Bahasa Indonesia Profesi

 

Bahasa Indonesia Profesi

“Morfologi”

Dosen: H. M. Nur Kholis,S.Pd,M.M.Pd

 

 
   

 

 

 

 

 

 

Prodi: B. Inggris 2011-A

Oleh:

  1. Tutik Kristina N   (1171025)
  2. Reni Lailatul L     (117794)
  3. Rahmad Eko Y    (117814)
  4. Nur Rafika H       (117823)
  5. Giri Danang D     (117853)
  6. Eva Zuliana          (117854)

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA

2011

 

KATA PENGANTAR

 

Puja – puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Esa, atas rahmat dan hidayah nya kami dapat menyelesaikan tugas akhir ini.

 

Tugas akhir ini di susun bertujuan untuk memenuhi tugas “Bahasa Indonesia” yang di berikan kepada kami. Dalam tugas ini kami membahas tentang “MORFOLOGI”.

 

Kami yakin walaupun kami telah berusaha semaksimal mungkin dalam pembuatan tugas ini tidak lepas dari kekurangan, oleh karena itu saran dan kritik yang bersifat membangun kami harapkan untuk memperbaiki tugas ini.

 

Dan akhirnya kami tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada teman – teman yang telah membantu terwujudnya makalah ini dan kepada Bapak H.M.Nur Kholis,S.Pd,M.M.Pd selaku dosen “ Bahasa Indonesia” . Semoga tugas ini dapat bermanfa’at bagi semua pihak.

 

 

 

penyusun

 

 

 

daftar isi

Kata Pengantar…………………………………………………….. 2

Daftar isi……………………………………………………………3

Bab I

Afiksasi……………………………………………………………..4-23

Bab II

Kelas kata dan kata………………………………………………..24-26

Bab III

Bentuk Derivasional………………………………………………..27-33

Bab IV

Bentuk Infleksional……………………………………………….34-38

Bab V

Kategori kata dalam bahasa Indonesia…………………………….34-46

Bab VI

Penulisan nama diri dan nama jenis………………………………46-54

English Version…………………………………………………..55-94

Daftar Pustaka…………………………………………………..95

 

 

 

Bab I

Afiksasi

(Proses Pembubuhan Imbuhan)

A. Pengertian Afiksasi

Afiksasi atau pengimbuhan adalah proses pembentukan kata dengan membubuhkan afiks(imbuhan)pada bentuk dasar, baik bentuk dasar tunggal maupun kompleks. Misal pembubuhan afiks meN- pada bentuk dasar jual menjadi menjual,bolak-balik menjadi membolak-balik. Pembubuhan afiks ber- pada bentuk dasar main menjadi bermain, main peran menjadi bermain peran. Berdasarkan contoh-contoh tersebut pembubuhan afiks dapat terjadi pada bentuk linguistik berupa bentuk tunggal(jual,main) dan kompleks (bolak-balik,main peran).

Afiksasi sangat produktif untuk pembentukan kata dalam bahasa Indonesia. Dikarenakan, bahasa indonesia bersistem “aglutinasi”. Yaitu sistem bahasa yang pada proses pembentukannya unsur-unsurnya dilakukan dengan cara menempelkan unsur atau bentuk lainnya.

Dalam proses afiksasi, afikslah yang menjadi dasarnya. Afiks adalah linguistik yang pada suatu kata merupakan unsur langsung dan bukan kata atau pokok kata, yang bisa membentuk kata atau pokok kata baru.

Kombinasi morfem adlah gabungan antara morfem bebas dengan morfem terikat atau morfem bebas dan morfem bebas sebagai bentuk kompleks.Misalnya kata menciummerupakan bentuk terikat. Bentuk cium dapat berdiri sendiri sedangkan bentuk meN- tidak dapat berdiri sendiri sehingga dikatakan sebagai bentuk terikat. Oleh karena itu meN- merupakan afiks. Setiap afiks merupakan bentuk teikat. Dan aiksasi dapat mengakibatkan
(1) mengalami perubahan bentuk,(2)menjadi kategori tertentu sehingga berstatus kata atau bila berstatus kata berganti kategori,(3) berubah makna.

B. Jenis-jenis Afiks

Dari segi penempatan afiks dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok. Jenis-jenis afiks adalah sebagai berikut.

1)  Prefiks (awalan), yaitu afiks yang diletakkan di depan bentuk dasar.

Contoh: meN-, ber-, ter-, pe-, per-, se-

2) Infiks (sisipan), yaitu afiks yang diletakkan di dalam bentuk dasar.

Contohnya : -el, -er, -em, dan –in.

3) Sufiks (akhiran), yaitu afiks yang diletakkan di belakang bentuk dasar.

Contohya : -an, -kan, -i.

4) Simulfiks, yaitu afiks yang dimanifestikan dengan ciri-ciri segmental yang dileburkan pada bentuk dasar.

Contohnya : kopi menjadi ngopi,sate menjadi nyate.

5) Konfiks, yaitu afiks yang terdiri atas dua unsur, yaitu di depan dan di belakang bentuk dasar.

Contohnya : ke-an pada bentuk dasar ada mrnjadi keadaan,per-an pada bentuk dasar sahabat menjadi persahabatan.

6) Imbuhan gabungan(kombinasi afiks), yaitu kombinasi dari dua afiks atau lebih yang bergabung dengan bentuk dasar.

Contohnya : pada kata memperkenalkanterdapat sebuah bentuk dasar kenal dengan dua prefiks (mem dan per)

7) Suprafiks atau superfiks adalah yang dimanefestasikan dengan ciri-ciri suprasegmental atau afiks yang berhubungan dengan mofem suprasegmental. Afiks tersebut tidak terdapat pada bahasa Indonesia.

* Catatan:

Suprafiks terdapat pada bahasa batak atau toraja.

Contoh: bitti                  ‘kecil’              dan      bittik                ‘kecil sekali’

               Malampo         ‘gemuk’           dan      malo’pok         ‘gemuk sekali’

8) Interfiks, yaitu jenis afiks yang muncul diantara dua unsur.

Contoh : interfiks –n dan –o pada gabungan Indonesia dan logi menjadi Indonesianologi; jawa dan logi menjadi jawanologi.

9) Transfiks, yaitu jenis infiks yang menyebabkan bentuk dasar menjadi tebagi. Bentuk tersebut terdapat pada bahasa Afro-Asiatika, antara lain bahasa Arab.

Contohnya : akar ktb dapat diberi transfiks a-a,l-a,a-l, dan lain sebagainya menjadi katab (ia menulis), katib(penulis).

Berdasarkan asalnya, afiks dalam bahasa Indonesia dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu

1) Afiks asli, yaitu afiks yang bersumber dari bahsa Indonesia. Misalnya, meN-, ber-, ter-, el-, em-, er-, -l, -kan, dan lain-lain.

2) Afiks serapan, yaitu afiks yang bersumber dari bahasa asing ataupun bahasa daerah. Misalnya, -man, -wan, -isme, -isasi, dan lain-lain.

 

C. Pembubuhan Prefiks

1. Prefiks Asli Bahasa Indonesia

a. Prefiks meN-

1) Bentuk prefiks meN-

Dalam pembentikan kata, prefiks meN- mengalami perubahab bentuk sesuai kondisi morfem yang mengikutinya. N (kapital) pada prefiks meN- tidak bersifat bebas, tetapi mengalami perubahan.

Kaidah perubahan meN-:

a)      Prefiks meN- berubah menjadi meng- jika diikuti oleh bentuk dasar yang bermula dengan fonem /k/, /g/, /h/, /kh/, dan semua vokal (a, i, u, e, o). Fonem /k/ mengalami peluluhan.

Contoh :

meN- + ambil                           mengambil

meN- + ikat                              mengikat

b)      Prefiks meN- benrubah menjadi me- jika diikuti oleh bentuk dasar yang bermula dengan fonem /l/, /m/, /n/, /r/, /y/, dan /w/.

Contoh :

meN- + makan                          memakan

meN- + ramaikan                      meramaikan

c)      Prefiks meN- berubah menjadi men- jika diikuti oleh bentuk dasar yang bermula dengan fonem /d/ dan /t/. Fonem /t/ mengalami peluluhan.

Contoh :

MeN- + tanam                          menanam

meN- + datang                         mendatang

d)     Prefiks meN- berubah menjai mem- jika diikuti oleh bentuk dasar yang bermula dengan fonem /b/, /p/, /f/. Fonem /p/ peluluhan

Contoh :

meN- + bantu                           membantu

MeN- + pukul                           memukul

e)      Prefiks meN- berubah menjadi meny- jika diikuti oleh bentuk dasr yang bermula dengan fonem /c/, /j/, /s/, dan /sy/. Fonem /s/ mengalami peluluhan.

Contoh :

meN- + sayangi                        menyayangi

meN- + sucikan                        menyucikan

f)       Prefiks meN- berubah menjadi menge- jika diikuti oleh bentuk dasar yang bersuku satu.

Contoh :

meN- + tik                                mengetik

meN- + pel                               mengepel

2) Fungsi prefiks meN-

Adalah membentuk kata kerja, baik kata kerja transitif maupun intransitif.

3) Arti prefiks meN-

Ditinjau dari dua segi, yaitu sebagai unsur pembentuk kata kerja intransitif dan transitif.

Sebagai unsur pembentuk Intransitif, prefiks meN- memiliki arti sebagai berikut:

a)      Mengerjakan sesuatu perbuatan atau gerakan: menari, menyanyi, merangkak.

b)      Menghasilkan atau me,buat sesuatu hal: mengguak, mencicit,meringkik.

c)      Jika kata dasarnya menyatakan tempat, memiliki ari menu ke arah: menepi,menyisi,meminggir.

d)     Berbuat seperti, berlaku seperti, atau menjadi seperti: merajalela,membantu,menyemak.

e)      Jika kata dasarnya adalah sifat atau bilangan,memiliki arti menjadi: memutih,merendah,meninggi.

f)       Variasai lain dari meN- + kata bilangan adalah menyatakan membuat untuk kesekian kalinya: menuju hari, meniga hari.

Sebagai unsur pembentuk kata kerja transitif, prefiks meN- mengandung arti:

a)      Melakukan suatu perbuatan: menulis, membuang, menangkap.

b)      Bekerja dengan apa yang terkandung dalam kata dasar: menyapu, memarang,menyabit.

c)      Membuat atau menghasilkan apa yang disebut dalam kata dasar: menyambal, menggulai.

b. Prefiks peN-

1) Bentuk Prefiks peN-

Seperti halnya prefiks meN-, prefiks peN- juga mengalami perubahan.

Kaidah perubahan peN:

a)      Prefiks peN- berubah menjadi peng- jika diikuti bentuk dasar yang bemula dengan fonem /k/, /g/, /h/, /kh/, dan semua vokal (a,i,u,e,o). Fonem /k/ mengalami peluluahn

Contoh:

peN- + ambil                            mengambil

peN- +kothbah                         pengothbah

b)      Prefiks peN- berubah menjadi pe- jika diikuti oleh bentuk dasar yang bemula dengan fonem /l/, /m/, /n/, /ny/, /ng/, /r/, /y/, dan /w/.

Contoh:

peN- + ramal                           peramal

peN- + waris                            pewaris

c)      Prefiks peN- berubah menjadi pen- jika diikuti oleh bentuk dasar yang bermula dengan fonem /d/ dan /t/. Fonem /t/ mengalami peluluhan.

Contoh:

peN- + datang                          pendatang

peN- + tanam                           penanam

d)     Prefiks peN- berubah menjadi pem- jika diikuti oleh bentuk dasar yang bermula dengan fonem /b/, /p/, /f/. Fonem /p/ mengalami peluluhan.

Contoh:

peN- + bantu                            pembantu

peN- + pukul                            pemukul

e)      Prefiks peN- berubah menjadi peny- jika diikuti oleh bentuk dasar yang bermula dengan fonem /c/, /j/, /s/. Fonem /s/ mengalami peluluhan.

Contoh :

peN- + sayang                          penyayang

peN- + sandar                           penyandar

f)       Prefiks peN- berubah menjadi penge- jika diikuti oleh bentuk dasar yang bersuku satu.

Contoh:

peN- + tik                                 pengetik

peN- + pel                                pengepel

2) Fungsi Prefiks peN-

Fungsi utama peN- adalah membentuk kata benda. Tetapi bisa berfungsi sebagai kata sifat.

Contoh:

Ia seorang penakut ——- kata benda                     Ia sangat penakut ——- kata sifat

Ia seorang pemalas ——- kata benda                     Ia sangat pemalas ——- kata sifat

3) Arti Prefiks peN-

Berfungsi membentuk kata benda dari kata dasar .

Arti prefiks peN- dapat digolongkan sebagai berikut:

a)      Menyatakan orang yang biasa melakukan tindakan yang tersebut pada bentuk dasar. Misalnya, pembaca, pengarang, pengukur.

b)      Menyatakan alat yang dipakai untuk melakukan tindakan yang tersebut pada bentuk dasar. Misalnya, pemotong, pemukul, penjahit.

c)      Menyatakan memiliki sifat yang pada bentuk dasarnya. Misalnya, pemalas, penakut, pemalu.

d)     Menyatakan yang menyebabkan adanya sufat tersebut pada bentuk dasar. Misalnya, pengeras, penguat, pendingin.

e)      Menyatakan memiliki sifat berlebihan yang tersebut pada bentuk dasar. Misalnya, pemalu, penakut, pemberani.

f)       Menyatakan yang biasa melakukan tindakan yang brhhubungan dengan benda yang tersebut pada bentuk dasar.Misalnya, pelaut, penyair, pengusaha.

c. Prefiks ber-

1) Bentuk

Prefiks ber- juga dapat mengalami perubahan bentuk.Terdapat tiga bentuk yang dapat terjadi jika prefiks dijdikn bentuk dasar. Yaitu be-, ber-, bel.

Kaidah perubahan ber-:

a)      Prefiks ber– berubah menjadi be- jika ditempatkan pada bentuk dasar yang bermula dengan fonem /r/ atau suku pertamanya /er/.

Misalnya:

ber- + ranting                            beranting

ber- + rantai                              berantai

b)      Bentuk ber- berubah menjadi ber-(tidak mengalami perubahan) jika ditempatkan pada bentuk daasar yang suku pertamanya bukan fonem /r/ atau tidak mengandung /er/.

Misanya:

ber- + main                               bermain

ber- + dasi                                berdasi

c)      Prefiks ber- berubah menjadi bel- jika diletakkan pada bentuk dasar ajar.

ber- +  ajar                                belajar

2) Fungsi

Adalah membentuk kata-kata yang termasuk ke dalam golongan kata kerja. Contohnya, bermain, bersiul, berjalan.

3) Arti

Makna prefiks ber- dapat dikelompokkan seperti berikut:

a)      Mengandung arti mempunyai atau memiliki. Contohnya: bernama, beristri, beribu.

b)      Memakai sesuatu yang disebut dalam kata dasar. Contohnya: berkereta, bersepeda, berkalung.

c)      Mengerjakan atau menggandakan sesuatu. Contohnya: berwajah, berkuli, bernafas.

d)     Memperoleh atau menghasilkan sesuatu. Contohnya: berhujan, beruntung, bersiul.

e)      Berada pada keadaan sebagai yang disebut dalam kata dasar. Contohnya: beramai-ramai,bergegas-gegas.

f)       Jika kata dasarnya adalah bilangan atau kata benda yang menyatakan ukuran, ber- mengandung arti himpunan. Contohnya: bersatu, bermeter-meter, bertahun-tahun.

g)      Menyatakan perbuatan yang tidak transitif. Contohnya: berjalan, berkata, berdiri.

h)      Menyatakan perbuatan mengenai diri sendiri atau refleksif. Contohnya: berhias, bercukur, berlindung.

i)        Menyatakan perbuatan berbalasan atau resiprok. Contohnya: berkelahi, bertinju, bergulat.

j)        Mengandung arti katabila dirangkai di depan sebuah kata berobjek. Contohnya: berkedai nasi, bermain mata, bermain bola.

d. Prefiks ter- dan di-

1) Bentuk prefiks ter- dan di-

Prefiks ter mempunyai alomorf ter- dan tel-. Bentuk ter- hanya terjadi pada kata-kata tertentu seperti terlanjur dan terlentang, sedangkan di-tidak pernah mengalami perubahan bentuk ketika diletakkan dengan bentuk lain.

