kumpulan kata mutiara eid fitri

 

Kumpulan Kata-Kata Mutiara Lebaran 2012 . Kumpulan Kata Kata Mutiara Idul Fitri 2012 .Kata Mutiara Idul Fitri . Wah, ternyata bulan ramadhan sudah memasuki masa akhir dan tak lama lagi Hari Raya Idul Fitri akan datang . Nah,jik diantara kalian masih suka mengirim sms/email yang isinya tentang Ucapan Selamat Idul Fitri , mungkin informasi ini akan bermanfaat bagi anda . Berikut adalah Kumpulan Kata-Kata Mutiara Lebaran 2012 selengkapnya :
 
KATA-KATA MUTIARA LEBARAN IDUL FITRI
 

Saat berlebih, ingatlah mereka yang dalam kekurangan. Saat gembira ingatlah mereka yang berduka dan menderita. Dalam ketulusan, mari kita sebarkan senyum, saling memaafkan, sebagai bukti syukur kita kepadaNya. Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1433 H. Mohon maaf lahir dan bathin.

Ketika hati menjadi bersih, kebahagiaan hadir tanpa beban, tanpa syarat. Setelah sebulan penuh menahan hawa nafsu dan cobaan, lahirlah hati yang bersih dan suci. Dalam ketulusan, mari kita sebarkan senyum, saling memaafkan, sebagai bukti syukur kita kepada-Nya. Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1433 H. Mohon maaf lahir dan bathin.

Just to say “sorry” for all mistake thatr I ever done forgive me yaa? Hope you have a great idul fitri.

Sepatu baru ada, celana baru ada, baju baru ada, kopiah baru juga ada. Tapi, yang belum kupunya adalah maaf darimu… Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan bathin…

Hati kadang tak sebening XL. Tak secerah Mentari dan Fren. Aku mohon Simpati-mu untuk Bebaskan aku dari segala dosa. Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan bathin!!!

Kala lebaran, betapa aku merasakan nikmatnya makan ketupat. Tapi akan lebih nikmat lagi, tentu ucapan memaafkan darimu, sobat! Selamat lebaran, mohon maaf lahir dan bathin…

Kita pernah bersama dalam canda dan duka, adakalanya idah salah berucap, mata salah memandanng, hati salah menduga. Maka di hari yang fitri ini, buka hati berikan maaf yang tulus. Maaf lahir dan bathin.
Selamat! Anda telah memenangkan tiket ke syurga dengan syarat memaafkan kesalahanku. “Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan bathin…”

Satukan hati, bulatkan tekad, ‘tuk meraih kemenangan di hari yang fitri. Berikan aku sejuta maafmu. Met lebaran, ya?!!

Tiada kata yang lebih baik terucap di hari yang fitri selain “minal aidin wal faidzin” mohon maaf lahir dan bathin.

Bila ada kata merangkai dusta, ada ucap berbunga lara, dan ada langkah berbuah dosa, kumohon maaf yang sebesar-besarnya. Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan bathin.

Seiring kumandang takbir di 1 Syawal, kumohon maaf darimu. Keikhlasan untuk memaafkan merupakan sesuatu yang indah. Semoga Allah SWT menerima semua amal ibadah kita. Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan bathin.

Ketika khilaf berlabuh di jiwa akal pun terombang-ambing, kesalahan koyakkan hati, pikiran beku dalam nafsu dan emosi. Selamat Idul Fitri, mooohon maaf lahir dan bathin.

Jika hati sejernih air, jangan biarkan ia keruh. Jika hati seputih awan, jangan biarkan ia menendang. Jika hati seindah bulan, hiasi ia dengan iman. Maaf untuk semua kesalahan. SELAMAT IDUL FITRI, MINAL AIDIN WAL FAIDZIN.

Agungkan kebesaranNya.. Syukuri ampunannya.. Lapangkan hati di hari nan fitri.. Selamat idul fitri, mohon maaf lahir dan bathin.

Taqoballah mina wa minkum. Selamat hari raya idul fitri. Mohon maaf lahir dan bathin.

Hari kemenangan telah tiba.. Gema takbir pun dikumandangkan. Walau mata tidak saling menatap, tangan tidak berjabat, Dari lubuk hati yanng dalam mengucapkan: Selamat Idul Fitri, Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahirr dan bathin.

