pengantar pendidikan

 

LINGKUNGAN PENDIDIKAN

 

  1. A.      PENGERTIAN LINGKUNGAN

 

Menurut Otto Soemarwoto, Lingkungan adalah segala sesuatu disekeliling organisme yang berpengaruh pada kehidupan organisme yang bersangkutan.

Dalam Undang-Undang RI nomor 23 tahun 1997 tentang ketentuan-ketentuan pokok pengelolaan lingkungan hidup dinyatakan bahwa, lingkungan adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup termasuk didalamnya manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainya.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa lingkungan adalah satu kesatuan ruang dengan semua benda baik biotik (benda hidup) yakni manusia, tumbuhan, dan hewan maupun benda abiotik (benda mati) yakni suhu, udara, iklim dan sebagainya yang berada disekitar individu yang saling mempengaruhi satu sama lain dalam kelangsungan pertumbuhan dan perkembangan kehidupan manusia.

 

  1. B.       PENGERTIAN PENDIDIKAN

 

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.(UU Sisdiknas No.  20, 2003)

Pendidikan merupakan suatu usaha atau kegiatan yang dilakukan untuk mengembangkan kemampuan yang ada dalam diri peserta didik dalam suatu proses yakni proses pembelajaran. Yang mana dalam proses pembelajaran tersebut akanmembentuk karakter peserta didik dan menjadikannya memiliki intelektual yang lebih baik lagi kedepannya serta berguna bagi bangsa dan negaranya.

  1. C.      LINGKUNGAN PENDIDIKAN (TRIPUSAT PENDIDIKAN)

Lingkungan pendidikan diartikan sebagai segala sesuatu yang melingkupi proses berlangsungnya pendidikan. Lingkungan pendidikan bisa berupa lingkungan fisik, sosial, budaya, keamanan, dan kenyamanan.Lingkungan pendidikan dapat dibedaakan menurut tempat dimana peserta didik hidup dan menerima pengalaman pendidikan.

Di dalam UU SISDIKNAS No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan nasional pada Pasal 13 ayat (1) disebutkan bahwa jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, non formal dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya.

  1. 1.    LINGKUNGAN KELUARGA (INFORMAL)

Pendidikan informal adalah jalur pendidikan yang diperoleh dari lingkungan keluarga yang berbentuk kegiatan belajar secara mandiri yang berlangsung secara alamiah dan wajar.Pendidikan ini merupakan pendidikan pertama dan utama yang dijalani oleh setiap individu.Dalam pendidikan ini yang berperan adalah lingkungan keluarga dalam setiap individu.Keluarga adalah pengelompokan primer yang terdiri dari sejumlah kecil orang karena hubungan semenda dan sedarah (Umar tirtarahardja, 2008: 168).

Pendidikan dalam lingkungan keluarga dapat diperoleh dari keluarga inti (ayah,ibu,dananak) maupun bukan kelurga inti seperti (kakek,nenek,paman,bibi,sepupu,keponakan dll). Setiap keluarga tentunya memiliki cara yang berbeda dalam mendidik anak atau keluarganya. Karena peran orang tua dalam keluarga sebagai penuntun,pengajar, dan sebagai pemberi contoh bagi anak-anaknya, sesuai dengan UU sisdiknas pasal 7 ayat 1 dan 2 tentang hak dan kewajiban orang tua. Pada umumnya ibu bertanggung jawab dalam mengasuh anak dan dapat menjadi guru bagi anak-anaknya.sehingga peran seorang ibu dalam memberikan pendidikan ini mempunyai peranan yang lebih besar daripada anggota kelurga lain meskipun nantinya interaksi antar individu dalam keluarga tetap berjalan.

Keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama dan utama yang mempunyai tujuan yaitu mengembangkan tingkat keterampilan,sikap, dan nilai-nilai yang memungkinkan bagi peserta didik menjadi peserta-peserta yang efisien dan efektif dalam lingkungan keluarga,pekerjaan, bahkan lingkungan masyarakat dan negara.

Adanya perasaan cinta, saling mengasihi, ingin selalu menyatu, dan keadaan jiwa adalah sesuatu yang sangat berguna dalam membangun kehidupan keluarga yang kondusif bagi pendidikan pertama terutama dalam pendidikan budi pekerti.Dengan adanya perasaan-perasaan itu, segala aspek dalam pendidikan yang diharapkan dapat tercapai. Sehingga nantinya dapat muncul dimensi-dimensi manusia yang akan terus berkembang seperti dimensi individu,sosial,susila, dan agama.

Peran keluarga dalam pendidikan ini mempunyai banyak fungsi antara lain fungsi proteksi, rekreasi, inisiasi, sosialisasi dan edukasi (Arif Rohman, 2008: 200).

v  Fungsi proteksi artinya setiap individu atau anak dalam setiap keluarga selalu mendapatkan perlindungan, perawatan, kasih sayang, rasa aman dari segala gangguan atau ancaman.

v  Fungsi rekreasi artinya setiap anak atau individu dalam keluarga berhak mendapatkan rasa bahagia,damai,nyaman, dan tentram.

v  Fungsi inisiasi artinya anak diperkenalkan dengan nama-nama benda,binatang atau orang yang ada disekitarnya.

v  Fungsi sosialisasi artinya setiap anak atau individu dalam keluarga diharapkan mampu bersosialisasi dengan masyarakat sekitar dengan nilai,norma,kebiasaan dan adat-istiadat yang diwarisi dari keluarga.

v  Fungsi edukasi artinya setiap anak di didik untuk bisa mengembangkan potensi-potensi yang ada dalam dirinya.