2) Fungsi Prefiks ter- dan di-

Yaitu sama-sama membentuk kata kerja pasif. Yaitu kata kerja yang subjeknya dikenai tindakan. Contoh (1) Burhan ditangkap polisi (2) Buku itu terbawa lola kemarin.

3) Arti Prefiks ter- dan di-

a)      Menyatakan aspek perfektif. Misalnya pada kalimat berikut:

Kerajaan Mataram kini terbagi menjadi empat kerajaan.

Kata terbagi dalam kalimat tersebut berarti sudahdibagi atau dengan kata lain menyatakan prespektif.

b)      Menyatakan ketidaksengajaan. Misalnya: terpijak; tidak sengaja dipijak.

c)      Menyatakan ketiba-tibaan. Misalnya: terbangun, tertidur,teringat.

d)     Menyatakan suatu kemungkinan.

Misalnya:

Tidak ternilai                : tidak dapat dinilai

Tidak terduga               : tidak dapat diduga

e)      Menyatakan makna paling. Misalnya: tertinggi, terluas,terpandai.

 

e. Prefiks per-

Prefiks per- sangat berkaitan dengan prefiks ber-. Jika kata kerjanya berawalan ber- dan tidak pernah ditemukan dalam bentuk meN-, kata bendanya menjdai per-.

Misalnya: kata dasar tapa

Bentuk ber- dari kata tersebut adalah bertapa(kata kerja), tidak ditemukan dalam bentuk meN-, yaitu menapa.Oleh karena itu kata bendanya adalah pertapa.

Kelas kata benda dengan per- luluh ke menjadi per-.

Misalnya:

Bertapa———pertapa———petapa

Bertani———-pertani———petani

Selain membentuk kata benda prefiks per- juga beerfungsi membentuk kata kerja kausatif. Misalnya, perkecil,percantik.

f. Prefiks ke-

Prefiks ke- tidak mengalami perubahan jika digabungkan dengan bentuk dasar.

Prefiks ke- berfungsi membentuk kata benda dan juga kata bilangan. ke- membentuk kata benda, Misalnya, ketua, kehendak, dan kekasih. Ke- membentuk kata bilangan, misalnya, keempat, kelima, keenam.

Makna prefiks ke-:

1)     Menyatakan kumpulan yang terdiri atas jumlah yang tersebut pada bentuk dasarnya:

Kedua (orang)             : kumpulan yang terdiri atas dua orang

Keempat (pasang)       : kumpulan yang terdiri dari empat pasang

2)      Menyatakan urutan. Misalnya:

Ia menduduki ranking kedua

g. Prefiks se-

Prefiks se- berasal dari kata sa yang berati satu, tetapi karena tekanan struktur kata, vokal a dilemahkan e.

Prefiks se- pada umumnya melekat pada kata benda seperti serumah, seminggu, sehari. Dan kata sifat seperti, setinggi, seluas, seindah.

Arti prefiks se- adalah sebagai berikut:

1)      Menyatakan makna satu. Misalnya: serombongan, sebuah, sekampung.

2)      Menyatakan makna seluruh. Misalnya:sedunia, sekampung, sekota.

3)      Menyatakan makna sama.

Misalnya: sepohon kelapa      :sama dengan pohon kelapa

4)      Menyatakan makna setelah. Misalnya; sesampainya, setibamu, sepulangku.

2. Prefiks Serapan

Bahasa Indonesia banyak menyerap kata-kata maupun afiks dari bahasa lain, baik bahas daerah maupun bahasa asing.

Prefiks serapan terssebut antara lain:

1)      Pra       : ‘yang mendahului’ atau ‘sebelumnya’.

  Contoh: prasejarah, prasangka, prasarana.

2)      Tuna    : ‘tidak sempurna’ atau ‘kurang’

  Contoh: tunanetra, tunarungu, tunasusila.

3)      Pramu  : ‘petugas’

  Contoh: pramuria, pramusiwi, pramuniaga.

4)      Maha   : ‘besar’

  Contoh; mahasiswa, mahaguru, maharaja.

5)       Non    : ‘tidak’

  Contoh: nonaktif,nonteknis, nonakademis.

6)      Swa     : ‘sendiri’

  Contoh:swasta, swasembada, swatantra.

D. Pembubuhan Infiks

Infiks dalam bahasa Indonesai adalah -el-,-em-,-er-. Pembentukan kata kata dengan Infiks adalah dengan menyisipkan infiks tersebut diantara konsonan dan vokal pada suku pertama kata dasar.

Misalnya:

Gigi + -er-                           = gerigi

Tunjuk + -el-                       = telunjuk

Guruh + -em-                      = gemuruh

Dari contoh tersebut, terlihat bahwa Infiks dalam bahasa Indonesia tidak mengalami perubahan bentuk.

Arti Infiks sebagai berikut:

1)      Menyatakan banyak dan bermacam-macam.

Misalnya: tali –temali-, gigi –gerigi-.

2)      Menyatakan intensitas atau frekuensi.

Misalnya:

Guruh – gemuruh

Terang – temerang

3)      Mempunyai sifat atau memiliki hal yang disebut dalam kata dasar dan dapat pula berarti yang melakukan.

Misalnya:

Patuk – pelatuk

Turun – temurun

 

E. Pembubuhan Sufiks

Sufiks atu akhiran adalah morfem terikat yang diletakkan dibelakang suatu bentuk dasar dalam membentuk kata. Sufiks asli dalam bahasa Indonesai yaitu, -an, -i, -kan, dan –nya. Sedangkan sufiks serapan yaitu, -man,-wan, -wati, -isasi, -isme, dan lain – lain.

1. Sufiks Asli

a. Sufiks –an.

1)    Bentuk

Sufiks –an tidak mengalami perubahan bentuk dalam penggabungannya dengan unsur-unsur lain.

2)      Fungsi

Berfungsi untuk membentuk kata benda atau membendakan.

3)      Arti

a)      Menyatakan tempat: kubangan, pangkalan, labuhan.

b)      Menyatakan kumpulan atau seluruh: lautan, daratan, kotoran.

c)      Menyatakan alat: kurungan, timbangan, pikulan.

d)     Menyatakan hal atau cara: didikan. Pimpinan.

e)      Akibat atau hasil perbuatan: buatan, hukuman, balasan.

f)       Sesuatu yang di…atau sesuatu yang telah…: larangan, pantangan, makanan.

g)      Menyerupai atau tiruan dari: kuda-kudaan, sapi-sapian.

h)      Tiap-tiap: harian, bulanan, kodian.

i)        Ssesuatu yang mempunyai sifat sebagai yang disebut pada kata dasar: manisan, asinan, lapangan.

j)        Menyatakan Intensitas: sayur-sayuran, buah-buahan.

 

b. Sufiks –kan

1)    Bentuk

       Sufiks –kan tidak mengalami perubahan bentuk.

1)      Fungsi

Berfungsi membentuk kata kerja transitif.

2)      Arti

a)      Menyatakan kausatif, yaitu membuat, menyebabkan, menjadikan sesuatu. Misalnya, menerbangkan, melemparkan,membukukan.

b)      Suatu variasi dari kausatif adalah menggunakan sebagai alat atau membuat dengan. Misalnya, menikamkan tombak, memukulkan tongkat.

c)      Menyatakan benefatif atau membuat untuk orang lain. Misalnya. Membelikan, meminjamkan.

d)     Merupakan ringkasan dari kata tugas akan. Misalnya, sayangkan, kasihkan, sadarkan.

c. Sufiks –i

1) Bentuk

Sufiks –i tidak mengalami perubahan bentuk.

2) Fungsi

Berfungsi untuk membentuk kata karja transitif. Sufiks –i mempunyai persamaan dengan sufiks –kan, yaitu sama-sama membentuk kata kerja transitif. Akan tetapi sufiks –i objeknya bersifat diam, sedangkan sufiks –kan objeknya bersifat bergerak.

Contoh: (1) Anak itu menaiki tangga

              (2) Anak itu menaikkan tangga

 

3) Arti

a) Menyatakan objekdari kata kerja menunjukkan suatu tempat atau arah berlangsungnya suatu peristiwa. Contohnya: Saya mengelilingi kota.

b) Terkadang arti lokatif tersebut mendapat arrti khusus, yaitu memberi kapada atau menyebabkan sesuatu menjadi. Contohnya: menyakiti hati.

c) Menyatakan intetensitas, pekerjaan yang dilangsungkan berulang-ulang(frekuentatif), atau pelakunya lebih dari satu orang. Contohnya: Tentara itu menembaki musuh.

d) Menimbulkan arti yang berlawanan.

    Contoh:

    Saya membului ayam = mencabuti bulu ayam

d. Sufiks -nya

bentuk –nya yang merupakan akhiran berfungsi sebagai berikut:

1)      Untuk mengadakan transposisi atau jenis kata lain menjadi kata benda (substantiv, yaitu pembedaan suatu kata, baik dari kata kerja maupun dari kata sifat)

Contoh: Baik buruknya

2)      Menjelaskan atau menekan kata yang di depannya

Contoh: Ambillah obatnnya dan minumlah

3)      Menjelaskan situasi

Contoh: Ia belajar dengan rajinnya

4)      Selain itu, terdapat beberapa kata tugas yang dibentuk dengan mempergunakan akhiran –nya. Misalnya: agaknya, rupanya,sesengguhnya.

 

 

 

2. Sufiks Serapan

a. Sufiks –man, -wan, -wati

Sufiks –man, -wan, -wati berasal dari bahasa sansekerta. Dalam bahasa Sansekerta, sufiks –man dan –wan dipakai untukmennjukkan jenis kelamin laki-laki, sedang wanita ditunjukkan dengan bentuk –wati. Misalnya: budiman,seniwati,negarawan.

b. Sufiks –a,-i

Sufiks –a dan –i juga berasal dari bahasa senskerta. Penggunaan sufiks tersebut beranologi dari dewa-dewi. –a menyatakan laki-laki,-i menyatakan perempuan. Contohnya: putra-putri, mahasiswa-mahasiswi

c. Sufiks –in/at

Sufiks –in/-at berasal dari bahasa arab. Sufiks tersebut adalah bentuk jamak yang menyatakan jenis kelamin. Contohnya: muslimin-muslinat

d. Sufiks –i

Sufiks –i berararti sifat atau asalnya. Misalnya: hewani, badani, ilahi

e. Sufiks –ani

Sufiks –ani berati menurut atau bersifat. Contohnya: rohani

f. Sufiks –iah

Sufiks –iah berarti sifat, sal keadaan. Misalnya: badaniah,alamiah

g. Sufiks –is

Sufiks –is berarti sifat atau orang. Misalnya: egois, novelis,kapitalis

h. Sufiks-isme

Sufiks –isme menyatakan paham atau aliran. Misalnya: animisme. Liberalisme, sukuisme

 

 

F. Pembubuhan Imbuhan Gabung

Kata kompleks adalah suatu bentuk kata yang paling sedikit terdiri atas satu morfem bebas dan satu morfem terikat.

Morfem-morfem yang menjadikan kata kompleks dapat dibedakan menjadi morfem gabungan atau konfiks. Ciri-ciri morfem gabungan yaitu: (1) tidak secara bersam-sama membentuk nosi atau arti yang baru, (2) imbuhan gabung biasanya membentuk kata kerja jenis verba.

1)      Imbuhan gabungan me-kan,di-kan,memper-kan,diper-kan

Mempunyai arti sebagai berikut:

1)      Mengandung arti kausatif, yaitu menyebabkan terjadinya suatu proses. Misalnya: meninggikan

2)      Menjadikan sesuatu atau menganggap sebagai. Misalnya: memperbudakkan

3)      Mengandung arti intensitas, menegaskan arti yang disebut dalam kata dasar, dan dapat berarti menyuruh. Misalnya: memperebbutkan

2)      Imbuhan gabung memper-i atau diper-i

Mempunyai arti sebagai berikut:

1)      Mengandung arti kausatif, yaitu menyebabkan sesuatau yang terkandung dalam kata dasar. Misalnya: memperbaiki

2)      Menyatakan intensitas dan terdapat pula intensitas yang mengandung arti berulang-ulang. Misalnya: Mempelajari

3. Imbuhan gabung ber-kan

Mempunyai arti sebagai berikut:

1)      Penguat dan dapat berarti atau memakai sebagai. Misalnya, berdasarkan

2)      Keringkasan dari kan. Misalnya, berharapkan

3)      Terdapat pula imbuhan gabung ber-kan yang hanya sekedar dipakai sebagai pemanis. Misalnya, bertaburkan

4. Imbuhan gabung ber-kan

Mempunyai arti sebagai berikut:

1)      Saling(timbal balik), terutama jika kata terus diulang. Misalnya, berkirim-kiriman

2)      Perbuatan terjadi berulang-ulang, tetap berlangsung, atau pelakunya banyak. Mi arti, tetapi tergolongisalnya, berebutan

G. Pembubuhan Konfiks

Konfiks adalah kesatuan afiks yang secara bersama-sama membentuk sebuah kelas kata.

Beberapa contoh konfiks:

1)      Ke – an     : Kedudukan. Jika kata tersebut dipecah akan menjadi:

   Keduduk      : tidak mempunyai arto]i

   Dudukan      : tidak mempunyai arti

2)      peN-an     : Perampokan (substantiva abstrak)

  perampok      : mempunyai arti tetapi tergolong kelas substraktiva konkret

  Rampokan     : mempunyai arti, tetapi tergolong substativa konkret.

3)      Per-an       : perikanan ( substativa abstrak)

  Perikan          : tidak mempunyai arti leksikal

  Ikanan           : tidak mempunyai arti leksikal

4)      Ber-an      : berguguran (verba reflektif)

  Bergugur       : tidak mempunyai arti

  Guguran        : mempunyai arti(substativa abstrak), tetapi tidak berhubungan dengan berguguran

5)      Per – an atau per – kan

Bentuk per-an adalah bentuk kata benda abstrak dari kata kerja ber- atu memperkan seperti: berdagang

Bentuk per-kan adalah bentuk imperatif(perintah) seperti perdengarkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab II

KATA KELAS DAN KATA

 

  1. Pengertian kata
    1. Kata sebagai satuan fonologis
    2. Kata sebagai satuan gramatis
    3. Kata sebagai satuan arti

Kata sebagai satuan fonologis,menurut :

è Kridalaksana(1985) , ciri fonologis :

–          Pola fonotatik tertentu

–          Tidak ada gugus konsonan pada pada suku akhir

–          Tidak memiliki ciri-ciri suprasegmental untuk menentukan batas suku kata

–          Jeda potensial

–          Bahwa fonem yang kedua merupakan bagian kata lain

è  Ramlan (1996), kata  :

Kata merupakan dua macam satuan,satuan fonologis dan gramatis.

è Alisyahbana (1978),kata :

adalah kesatuan kumpulan fonem atau huruf yang terkecil yang mengandung pengertian.

è Bloomfield (1996),kata :

minimal free form yaitu sebagai suatu bentuk yang dapat di ujarkan tersendiri dan bermakna tetapi bentuk tersebut tidak dapat di pisahkan atas bagian-bagian yang satu diantara nya(bermakna).

è (parera,1994 ; robin,1992 ; lyons,2995)

Keseluruhan bentuk tersebut di sebut kata

  1. Pegangan dalam perincian kelas kata      

Kelas kata adalah perangkat kata yang sedikit banyak berperilaku sintaksis sama. Sub kelas adalah bagian dari suatu perangkat kata yang berperilaku sintaksis sama.

