Selain akan berpengaruh terhadap fisik anak seperti lelah dan hilangnya nafsu makan juga berpengaruh kurang baik pada perkembangannya. Sebab dalam pertumbuhan dan perkembangannya anak perlu istirahat cukup secara bebas menguatarakan diri, bermain secara bebas, ada otonomi dan sebagainya. Dengan ini tidak diartikan bahwa orang tua bersifat pasif, mengikuti dan membiarkan anak. Sama halnya dengan sifat yang sangat otoriter, sikap yang serba membiarkan juga akan berakibat negatif. Anak cenderung jadi kurang ajar, sukar membedakan yang benar dan yang salah, sukar diatur, tidak bertanggung jawab, dan keras kepala yang semua ini akan merugikan anak baik dalam penyesuaian diri di lingkungan rumah, teman-teman maupun di lingkungan sekolahnya. Orang tua seharusnya memperhatikan, mencoba memahami keinginan dan pendangan-pandangan anaknya.

  1. Implikasi proses penyesuaian diri anak sekolah dan remaja terhadap penyelenggaraan pendidikan.

Lingkungan sekolah mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan peserta didik. Sekolah selain mengemban fungsi pengajaran juga fungsi pendidikan (transformasi norma). Dalam kaitannya dengan pendidikan ini peranan sekolah pada hakikatnya tidak jauh dari peranan keluarga, yaitu sebagai rujukan dan tempat perlindungan jika peserta didik mempunyai masalah. Oleh karena itulah di setiap sekolah ditunjuk wali kelas yaitu guru-guru yang akan membantu anak didik jika mereka menghadapi kesulitan dalam pelajarannya dan guru-guru bimbingan dan penyuluhan untuk membantu anak didik yang mempunyai masalah pribadi, dan masalah penyesuaian diri baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap tuntutan sekolah.

Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk memperlancar proses penyesuaian diri remaja khususnya di sekolah adalah:

  1. Menciptakan situasi sekolah yang dapat menimbulkan rasa “betah” (at home) bagi anak didik, baik secara sosial, fisik maupun akademis.
  2. Menciptakan suasana belajar mengajar yang menyenangkan bagi anak.
  3. Usaha memahami anak didik secara menyeluruh, baik prestasi belajar, sosial, maupun seluruh aspek pribadinya.
  4. Menggunakan metode dan alat mengajar yang menimbulkan gairah beajar.
  5. Menggunakan prosedur evaluasi yang dapat memperbesar motivasi belajar.
  6. Ruangan kelas yang memenuhi syarat-syarat kesehatan.
  7. Peraturan tata tertib yang jelas dan dipahami murid-murid.
  8. Teladan dari para guru dalam segala pendidikan
  9. Kerja sama dan salng pengertian dari para guru dala melaksanakan pendidikan di sekolah.
  10. Pelaksanaan program pendidikan dan penyuluhan yang sebaik-baiknya.
  11. Situasi kepemimpinan yang penuh saling pengertian dan tanggung jawab.
  12. Hubungan yang baik antara dan penuh pengertian antara sekolah dengan orang tua siswa dan masyarakat.

 

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. A.    Kesimpulan
  • Penyesuain adalah usaha manusia untuk mencapai keharmonisan pada diri sendiri dan pada lingkungannya. Atau dengan kata lain penyesuaian merupakan suatu adaptasi dengan lingkungan dimana mereka berada.
  • Proses penyesuaian diri merupakan proses bagaimana individu dapat memenuhi kebutuhan sesuai dengan lingkungannya. Hal ini berjalan seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan mereka.
  • Individu merupakan mahluk hidup yang mempunyai banyak keragaman. Termasuk juga dalam hal penyesuaian diri. Ada yang mempunyai karakter positif dan ada pula yang berkarakter negatif.
  • Karena individu merupakan mahluk hidup yang terus bertumbuh dan berkembang maka dalam pertumbuhan dan perkembangannya wajar bila ada banyak permasalahan, mulai dari anak-ank hingga dewasa dalam penyesuaian diri mereka.
  • Implikasi penyesuaian diri individu merupakan bagaimana mengaplikasikan nya dalam kehidupan sehingga mampu menjadi seorang yang dapat bersosialisasi dengan lingkungan  sekitar.

 

 

  1. B.     Saran

ü  Karena penyesuaian diri merupakan suatu usaha untuk mencapai keharmonisan dengan lingkungan maka alangkah baiknya kita menunjukkan sikap baik pada penyesuaian kita, dimanapun kita berada

ü  Proses merupakan hal yang memang terjadi seiring pertumbuhan dan perkembangan. Alangkah baiknya bila kita menjalankan proses ini dengan sebaik mungkin.

ü  Sebaiknya kita menyikapi dengan bijak antara perbedaan karakteristik positif dan karakteristik negatif. Kita harus menyeimbangkan keduanya.

ü  Permasalahan yang muncul dalam penyesuaian diri di kehidupan itu wajar. Seharusnya kita menyelesaikan permasalahan tersebut dengan bias menyesuaikan kondisi.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Hidayat, A Aziz Alimul. 2006.Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta : Salemba Medika.

Hartinah, sitti. 2011. Pengembangan Pesera Didik. Bandung : Refika Aditama.

Syah, Muhibbin. 2010. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Hurlock, B Elizabeth. 1996. Psikologi Perkembangan. Jakarta : Erlangga.

Soetjiati, Rr.1997. Perkembangan Peserta Didik II. Surabaya : University Press IKIP Surabaya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s