1.1   Study Kasus

Jawa Pos. Senin, 26 Maret 2012.

SURABAYA–Pemandangan ceria tampak di Taman Surya kemarin (25/3). Sekitar 115 anak down syndrome (DS) dan masyarakat umum sibuk menggerakan anggota tubuh masing-masing, mengikuti arahan sang instruktur senam. Dalam acara tersebut anak DS datang bersama orang tua masing-masing.Tujuannya, mengenalkan anak DS lebih dekat kepada masyarakat sebab, selama ini banyak orang tua anak DS yang kurang percaya diri dengan keberadaan buah hati mereka itu.Perayaan kemarin itu dimotori komunitas DS Sehat Ceria Surabaya.Acara yang dimulai pada pukul 06.00 itu berlangsung meriah.Seluruh anak DS didampingi orang tua dan para guru masing-masing.Mereka mengikuti senam, jalan sehat, pemeriksaan kesehatan oleh IDAI, konsultasi Psikologi oleh Psikolok Astrid Wiratna, hingga berbagai Fun Game.Kegiatan itu juga dimeriahkan kehadiran 21 relawan DS dari jurusan luar biasa UNESA yang memberikan pendampingan.

1.2  Tabel Analisis

NO

TEORI

FAKTA

HASIL

1.

Pasal 27 ayat 1.

  • Sekitar 115 anak DS dan masyarakat umum sibuk menggerakan anggota tubuh masing-masing, mengikuti arahan sang instruktur senam.
  • Dalam acara tersebut anak DS datang bersama orang tua masing-masing. Tujuannya, menghenalkan anak DS lebih dekat dengan masyarakat.

Sesuai( + )

2.

Pasal 54 ayat 1 dan 2.

Mereka mengikuti senam, jalan sehat, pemeriksaan kesehatan oleh IDAI, konsultasi Psikologi oleh Psikolog Astrid Wiratna, hingga berbagai Fun Game. Kegiatan itu juga dimeriahkan kehadiran 21 relawan DS dari jurusan luar biasa UNESA yang memberikan pendampingan.

Sesuai(+)

3.

Pasal 12 ayat 1 (b).

Tujuannya, mengenalkan anak DS lebih dekat kepada masyarakat sebab, selama inin banyak orang tua anak DS yang kurang percaya diri dengan keberadaan buah hati mereka itu. Para orang tua tersebut kawatir anak DS mereka mendapat perlakuan diskriminatif.

Sesuai( + )

4.

Landasan Sosiologis

SURABAYA–Pemandangan ceria tampak di Taman Surya kemarin (25/3). Sekitar 115 anak down syndrome (DS) dan masyarakat umum sibuk menggerakan anggota tubuh masing-masing, mengikuti arahan sang instruktur senam

Sesuai (+)

5.

8 wujud potensi (kemampuan bereksistensi

Seluruh anak DS didampingi orang tua dan para guru masing-masing.Mereka mengikuti senam, jalan sehat, pemeriksaan kesehatan oleh IDAI, konsultasi Psikologi oleh Psikolok Astrid Wiratna, hingga berbagai Fun Game.

Sesuai(+)

Ket:

Berdasarkan analisis kasus tersebut bahwa pendidikan Informal memberikan kontribusi yang besar terhadap proses tumbuh kembang psikologis anak saat mereka membutuhkan bantuan berupa semangat apalagi dalam kasus ini terdapat suatu kekurangan yaitu anak mengidap downsyndrom sehingga semangat yang diberikan orang tua serta keaktifan orang tua itu sangat membantu. Selain orang tua, lingkungan juga sangat membantu. Terbukti dengan adanya organisasi DS Sehat Ceria khusus untuk anak yang mengidap down syndrom.

  1. 2.    LINGKUNGAN SEKOLAH (FORMAL)

Pendidikan formal yang sering disebut pendidikan persekolahan merupakan  rangkaian jenjang pendidikan yang telah baku. Mulai dari jenjang sekolah dasar (SD) sampai dengan perguruan tinggi (PT).

Sebagai lembaga pendidikan formal, sekolah yang lahir dan berkembang secara efektif dan efisien dari pemerintah untuk masyarakat merupakan perangkat yang berkewajiban untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam menjadi warga Negara. 

Ada beberapa Karateristik proses pendidikan yang berlangsung di sekolah yaitu;

  1.  Pendidikan diselengarakan secara khusus dan dibagi atas jenjang yang memiliki hubungan hierarki
  2. Usia anak didik di suatu jenjang pendidikan relative homogen.
  3. Waktu pendidikan relatif lama sesuai dengan program pendidikan yang harus diselesaikan.
  4. Materi atau isi pendidikan lebih banyak bersifat akademis dan umum.
  5. Adanya penekanan tentang kualitas pendidikan sebagai jawaban kebutuhan dimasa yang akan datang.