 

  1. Kelas kata dalam bahasa Indonesia

Sudut pandang nya untuk membentuk bentuk derivasi dan infleksi,afiks dan kelas kata menjadi landasan teori nya. Para pakar tersebut diantaranya :

  1. Harimurti kridalaksana (1994),13 kelas kata :
  2. Verba
  3. Ajektiva
  4. Nomina
  5. Promina
  6. Numeralia
  7. Adverbia
  8. Interogativa
  9. Demonstrative
  10. Artikula
  11. Preposisi
  12. Konjungsi
  13. Kategori fatis

m. Interjeksi

 

  1. Hasan alwi dkk
  2. Kata benda (nomina)
  3. Kata kerja (verba)
  4. Kata sifat (ajektiva)
  5. Kata keterangan (adverbia)
  6. Kata tugas

 

  1. Gorys keraf
  2. Kata benda
  3. Bentuk
  4. Kelompok kata
  5. Transposisi
  6. Subgolongan kata benda
  7. Kata kerja atau verba
  8. Bentuk
  9. Kelompok kata
  10. Transposisi
  11. Kata sifat dan ajektiva
  12. Bentuk
  13. Kelompok kata
  14. Transposisi
  15. Subgolongan
  16. Kata tugas
  17. Bentuk
  18. Kelompok kata
  19. Partikel kah,tah,lah,pun

 

  1. Sutan takdir alisyahbana (STA)
  2. Kata benda dan subtantif (termasuk pronominal)
  3. Kata kerja atau verba
  4. Kata keadaan atau ajektiva (termasuk numeralia dan adverbial)
  5. Kata sambung atau konjungs(termasuk preposisi)
  6. Kata sandang atau partikel
  7. Kata seru atau interjeksi
  8. C.A Mees
  9. Kata benda atau nomen subtanvium
  10. Kata keadaan atau nomen adjectivum
  11. Kata ganti atau pronominal
  12. Kata kerja atau verbum
  13. Kata bilangan atau numeri
  14. Kata sandang atau articulus
  15. Kata depan atau praeposition
  16. Kata keterangan atau adverbium
  17. Kata sambung atau conjunction
  18. Kata seru atau interjection

 

 

Bab III

BENTUK DERIVASIONAL

A.Derivasional

Derivasional merupakan konstruksi yang berbeda distribusinya dari dasarnya(Samsuri,1980).Derivasi mendaftar berbagai proses pembentukan kata-kata baru dari kata-kata yang sudah ada(atau akar,asal)ajektiva dari nomina (seasonal dari season),nomina dari verba (singer dari sing),ajektiva dari verba (acceptable dari accept),dan sebagainya (Lynos,1995).Afiks-afiks yang dapat membentuk derivasional antara lain:ke-an dalam kebaikan,per-an dalam pertunjukan,pe-an dalam penurunan.

 

B.Afiks Formator Derivasional

Afiks formator adalah afiks-afiks yang membentuk kata,yaitu afiks-afiks pembentuk kata yang sifatnya mengubah kelas kata.Afiks-afiks formator derivasional antara lain :                                                                                                                                                               1) me-N digabungkan dengan kata benda                                                                                                         misalnya: 

– meN-  + gunting      =menggunting             (kata kerja)                                                                                                         – meN-  + sapu          =menyapu                   (kata kerja)                                                                             – meN-  + bor             =mengebor                 (kata kerja)

2) ber-digabungkan dengan kata benda                                                                                misalnya :

– ber-     + sepeda       =bersepeda               (kata kerja)                                               – ber-     + kebun         =berkebun                 (kata kerja)

 – ber-     + sampan      =bersampan              (kata kerja)

3) per-digabungkan dengan kata sifat                                                                              misalnya :

– per-     + panjang      =perpanjang              (kata kerja)     

-per-     + tinggi          =pertinggi                  (kata kerja)                    \

– per-     + besar          =perbesar                 (kata kerja)

4) peN-digabungkan dengan :                                                                                                            a)kata kerja                                                                                                                                 misalnya:

– peN-     + jilat             =penjilat                    (kata benda)                                                           – peN-     +pukul           =pemukul                  (kata benda)                                                    – peN-     +tunjuk          =penunjuk                 (kata benda)

            b)kata sifat                                                                                                                              misalnya:

– peN-      +nikmat        =penikmat                 (kata benda)                                                        – peN-      +marah        =pemarah                  (kata benda)                                                                          – peN-      +besar         =pembesar                (kata benda) 

5) ke- digabungkan dengan kata sifat    

 misalnya: – ke-      + tua        =ketua                       (kata benda) 

6) –i digabungkan dengan kata sifat                                                                                       misalnya:

-sayang     + -i              =sayangi                   (kata kerja)                                                            -cinta         + -i              =cintai                       (kata kerja)                                                                              -kasih        + -i              =kasihi                      (kata kerja)                                                                      

7) –kan digabung dengan:                                                                                                      a)kata benda                                                                                                                                  misalnya:

-gunting     + -kan        =guntingkan               (kata kerja)                                                       -lem           + -kan        =lemkan                     (kata kerja)

-bor            + -kan       =borkan                      (kata kerja)

b)kata sifat                                                                                                                          misalnya:                                                                                                                                  

-putih         + -kan       =putihkan                   (kata kerja)                                                              -jauh          + -kan       =jauhkan                    (kata kerja)                                                     -mulia        + -kan       =muliakan                  (kata kerja)     

8) –an digabungkan dengan kata kerja                                                                                  misalnya:

-makan     + -an          =makanan                 (kata benda)                                                              -tulis         + -an          =tulisan                      (kata benda)                                                             -tembak    + -an          =tembakan                (kata benda)                                                                                            

 

  1. D.    Afiks Majemuk Derivasional  

 Afiks majemuk derivasional adalah konfliks maupun imbuhan gabung yang membentuk kata,yaitu konfiks atau imbuhan gabung pembentuk kata yang sifatnya mengubah kelas kata.                                                                          Contoh afiks majemuk derivasional.

1) ke-an digabungkan dengan kata sifat                                                                                         misalnya:                                                                                                                                           

-putih      + ke-an         =keputihan               (kata benda)                                                -jujur       + ke-an         =kejujuran                (kata benda)                                                            -damai    + ke-an         =kedamaian             (kata benda)                                                                            

2) per-an digabungkan dengan:         

a)kata kerja                                                                                                           misalnya:

 -tunjuk     + per-an       =pertunjukan           (kata benda)                                                                                                    -sentuh    + per-an       =persentuhan          (kata benda)                                                                                                         -mandi     + per-an       =permandian           (kata benda)                                                                                             

b)kata sifat                                                              

  misalnya:                                                                                                                                             -panjang   + per-an      =perpanjangan        (kata benda)                                          -pendek    + per-an      =perpendekan         (kata benda)                                                                          -damai      + per-an      =perdamaian           (kata benda)                                                                     

3) peN- an digabungkan dengan :

a)kata kerja                                                                                                

 misalnya:                                                                                                   

-turun        + peN-an    =penurunan             (kata benda)                                                                                 -tembak    + peN-an    =penembakan          (kata benda)                                                                     -angkut     + peN-an    =pengangkutan        (kata benda)

b)kata sifat                                                                                                                      misalnya:                                                                                                                                                                     -bulat      + peN-an      =pembulatan           (kata benda)                                                                                                  -pendek  + peN-an      =pemendekan         (kata benda)                                                                               -hijau      + peN-an      =penghijauan          (kata benda) 

4) meN-kan digabungkan dengan :

a)kata benda                                                                                                                                    misalnya:                                                                                                                                               -buku      + meN-kan     =membukukan        (kata kerja)                                                                                                                        -gambar  + meN-kan    =menggambarkan   (kata kerja)                                                                                                                 -sampul  + meN-kan    =menyampulkan      (kata kerja)          

b)kata sifat                                                                                                                                  misalnya :                                                                                                                                                    -panjang  + meN-kan    =memanjangkan      (kata kerja)                                                                                                 -dekat      + meN-kan    =mendekatkan         (kata kerja)                                                                            -putih       + meN-kan    =memutihkan           (kata kerja)                                                                                                                         

c)kata bilangan                                                                                                                                     misalnya:                                                                            

-satu        + meN-kan    =menyatukan           (kata kerja)                                                                                      -dua         + meN-kan    =menduakan            (kata kerja)                                                                      

5) meN-i digabungkan dengan :                                                                                                                                                

a)kata benda                                                                                                                                          misalnya :                                                                                                                                         -bulu        + meN-i         =membului               (kata kerja)                                                                                                                  -kulit        + meN-i         =menguliti                 (kata kerja)                                                                                                -surat      + meN-i         =menyurati                (kata kerja)                                                                                                                                                 

b)kata sifat                                                                                                                                misalnya :                                                                                                                                       -dekat      + meN-i         =mendekati              (kata kerja)                                                                                         -kagum    + meN-i         =mengagumi            (kata kerja)                                                            -marah     + meN-i         =memarahi              (kata kerja)                                          

c)kata keterangan                                                                                                                                          misalnya :                                                                                                                  -sudah      + meN-i          =menyudahi            (kata kerja)

6) memper- digabungkan dengan :                                                                                                                                                              

a)kata benda 

misalnya:                                                                                                                                                                                                        – memper-   + budak        =memperbudak        (kata kerja)                                                                                 

b)kata sifat                                                                                                                          misalnya:                                                                                                                        – memper-   + indah         =memperindah          (kata kerja)                                                                                                               – memper-   + cantik        =mempercantik          (kata kerja)                                                                                     – memper-   + kecil           =memperkeci            (kata kerja)                

7) memper- kan digabungkan dengan kata sifat                                                                                                                 

Misalnya :                                                                                                                                    -banyak       + memper-kan  =memperbanyakkan   (kata kerja)                                                                                                        

8) memper-i digabungkan dengan kata sifat                                                                                                                                                                                                        

Misalnya :                                                                                                                                -baik            + memper-i       =memperbaiki             (kata kerja)                                                                                       

9) ter-kan digabungkan dengan                                                                                                                      

a)kata benda

Misalnya :                                                                                                                             -gambar       + ter-kan           =tergambarkan                                                                                 -ludah          + ter-kan           =terludahkan                                                                                                                                                                   -pasar          + ter-kan           =terpasarkan                                                                                                              

b)kata sifat                                                                                                                    

misalnya:                                                                                                                                             -lupa            + ter-kan           =terlupakan                                                                                                                     -sesal          + ter-kan           =tersesalkan

10) ter-i digabungkan dengan :

a)kata benda

misalnya :                                                                                                                                   -gambar         + ter-i             =tergambari                                                                                                           -ludah            + ter-i             =terludahi

b)kata sifat                                                                                                                                                                          misalnya :   

 -dekat            + ter-i              =terdekati                                                                                                          -sakit             + ter-i              =tersakiti                      

12) ber-kan digabungkan dengan kata benda                                                                    

Misalnya :                                                                                                                              -dasar           + ber-kan          =berdasarkan                                                                                                                                             -suami           + ber-kan         =bersuamikan                                                                                                                -sampul         + ber-kan         =bersampulkan                                          

13) di-kan digabungkan dengan :                                                                                                                                                                       

a)kata benda                                                                                                                       misalnya :                                                                                                                                     -gambar        + di-kan          =digambarkan                                                                                                                                                   -ludah           + di-kan          =diludahkan                                                                                                                            -darat            + di-kan          =didaratkan                                                                                                                                                                                  

b)kata sifat misalnya :                                                                                                    -hilang          + di-kan          =dihilangkan                                                                                    -luas             + di-kan          =diluaskan                                                                                              -rendah        + di-kan          =direndahkan

14) di-i digabungkan dengan :

a)kata benda                                                                                                                                                               misalnya :                                                                                                                                                                                      -hadiah         + di-i              =dihadiahi                                                                                                -air                + di-i              =diairi                                                                                                                        

b)kata sifat                                                                                                                                                                 misalnya :                                                                                                                                                     -senang        + di-i              =disenangi                                                                                                                                        -jauh             + di-i              =dijauhi       

 

 

 

 

 

 

 

Bab IV

BENTUK INFLEKSIONAL

A.Infleksional

Infleksional adalah konstruksi yang menduduki distribusi yang sama dengan dasarnya (Samsuri, 1980).Afiks-afiks yang membentuk infleksional adalah meN- pada kata mendengar,ber- pada kata berlari,ter- pada kata terangkat,peN- pada kata peladang,di- pada kata dipukul,-i pada kata tulisi,-kan pada kata ambilkan,-an pada kata lautan.

 

B.Afiks Formator Infleksional

Afiks formator adalah afiks-afiks yang membentuk kata,yaitu afiks-afiks pembentuk kata yang sifatnya tidak mengubah kelas kita.Contoh afiks formator :

1)meN- digabungkan dengan kata kerja

Misalnya:

–       meN-           + dengar        =mendengar       (kata kerja)

–       meN-           + pukul           =memukul          (kata kerja)

–       meN-           + karang        =mengarang       (kata kerja)

 

2)ber- digabungkan dengan kata kerja

Misalnya:

–       ber-             + lari               =berlari               (kata kerja)

–       ber-             + main            =bermain            (kata kerja)

–       ber-             + tinju             =bertinju              (kata kerja)

 

3)ter- digabungkan dengan:

a)kata kerja

misalnya:

–       ter-               + angkat         =terangkat          (kata kerja)

–       ter-               + jual              =terjual                (kata kerja)

–       ter-               + injak            =terinjak              (kata kerja)

b)kata sifat

misalnya:

–       ter-                + tinggi           =tertinggi            (kata sifat)

–       ter-                + indah           =terindah            (kata sifat)

–       ter-                + panjang      =terpanjang        (kata sifat)

 

4) peN- digabungkan dengan kata benda

    Misalnya:

–       peN-              + ladang        =peladang         (kata benda) 

–       peN-              + kail             =pengail             (kata benda)

–       peN-              + bor             =pengebor          (kata benda)      

 

5) di- digabungkan dengan kata kerja

    Misalnya:

–       di-                  + pukul          =dipukul              (kata kerja)

–       di-                  + tikam          =ditikam              (kata kerja)

–       di-                  + sodok         =disodok             (kata kerja)

 

6) – i digabungkan dengan kata kerja

    Misalnya:

–       tulis                + -i                 =tulisi                  (kata kerja)

–       cabut              + -i                =cabuti                (kata kerja)

–       cium               + -i                =ciumi                  (kata kerja)

 

7) – kan digabungkan dengan kata kerja

    Misalnya:

–       ambil              + -kan            =ambilkan           (kata kerja)

–       tembak           + -kan            =tembakkan        (kata kerja)

–       masuk            + -kan            =masukkan          (kata kerja)

 

8) – an digabungkan dengan kata benda

    Misalnya:

–       rambut           + -an              =rambutan          (kata benda)

–       laut                + -an              =lautan                (kata benda)

–       jamur             + -an              =jamuran             (kata benda)

C.Afiks Majemuk Infleksional  

Afiks majemuk adalah konfiks maupun imbuhan gabung yang membentuk kata,yaitu konfiks dan imbuhan gabung pembentuk kata yang sifatnya tidak mengubah kelas kata.Contoh afiks majemuk :

1)      ke-an digabungkan dengan kata benda

misalnya:

–       sultan               + ke-an          =kesultanan        (kata benda)

–       raja                   + ke-an          =kerajaan           (kata benda)

–       lurah                 + ke-an          =kelurahan         (kata benda)

 

2)      per-an digabungkan dengan kata benda                                                  misalnya :

–       rumah               + per-an        =perumahan       (kata benda)

–       ikan                  + per-an        =perikanan          (kata benda)

–       tanah                + per-an        =pertanahan       (kata benda)

3)      ber-an digabungkan dengan kata kerja

misalnya :

–       pukul                 + ber-an        = berpukulan       (kata kerja)

–       lari                     + ber-an        =berlarian            (kata kerja)

–       senggol             + ber-an        = bersenggolan    (kata kerja)

4)peN-an digabungkan dengan kata benda

Misalnya:                              

– nama                  + peN-an       =penamaan         (kata benda)                                             – makam               + peN-an       =pemakaman       (kata benda)

5)meN-kan digabungkan dengan kata kerja

Misalnya:

–       kerja                 + meN-kan     =mengerjakan     (kata kerja)

–       terjun                + meN-kan     =menerjunkan     (kata kerja)

–       tembak             + meN-kan     =menembakkan  (kata kerja)

6)meN-i digabungkan dengan kata kerja

Misalnya:

–       cabut                + meN-i         =mencabuti          (kata kerja)

–       tendang            + meN-i         =menendangi       (kata kerja)

7)memper-kan digabungkan dengan kata kerja

Misalnya:

–       debat               + memper-kan    =memperdebatkan

–       rebut                + memper-kan    =memperebutkan

–       tunjuk               + memper-kan   =mempertunjukkan

8)ter-kan digabungkan dengan kata kerja

Misalnya:

–       guling               + ter-kan             =tergulingkan

–       urai                   + ter-kan             =teruraikan

–       jatuh                 + ter-kan             =terjatuhkan

9)ter-i digabungkan dengan kata kerja

Misalnya:

–       lalu                   + ter-i                   =terlalui

–       lewat                + ter-i                   =terlewati

10)di-kan digabungkan dengan kata kerja

Misalnya:

–       terbang            + di-kan                =diterbangkan

–       lempar             + di-kan                =dilemparkan

–       jatuh                + di-kan                =dijatuhkan

11)di-i digabungkan dengan kata kerja

Misalnya:

–       pukul                  + di-i                     =dipukuli

–       cabut                  + di-i                     =dicabuti

–       tendang              + di-i                     =ditendangi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab V

KATEGORI KATA DALAM BAHASA INDONESIA

A.Kategori verba

Verba dapat diketahui lewat perilaku semantis dan sintaksis serta bentuk morfologisnya. Pada umumnya,verba memiliki cirri berikut.