Andai tangan tak sempat berjabat, setidaknya kata-kata masih dapat terungkap.. Selamat hari raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan bathin.
Tiada pemberian terindah selain dimaafkan dan tiada perbuatan termulia selain memaafkan, Selamat idul fitri 1433 H ya, mohon maaf lahir dan bathin…

Berharap pada di dalam lesung yang ada hanya rumpun jerami, harapan hati ingin berrtemu langsung yang terlayang hanya sms ini… Minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir dan bathin.

Seiring gema takbir berkumandang, terimalah niat suci ini untuk mengucap mohon maaf lahir dan bathin. (Anonim)
Wishing you the light of faith, the warm of home, the love of family… All the deepest joys of ied, minal aidin wal faidzin. (Anonim)
Hari kemenangan telah di pelupuk mata.. Izinkan hari memohon maaf dengan tulus atas segala salah dan khilaf.. Taqoballah minna wa minkum.. Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan bathin. (Anonim)
Dosa laksana lentera di samudera kegelapan. Hari kemenangan segera datang, maafkanlah segala khilaf dan dosa, agar bersih dalam menyambutnya. Minal aidin wal faidzin, maaf lahir bathin

Memaafkan kesalahan seseorang tentu merupakan kebaikan. Aku mohonmoaaf lahir dan bathin atas segala khilaf selama ini. SELAMAT IDUL FITRI 1433 H

For all bad things and mistake I’ve ever done, let me ask your forgiveness for those onres on a special day when joy and happiness are around… Happy Lebaran Day

Selama sebulan kita berpuasa,, Sekarang telah datang hari kemenangan,, Apabila ada kesalahan yang kurang berkenan di hati mohon dimaafkan,, Minal aidin wal faidzin mohon maaf lahir dan bathin.

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang. Tetapi manusia dinilai dari akal budi dan perilakunya. Di saat ia tabah melawan coba. Di saat kita ikhlas membagi hak pada sesama. Selamat Idul Fitri.

 jika jemari tak mampu berjabat,,
saat batin kotor ini rindu, akan k’ikhlasan maaf..
hanya lewat pesan ini,
jemariku b’silaturahmi,,
Minalaidzinwalfaidzin
Mohon maaf lahir batin..

teruntuk semuanya
diri ini hanyalah manusia biasa
yang tak luput dari segala khilaf dan dosa
serta prasangka
di penghujung bulan yang penuh berkah ini
saya selaku pembuat onar serta kesalahan
memohon maaf atas segala perilaku, ucapan, tingkah laku serta prasangka baiik yang disengaja maupun ngga
semoga amal ibadah kita di bulan yang penuh berkah ini diterima oleh Nya dan semoga kita kembali di pertemukan dengan bulan yang penuh berkah ini.

11 bln banyak kata sudah di ucapkan
dan dilontarkan tak semua menyejukan
11 bln banyak prilaku yang sudah dibuat
dan diciptakan tak semua menyenangkan
11 bln banyak keluhan, kebencian, kebohongan
menjadi bagian dari diri
Mari kita memaafkan, mohon maaf lahir dan batin

Esok adalah harapan sekarang adalah pengalaman kemarin adalah kenangan…yang tak luput dari ke khilafan mohon maaf lahir dan Batin..Semoga RAMADHAN kali ini lebih baik dari RAMADHAN tahun lalu..amin….

Mungkin hari-hari yang lewat telah menyisakan sebersit kenangan yang tak terlupa…..,ada salah, ada khilaf, ada dosa yang mengikuti perjalanan hari – hari itu.
agar tak ada sesal, tak ada dendam, tak ada penyesalan ….
mari kita sama-sama sucikan hati,diri,dan jiwa kita.
Marhaban Yaa Ramadhan………………

tak terasa satu tahun telah terlewat kan kini ia mengunjungi kita lagi Ramadhan Yamarhaban Bulan Penuh Berkah, Bulan Penuh Rahmad, Bulan Penuh Ampunan ……. Sungguh mualia Bulan Suci Rahmadhan
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa …

Berharap padi dalam lesung, yang ada cuma rumpun jerami,
harapan hati bertatap langsung, cuma terlayang e-mail ini.
Sebelum cahaya padam, Sebelum hidup berakhir,
Sebelum pintu tobat tertutup, Sebelum Ramadhan datang,
saya mohon maaf lahir dan bathin….