            Sekolah sebagai lembaga yang membantu lingkungan keluarga, maka sekolah bertugas mendidik dan mengajar serta memperbaiki dan memperhalus tingkah laku anak didik yang dibawa dari keluarganya. Sementara itu, dalam perkembangan keperibadian anak didik, peranan sekolah dengan melalui kurikulum, anatara lain sebagai berikut:

  1. Anak didik belajar bergaul sesama anak didik, antara guru dengan anak didik, dan antara anak didik dengan orang yang bukan guru (karyawan )
  2. Anak didik belajar menaati peraturan-peraturan sekolah.
    1. Mempersiapkan anak didik untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna bagi agama, bangsa dan Negara.

2.1  Jalur Pendidikan Formal

  • Jenjang pendidikan formal terdiri atas :
  1. 1.    Pendidikan dasar

Dalam UU SISDIKNAS no.20 pasal 17 disebutkan bahwa Pendidikan Dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi pendidikan jenjang menegah.

Pemerintah dan pemerintah daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar bagi setiap warga Negara yang berusia 6 th pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya. Pendidikan dasar berbentuk:

  1. Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat.
  2. Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTS) atau bentuk lain yang sederajat.
    1. 2.    Pendidikan menengah

Pendidikan menengah merupakan pendidikan lanjutan dari pendidikan dasar. Pendidikan menengah terdiri atas:

  1. Pendidikan Menengah Umum
  2. Pendidikan Menengah Kejuruan

Pendidikan Menengah Berbentuk:

  1. Sekolah Menengah Atas ( SMA )
  2. Nmadrasah Aliyah ( MA )
  3. Sekolah Menengah Kejuruan ( SMK )
  4. Madrasah Aliyah Kejuruan ( MAK )

 

 

  1. 3.    Pendidikan tinggi

Pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan:

  1. Diploma
  2. Sarjana
  3. Magister
  4. Spesialis dan Doktor.

2.2  Jenis pendidikan formal mencakup :

  1. Pendidikan umum

Pendidikan dasar dan menengah yang mengutamakan perluasan pengetahuan yang diperlukan oleh peserta didik untuk melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi.

  1. Kejuruan

Pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik untuk bekerja dalam bidang tertentu.

  1. Akademik

Pendidikan tinggi yang diarahkan terutama pada penguasaan disiplin ilmu pengetahuan tertentu ( program sarjana dan pasca sarjana ).

  1. Profesi

Pendidikan tinggi yang diarahkan untuk memeprsiapkan peserta didik agar memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus.

 

 

  1. Vokasi

Pendidikan tinggi yang diarahkan untuk memepersiapkan peserta didik agar memiliki pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu maksimal setara dengan program sarjana.

  1. Keagamaan

Pendidikan dasar, menengah dan tinggi yang memepersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan ilmu pengetahuan tentang ajaran agama atau menjadi ahli ilmu agama.

  1. Khusus

Pendidikan yang diselenggarakan bagi peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselnggarakan secara inklusif.

2.3  Study kasus

Jawa Pos. Rabu, 22 Februari 2012.

MOJOKERTO – kabupaten Mojokerto kembali boleh berbangga setelah dua dari empat orang pelajar SMP 1 RSBI Ngoro Mojokerto yang mengikuti The 3rdNational Science Olimpiade SMP RSBI 2012 di Surakarta pada 13-16 Februari kemarin, berhasil menjadi juara nasional. Kepala SMPN 1 RSBI Ngoro Mojokerto Drs. Amin Suudi M.Pd, mengatakan sekolahnya mengirimkan 4 siswa, 2 guru dalam kompetisi bergengsi yang diikuti 325 siswa siswi dari SMPN RSBI se-Indonesia. Mereka adalah M. Hilmi Alfatih yang mendapatkan medali perak untuk mata pelajaran fisika dan Caroline Diah Fitaloka yang mendapatkan perunggu untuk mata pelajaran Biologi. Selain itu ada juga Rizky Dwi Nastisi  yang mengikuti olimpiade bahasa matematika dan Fanda Yuliana yang mengikuti olimpiade bahasa inggris. Amin menambahkan pihaknya akan terus mendorong guru dan siswa untuk memberikan prestasi yang terbaik. Karena prestasi yang telah dipersembahkan anak-anak kita, tentu tidak terlepas dari kontribusi guru pembimbing.

2.4 Tabel Analisis

NO

TEORI

FAKTA

HASIL

1.

Pasal 12 ayat 1 (b)

SMP 1 RSBI Ngoro Mojokerto yang mengikuti The 3rdNational Science Olimpiade SMP RSBI 2012 di Surakarta pada 13-16 Februari kemarin, berhasil menjadi juara nasional sesuai dengan bakat masing-masing.

Sesuai( + )

2.

Pasal 40 ayat 2 (b)

pihaknya akan terus mendorong guru dan siswa untuk memberikan prestasi yang terbaik. Karena prestasi yang telah dipersembahkan anak-anak kita, tentu tidak terlepas dari kontribusi guru pembimbing.

Sesuai(+)

3.

8 wujud potensi(kemampuan bereksistesi)

Mereka adalah M. Hilmi Alfatih yang mendapatkan medali perak untuk mata pelajaran fisika dan Caroline Diah Fitaloka yang mendapatkan perunggu untuk mata pelajaran Biologi.

Sesuai(+)

Siswa mampu menunjukan kemampuan yang dimiliki

4.

3 ranah ( Kognitif)

Mereka adalah M. Hilmi Alfatih yang mendapatkan medali perak untuk mata pelajaran fisika dan Caroline Diah Fitaloka yang mendapatkan perunggu untuk mata pelajaran Biologi.