  1. Verba berfungsi sebagai predikat atau inti predikat kalimat ,seperti

(1)   a, Pagi – pagi sekali mereka telah berlari  berkeliling lapangan .

b, Kami sedang bermain bola.

c, Bom meledak di Kuta.

Berlari,sedang bermain dan meledak pada contoh di atas berfungsi sebagai predikat; kata bermain pada sedang bermain merupakan inti predikat. Verba juga dapat berfungsi lain di luar predikat.

  1. Secara inheren, kata verba mengandung makna “ perbuatan ( aksi ), proses,atau keadaan yang bukan sifat atau bukan kualitas “
  2. Verba yang bermakna keadaan tidak dapat diberi prefiks ter – , untuk menyatakan makna ‘paling’. Jadi,tidak ada kata “terhidup”,”termati”, dan “terpingsan”.
  3. Secara umum,verba tidak dapat bergabung dengan kata penunjuk kesangatan. Akibatnya, bentuk seperti :Agak mandi,sangat mengambil atau menangis saat , menjadi tidak berterima.

.. Perilaku semantis verba

Setiap kata memiliki perilaku inheren  ( makna yang terkandung di dalamnya ). Verba makan atau mandi , misalnya secara inheren mengandung makna perbuatan, yang biasanya dapat menjawab pertanyaan  “ Apa yang terjadi pada subjek?  Jawabanya ; ia sedang mandi “. Demikian pula dengan “Bernyanyi,belajar mendekat,mencuri dan menarik “ ( juga mengandung perbuatan ),Misalnya , Kuda menarik beban  dan Adikku rajin mengaji.

Verba proses menunjukkan perubahan dari satu keadaan ke keadaan yang lain, misalnya menguning  menunjukan perubahan dari belum kuning menjadi kuning. Contoh lain adalah verba mati,meninggal ( terjadi hanya sekali,biasanya cepat ), jatuh,naik,turun,kebanjiran,mongering,terbakar,mengecil,terdampar, dan membengkak.

Verba mendengarkan, misalnya, mengandung makna adanya unsur kesengajaan. Jadi , Dia mendengarkan pidato berarti  dia sengaja mendengarkan pidato. Tetapi  Dia mendengar  berarti dia mendengar  ( walaupun tidak sengaja ) karena siapapun yang tidak tuli ia akan mendengar . verba, seperti mendengar,melihat , tahu, lupa, ingat, menyadari, dan merasa, tergolong verba pengalaman ( subjeknya mengalamai perubahan yang disebutkan verba ).

Verba dapat mengalami afiksasi, yang mengakibatkan verba itu mendapat makna tambahan. Misalnya , hadirnya sufiks – kan pada verba membuka dan memberi  mengakibatkan verba membukakan  memiliki arti membukakan untuk orang lain  dan memberikan berarti memberi kepada orang lain. Tambahan sufiks – i  pada verba mengambil mengambil, mengakibatkan mengambili berarti mengambili lebih dari sekali. dan prefiks – ter  pada terambil memunculkan makna tidak sengaja mengambil.

Perilaku sintaksis verba                                                               

Verba merupakan unsur  paling penting dalam kalimat karena verbalah yang menetapkan unsur lain yang harus,boleh atau dilarang hadir di dalam kalimat itu. Verba mengambil , misalnya, mengharuskan hadir subjek ( pelaku ) di depan dan melarang adanya objek di belakangnya, tetapi mengambili mengharuskan hadir subjek  ( pelaku ) dan objek. Prilaku sintaksis berkaitan erat dengan makna ketransitifan verba .

Ketransitifan

Ketransitifan verba ditentukan oleh nomina yang terdapat  di belakang verba ( sebagai objek kalimat aktif ). Nomina itu dapat menjadi subjek ( ketika kalimat dipasifkan ). Oleh karena itu, verba terdiri atas verba transitif  ( yang dapat dipasifkan ) dan verba taktransitif  ( yang tidak dapat dipasifkan ). Verba taktransitif  ada yang berpreposisi dan ada yang tidak.

Verba Transitif

Verba transitif memerlukan nomina sebagai objek ( pada kalimat aktif ) dan itu dapat menjadi subjek ( pada kalimat pasif ). Seperti :

(1)   a, Bi Minah sedang mencuci piring.

b, Rakyat sangat merindukan pimpinan yang adil dan jujur.

c, Pak lurah melarang warganya membuang sampah sembarangan.    

mencuci, merindukan, dan melarang pada contoh diatas adalah verba transitif karena masing – masing diikuti oleh nomina ( piring dan warganya ) atau frasa nominal ( pemimpin yang adil dan jujur ) yang berfungsi sebagai objek, yang dapat menjadi subjek ketika kalimat itu dipasifkan, seperti :

     ( 2 ) a, piring sedang dicuci oleh Bi Minah.                                                                                    b, Pemimpin yang adil dan jujur sangat dirindukan oleh rakyat.                          c, Warganya dilarang Pak Lurah membuang sampah sembarangan.    

Verba Taktransitif

Verba Taktransitf tidak memiliki nomina di belakangnya ( yang seharusnya dapat menjadi subjek kalimat pasif ).

     (1)a, Maaf , Dik, anak saya sedang mandi.

b, Kita  harus bekerja keras untuk mencapai cita – cita.

          c, Petani bertanam jagung dan ketela pohon. 

Verba mandi dan bekerja pada contoh (1a,b) diatas adalah verba taktransitif  Karen atidak diikuti nomina sebagai objek, sedangkan verba bertanam pada contoh (1c) diikuti oleh nomina jagung dan ketela pohon tetapi nomina tersebut buka objek, melainkan pelengkap ( nomina tersebut tidak dapat menjasi subjek ketika kalimat itu dipasifkan ). Oleh Karen itu betanam disebut dengan verba taktransitif.

Berikut ini  contoh verba transitif dan verba taktransitif :

contoh verba ekatransitif  :merestui, membawa ,membeli,membuktikan, mengerjakan,mmepermainkan,membelanjakan,mengadili dan memperbaiki.

a)      Contoh verba dwitransitif :membawakan, membelikan, mencarikan, mengambilkan,menyerahi, memenggil, menuduh, mengirimi, menyebut, dan menjuluki.

b)      Contoh verba semitransitif :makan, minum, menulis, menonton, menyimak dan membaca.

c)      Contoh verba taktransitif tak berpelengkap :berdiri. Menghijau,kemalaman,duduk,berlari,tenggelam,pergi,membaik,terkejut,datang,memburuk,terkicuh, kedinginan,membusuk dan timbul.

d)     Contoh verba taktransitif berpelengkap wajib : kejatuhan,berdasarkan,berkesimpulan,kehilangan,berdasarkan, berpandangan ( bahwa ) merukan,berpesan,bersendikan, ( bahwa ), dan menyerupai.

e)      Contoh verba taktransitif berpelengkap manasuka : beratap, naik, ketahuan, berharga, berbaju, berpola kehujanan,berhenti,bercat,kecopetan,berpakaian,berdinding,berpintu,mersa,berpagar.

Verba Berpreposisi.

 Verba berpreposisi adalah verba taktransitif  yang selalu diikuti oleh preposisi tertentu, seperti :

Belum tahu akan / tentang  hal itu                  berbicara tentang pertanian

Berminat  pada bidang seni                               bergantung pada aktivitas

Cinta pada tanah air                                             cinta akan kebenaran

Teringat akan  kasihmu  teringat pada orang tuanya

Suka akan kebersihan       suka pada keindahan

tergolong dalam kerabat keratonterbagi atas dua kelompok

terkenang akan/pada                                        terdiri atas dua pandangan

terjadi dari….                         Terbuat dari

Sesuai dengan peraturan yang ada                menyesal atas perbuatanya

Sehubungan dengan                                       berkaitan dengan

Mirip dengan                                                 bercerita tentang

Berkhotbah tentang                                        masuk ke ( dalam )

Keluar ke / dari                                               berangkat ke / dari

Datang ke / dari                                                memandang ke / dari

Datang ke / dari                                                serupa dengan

Sejalan dengan                                                  bertentangan dengan

Setingkat dengan                                               berlawanan dengan

Berhadapan dengan                                           berdiskusi tentang      

 

Diantara verba berpreposisi itu ada yang sama atau hampir sama artinya dengan verb transitif, seperti :

Berbicara tentang                                            membicarakan

Cinta pada / akan                                            mencintai

Suka akan                                                        menyukai

Tabu akan / tentang                                         mengetahui

Bertemu dengan                                              menemui

 

Di dalam pemakaiannya, ternyata sering ditemukan dua macam kesalahan, pertama, pemakaian bentuk transitif dengan tetap mempertahankan preposisi.

B. Kategori Adjektiva

Ciri Adjektiva :

Fungsi adjektiva di dalam kalimat adalah memberikan keterangan lebih khusus tentang sesuatu yang dinyatakan oleh nomina ( menjadi atribut bagi nomina ). Keterangan atau atribut dapat berupa deskripsi mengenai kualitas atau keanggotaan , contohnya : kecil,ikhlas,tulus,berat,merah,bundar,dan gaib. Pada rumah kecil,rasa tulus,baju merah,meja bundar,dunia gaib.

Adjektiva dapat berfungsi  predikatif ataupun adverbial. Fungsi predikatif dan adverbial itu dapat mengacu ke suatu keadaan , seperti , mabuk, sakit, basah baik dan sadar. Seperti :

(1)   a, Barangkali dia sedang mabuk.

b, Orang sakit itu sudah tidak tertolong lagi.

c, Ia basah kehujanan.

d, Semoga Anna berhasil dengan baik.

Adjektiva dapat digunakan untuk menyatakan tingkat kualitas dan tingkat bandingan acuan nomina yang diterangkannya. Tingkat kualitas ditegaskan, antara lain, dengan kata sangat dan agak ( yang diletakkan di depan adjektiva )

 

 

Perilaku semantis Adjektiva

Ada dua jenis utama adjektiva bertaraf ( pengungkapan kualitas ) dan ajdektiva tak bertaraf ( pengungkapan keanggotaan sesuatu di dalam golongan ). Perbedaan itu berkaitan dengan mungkin tidaknya suatu adjektiva menyatakan tingkat kualitas dan tingkat bandingan.

Adjektiva Bertaraf

Adjektifa bertaraf terdiri atas :

(1). Adjektiva pemeri sifat.

(2). Adjektiva ukuran.

(3). Adjektiva warna.

(4). Adjektiva waktu.

(5). Adjektiva jarak.

(6). Adjektiva sikap batin.

(7). Adjektiva cerapan .

Secara semantis, batas ketujuh kategori itu tidak selalu jelas dan sering bertumpang tindih. Namun, secra morfologis perbedaan itu tampak pada penurunannya.

Adjektiva Takbertaraf.

Adjektiva takbertaraf  menyebabkan acuan nomina diwatasinya berada di dalam atau di luar kelompok atau golongan tertentu. Kehadiran adjektiva itu tidak dapat bertaraf taraf  sehingga nomina acuannya harus berada di dalam atau diluar kelompok itu.

C. Kategori Adverbia

Adverbia terdapat pada tataran frasa dan Klausa. Pada tataran frasa, adverbial berfungsi menjelaskan verba,adjektiva, atau adverbia lain. Pada tataran klausa adverbia mewatasi atau menjelaskan fungsi sintaksis. Kata atau bagian kalimat yang dijelaskannya pada umumnya berfungsi sebagai predikat. Walaupun begitu, adverbia juga dapat menerangkan kata atau bagian sifat kalimat yang bukan predikat. Akibatnya, sejumlah adverbia dapat menerangkan nomina ataupun frasa preposisi.

 

BENTUK BENTUK ADVERBIA TERDIRI ATAS .

PERILAKU SINTAKSIS ADVERBIA

Perilaku Sintaksis adverbia dapat dilihat dari  posisinya terhadap kata atau bagian kalimat yang dijelaskan. Atas dasar itu dapat digambarkan dengan bagan sebagai berikut :

1)      Adverbia yang mendahului kata yang diterangkan , contohnya :

      Ialebih tegap dan lebih gagah dari pada adiknya.

      Danau ranau ternyata sangat indah.

2)      Adverbia yangmengikuti kata yang diterangkan, contohnya :

      Cantik nian gadis desa yang ramah itu.

      Kami tenang tenang saja menunggum kehadirannya.

3)      Adverbia yang mendahului atau yang mengikuti kata yang diterangkan, contohnya :

      Lawakan anak muda itu ternyata amat lucu.

      Ternyata lucu amat lawakan muda itu.

4)      Adverbia yang mendahului dan mengikuti kata yang diterangkan, contohnya :

      Polisi yakin bukan dia saja dalang dari pencurian itu.

      Yang kuraih itu, bagiku sesuatu yang sangat luar biasa sekali.

d. kategori nomina.

Batasan dan ciri nomina

Nomina ( kata benda ) dapat dilihat dari segi semanatis,sintaksis dan bentuk. Dari segi semantis nomina adalah kata yang mengacu pada manusia, binatang, benda dan konsep atau pengertian.

Bentuk Nomina

Nomina dapat berupa kata dasar dan kata turunan. Nomina turunan dihasilkan lewat afiksasi,perulangan, atau pemajemukan.

      Nomina Dasar : berujud pada satu morfem, nomina dasar terdiri atas nomina dasar umum dan nomina dasar khusus

      Nomina turunan : dihasilkan lewat afiksasi,perulangan atau pemajemukan. Yang perlu diingat adalah adalah bahwa kata turunan itu belum tentu diturunkan dari kata dasar. Lihat proses berikut :

Keterkaitan makna menjadi dasar penentuan sumber sehingga hampir setiap nomina turunan mempunyai sumber sendiri. Memang tidak mudah menentukan verba mana yang menjadi sumber penurunan nomina. Umumnya sumber nomina turunan adalah verba atau adjektiva, tetapi ada pula nomina yang diturunkan dari kategori lain karena nomina itu tidak mempunyai verba.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

            

 

 

Bab VI

Penulisan Nama Diri dan Nama Jenis

 

Nama Diri

Nama diri (proper name) dipakai untuk menamai orang, tempat, atau sesuatu, termasuk konsep atau gagasan. Nama diri itu tidak memiliki superordinat (tidak ada lagi nama diri di bawahnya). Sebuah nama diri selalu berdiri sendiri.