Bila hati saling terpaut rasa cinta terjalin indah
Bila salah & Khilaf telah terjadi maka Mohon Maaf
Lahir & Batin atas kesalahan,
“Marhaban Ya Ramadhan”
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa
Semoga kita selalu diberkahi dibulan yang penuh mahrifah

Manusia tak pernah Luput dari salah dan hilap
karena manusai bukan mahkluk yang sempurna
di bulan yang suci ini mari kita bermaafan
agar tak ada dendam dan rasa dengki
marhaban ya ramadhan
mohon maaf lahir batin

marhaban ya ramadhan….
termenung ku sejenak
mengingat akan keselahanku yang lampau
andai kalian smua ada disini sobat
maafku trucap dari hati yang paling dalam..
maafin ya… smua kesalahanku

MarHaban ya Ramdhan…Telah terbuka gerbang Rajab,Terbentang jalan Sya’ban mari kita bersiap menanti hampran taman “Ram4Dhan” selamat melangkah memasukinya.. bulan yang penuh ujian semoga kita berhasil memenangkannya .. MOHON MAAF LAHIR & BATHIN,


Sangat lengkap kan . Sekian informasi yang dapat saya sampaikan mengenai Kumpulan Kata-Kata Mutiara Lebaran Idul Fitri 2012 . Semoga Bermanfaat
Iklan

pengertian jaringan komputer

 

 

JARINGAN KOMPUTER

Data Link, Network & Issue

 

 

 

 

 

Moechammad SAROSA – 23299509

Sigit ANGGORO – 23299081

 

 

 

 

 

 

 