Sesuai(+).

Siswa mampu mengoptimal

kan aspek intelektual dalam dirinya.

5.

8 wujud potensi(kemampuan bertanggungjawab)

Amin Suudi M.Pd, mengatakan sekolahnya mengirimkan 4 siswa, 2 guru dalam kompetisi bergengsi yang diikuti 325 siswa siswi dari SMPN RSBI se-Indonesia.

Sesuai(+)

Guru bertanggungjawab atas berlangsungnya lomba yang diikuti oleh siswa.

6.

4 dimensi(individu)

Selain itu ada juga Rizky Dwi Nastisi  yang mengikuti olimpiade bahasa matematika dan Fanda Yuliana yang mengikuti olimpiade bahasa inggris.

Sesuai(+)

Individu tetap ingin menonjolkan kemampuan dirinya.

Ket:

Dalam kasus ini pendidikan formal terdapat komponen-komponen untuk menjalankan system.System yang terpenting adalah pendidik.Karena pendidik adalah seorang agen pembelajaran yang berusaha untuk mengembangkan potensi peserta didik, hingga dapat menjadi juara nasional, namun tidak lepas dari bakat dan minat peserta didik itu sendiri.

  1. 3.    LINGKUNGAN MASYARAKAT (NONFORMAL)

Lingkungan pendidikan non formal merupakan lembaga kemasyarakatan atau kelompok sosial di masyarakat , baik langsung maupun tak langsung, ikut mempunyai peran dan fungsi edukatif. Dalam Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas Bab I Pasal 12 Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang (Tirtarahardja dan Sula , 2000 : 179).

Lingkungan dalam masyarakat berbeda dengan lingkungan dalam keluarga dan sekolah, karena lingkungan masyarakat lebih umum sehingga perlu adanya sosialisasi dengan masyarakat lain. Aneka karakter manusia, aneka situasi sosial, aneka wilayah, aneka informasi semuanya hampir terbentang luas baik positif atau negatif, baik atau buruk.

Konsep pendidikan berbasis masyarakat merupakan perwujudan demokratisasi pendidikan melalui perluasan pelayanan pendidikan untuk kepentingan masyarakat.Pendidikan berbasis masyarakat menjadi sebuah gerakan penyadaran masyarakat untuk terus belajar sepanjang hayat dalam mengisi tantangan kehidupan yang berubah-ubah.

3.1   Bentuk Pendidikan Non Formal

Bentuk pendidikan non formal dapat terselenggara secara terstruktur dan berjenjang, dapat pula diselenggarakan secara tidak terstruktur dan berjenjang. Bentuk penyelanggaraan pendidikan non formal secara terstruktur dan berjenjang antara lain

                                   ·     Kursus atau Bimbel

                                   ·      Pondok Pesantren

                                   ·     Kelompok Belajar Paket B

                                   ·     Kelompok Belajar Paket C yang merupakan lembaga kursus yang mempunyai tingkat kecakapan.

Adapun bentuk penyelenggaraan pendidikan yang tidak terstruktur dan tidak berjenjang misalnya informasi, penyuluhan, ceramah melalui media.

Semua yang ada dalam komponen pendidikan non formal termasuk sistemnya, di upayakan oleh masyarakat guna mewujudkan pendidikan non formal yang berbasis masyarakat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat itu sendiri.

 

3.2 Tujuan Pendidikan Non Formal

                                       ·     Pendidikan non formal bertujuan untuk merubah kuwalitas kehidupan dan wilayahnya atau lingkunganya kearah lebih baik.

                                       ·     Pendidikan non formal jugabertujuan sebagai pengganti, pelengkap, penambah, juga pengembang pendidikan formal dan informal.

                                       ·     Pendidikan non formal bertujuan membantu pemerintah untuk menuntaskan wajib belajar 12 tahun.

3.3 Kelemahan Pendidikan Nonformal

                                       ·     Kelemahan pertama, kurangnya koordinasi disebabkan oleh keragaman dan luasnya program yang diselenggarakan oleh berbagai pihak.

                                       ·     Kelemahan kedua,tenaga pendidik atau sumber belajar yang profesional masih kurang.

                                       ·     Kelemahan ketiga, motivasi belajar peserta didik relatif rendah. Kelemahan ini berkaitan dengan:

  1. Adanya kesan umum bahwa lebih rendah nilainya daripada pendidikan formal yang peserta didiknya memiliki motivasi kuat untuk perolehan ijazah.
  2. Pendekatan yang dilakukan oleh pendidik yang mempunyai latar belakang pengalaman pendidikan formal dan menerapkannya dalam kegiatan pembelajaran pendidikan nonformal pada umumnya tidak kondusif untuk mengembangkan minat peserta didik.
  3. Masih terdapat program pendidikan, yang berkaitan dengan upaya membekali peserta didik untuk mengembangkan kemampuan dibidang ekonomi, tidak dilengkapai dengan masukan lain (other input) sehingga peserta didik atau lulusan tidak dapat menerapkan hasil belajarnya.
  4. Para lulusan pendidikan nonformal dianggap lebih rendah statusnya dibandingkan status pendidikan formal, malah sering terjadi para lulusan pendidikan yang disebut pertama berada dalam pengaruh lulusan pendidikan nonformal.