  • Yang Memiliki Nama Diri

Nama Diri Tuhan

Menurut kaidah ejaan, nama diri Tuhan, termasuk unsurnya, dituliskan dengan huruf kapital. Keterangan di belakang nama diri Tuhan dan kata ganti Tuhan dituliskan dengan huruf capital.

 Nama Diri Persona

Tulisan ini menggolongkan nama diri orang, nama diri nabi dan rasul, nama diri malaikat, nama diri dewa, nama diri setan, nama diri iblis (jika iblis punya nama), dan sebagainya.

Tidak terdapat kaidah penulisan nama diri nabi, rasul, malaikat, dewa, setan, iblis, dan sebagainya, tapi dalam contoh nama-nama itu selalu dituliskan dengan huruf awal kapital.

 Nama Diri yang Berhubungan dengan Kalender

Peristiwa penting, tahun, bulan, hari, zaman, dan masa memiliki nama diri. Menurut Pedoman Umum EYD, nama itu, termasuk unsurnya, dituliskan dengan huruf awal kapital.

 

 

 

 Benda Khas Geografi

Planet, benua, pulau, gunung, selat, laut, lautan, teluk, sungai, danau, bukit, dan lembah dapat memiliki nama diri. Nama diri itu, termasuk unsurnya, dituliskan dengan hurufawal kapital.

Penulisan nama khas geografi yang berupa nama kota, pada dasarnya, dituliskan dalam satu kata atau serangkai, kecuali yang terdiri atas tiga unsure atau lebih dan yang berupa arah mata angin.

Nama khas geografi yang menggunakan bahasa daerah ditulis sesuai dengan nama aslinya, tidak diindonesiakan karena ada pertimbangan sejarah, asal-usul daerha, atau budaya khas daerah estempat.

Nama Benda

Benda Bernyawa

Yang termasuk benda bernyawa (animate) adalah manusia dan hewan. Baik manusia, hewan, maupun tumbuhan dapat memiliki nama diri.

Nama diri orang amat tergantung pada maksud, tujuan, tradisi, atau adapt budaya di tempat itu. Nama diri hewan tidak berkaitan dengan nama jenis hewan, tetapi dapat berupa epitet.

Benda Takbernyawa

Yang termasuk benda takbernyawa, misalnya agama, kitab suci, dan aliran kepercayaan, dokumen, majalah, surat kabar, nama program, pertemuan, tempat dan/atau fasilitas umum, lembag organisasi, perkumpulan, bangsa, suku bangsa, bahasa, desa, kota, wilayah dsb., kerajaan, negara. Benda takbernyawa dapat memiliki nama diri.

Nama Jenis

Memang agak sulit membedakan nama jenis (nomenclature) dan nama diri (proper name) dengan baik. Di dalam teks, misalnya pada produk hokum dan surat-surat resmi, ejaan nama jenis sering terkacaukan dengan ejaan nama diri. Ada kecenderungan sesuatu yang dianggap bernilai, karismatis, dipuja, dihormati, dsb. dituliskan dengan huruf kapital. Padahal, ejaan dan anggapan adalah dua hal yang berbeda.

Hewan dan tumbuhan dapat dikelompokkan secara hierarkis berdasarkan kesamaan sifat dan/atau ciri di antara hewan atau tumbuhan itu, seperti spesies, genus, subkelas, dsb.

Nama jenis adalah kata benda (nomina) yang menunjuk sembarang anggota dalam kelas maujud bernyawa atau hidup, atau dalam kelas maujud takbernyawa.

Nama jenis dalam bahasa Indonesia dapat dibagi atas nama jenis benda alami (hewan, tumbuhan, penyakit) dan nama jenis benda olahan. Menurut Pedoman Umum EYD, nama jenis benda alami dibedakan sebagai berikut:

  1. menurut system binominal,
  2. mengikuti kaidah Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (tanpa disertai nama tempat atau nama khas geografi),
  3. mengikuti kaidah Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (nama tempat termasuk nama jenis).

Nama jenis benda olahan dapat dibagi menjadi:

  1. nama jenis tidak menyertakan nama tempat (dituliskan dengan huruf awal kecil),
  2. nama jenis menyertakan nama tempat,
  3. nama jenis menyertakan nama orang.

Nama Jenis Benda Bukan Alami

Nama jenis benda bukan alami (benda takbernyawa), misalnya nama jenis jabatan, nama jenis pangkat, nama jenis gelar, nama jenis profesi, nama jenis alat pertukangan kayu, nama jenis alat tulis, nama jenis bumbu dapur olahan, nama jenis bumbu dapur alami, nama jenis rumah.

Morfem

Dikenal juga satuan seperti kata, frasa, klausa, dan kalimat. Morfemmenjadi bagian pembentukatau konstituen satuan-satuan gramatikalyang lebih besar.

     Morfem dapatdikenal pemunculannya yang berulang. Dalam praktik, morfem diitemukan dalam jalan memperbandingkan satuan-satuan ujaran yang mengandung kesamaan dan pertentangan, yakni kesamaan dan per-tentangan dalam bentuk dan dalam makna. Jika kata

1)      Dibawa,

2)      Diambil,

3)      Dicuri,

4)      Didukung

Dibandingkan dengan kata

5)      Ambil

6)      Bawa

7)      Curi

8)      Dukung

Pertama-tama akan terlihat bentuk-bentuk yang sama susunan fonemnya, yakni /di/. Kedua, makna yang membedakan diambil dengan ambil juga terdapat dalam pasangan dibawa-bawa, dicuri-curi, dan didukung-dukung. Dengan kata lain, /di/ mempunyai makna. Bentuk /di/ ternyata tidak dapat dipecah menjadi bagian-bagian bermakna yang lebih kecil. Dengan perbandingan seperti di atas, kedudukan /di/ sebagai morfem untuk sementara dianggap terbukti.

Dengan memperbandingkan

9)      Di Enarotali

10)  Di Fakfak

11)  Di Gorontalo

Dengan

12)  Enarotali

13)  Fakfak

14)  Gorontalo

Akan terlihat juga bentuk dengan susunan fonem /di/ yang bermakna. Dari perbandingan diperoleh pula morfem yang berbentuk /di/. Namun, segera akan terlihat bahwa /di/ yang terdapat pada diambil, dibawa, dicuri, dan didukung mempunyai makna yang jelas berbeda dari makna /di/ yang terdapat dalam di Enarotali, di Fakfak, di Gorontalo. Kedua /di/ harus dilihat dari dua morfem yang berbeda. Untuk membedakan kedua morfem itu, dapat digunakan angka seperti {di1} dan {di2}.

Dari contoh pengenalan morfem di atas, kelihatan bahwa pekerjaan itu mudah dilakukan. Contoh yang dibicarakan adalah dari bahasa pengamat sendiri atau dari bahasa yang dikuasai pengamat.

Morfem atau Alomorf

Morfem merupakan satuan hasil abstraksi wujud lahiriah atau bentuk fonologisnya. Bentuk fonologis morfem dipandang sebagai anggota moorfem tersebut.

     Sebagian besar morfem mempunyai wujud lahiriah yang tetap di mana pun tempatnya, sedang sebagian lain berbeda wujud lahiriah jika berbeda tempatnya.

     Berdasarkan uraian di atas, dapat di katakan bahwa, misalnya, {ber} mempunyai tiga alomorf, yakni /bər/ (dalam bertemu, berjalan, dan lain-lain), /bə/ (dalam bekerja, beserta dan lain-lain), /bə/ (dalam belajar).

     Dapatlah sekarang di katakan bahwa setiap morfem mempunyai sekurang-kurangnya satu alomorf. Pemunculan alomorf-alomorf suatu morfem rupanya mengikuti persyaratan tertentu.

Jenis morfem

Morfem dapat di bedakan menurut jenisnya berdasarkan beberapa ukuran.

     Morfem juga dapat digolongkan menurut kemungkinannya berdiri sebagai kata. Morfem seperti {di} dan {ber} menurut penggolongan ini disebut morfem terikat, karen keduanya tidak dapat berdiri sendiri sebagai kata, melainkan selalu ada bersama dengan morfem lain.

     Menurut jenisnya fonem yang menyusunnya, di kenal morfem segmental, morfem suprasegmental, dan morfem segmental-suprasegmental. Morfem seperti {lihat}, {orang}, {ter}, dan {lah} adalah morfem segmental.

Bahasa Burma, Cina, dan Thai merupakan contoh bahasa yang bermorfem segmental-suprasegmental. Kata yang berbeda maknanya dinyatakan dengan bentuk segmental yang sama. Contoh;

{muɳ} ‘memberi atap; mengerumunnya’

{mÛɳ} ‘mengarah kepada’

[múɳ} ‘kelamba’

Unsur segmental dan suprasegmental bersama-sama membentuk ketiga morfem di atas.

Hubungan formal bagian-bagian morfem dapat juga di pakai sebagai ukuran penggolongan. Dalam penggolongan ini terdapat morfem utuh, seperti {ter}, {orang}, {lihat}, {pun}, yang bagian-bagian pembentukannya tidak bersambung.

Perbedaan antara morfem yang satu dengan morfem yang lainnya dapat juga ditinjau berdasarkan jumlah fonem yang membentuknya.

{i}                   1 fonem

{ke}                2 fonem

{aku}              3 fonem

Perlu dicatat bahwa banyak ahli bahasa beranggapan bahwa dalam beberapa bahasa terdapat morfem yang salah satu anggotanya tidak mempunyai wujud fonologis alomorf seperti itu di sebut alomorf nol, kosong atau zero.

15)  I have a book dan

16)  I have two books dengan

17)  I have a sheep dan

18)  I have two sheep;

Atau

19)  They call me Rambo dan

20)  They called me Rambo dengan

21)  They cut the grass (every Saturday) dan

22)  They cut the grass (last Saturday)

Dari perbandingan antara (15) dan (16) dengan (17) dan (18) diperoleh perbandingan berikut

Book : books = sheep : sheep = tunggal : jamak

Karena books terdiri dari dua morfem, sheep dalam contoh (18) pun terdiri dari dua morfem.

Morfem dapat juga dibedakan menurut macam maknanya. Ada golongan morfem yang mempunyai semacam makna dasar.

Morf

Tiap bentuk terkecil yang mempunyai makna, yang tidak atau belum dibicarakan dalam hubungan keanggotaan terhadap suatu morfem, disebut morf. Jika morf telah dilihat sebagai anggota morfem tertentu, morf tersebut sekarang berkedudukan sebagai alomorf.

Tampak bahwa sebenarnya morf dan alomorf adalah dua nama bagi wujud yang sama. Penemaan yang berbeda itu dimaksud untuk menunjukan beda tingkat analisisnya. Jika wujud itu tidak dikaitkan dengan morfem tertentu, wujud itu bernama morf.

Infleksi mengubah bentuk suatu kata untuk menetapkan hubungan-nya dengan kata-kata lain dalam kalimat.

23)  . . . are nuisance dan

24)  I saw many . . . in the hall

Namun, tidak mungkin berada dalam lingkungan seperti

25)  . . . is nacessary dan

26)  I saw a . . . in the hall

Proses derivasi mengubah suatu kata menjadi kata baru.

Proses morfologis ada yang produktif dan ada yang tidak produktif. Proses morfologis disebut produktif jika proses itu dapat dijalankan dalam pembentukan kata-kata baru. Afiksasi dalam bahasa indonesia pada umumnya bersifat produktif.

Morfem dan Makna Gramatikal

Pada bagian berjudul “ Jenis Morfem “ dalam bab ini telah di kemukakan dua golongan morfem berdasarkan macam maknanya; morfem dengan makna leksikal dam morfem dengan makna gramatikal.

Sebenarnya bukan hanya morfem-morfem afiks saja yang mempunyai makna gramatikal. Morfem seperti ke, atau, tetapi, itu, untuk, yang, dan dan – yang disebut partikel atau kata tugas juga mempunyai makna gramatikal saja.

Makna gramatikal bermacam-macam. Bahasa yang berbeda menggunakan macam dan warna kata yang berbeda. contoh berikut dalam makna dan pengungkapannya.

27)   Dian sedang bekerja disana.

28)  Dian is working there.

29)  Dian bekerja disana ( kemarin ).

30)  Dian worked there ( yesterday ).

31)  Mahasiswa harus belajar.

32)  Students must study.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Chapter I

affixation
(The application process Additives)

A. Definition of affixation
Adding affixation or word formation is the process by applying affixes (affixes) to form the basis of both the basic form of single or complex. For example affixing affixes to the basic form of sale to be sold, back and forth to flick through. Affixes affixing the basic form of air-play to play, play a role to play roles. Based on these examples affixing affixes can occur in the form of linguistic form of the singular (selling, playing) and complex (back and forth, playing the role).
Affixation very productive for the formation of words in the Indonesian language. Due, Indonesian applying “agglutination”. That is the language system in its formation process elements is done by attaching the element or any other form.
In the process of affixation, affix which it is based. Is a linguistic affix on a word is an element of direct and said not a word or subject, which could form the principal words or new words.
The combination of morphemes go round with a combination of free morphemes or bound morphemes are free morphemes and free morphemes as a form of words kompleks. For example mencium is bound form. Cium forms can stand alone while the shape to stand alone so it can not be regarded as bound forms. Therefore to an affix. Every affix is a form of teikat. And may result affix
(1) to change the form, (2) into certain categories so that the status word or status word when changing category, (3) changing the meaning.

B.AffixTypes
In terms of placement of affixes can be divided into several groups. The types of affixes are as follows.
1) Prefix (prefix), which affixes are placed in front of the base form.
Example: Men-, air-, ter-, pe-, per-, se-
2) Infix (inset), which affixes are placed in a basic form.
For example:-el,-er,-er, and-in.

3) Suffix (suffix), which affixes are placed behind the basic forms.
For example:-an, a,-i.
4) Simulfiks, which affixes the dimanifestikan with segmental characteristics are merged in the basic form.
For example: coffee into coffee, satay be nyate.
5) Konfiks, ie affixes which consists of two elements, namely in front of and behind the basic forms.
For example: the basic form of an on become circumstances exist, the basic form of friend’s on a friendship.
6) Additives combined (combination of affixes), which is a combination of two or more affixes are joined to form the basis.
For example: the word introduce in a familiar basic shape with two prefixes (mem and per)
7) Suprafiks or superfiks is a dimanefestasikan with suprasegmental features or affixes associated with suprasegmental mofem. Affixes are not present in the Indonesian language.
* Note:
Suprafiks contained in Batak language or Toraja.
Example: bitti ‘small’ and bittik ‘infinitesimal’
Malampo ‘fat’ and malo’pok ‘obese’
8) Interfiks, which is kind of affixes that appear between two elements.
Example: interfiks-n and-o in Indonesia and logy combined into Indonesianologi; Java and logy become jawanologi.
9) Transfix, is the type that causes infix form the basis of being decidei. Forms are included in the language of Afro-Asiatic, including Arabic.
For example: root KTB can be transfix aa, la, al, and so become katab (he writes), Katib (the writer).
Based on its origin, affixes in Indonesian can be grouped into two types, namely
1) Affix the original, which affixes are sourced from Indonesia language support. For example, Men-, air-, ter-, el-, em-, er-,-l, a, and others.

2) Affix uptake, ie affixes derived from foreign languages ​​or regional languages​​. For example,-man,-wan,-ism,-ization, and others.