Dengan demikian, kelemahan-kelemahan di atas merupakan beberapa contoh yang muncul di lapangan.Namun pendidikan nonformal makin lama makin diakui pentingnya dan kehadirannya sebagai pendidikan yang berkaitan erat dengan kebutuhan masyarakat dan bangsa serta sebagai bagian penting dari kebijakan dan program pembangunan.

  1. D.      FUNGSI LINGKUNGAN PENDIDIKAN
    1. Berfungsi untuk membantu peserta didik dalam berinteraksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya, agar dapat dicapai tujuan pendidikan yang optimal dan proses pendidikan dapat berkembang efisien dan efektif.Proses pertumbuhan dan perkembangan individu dalam interaksi dengan lingkungan akan berlangsung secara alami dan dalam prosesnya dapat terjadi penyimpangan dari tujuan pendidikan atau berlangsung lambat. Oleh karena itu, harus ada usaha untuk mengatur dan mengendalikan lingkungan sehingga dapat dicapai tujuan pendidikan yang optimal dan proses pendidikan dapat berlangsung efisien dan efektif.
    2. Berfungsi untuk mengajarkan tingkah laku umum dan untuk mempersiapkan individu untuk peran-peran tertentu.

Pendidikan berperan untuk mengajarkan berbagai macam ketrampilan dan keahlian.Pada masyarakat yang masih primitif peran ini dijalankan oleh pendidikan informal yang sangat terbatas. Sedangkan pada masyarakat modern,peran ini sudah hampir sepenuhnya diambil alih oleh pendidikan formal. Pendidikan formal memberi pengetahuan umum dan pengetahuan yang bersifat khusus untuk mempersiapkan anak untuk pekerjaan tertentu.

  1. E.       HASIL OBSERVASI
    1. 1.    Sejarah SKB ( Sanggar Kegiatan Belajar )

   Pada tahun 1965 di jombang ada sebuah Lembaga Kursus Penjenang Pendidikan Masyarakat (KPDPM) Gudo kabupaten Jombang. KPDPM ini satu-satunya lembaga yang ada di Jawa Timur sebagai tempat kursus pendidikan masyarakat, bahkan peserta didik berasal dari berbagai daerah di Indonesia bagian timur. Pada tahun 1975 terjadi reorganisasi di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K), maka nama dari KPDPM berubah menjadi Pusat Latihan Pendidikan Masyarakat (PLPM).

   Seiring dengan perkembangan Dunia Pendidikan maka terbitlah SK Mendikbud Nomor 0206/0/1978 tanggal 23 Juni 1978, PLPM berubah nama menjadi Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Gudo Kabupaten Jombang. SKB berasal dari Pusat Latihan Pendidikan Masyarakat (PLPM) dan Kursus Penjenang Pendidikan Masyarakat (KPDPM) Gudo Jombang. Berpijak pada reorganisasi departemen P dan K tahun 1975 dan Mendikbud Nomor 0206/0/1978 taggal 23 Juni 1978, kedua lembaga tersebut dilebur menjadi Sanggar Kegiatan Belajar Gudo Jombang.

   Sejak 2000, dengan berlakunya otonomi daerah lembaga SKB Gudo diserahkan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah, maka terbitlah SK Bupati Jombang Nomor 94 tahun 2005, tanggal 5 Januari 2005 tentang pembentukan UPTD SKB Gudo Kabupaten Jombang.

  1. 2.    Visi dan Misi SKB ( Sanggar Kegiatan Belajar )

–       Menyiapkan masyarakat pada penguasaan pengetahuan, keterampilan fungsional, serta mengembangkan sikap, kepribadian profesional dan mandiri.

–       Meningkatkan SDM pada pendidikan Non-formal, pemuda dan olahraga

–       Meningkatkan pelayanan dalam bidang pendidikan Non-formal, pemuda, dan olahraga

–       Meningkatkan kualitas kerja sanggar

–       Meningkatkan jaringan Mitra atau kemitraan

  1. 3.    Tugas dan Fungsi SKB ( Sanggar Kegiatan Belajar )

3.1     Tugas dari SKB yaitu melaksanakan sebagian tugas Dinas Pendidikan Non-formal yang berdasar surat keputusan Bupati Jombang Nomor 94 tahun 2005.

3.2     Fungsi dari SKB Gudo yaitu :

  • Memberikan motivasi pada masyarakat dalam meningkatkan gemar belajar.
  • Mewujudkan program pembelajaran, pendidikan, pendampingan, dan pelatihan bagi masyarakat dan tenaga kependidikan Non-formal.
  • Penyiapan, pelaksanaan, pemantauan, penilaian dan pengendalian mutu program pendidikan Non-formal
  • Pembuatan program unggulan atau percontohan pendidikan Non-formal
  • Pemberian pelayanan informasi pendidikan Non-formal
  • Penyusunan dan pengadaan sarana belajar muatan lokal
  • Pengintegrasian dan penyingkronisasian kegiatan sektoral PNF
  • Pengelolaan ketatausahaan dan kerumah-tanggaan UPTD SKB Gudo
  • Pengelolaan perpustakaan UPTD SKB Gudo
  • Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan Dinas Pendidikan kabupaten Jombang.
  1. 4.      Wilayah yang Menjadi Tanggung Jawab SKB Gudo.