C. affixing prefixes
1. Original Indonesian prefixes
a. Prefix to
1) forms a prefix to
In make words, prefixes to experience change morpheme shapes according to the conditions that follow. N (capital) in the prefix to be not free, but subject to change.
Rule changes to:
a) Prefix to turn to if followed by a basic form that began with the phoneme / k /, / g /, / h /, / kh /, and all vowels (a, i, u, e, o). Phoneme / k / experienced yielding.
example:
meN- + ambil                           mengambil

meN- + ikat                              mengikat

b) Prefix change to be had if followed by a basic form that began with the phoneme / l /, / m /, / n /, / r /, / y /, and / w /.
example:
meN- + makan                          memakan

meN- + ramaikan                      meramaikan

c) Prefix to turn to if followed by a basic form that began with the phoneme / d / and / t /. Phoneme / t / experienced yielding.
example:
MeN- + tanam                          menanam

meN- + datang                         mendatang

d) –Men Prefix changed become mem- if followed by a basic form that began with the phoneme / b /, / p /, / f /. Phoneme / p / leaching
example:
meN- + bantu                           membantu

MeN- + pukul                           memukul

e) -Men Prefix changed to absorb if followed by elementary form which starts with the phoneme / c /, / j /, / s /, and / sy /. Phoneme / s / experienced yielding.
example:
meN- + sayangi                        menyayangi

meN- + sucikan                        menyucikan

f) Men-Prefix changed to pulled-if followed by a monosyllabic base form one.
example:
meN- + tik                                mengetik

meN- + pel                               mengepel

2) The function prefix meN-
Is to form a verb, both transitive and intransitive verb.
3) The meaning of the prefix meN-
Viewed from two aspects, namely as an element forming intransitive and transitive verbs.
As an intransitive-forming elements, the prefix to have the following meanings:
a) Doing something works or movements: dancing, singing, crawlingb) Generate or me, for one thing: mengguak, squeaky, whinny.
c) If the word is basically stating the place, has a menu ari direction: step aside, step aside, step asided) To do such, as applicable, or be like: rampant, help, bush.(e) If the word is essentially the nature or number, has the sense of being: white, modestly, rising other than to Varies meN- + word number is expressed makes for the umpteenth time: toward the day, three day

As a transitive verb-forming element, a prefix to imply:
a) Perform an action: writing, throwing, catching
b) Work with what is contained in the base: sweep, cut, cutc) Create or produce what is called the root word: condiment, butter up

g)      b. Pen-Prefix
1) Shape Pen-Prefix
Just as the prefix to-, pen-prefix is also changing.
Rule changes in the pen:
a) Prefix Pen-turned-lawyer if the basic shape from followed by the phoneme / k /, / g /, / h /, / kh /, and all vowels (a, i, u, e, o). Phoneme / k / experience peluluahn
example:

peN- + ambil                            mengambil

peN- +kothbah                         pengothbah

b) Prefix Pen-turn into pe-if followed by a basic form from the phoneme / l /, / m /, / n /, / ny /, / ng /, / r /, / y /, and / w / .
example:
peN- + ramal                           peramal

peN- + waris                            pewaris

c) Prefix-pen turns into a pen-if followed by a basic form that began with the phoneme / d / and / t /. Phoneme / t / experienced yielding.
example:
peN- + datang                          pendatang

peN- + tanam                           penanam
d) Pen-Prefix changed to development if it is followed by a basic form that began with the phoneme / b /, / p /, / f /. Phoneme / p / experienced yielding.
example:
peN- + bantu                            pembantu

peN- + pukul                            pemukul

e) Pen-Prefix changed to ed-if followed by a basic form that began with the phoneme / c /, / j /, / s /. Phoneme / s / experienced yielding.
example:
peN- + sayang                          penyayang

peN- + sandar                           penyandar

f) Pen-Prefix changed to knowl-if followed by a monosyllabic base form one.
example:
peN- + tik                                 pengetik

peN- + pel                                pengepel

g)     
2) Prefix Functions Pen-
The main function is to form a pen-noun. But it could serve as an adjective.
example:
He was a coward noun ——- ——- He is very timid adjective
He was a slacker nouns ——- ——- He is very lazy adjective
3) Pen-Prefix Meaning
Serves to form nouns of basic words.
Pen-prefix meaning can be classified as follows:
a) Declare an ordinary person doing the action on the basic shape. For example, readers, authors, gauges

b) Declare the equipment used to perform these actions on the basic form. For example, cutters, beaters, tailor
c) puts its properties in its basic form. For example, lazy, timid, shy. d) Declare that cause sufat on basic shapes. For example, loudspeakers, amplifiers, cooling.
e) Declare properties that are redundant in the basic form. For example, shy, timid, brave.
f) Declare the usual brhhubungan perform actions with objects that are in the form dasar.Misalnya, sailor, poet, businessman.( pelaut, penyair, pengusaha)
c. Prefix ber-
1) Form
Prefixes were also able to experience a change bentuk.Terdapat three forms that can occur if the prefix dijdikn basic shapes. That is be-, air-, bell.
Rule changes were:
a) prefixes were changed to be-if placed on the basic form that began with the phoneme / r / or tribe first / er /.
For example:
ber- + ranting                            beranting

ber- + rantai                              berantai

b) The shape had changed to her (no change) if placed on the shape of the tribe first daasar not phoneme / r / or does not contain the / er /.
For example
ber- + main                               bermain

ber- + dasi                                berdasi

c) Prefix had turned into a bell-if placed on teaching basic shapes.
ber- +  ajar                                belajar

2) Function

Is a form of words which belong to the class of verbs. For example, playing, whistling, running.
3) Meaning
Prefix meaning were grouped as follows:
a) Contains or has a sense of belonging. For example: name, a wife, a thousand.
b) Wear something called the basic words. For example: riding, cycling, Berkalung.
c) Working on or duplicate something. For example:-faced, work as a coolie, breathe.
d) obtain or produce something. For example: rain, lucky, whistling.
e) Being on the circumstances as mentioned in said base. For example: rollicking, hurrying.
f) If the word is essentially the number or size stating noun, meaning the set of air-containing. For example: a unified, many meters, many years.
g) To declare the act that is not transitive. For example: running, say, standing.
h) To declare the act of self or reflexive. For example: ornate, shave, take cover.
i) Stating berbalasan or reciprocal action. For example: fighting, boxing, wrestling.
j) Contain the meaning katabila assembled in front of a word berobjek. For example: berkedai rice, flirting, playing ball.
d. Prefix ter-and in-
1) Form prefix ter-and in-
Ter have ter prefix allomorph-and-tel. Form was only occurs in certain words like already and supine, while in-never change shape when placed with other forms.
2) The function prefix and in-ter-
They both form a passive verb. That is a subject verb subject to the action. Example (1) police arrested Burhan (2) The book was carried trochus yesterday.
3) The meaning of prefixes and in-ter-
a) Declare Perfective aspect. For example in the following sentence:
Mataram kingdom is now divided into four kingdoms.

The word means the sentence is divided into has decided or in other words states perspective.
b) Declare accident. For example: trampled; accidentally climbed.
c) Declare the suddenness. For example: waking, sleeping, remembering.
d) To declare a possibility.
For example:
Invaluable       : not rated
Unexpected     : not to be expected

e) To declare the meaning of most. For example: the highest, widest, brightest.

e. Prefix per-
Prefix per-is strongly associated with air-prefix. If the verb beginning with her ​​and never to be found in the form, the noun is become  per-.
For example: basic word tapa
Forms were of the word is imprisoned (verb), not found in the form of download, is menapa.Oleh because it is the noun hermit.
Noun class with the yield to be per-.
For example:
 Ascetic——— ascetic———  hermit
Peasant ———farming- ———  farming
Apart form the noun prefix per-is also beerfungsi forming causative verbs. For example, zooming out, beautify.
f. Prefix ke
The prefix does not change when combined with basic shapes.
Prefix to the noun-forming function and also the word number. the noun form, for example, chairman, will, and lover. The word form of numbers, for example, fourth, fifth, sixth.
The meaning of the prefix ke-:

1) Declare a collection consisting of the amount that is in its basic form:
Two (people): a collection consisting of two people
The four (pairs): a collection consisting of four pairs
2) Declare the order. For example:
He ranks second
g. Prefix se-
A prefix derived from the word sa which means one, but because of the pressure structure of words, a weakened vowel e.
Prefix se-is generally attached to nouns like house, a week, a day. And adjectives such as, height, width, as beautiful.
A prefix meaning is as follows:
1) To declare the meaning of one. For example: a group, a, compatriot.
2) Declare the entire meaning. For example: worldwide, compatriot, derby.
3) Declare the same meaning.
For example: sepohon coconut: equal with coconut trees
4) To declare the meaning of after. For example: when he got, setibamu, sepulangku.
2. Prefix Absorption
Indonesian many absorbing the words and affixes from other languages, both local and foreign language study.
Prefix terssebut uptake include:
1) Pre: ‘preceding’ or ‘previous’.
  Example: prehistoric, prejudice, infrastructure.
2) Tuna: ‘imperfect’ or ‘less’
  Example: blind, deaf, prostitutes.
3) Pramu: ‘officers’
  Example: showgirl, pramusiwi, clerk.
4) The Supreme: ‘large’
  Example: students, professors, maharaj

5) Non: ‘no’
   Example: off, nontechnical, non academic.
6) Self: ‘own’
   Example: private, self-sufficiency, self-rule.
D. Infix affixing
Infix in Indonesia  is-el,-em,-er-. Formation of words with Infix is by inserting the infix between consonants and vowels in the first term basic words.
For example:
Teeth +-er-= serration
Appoints +-el-= index finger
Thunder +-em-= rumble
From these examples, it appears that Infix in the Indonesian language has not changed shape.
Infix meanings as follows:
1) Declare many and varied.
For example:-rigging, teeth, serrations.
2) Stating the intensity or frequency.
For example:
Thunder – roar
Light – temerang
3) Having the nature or have the matters referred to in said base and can also mean that it performs.
For example:
Peck – the trigger
Down – for generations

E. affixing Suffix
Atu suffix suffix is bound morpheme which is placed behind a basic form in a form words. Native suffixes in the language of Indonesia is that,-an,-i, his, and his. While the uptake of suffixes,-man,-wan,-wati,-ization,-ism, and others – others.
1. Original suffix
a. Suffix-an.
1) Form
Suffix-an unchanged form in a merger with other elements.
2) Function
Serves to form nouns or make into money.
3) Meaning
a) Declare the place: puddles, bases, harbor.
b) Declare the entire collection or: ocean, land, dirt.
c) Declare the tool: confinement, weights, yoke.
d) Declare it or the way: education. The leadership.
e) As a result of actions or the results of: artificial, punishment, replies.
f) Something in … or something that has …: prohibitions, taboos, food.
g) Resembling or a clone of: horses, cattle-sapian.
h) Each: daily, monthly, job lot.
i) Ssesuatu that have a nature as mentioned in the basic word: candy, pickles, field.
j) To declare Intensity: vegetables, fruits.
b. The suffix kan-
1) Form
The suffix does not change shape.
1) Function
Function form a transitive verb.

2) Meaning

a) Declare causative, ie make, cause, make something. For example, fly, throw, recorded.
b) A variety of causative is used as a tool or make a. For example, thrust his spear, hitting the stick.
c) Declare benefatif or create for others. For example. Buy, lend.
d) Is a summary of said task will be. For example, pity, kasihkan, unconscious.
c. Suffix-i
1) Form
Suffix-i does not change shape.
2) Function
Serves to form the word karja transitive. Suffix-i have similarities with the suffix, which together form a transitive verb. However, the suffix-i object is stationary, whereas the suffix object is moving.
Example:           (1) The boy climbed the stairs
                          (2) The child was raised ladder

3) Meaning
a) Declare objekdari verb indicates a place or direction of the course of an event. For example: I’m around the city.
b) Sometimes it gets arrti locative meaning, namely to give kapada or cause something to be. Examples: hurting.
c) Declare intetensitas, the work carried out repeatedly (frekuentatif), or the culprit more than one person. For example: The soldier opened fire on the enemy.
d) Of inflicting on the opposite meaning.
    Example:
    I pluck plucked chicken = chicken
d. Suffix- nya
its shape is a suffix function as follows:
1) To hold a transposition or other types of words into nouns (substantiv, namely the distinction of a word, either from the verb and the adjective)
Examples: Good bad
2) Explain or suppress the word in front of him
Example: Take and drink obatnnya
3) Explain the situation
Example: He studied with diligence
4) In addition, there are some words that formed the task of using its suffix. For example: apparently, apparently, sesengguhnya.
2. Absorption Suffix
a. Suffix-man,-wan,-wati

Suffix-man,-wan,-wati derived from the Sanskrit language. In Sanskrit, the suffix-man-wan and worn untukmennjukkan male gender, being female is shown with a form-wati. For example: mage, artist, statesman.
b. Suffix-a,-i
Suffix-a and-i is also derived from the language senskerta. The use of such suffixes beranologi of gods and goddesses. -A state of men, women-i states. For example: the sons and daughters, the students
c. Suffix -in/at
-in/-at Suffix comes from the Arabic language. The plural suffix is ​​stating the sexes. For example: Muslims-muslinat
d. Suffix-i
Suffix-i berararti nature or origin. For example: animal, carnal, divine
e. Suffix-ani
Ani suffix-or means according to nature. For example: the spiritual
f. Suffix-iah
-Iah suffix means that the nature, circumstances sal. For example: physical, natural
g. Suffix-is
Suffix-is meant the nature or people. For example: selfish, novelist, capitalist
h. Suffix-ism

Suffix-ism expressed ideology or stream. For example: animism. Liberalism, tribalism
F. Join affixing Additives
The word complex is a form of words which consist of at least one free morpheme and a bound morpheme.
Morphemes that make complex words can be combined or divided into morphemes konfiks. The characteristics of morphemes combined, namely: (1) does not bersam together to form a new notion or meaning, (2) affixes usually join to form the verb type verb.
1) Additives combined his right, on her, treat her, treated her
Have the following meanings:
1) Contain the causative sense, that is causing the occurrence of a process. For example: raising
2) Make something or think of it as. For example: memperbudakkan
3) Contain the meaning of intensity, confirming the sense referred to in said base, and can mean sent. For example: memperebbutkan
2) Additives join treat or treated-i-i
Have the following meanings:
1) Contain the causative sense, that is causing some thing that is contained in said base. For example: repairing
2) Stating the intensity and the intensity of which there are also connotes repetitive. For example: Studying
3. Affixes join the air
Have the following meanings:
1) The amplifier and can be mean or wear as. For example, based on
2) brevity of it. For example, berharapkan
3) There is also affixes join the air being merely used as a sweetener. For example, studded
4. Affixes join the air
Have the following meanings:
1) Mutual (reciprocal), especially if the word constantly repeated. For instance, write to each other
2) The act occurred repeatedly, still in progress, or did it a lot. Mi sense, but tergolongisalnya, scrambling
G. Affixing Konfiks
Konfiks is the unity of affixes which together form a word class.
Some examples konfiks:
1) Go to – an: Position. If the word is broken will be:
   Keduduk: do not have the Arto] i
   Holder: has no meaning
2) Pen-an: Robbery (substantiva abstract)
  robbers: but the sense of belonging to a class has a concrete substraktiva
  Robberies: have a meaning, but quite substativa concrete.
3) Per’s: fishing (substativa abstract)
  Perikan: has no lexical meaning
  Fisheries: do not have a lexical meaning
4) Ber’s: fall (verb reflective)
  Bergugur: has no meaning
  Avalanches: shall have the meanings (substativa abstract), but not related to falling
5) Per – an or per – it
Per-form is the form of an abstract noun from the verb air-atu memperkan such as: trade
Form the right is the imperative (command) as listen

 

 

 

 

 

 

 

 

 

CHAPTER II

WORDS AND WORD CLASS

A. Sense of the word
1. The word as a unit of phonological
2. The word as a grammatical unit
3. The word as a unit of meaning
Phonological word as a unit, according to:
è Kridalaksana (1985), phonological features:
– Pattern certain fonotatik
– There are no consonant clusters at the final syllable
– Not having suprasegmental characteristics to determine the syllable boundaries
– Pause potential
– That the second phoneme is part of another word
è Ramlan (1996), said:
The word is of two kinds of units, phonological and grammatical units.
è Alisyahbana (1978), said:
is a unitary set of phonemes or letters containing the smallest sense.
è Bloomfield (1996), said:
minimum free form ie as a form that can be separate and meaningful ujarkan but these forms can not be split over the parts that one of its (meaningful).
è (Parera, 1994; Robin, 1992; lyons, 2995)
The overall shape is called the word
B. Handle the details of word class
Word is the word class that behaves more or less the same syntax. Sub-class is part of a device that behaves syntactically similar words.

C. Class words in Indonesian
His point of view to form the shape of derivation and inflection, affixes and word class into its theoretical basis. The experts include:
1. Harimurti Kridalaksana (1994), 13 class said:
a. Verbs
b. Adjective
c. Noun
d. Promina
e. Numeralia
f. Adverb
g. Interogativa
h. Demonstrative
i. Artikula
j. Preposition
k. Conjunction
l. Category fatis
m. Interjection

2. Hasan et al alwi
a. Noun (noun)
b. Verbs (verbs)
c. Adjective (adjective)
d. Adverbs (adverb)
e. The word task

3. Gorys Keraf
1. Noun
a. Form
b. Group says
c. Transposition
d. Subgolongan noun
2. The verb or verb
a. Form
b. Group says
c. Transposition
3. Adjectives and adjective
a. Form
b. Group says
c. Transposition
d. Subgolongan
4. The word task
a. Form
b. Group says
c. Particles kah, tah, lah, even

4. Sutan destiny alisyahbana (STA)
a. Noun and substantive (including pronominal)
b. The verb or verb
c. Word or the adjective condition (including numeralia and adverbial)
d. Conjunctions or konjungs (including prepositions)
e. The article or particles
f. Exclamation or interjection

5. C.A Mees
a. Noun or nomen subtanvium
b. Said state or nomen adjectivum
c. Pronoun or pronominal
d. Verb or Verbum
e. The word numbers or numeri
f. The article or articulus
g. Preposition or praeposition
h. Adverbs or adverbium
i. Or conjunctive conjunction
j. Exclamation or interjection

 

 

 

 

CHAPTER III

FORM derivational

A. derivational
Derivational a different construction of the basic distribution (Samsuri, 1980). Derivations lists the various process of forming new words from the words that already exist (or root, origin) adjective from the noun (seasonal of season), nouns from verbs (singer from s), adjective from verbs (acceptable from accept), and so on (Lynos, 1995). Affix-derivational affixes that can form among others: to-an in goodness, per-an in the show, pe’s in decline.

B. Affix Formator derivational
Formator affixes are affixes that form words, affixes, ie affixes, word-forming affixes that are changing the class-kata.Afiks formator derivational affixes are: 1) to N combined with a noun such as:
– Men + scissors = cut (verb)

– to + broom = sweep (verb)

 – to + drill = drill (verb)
2) were combined with a noun for example:
– Air-+ bike = bicycle (verb)

 – air-garden + garden = (verb)

– air-boating + boats = (verb)
3) per-coupled with adjectives such as:
– Per-+ length = extend (verb)

 – per-+ height = pertinggi (verb)

 – a large-+ = Enlarge (verb)
4) Pen-coupled with: a) the verb for instance:
– Pen-+ lick = sycophant (noun)

 – Pen-+ at = bat (noun)

 – Pen-+ point = pointer (noun)
b) adjectives such as:
– Pen-+ delicious = connoisseur (noun)

– Pen-+ anger = bad-tempered (noun)

– Pen-+ = large magnifying (noun)
5) to-be combined with adjectives such as:

– the old + = head (noun)
6)-i combined with adjectives such as:
-Dear dear +-i = (verb)

+-i-love = love (verb)

+-i-love = love (verb)
7) the combined with: a) noun example:
-Scissors + a = guntingkan (verb)

-glue + a = lemkan (verb)

-drill + a = borkan (verb)
b) adjectives such as:
-White + a = putihkan (verb)

-far + a = away (verb)

-a = + noble Gentlemen (verb)
8)’s coupled with a verb such as:
-Ate +-an = food (noun)

‘-write +-an = writing (noun)

-shot +-an = shot (noun)

C. Compound Compound Affix derivational

 affixes are derivational affixes konfliks or join a form of words, ie konfiks or word-forming affixes join a nature to change the word class. Examples of plural derivational affixes.
1) all combined with an adjective such as:
-Into-an + white = white (noun)

-into-an honest + = honesty (noun)

+ to-peaceful-an = peace (noun)
2) per-an incorporated with:
a) verbs such as:-point+-per-an  = show (noun)

-per-touch + an = contiguity (noun)

-a-bath + an = bath (noun)
b) adjectives such as:

-per-length + an = extension (noun)

 + short-per-an = shortening (noun)

-a-an + peace = peace (noun)
3) coupled with an opinion:
a) verbs such as:

 pen-down +-an = decrease (noun)

-shoot + shooting pen-an = (noun)

-pen-an + transport = transport (noun)
b) adjectives such as:

 pen-round +-an = rounding (noun)

+ short-Pen-an = shortening (noun)

-pen-an + green = green (noun)
4) Men’s combined with:
a) noun eg:

-book download + a = to record (verb)

-to-right image + = describe (verb)

 cover-to-right + = menyampulkan (verb)
b) adjectives such as:

long-to-right + = elongate (verb)

-to-right + close = close (verb)

-to-right + white = whiten (verb)
c) number words such as:

-one + Men’s = unify (verb)

-to-right + two = double (verb)
5) Men-i combined with:
a) The noun for example:

fur +-to-i = plume (verb)

-to-skin + i = flay (verb)

-to-letter + i = write (verb)
b) adjectives such as:

-close to i = + close (verb)

-awe-i = + to admire (verb)

-to-i + anger = angry (verb)
c) adverbs such as:

-have-i = + to finish (verb)
6) treat combined with:
a) said objects such as:

– treat + slave = enslave (verb)
b) adjectives such as:

– treat + beautiful = embellish (verb)

 – treat + beautiful = beautify (verb)

– treat small + = memperkeci (verb)
7) shows the adjective coupled with
For example:

-many + treat it = augment (verb)
8) treat-i combined with an adjective
For example:

-good treat + i = fix (verb)
9) was not coupled with
a) noun
For example:

 Image+-ter a = undefined

-ter his spittle + =  terludahkan

-market was a = terpasarkan
b) adjective
for example: 

ter-forgot-forgotten-

regret it = was a = + tersesalkan
10) was coupled with i:
a) noun
for example:

 image+-ter-i = tergambari

-ter-i + spit = terludahi
b) adjectives such as:

-close to i =  was + ill

unapproachable-ter-i = hurt
12) were not combined with a noun
For example:

air-base + the + = on-husbands were married to-cover right = a + air = bersampulkan
13) in the combined with:
a) noun eg:

-images + in the + spit = portrayed-in-my-land

diludahkan + = in the = landed
b) adjectives such as:-in the missing + = omitted

 +-wide in the dilated-low = + = denigrated in the
14) in-i combined with:
a) noun eg:-

prize + at-i = rewarded

-in-water + i = irrigated

b) such adjectives: fun + at-i = + in the groove-far-i = shunned

 

 

 

 

 

 

 

CHAPTER IV

FORM INFLECTIONAL

A. inflectional
Is inflectional constructions occupying essentially the same distribution (Samsuri, 1980). Affix-inflectional affixes that form is to hear the word, had the words ran, including the words up, pen-on said tiller, in-on says beaten,-i in the word write on, get out the word, the word’s oceans.

B. Affix Formator inflectional
Formator affixes are affixes that form words, affixes, ie affixes, word-forming affixes that nature does not change the class affixes kita.Contoh formator:
1) to be combined with a verb
For example:
– To + hear = hear (verb)
– Men-at = + hit (verb)
– To + rock = compose (verb)

2) were combined with a verb
For example:
– Air-ran = ran + (verb)
– Air-play + play = (verb)
– Air-boxing + boxing = (verb)

3) was combined with:
a) verb
for example:
– Ter-+ lift = lift (verb)
– Was sold = sold + (verb)
– + Was trampled underfoot = (verb)
b) adjective
for example:
– Too high + highest = (adj)
– Was + beautiful = beautiful (adj)
– Too long + = longest (adj)

4) Pen-coupled with a noun
    For example:
– Pen-+ fields = tiller (noun)
– Pen-+ hook = fisherman (noun)
– Pen-drill + = borer (noun)

5) is coupled with a verb
    For example:
– At-+ at = hit (verb)
– At-+ stab = stab (verb)
– At-+ poked prodded = (verb)

6) – i combined with a verb
    For example:
– +-I = write write on (verb)
– +-I = unplug cabuti (verb)
– +-I = kiss kissing (verb)

7) – it combined with a verb
    For example:
– Take + a = fetch (verb)
– Shoot + a = shoot (verb)
– Go + out = insert (verb)

8) – an incorporated with the noun
    For example:
– Hair +-an = rambutan (noun)
– Sea +-an = ocean (noun)
– Mushroom +-an = moldy (noun)
C. Affix Compound inflectional
Konfiks or plural affixes are affixes that join to form the word, namely konfiks join forming words and affixes that nature does not change the class of plural affixes kata.Contoh:
1) to an incorporated with the noun
for example:
– + To the sultan’s empire = (noun)
– + To the king’s = kingdom (noun)
– + To the headman’s village = (noun)

2) per-an object instance coupled with the words:
– + Per house-an = housing (noun)
– + Fish per fishing-an = (noun)
– Ground + a-an = land (noun)
3) an air-coupled with a verb
for example:
– At + air-an = berpukulan (verb)
– Run an = + air-ran (verb)
– Bumper + air-brushed an = (verb)
4)’s pen combined with a noun
For example: – the pen-name + an = naming (noun) – the tomb of + pen-an = funeral (noun)
5) Men’s combined with a verb
For example:
– + Work to do = do (verb)
– + Men’s plunge = plunge (verb)
– Gunshot to right = + shoot (verb)
6) Men-i combined with a verb
For example:
– Pull the Men-i + = pluck (verb)
– To kick + i = kicked (verb)
7) shows a verb combined with
For example:
– Debates + debating treat it =
– Grab + = treat the fight
– Appoint a treat + = showcase
8) was not coupled with a verb
For example:
– Bolsters the ter + = tergulingkan
– It was explained + = decomposed
– + Ter falling out = terjatuhkan
9) was coupled with a verb i
For example:
– And + ter-i = terlalui
– Through ter-i + = elapsed
10) in combination with the verb
For example:
– On the fly + = flown
– Throw in a + = cast
– In the fall + = dropped
11) in-i combined with a verb
For example:
– At + at-i = beaten
– Unplug + at-i = uprooted
– Kick + in-i = kicked

 

 

 

 

 

 

 

CHAPTER V

CATEGORY WORD IN INDONESIAN

A. Category verbs
Verbs can be known through the semantic and syntactic behavior as well as form morfologisnya. In general, verbs have the following cirri.
A. Verb functioning as a predicate or predicate sentence core, such as
(1) a, morning – the morning once they’ve run around the field.
b, We’re playing ball.
c, bombs exploded in Kuta.
Running, playing and exploded in the example above serves as a predicate; word play on’re playing is at the core predicate. Other verbs can also function outside the predicate.
B. Inherently, the word verb meaning “deed (action), process, or condition that is not the nature or not the quality”
C. Verb which means the state can not be given a prefix ter -, to express the meaning of ‘most’. Thus, there is no “terhidup”, “termati”, and “conk”.
D. In general, verbs can not be joined with the word extreme pointer. As a result, forms like: A little shower, so take it or cry while, it becomes unacceptable.
.. Behavior of verbs semantically

Each word has an inherent behavior (meaning contained in it). Verb to eat or bathe, for example inherently implies the act, which usually can answer the question “What happens on the subject? The answer: he was in the shower “. Similarly, the “Singing, learning approaches, steal and pull” (also contains deeds), for example, horse pull the load and Jamie diligent chanting.
Process verbs indicate a change from one state to another, such as yellowing indicates a change from yellow to yellow yet. Another example is the verb to die, die (happened only once, usually sooner), falls, rises, falls, flood, drying, burning, smaller, stranded, and swollen.
Listen verbs, for example, implies the existence of the element of intent. So, he listened to a speech meant he deliberately listen to the speech. But He heard means that he heard (though not intentionally) because anyone who is not deaf he would hear. verbs, such as hearing, seeing, you know, forget, remember, recognize, and feel, quite the experience verbs (the subject is experiencing a change in the mentioned verbs).
Verbs can experience affixation, resulting verbs have additional meaning. For example, the presence of the suffix – right on the verb open and gives cause verb open means open to others and give meaning to give to others. Additional suffix – i on the verb take take, resulting in picking means picking more than once. and prefix – meaning tar on display are drawn inadvertently take.
Syntactic behavior of verbs
Verbs are the most important element in the sentence because verbalah which establishes another element that must, should or prohibited is present in the sentence. Verbs take, for example, requires the present subjects (actors) in front of and forbids any objects behind it, but picking requires the present subjects (actors) and objects. Syntactic behavior is closely related to the meaning of verbs ketransitifan.
Ketransitifan
Ketransitifan determined by nouns verbs contained in the back of the verb (as the object of an active sentence). It may be the subject noun (when the sentence pacified). Therefore, verbs consisting of transitive verbs (which can be pacified) and verbs taktransitif (which can not be pacified). Taktransitif there are prepositional verbs and some do not.
Transitive verbs
Transitive verb requires a noun as an object (in the active voice) and it may be subject (in the passive voice). Such as:
(1) a, Bi Minah was washing dishes.
b, The people longed for a fair and honest leadership.
c, Pak headman prohibits littering citizens.
washing, missed, and banned in the example above is a transitive verb for each – each followed by a noun (the plate and its citizens) or a noun phrase (the leader of a fair and honest) that serves as an object, which can be the subject when the sentence was pacified, such as:
     (2) a, the dishes are being washed by the Bi Minah. b, a fair and honest leader sorely missed by the people. c, Pak Lurah Citizens are prohibited from littering.
Verba Taktransitif
Taktransitf verb has no noun behind it (which would otherwise be the subject of the passive voice).
     (1) a, I’m sorry, little brother, my son was in the shower.
b, we must work hard to achieve dreams – dreams.
          c, farmers planting corn and cassava.
Verbs bath and works in the example (1a, b) above is a verb followed taktransitif Karen atidak nouns as objects, while verbs raise in the example (1c) followed by a noun maize and cassava but the open object noun, but rather a complement (the noun can not be womanly subject when the sentence was pacified). By Karen called it betanam taktransitif verbs.

Here are examples of transitive verbs and verbs taktransitif:
examples of verbs ekatransitif: approve, carry, buy, prove, work, mmepermainkan, spend, try and fix.
a) Example dwitransitif verb: to bring, buy, find, fetch, delegate, memenggil, accusing, send, call, and dub.
b) Examples of verbs semitransitif: eating, drinking, writing, watching, listening and reading.
c) Examples of intransitive verbs taktransitif: stand. Verdant, benighted, sit, run, sink, go, get better, surprise, come, worse, terkicuh, cold, rotting, and arise.
d) Examples of intransitive verbs taktransitif mandatory: the fall, based on, finds, loses, based on, the view (that) merukan, notice, bersendikan, (that), and the like.
e) Examples of intransitive verbs taktransitif arbitrary: roofed, gained, discovered, valuable, shirts, patterned rain, stop, painted, stolen, clothes, walls, door, Mersa, fenced.
Prepositional verbs.
 Taktransitif prepositional verb is a verb which is always followed by certain prepositions, such as:
Will not know / about it                                  talk about agriculture
Interest in the arts                                           depends on the activity
Love on the ground water                              will love truth
Remembering the love                                    thought of his parents
Likes to be liked by the beauty                       of cleanliness
classified in two groups of relatives               decide
fond memories / on                                         consists of two views
occur from ….                                                  Made of
In accordance with existing regulations         sorry for do
In connection                                                  with the related
Similar to                                                         talk about
Preaching about                                              getting into (in)
Exit to / from                                                  the left to / from
Coming to / from the                                      view to / from
Coming to / from                                            similar
In line with                                                      the conflict with
Level as                                                           opposed to
Faced with a                                                   discussion about

Among the prepositional verbs that have the same or nearly the same meaning with a transitive verb, such as:
Talking about                                                  talking
In love / will                                                    love
Like will                                                          love
Tabu will / about                                             knowing
Meeting by                                                      meeting

In in its use, it is often found two kinds of errors, first, the use of transitive form by maintaining proposition.