           Di kabupaten Jombang hanya terdapat 2 (dua) Sanggar kegiatan Belajar. Yang pertama ada di daerah Gudo yang disebut dengan SKB Gudo dan yang kedua ada di Mojoagung yang disebut dengan SKB Mojoagung. Karena hanya terdapat dua Sanggar Kegiatan Belajar, maka dari itu dibentuk pembagian wilayah. Hal ini dilakukan untuk memberikan pelayanan yang maksimal akan pendidikan yang dicanangkan oleh masyarakat. untuk wilayah Mojoagung dikhususkan pada kecamatan-kecamatan yang ada didaerah timur Jomabang, sedangkan untuk SKB Gudo dikhususkan pada kecamatan-kecamatan yang ada dibagian Barat kabupaten Jombang. Kecamatan-kecamatan yang menjadi tanggung jawab SKB Gudo sendiri antara lain: Wonosalam, Mojowarno, Bareng, Ngoro, Gudo, Diwek, Jombang, Tembelang, Megaluh, Perak, dan Bandarkedung Mulyo.

Proses pembelajaran tidak hanya dilakukan menetap pada SBK Gudo saja, untuk kecamatan-kecamatan yang ingin melakukan adanya kegiatan belajar, bisa menghubungi SKB yang menjadi naungan wilahnya untuk mengadakan proses belajar dengan syarat peserta didik kurang lebih 60 orang.

  1. 5.      Kelompok Study

            Dalam pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar dibentuk koordinator Pamong belajar dan beberapa Kelompok Studi (pokdi) yang masing-masing membidangi tugas yang berbeda yang terdiri dari pokdi Paket C, PAUD, Paket B, dan Keaksaraan.

  1. Paket C adalah bagian kelompok study dari SKB Gudo, yang mana paket ini setara dengan jenjang pendidikan tingkat SMA pada sekolah formal pada umumnya. Namun jika pada sekolah formal pada umumnya mereka masuk satu minggu 6 kali untuk paket C yang ada pada SKB Gudo satu minggunya masuk 5 kali dan dimulai pada jam 07.30 – 12.30.
  2. 2.    PAUD singkatan dari Pendidikan Anak Usia Dini. Peserta didik di dalam PAUD ini meliputi anak-anak yang masih dini sekitar berumur 3 tahun. Dalam pembelajarannya peserta didik hanya diajarkan bermain dan belajar, tetapi melalui proses yang menyenangkan. Hal ini dikarenakan PAUD merupakan suatu kelompok bermain. Kelompok bermain yang berfungsi mengenalkan sesuatu yang baru mengenai pendidikan. PAUD merupakan tingkatan paling dasar sebelum memasuki pendidikan TK.
  3. 3.    Paket B adalah Pendidikan paket B adalah pendidikan setingkat Sekolah Menengah Pertama yang didirikan oleh pemerintah untuk menunjang program wajib belajar 12 tahun. Pendidikan ini ditujukan untuk para siswa yang belum mampu pendidikan lanjutan tingkat SMP. Pendidikan ini pada dasarnya adalah sama dengan pendidikan formal SMP.
  4. 4.    Keaksaraan Fungsional adalah bentuk pelayanaan pendidikan luar sekolah untuk memberikan pembelajaran pada warga masyarakat penyandang buta aksara, agar memiliki kemampuan menulis, membaca, berhitung, dan menganalisis, yang berorientasi pada kehidupan sehari-hari dengan memanfaatkan potensi yang ada di lingkungan sekitarnya.
  5. F.       Hasil Analisis

NO

TEORI

FAKTA

HASIL

1.

UU Sisdiknas pasal 26 ayat 1

Pendidikan non formal pada SKB Gudo bertujuan untuk menuntaskan wajib belajar 12 tahun.

Sesuai(+)

2.

UU Sisdiknas pasal 26 ayat 2.

Pendidikan non formal pada SKB Gudo menggunakan metode ketrampilan seperti pemanfaatan kain perca, daur ulang plastik, pembuatan telur asin, dll.

Sesuai(+)

3.

UU Sisdiknas pasal 26 ayat 3.

Pendidikan non formal pada SKB Gudo memiliki 7 layanan pendidikan, yaitu PAUD, Lembaga pelayanan pendidikan kesetaraan, keaksaraan fungsional, keterampilan dan ketenaga kerjaan, olahraga dan kepemudaan, program peningkatan mutu tenaga kependidikan, program pembinaan.

Sesuai(+)

4.

UU Sisdiknas pasal 26 ayat 4.

Pendidikan nonformal pada SKB Gudo merupakan satuan pendidikan yang berbentuk kelompok belajar.

Sesuai(+)

5.

UU Sisdikna pasal 26 ayat 5.

Pendidikan nonformal pada SKB Gudo juga memberikan layanan pendidikan sebagai bekal pada peserta didik untuk memiliki pekerjaan dan  melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya.

Sesuai(+)

6.

UU Sisdiknas pasa 26 ayat 6.

Peserta didik pada pendidikan non formal SKB Gudo mendapatkan Ijazah dan juga rapot yang  sesuai dengan standart nasional.

Sesuai(+)

7.

UU Sisdiknas pasal 2 ayat 3

Pendidikan non formal pada SKB Gudo memberikan layanan pendidikan masyarakat berupa pengetahuan secara intelek, kekreatifitasan dan juga kemandirian pada peserta didik.