B. Category Adjective
Characteristic Adjective:
The function of adjectives in the sentence is to give more specific information about something that is expressed by the noun (a noun attribute for). Attribute can be either captions or descriptions regarding the quality or the membership, for example: a small, sincere, honest, heavy, red, round, and the occult. In a small house, a sense of genuine, red shirt, round table, the unseen world.
Predicative adjective or adverbial function. Predicative and adverbial function that can refer to a state, like, drunk, sick, wet well and conscious. Such as:
(1) a, Maybe he was drunk.
b, The sick were already beyond help.
c, He wet rain.
d, Anna May work well.

Adjectives can be used to express the level of quality and level of comparative reference noun He explained. Rate the quality affirmed, among other things, to put it very and somewhat (which is placed in front of adjectives)
Behavior semantically Adjective
There are two main types of adjective class (disclosure quality) and ajdektiva no class (something disclosure of membership in the group). The difference is related to whether or not an adjective may express the degree of quality and level of appeal.
Adjective Level
Adjektifa class consists of:
(1). Pemeri trait adjectives.
(2). Size adjectives.
(3). Color adjectives.
(4). Adjectives the time.
(5). Adjectives distance.
(6). Adjectives mental attitude.
(7). Adjectives perception.
Semantically, the seventh category boundary is not always clear and often overlap. However, secra morphological differences seen in the decline.
non level adjectives.
Adjective noun reference diwatasinya takbertaraf cause inside or outside the group or certain groups. The presence of adjectives that can not be world class standard of reference so that the noun should be inside or outside the group.
C. Category Adverb
Adverbs are at the level of phrases and clauses. At the level of phrases, adverbial function describes verbs, adjectives, or other adverbs. At the level of adverb clauses mewatasi or explain the function syntax. Word or part of the sentence which he describes in general serves as a predicate. However, adverbs can also explain the nature of the word or phrase that is not the predicate. As a result, a number of adverbs can describe noun phrase or preposition.

BEHAVIORsyntacticadverb

1) that precedes the word Adverb described, for example:
 Ialebih strapping and more handsome than his brother.
 Ranau Lake was very beautiful.
2) Adverb yangmengikuti words described, for example:
 Nian beautiful village girl who was friendly.
 We just take it menunggum calm presence.
3) Adverb that precede or follow the words described, for example:
 Jokes the young man was very funny.
 It turned out very funny joke that young.
4) Adverb that precede and follow the words that described, for example:
 Police believe he’s just not the mastermind of the theft.
 That I reached it, for me something very unusual at all.
d. category of noun.
Limits and characteristics of nouns
Noun (noun) can be viewed in terms of semanatis, syntax and form. In terms of semantic noun is a word that refers to humans, animals, objects and concepts or understanding.

Forms of Nouns
Nouns can be either basic words and derivative words. Noun derivative produced through affixation, looping, or compounding.
Basic nouns: berujud on one morpheme, the noun base consisting of basic nouns and common nouns specific basis
  Noun derivatives: produced through affixation, looping or compounding. The thing to remember is that the word is a derivative that is not necessarily derived from the base.

The linkage means to be the basis for determining the source so that nearly every noun derivative has its own sources. It is not easy to determine which is the source verb nouns decline. Generally, the source is a verb or a noun derivative adjectives, but there are also nouns derived from other categories because it has no verb nouns.

 

Chapter VI

Writing Personal Names and Name Type

Name of Self
Proper name (proper name) are used to name people, places, or things, including the concept or idea. The name itself does not have superordinat (no longer proper name under it). A proper name has always stood alone.

The Names Have Yourself

The name of God Self
According to the rules of spelling, proper name of God, including the elements, written in capital letters. Details behind the proper name of God and change God’s word is written with capital letters.

Name of Self Persona
This paper classifies the person’s name, name themselves prophets and apostles, angels proper name, proper name of gods, demons proper name, the name of the devil himself (if the devil had a name), and so on.
There are no rules of writing proper names prophets, apostles, angels, gods, demons, devils, and so forth, but in the example of these names are always written with initial capital letters.

Name of Self-Related Calendar
Important event, year, month, day, date, and time has a proper name. According to the Pedoman Umum EYD, the name, including the elements, written with initial capital letters.
Typical Geographic Objects
Planets, continents, islands, mountains, straits, seas, oceans, bays, rivers, lakes, hills, and valleys can have a proper name. The name itself, including its elements, is written with a capital initial.
Writing the name of the typical urban geography in the form of the name, basically, is written in a word or series, except those consisting of three or more elements of the form and direction of the wind.
Distinctive geographic name that uses the local language is written in accordance with its original name, not because there Indonesianized consideration history, origins plentiful, or distinctive cultural local regions.


Name Objects

Animate Objects
Which includes inanimate objects (animate) is a human being and animals. Good man, animals, and plants can have a proper name.
The name of the person so dependent on intent, purpose, tradition, or indigenous culture in that place. Behalf of animals is not related to the names of animals, but can be a epithet.

 Lifeless Objects
Which includes lifeless objects, such as religion, scripture, and the flow of trust, documents, magazines, newspapers, the name of the program, meeting, place and / or public facilities, organizations institution , societies, nations, tribes, languages, villages, towns, region and so on., royal, state. Lifeless objects can have a proper name.

Type Name
It is rather difficult to distinguish the type name (nomenclature) and proper names (proper name) very well. In the text, for example on legal products and official letters, spelling the name of the type often blurred by the spelling of the name itself. There tendency something that is considered valuable, charismatic, revered, respected, and so on. written with capital letters. In fact, spelling and belief are two different things.
Animals and plants can be grouped hierarchically based similarity nature and / or traits in between animal or plant, such as species, genus, subclass, etc..
Name type is a noun (noun) which designate any member in a class of entities in lifeless or living, or in a class of entities in lifeless.
The name of the type in the Indonesian language can be divided in the name of the type of natural objects (animals, plants, diseases) and the names of objects processed. According to the Pedoman Umum EYD, names of natural objects are distinguished as follows:
a. according binominal system,
b. follow the rules of Indonesian Improved Spelling (without the name of the place or the name of the typical geography),
c. follow the rules of Spelling Improved Indonesian (place names including the name of the type).
Name the type of processed objects can be divided into:
a. name does not include the type of place names (written with small initial letters),
b. include the name of the type of place names,
c. types include the name of the person’s name.

Type Name Not Natural Objects
Name the kind of thing is not natural (lifeless object), for example, type the name of the position, type the name of the rank, name of the type of degree, name of the type of profession, type the name of carpentry tools, stationery type name, the name kind of processed herbs, natural herbs species name, name of the type of house.

Morpheme
Morphology familiar with the basic element or smallest unit in the observations, the smallest grammatical units are called morphemes. As the smallest unit, morphemes can not be split up into smaller sections, each of which contains the meaning. The smallest word that implies the existence of a large satuangramatikallebih of the morpheme. Unit also known as words, phrases, clauses, and sentences. Morfemmenjadi part pembentukatau gramatikalyang constituent units larger.
     Morpheme dapatdikenal repeated occurrences. In practice, morpheme diitemukan in the street to compare the units of speech that contain similarities and contradictions, namely equality and the opposition in the form and in meaning. If the word
1) Carried,
2) Taken,
3) Stolen,
4) Supported
Compared with the words
5) Take
6) Bring
7) Steal
8) Support
First of all will look the same forms fonemnya arrangement, namely / in /. Second, the meaning which distinguishes taken by participating in the pair are also portable, stolen, stole, and supported-support. In other words, / in / have meaning. Form / in / it can not be split up into smaller meaningful parts. By comparison, as above, the position / in / as a morpheme for a while considered to be proven.
By comparing the
9) In Enarotali
10) In Fakfak
11) In Gorontalo
With
12) Enarotali
13) Fakfak
14) Gorontalo
It will be seen also shape the composition of the phoneme / at / meaningful. From the comparison morpheme is also obtained in the form of / in /. However, it soon will be seen that / at / contained in the captured, taken, stolen, and has supported a distinctly different meaning from the meaning of / in / is contained in the Enarotali, in the consortium, in Gorontalo. Second / in / to be seen from two different morphemes. To distinguish the two morpheme, it can use numbers such as {} and {di1 di2}.
From the above examples of morpheme recognition, it appears that the job was easy to do. Examples discussed were an observer of his own language or languages ​​of controlled observer.
Morpheme or allomorph
Morpheme is the unit outward manifestation of an abstraction or fonologisnya form. Phonological form of morphemes regarded as a member of the moorfem.
     Most of the morpheme has the outward form which remains in any place, while others are different from the outward form if different place.
     Based on the above, it can be in saying that, for example, {was} has three allomorph, namely / bər / (in the meet, running, etc.), / bə / (in the works, along with etc.), / bə / (in learning).
     It may be now in saying that every morpheme has at least one allomorph. Allomorph allomorph-occurrence of a morpheme seems to follow certain requirements.
Types of morphemes
Morpheme can be differentiated by type by some measures.
     Morphemes can also be classified according to the likely stand as a word. Morphemes like {in} and {her} under this classification are called bound morphemes, karen neither can stand alone as words, but always there along with other morphemes.
     Phonemes are arranged by type, known segmental morphemes, morphemes suprasegmental and segmental-suprasegmental morphemes. Morphemes like {view}, {person}, {ter}, and {is} is a segmental morpheme.
Burmese, Chinese, and Thai languages ​​are examples of segmental-suprasegmental bermorfem. Different words meaning expressed by the same segmental form. Example;
Muɳ {} ‘to give the roof; mengerumunnya’
MÛɳ {} ‘leading to’
[Múɳ} ‘kelamba’
Segmental and suprasegmental elements together form the third morpheme above.
Formal relationship morpheme parts can also be used as a measure of classification. In this classification there are morphemes intact, such as {ter}, {person}, {see}, {any}, which is part of the formation is not continued.
The difference between a single morpheme by morpheme that others can also be reviewed based on the number of phonemes that shape it.
{I} a phoneme
{To} 2 phonemes
{I} 3 phonemes
It should be noted that many linguists believe that in some languages ​​there is a morpheme that one of its members do not have the phonological shape of allomorph allomorph as it is called zero, blank or zero.
15) I have a book and
16) I have two books with
17) I have a sheep and
18) I have two sheep;
Or
19) They call me Rambo and
20) Rambo They Called me with
21) They cut the grass (every Saturday) and
22) They cut the grass (last Saturday)
From the comparison between (15) and (16) with (17) and (18) obtained the following comparison
Book: books = sheep: sheep = singular: plural
Because the books consist of two morphemes, sheep in the example (18) was composed of two morphemes.
Morphemes can also be distinguished according to the kinds of meaning. There is a class of morphemes that have a sort of basic meaning.
Morf
Each has the smallest form of meaning, which is not or has not been discussed in relation to membership of a morpheme, called Morf. If Morf has been viewed as a member of a particular morpheme, Morf is now located as allomorph.
It appears that the actual Morf and allomorph are two names for the same form. Different Penemaan was meant to show different levels of analysis. If the form is not associated with a particular morpheme, being named Morf.
Morpheme and word
The meaning of this word in the talks is free of the smallest grammatical unit.
One example is the morphological process of affixation pengimbuhan atua. The addition of affixes can be done up front, in the middle, behind, or in front of and behind the base morpheme. Affixes are added in front is called the prefix or prefixes; that in the middle called the insertion or infix; that in the back called the suffix or suffixes.
Examples
Prefix said
                             Feel
                             Sense
                             Feeling
                             Isolated
Infix serrations
                             Rumble
                             Gelosok
Suffix write on
                             Writing
                             Write
The following morphological process called internal additions, changes to internal, or internal modifications. Additions or modifications that occur within a framed fixed base morpheme.
Morphological process, as prosesyang change the shape of words, give a certain grammatical position to form a word which, especially in enabling it plays a role in the marking kalimatatau sintatik relationship.
Inflection change the shape of a word to define its relationship with other words in the sentence.
23). . . are nuisance and
24) I saw many. . . in the hall
However, it may be in an environment such as
25). . . is nacessary and
26) I saw a. . . in the hall
Derivation process of turning a word into a new word.
There is a productive morphological process and there are not productive. Morphological process is called productive if the process can be run in the formation of new words. Affixation in Indonesian in general is productive.
Grammatical morphemes and Meaning
In the section titled “Types of morphemes” in this chapter has been pointed out two classes of morphemes based on the kinds of meanings; morpheme with a lexical meaning dam grammatical morphemes with meaning.
Actually, not only morphemes are affixes that have grammatical meaning. Morphemes like to, or, but, it, for, the, and and – the so-called particle or word task also has a grammatical meaning alone.
Various grammatical meaning. Different languages ​​using a variety of different words and colors. The following examples in meaning and expression.
27) Dian was working there.
28) Dian is working there.
29) Dian worked there (yesterday).
30) Dian worked there (yesterday).
31) Students should learn.
32) Students must study.

a. Number of. Many languages, including English language, which distinguishes the category Single and multiple categories. Written beside the familiar category of singular and plural categories. For example,
Moslem ‘(a) Muslim’
Muslima; ni ‘two Muslims’
Muslimu; na ‘Muslims’
b. Type. Preformance several languages, affixes on nouns or adjectives indicate whether the word in question Uncategorised masculine or feminine or netral.contohnya;
(Masculine) Kabi; run ‘large’
(Feminine) Kabi; ratun
c. Owned. In some languages, the meaning of ‘property’ is expressed by affixes. There are markers in Indonesian mine, yours, his. For example; shoe father.
d. Kala. Time of occurrence of an act now, not long ago, will come, and so on – in several languages ​​is expressed by affixes. Note, for example, the affix-ed and-ing in English.
Walk / walks have Walked Walked be walking
Talk / talks have talked talked some talking
e. Aspects. Aspects related to the kinds of actions. No question the place and time. Known as the categories of meaning kontinuatif (stating that the action continues), progressive (in progress), inseptif (just starting), sesatif (is over), and repetitive (repetitive).
f. Diathesis. Diathesis menggamberkan relationship between the perpetrator to act. Among other kinds of diathesis is active (subjects who did), passive (subject to deed the purpose), reflexive (subject acting on itself), reciprocal (more than one subject which do berbalasan), causative (the perpetrator was the cause actions), and transitive ( maker aims)
g. People. Meaning as the first category (the speaker), second person (the listener or listeners), and a third person (discussed). Data from the swahili language (Africa) and specify the following person affixes pointer;
Wamempiga ‘they had hit him’
Tumempiga ‘we’d hit’
Nimempiga ‘I’d hit’
h. Mode. Mode of action illustrates the atmosphere of a psychological thing as interpreted by the speaker. Among the various modes are indicative or declarative mode, which shows the attitude of objective or neutral; optative, showing hope; interrogative, said the statement; conditional, stating REQUIREMENTS occurrence of the act; and imperative, stated the order.
The example in the Javanese language:
Tulisen ‘write’
Bakaren ‘burn’
Simpenen ‘save’

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Putrayasa, Ida Bagus. 2008. Kajian Morfologi. Bandung: Rafika Aditama

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

3 pemikiran pada “Bahasa Indonesia Profesi

  1. kenapa “Seseorang” tidak dibahas?
    “Seseorang” termasuk imbuhan se-?

  2. I really like what you guys are up too. Such clever work
    and exposure! Keep up the excellent works guys I’ve added you guys to my own blogroll.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s