Sesuai(+)

8.

UU Sisdiknas pasal 45 ayat 1.

Pendidikan non formal pada SKB Gudo tidak memiliki sarana prasarana yang lengkap seperti adanya jumlah computer yang tidak sesuai dengan jumlah peserta didik.

Tidak sesuai(-)

9.

UU Sisdiknas pasal 13 ayat 1.

Pendidikan nonformal pada SKB Gudo memberikan layanan pendidikan dengan paket B dan C untuk anak yang kurang beruntung dalam pendidikan formal.

Sesuai(+)

10.

Pendidik telah melaksanankan fungsinya sebagai emansifator ketika peserta didik menilai dirinya tak berharga dan putus asa, dibangkitkan kembali menjadi pribadi yang percaya diri.

(E. Mulyasa, 2011:60

Pendidikan non formal pada SKB Gudo memberikan motivasi pada setiap peserta didik agar mereka tetap melanjutkan pendidikannya untuk memiliki semangat dalam belajar dan menjadi pribadi yang berguna bagi nusa dan bangsa.

Sesuai(+)

 

Keterangan:

  1. Analisis yang pertama menunjukan hasil yang positif atau sesuai karena pada UU Sisdiknas pasal 26 ayat 1 menyebutkan bahwa Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Dan hal ini sesuai dengan pendidikan yang ada pada SKB Gudo karena SKB Gudo bertujuan untuk menuntaskan wajib belajar 12 tahun dan usia peserta didiknya pun tidak dibatasi.
  2. Analisis kasus yang kedua menunjukan hasil yang positif. Berdasarkan UU Sisdiknas pasal 26 ayat 2 disebutkan bahwa Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan menekankan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangn sikap dan kepribadian profesional. Pada SKB GUdo memberikan layanan pendidikan pada peserta didik untuk dapat mengembagnkan potensi diri agar lebih kreatif, contohnya mereka dibekali ketrampilan untuk membuat karya seni.
  3. Analisis kasus yang ketiga menunjukan hasil yang positif. Berdasarkan UU Sisdiknas pasal 26 ayat 3 menyebutkan bahwa Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, keaksaraan, pendidikan keterampilan dan ketenaga kerjaan, kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. Pada SKB Gudo memberikan bentuk layanan pendidikan yang berbeda pada setiap peserta didiknya. Hal ini disesuaikan dengan kebutuhan pendidikan mereka. Misalnya untuk anak SMP dan SMA diberikan layanan pendidikan dalam bentuk Paket B dan C. Untuk orang dewasa/masyarakat sekitar diberikan layanan pendidikan berupa keaksaraan fungsional bagi buta aksara, serta ketrampilan dan ketenagakerjaan.
  4. Analisis kasus yang ke empat menunjukan hasil yang positif. Berdasarkan UU Sisdiknas pasal 26 ayat 4 menyatakan bahwa satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim serta satuan pendidikan yang sejenis. Hal ini sesuai dengan SKB Gudo karena satuan pendidikan dalam SKB Gudo berbentuk kelompok belajar.
  5. Analisis kasus yang kelima menunjukan hasil yang positif. Berdasarkan UU Sisdiknas pasal 26 ayat 5 menyebutkan bahwa kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, ketrampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan atau melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi. Hal ini sesuai pada SKB Gudo karena SKB ini memberikan bekal pada peserta didik untuk bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan juga dapat menerapkan ilmu berupa ketrampilan untuk diterapkan dalam dunia kerja.
  6. Analisis kasus yang ke enam menunjukan hasil yang positif. Berdasarkan UU Sisdiknas pasal 26 ayat 6 menyebutkan bahwa Hasil pendidikan non formal dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan. Hal ini sesuai dengan pendidikan nonformal pada SKB Gudo karena peserta didik yang menempuh pendidikan disana akan mendapatkan ijazah dan juga rapot yang disetarakan dengan pendidikan formal pada umumnya. Akan tetapi standart nilai yang dipakai pada SKB Gudo memiliki sedikit perbedaan dengan pendidikan formal.
  7. Analisis kasus yang ketujuh menunjukan hasil yang positif. Berdasarkan UU Sisdiknas pasal 2 ayat 3 menyebutkan bahwa Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa,berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Hal ini sesuai dengan pendidikan pada SKB Gudo yang mempunyai visi dan misi untuk membentuk peserta didik yang memiliki ketrampilan, kepribadian dan juga kemandirian.
  8. Analisis kasus yang kedelapan menunjukan hasil yang negatif. Berdasarkan UU Sisdiknas pasal 45 ayat 1 yang menyebutkan bahwa setiap satuan pendidikan formal dan nonformal menyediakan sarana dan prasarana yang memenui keperluan pendidikn sesuai ddengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan inelektual, social, emosional, dan kejiwaan peserta didik. Pendidikan pada SKB Gudo belum memiliki sarana dan prasarana untuk mendukung proses pendidikan yang ada disana. Misalnya adanya jumlah computer yang tidak sesuai dengan jumlah peserta didik.

 

  1. Analisis kasus yang ke Sembilan menunujukan hasil yang positif. Berdasarkan UU Sisdiknas pasal 13 ayat 1 menyebutkan bahwa jalur pendidikan terdiri dari pedidikan formal, non formal dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. Hal ini sesuai pada pendidikan yang ada di SKB Gudo yang memiliki paket B dan paket C yang setara dengan pendidikan formal untuk SMP dan SMA. Layanan pendidikan paket B dan C ini diberikan untuk membantu anak yang kurang beruntung pada pendidikan formal. Jadi sifat antara kedua jalur pendidikan ini saling melengkapi.
  2. Analisis kasus yang kesepuluh menunjukan hasil yang positif. Berdasarkan teori menyebutkan bahwa Pendidik telah melaksanankan fungsinya sebagai emansifator ketika peserta didik menilai dirinya tak berharga dan putus asa, dibangkitkan kembali menjadi pribadi yang percaya diri. (E. Mulyasa, 2011:60). Hal ini sesuai pada pendidikan nonformal di SKB Gudo, karena SKB Gudo juga memberikan semangat dan motivasi pada peserta didik untuk tetap belajar dalam mengembangkan potensi dirinya

 


 

KESIMPULAN

  1. Lingkungan adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan peri kehidupan dan kesejahtraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Lingkungan sendiri terbagi atas beberapa bagian diantaranya lingkungan alam hayati, lingkaungan non hayati, lingkungn buatan, dan lingkungan sosial. Jadi benda, hewan, pakaian, dsb. Bisa memberikan pengaruh terhadap kelangsungan hidup manusia.
  2. Lingkungan pendidikan adalah suatu tempat dimana dapat dilangsungkannya suatu proses pendidikan. Baik itu pendidikan formal, informal, maupun nonformal.
  3. Pendidikan Informal adalah pendidikan yang berlangsung dalam lingkungan keluarga. Pendidikan informal juga bisa disebut sebgai pendidikan keluarga. Pendidikan ini memiliki ciri-ciri yang dapat membedakan dengan lingkungan pendidikan yang lain. Ciri-ciri tersebut antara lain sebagai berikut :
    1. Pertama, dikatakan pertama karena keluargalah yang mengenalkan kita akan nilai-nilai edukatif kepada msayrakat. Terutama yang bereran dalam hal ini adalah orang tua.
    2. Utama, dikatakan utama karena proses pembelajaran dirumah atau dlam keluarga tidak ada batasan waktunya. Pendidikan dalam keluarga bisa dilakukan selama 24 jam dan tidak ada syarat yang mengatur seperti halnya pada pendidikan formal.
    3. Bersifat kodrat, dikatakan kodrat karena pendidikan keluarga ini bersifat untuk selamanya. Ada hubungan darah yang saling mengikat antara anak dan orang tua sehingga tidak ada istilah mantan orang ayah atau mantan ibu.
  4. Pendidikan Formal bisa juga disebut dengan pendidikan sekolah. Pendidikan formal memiliki beberapa jalur. Diantaranya yaitu jalur pendidikan dasar, menengah, dan pendidikan tinggi. Untuk bentuk-bentuk dari jalur tersebut antara lain :
  • Pendidikan Dasar ( SD/MI dan SMP/MTS )
  • Pendidikan Menengah ( SMA/MA dan SMK/MAK )
  • Pendidikan Tinggi ( Diploma, Sarjana, Magister, dan Doktor )
  1. Pendidikan Nonforamal adalah Lingkungan pendidikan non formal merupakan lembaga kemasyarakatan atau kelompok sosial di masyarakat , baik langsung maupun tak langsung, ikut mempunyai peran dan fungsi edukatif. Dalam Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas Bab I Pasal 12 Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang (Tirtarahardja dan Sula , 2000 : 179). Lingkungan dalam masyarakat berbeda dengan lingkungan dalam keluarga dan sekolah, karena lingkungan masyarakat lebih umum sehingga perlu adanya sosialisasi dengan masyarakat lain. Aneka karakter manusia, aneka situasi sosial, aneka wilayah, aneka informasi semuanya hampir terbentang luas baik positif atau negatif, baik atau buruk.
  2. Hasil observasi pada SKB Gudo menunukan hasil yang positf dan juga negatif. Secara umum tujuan SKB Gudo adalah untuk menuntaskan wajib belajar 12 tahun. Dari penjabaran tersebut dapat disimpulkan bahwa memang benar pendidikan nonformal dapat membantu tercapainya tujuan pendidikan nasioanal. Yang mana telah dijelaskan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah tercapainya kecerdasaan secara menyeluruh baik itu intelek maupun kepribadian. Namun apakah itu akan tercapai atau tidak tergantung dari komponen-komponen yang menggerakan sistem pendidikan tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Basuni.22 Februari 2012.Raih Perak dan Perunggu OSN SMP RSBI 2012. Jawa Pos, hlm 34

Munib, Achmad.2009.Pengantar Ilmu Pendidikan.Semarang : Unnes Press

Pribadi,Sikun.2009.Landasan Pendidikan.Fakultas ilmu pendidikan.IKIP Bandung

Rohman, Arif.2011.Memahami Pendidikan dan Ilmu Pendidikan.Jogjakarta : CV Aswaja pressindo

Tirtarahardja, Umar dan La Sulo.2008.Pengantar pendidikan.Jakarta : PT Rineka Cipta

UU Sisdiknas no.20 tahun 2003

Wahyu, Dipta. 26 Maret 2012.Latih Anak DS Membaur dengan Masyarakat.Jawa Pos, hlm 29 dan 31

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s