TEKNIK SISTEM KOMPUTER

ELEKTROTEKNIK

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

2000


DAFTAR ISI                                                                                        i

1. PENDAHULUAN                                                                            1

1.1 Definisi Jaringan Komputer                                                  2

1.2 Manfaat Jaringan Komputer                                                               2

1.2.1 Jaringan untuk perusahaan/organisasi                     3

1.2.2 Jaringan untuk umum                                                  4

1.2.3 Masalah sosial jaringan                                               5

1.3 Macam Jaringan Komputer                                                 6

1.3.1 Local Area Network                                                      7

1.3.2 Metropolitan  Area Network                                       9

1.3.3 Wide Area Network                                                       10

1.3.4 Jaringan Tanpa Kabel                                                  12

1.4 Referensi                                                                                                13

2. MODEL REFERENSI OSI                                                            14

2.1 Karakteristik Lapisan OSI                                                  15

2.2 Protokol                                                                                  16

2.3 Lapisan-lapisan Model OSI                                                                16

2.3.1 Physical Layer                                                                               17

2.3.2 Data Link Layer                                                            17

2.3.3 Network Layer                                                               18

2.3.4 Transport Layer                                                             19

2.3.5 Session Layer                                                                 21

2.3.6 Pressentation Layer                                                      22

2.3.7 Application Layer                                                         22

2.4 Transmisi Data Pada Model OSI                                       23

2.5 Referensi                                                                                                24

3. DATA LINK CONTROL                                                               25

3.1 Konfigurasi Saluran                                                               26

3.1.1 Topologi dan dupleksitas                                             26

3.1.2 Disiplin saluran                                                              28

3.2 Kontrol Aliran                                                                        33

3.2.1 Stop and wait                                                                                 34

3.2.2 Sliding window control                                                 37

3.3 Deteksi Dan Koreksi Error                                                   40

3.3.1 Kode-kode Pengkoreksian Error                                 40

3.2.2 Kode-kode Pendeteksian Kesalahan                         44

3.3 Kendali kesalahan                                                                                49

3.3.1 Stop and Wait ARQ                                                      50

3.3.2 Go Back N ARQ                                                            51

3.3.3 Selective-report ARQ                                                    52

3.3.4 Contoh  Continuous ARQ                                           53

3.4 Referensi                                                                                53

4. NETWORKING                                                                               54

4.1 Prinsip Packet Switching, Virtual Circuit                          54

4.1.1 Virtual circuit eksternal dan internal                          55

4.1.2 Datagram eksternal dan internal                                                58

4.2. Routing                                                                                  59

4.2.1 Algoritma Routing                                                         61

4.2.2 Backward search algorithm                                        62

4.2.3 Strategi Routing                                                             63

4.2.4 Random Routing                                                           66

4.2.5 Adaptive Routing                                                          67

4.2.6 Kendali lalu lintas                                                          68

4.3 Internetworking                                                                     70

4.3.1 Arsitektur internetworking                                           72

4.3.2 Network service                                                             74

4.3.3 Pengalamatan                                                                                75

4.3.4 Susunan Lapisan Network                                          76

4.4. Standar Protokol Internet                                                  78

4.5 Referensi                                                                                                79

5. KEAMANAN JARINGAN                                                         80

5.1 Tipe Threat                                                                            81

5.2 Internet Threat Level                                                           82

5.3 Enkripsi                                                                                   83

5.4 Tujuan Kriptografi                                                               88

5.5 Referensi                                                                                                89

 

1   Pendahuluan

 

Perkembangan teknologi komputer meningkat dengan cepat, hal ini terlihat pada era tahun 80-an jaringan komputer masih merupakan teka-teki yang ingin dijawab oleh kalangan akademisi, dan pada tahun 1988 jaringan komputer mulai digunakan di universitas-universitas, perusahaan-perusahaan, sekarang memasuki era milenium ini terutama world wide internet telah menjadi realitas sehari-hari jutaan manusia di muka bumi ini.

Selain itu, perangkat keras dan perangkat lunak jaringan telah benar-benar berubah, di awal perkembangannya hampir seluruh jaringan dibangun dari  kabel koaxial, kini banyak telah diantaranya dibangun dari serat optik (fiber optics) atau komunikasi tanpa kabel.

Sebelum lebih banyak lagi dijelaskan mengenai jaringan komputer secara teknis, pada bab pendahuluan ini akan diuraikan  terlebih dahulu  definisi jaringan komputer, manfaat jaringan komputer, ddan macam jaringan komputer.

 

1.1 Definisi Jaringan Komputer

 

Dengan berkembangnya teknologi komputer dan komunikasi suatu model komputer tunggal yang melayani seluruh tugas-tugas komputasi suatu organisasi kini telah diganti dengan  sekumpulan komputer yang terpisah-pisah akan tetapi saling berhubungan dalam melaksanakan tugasnya, sistem seperti ini disebut jaringan komputer (computer network).(1)

Dalam buku ini kita akan menggunakan istilah jaringan komputer untuk mengartikan suatu himpunan interkoneksi sejumlah komputer yang autonomous. Dua buah komputer dikatakan terinterkoneksi bila keduanya dapat saling bertukar informasui. Betuk koneksinya tidak harus melalui kawat tembaga saja melainkan dapat emnggunakan serat optik, gelomabng mikro, atau satelit komunikasi.

Untuk memahami  istilah jaringan komputer sering kali kita dibingungkan dengan sistem terdistribusi (distributed system). Kunci perbedaannya adalah bahwa sebuah sistem terdistribusi,keberadaan sejumlah komputer autonomous bersifat transparan bagi pemakainya. Seseorang dapat memberi perintah untuk mengeksekusi suatu program, dan kemudian program itupun akan berjalan  dan tugas untuk memilih prosesor, menemukan dan mengirimkan file ke suatu prosesor dan menyimpan hasilnya di tempat yang tepat mertupakan tugas sistem operasi. Dengan kata lain, pengguna sistem terditribusi tidak akan menyadari terdapatnya banyak prosesor (multiprosesor), alokasi tugas ke prosesor-prosesor, alokasi f\ile ke disk, pemindahan file yang dfisimpan dan yang diperlukan, serta fungsi-fungsi lainnya dari sitem harus bersifat otomatis.

Pada suatu jaringan komputer, pengguna harus secara eksplisit log ke sebuah mesin, secara eksplisit menyampaikan tugasnya dari jauh, secara eksplisity memindahkan file-file dan menangani sendiri secara umum selusurh manajemen jaringan. Pada sistem terdistribusi, tidak ada yang perlu dilakukan secara eksplisit, sermunya sudah dilakukan secara otomatis oleh sistem tanpa sepengetahuan pemakai.

Dengan demikian sebuah sistem terdistribusi adalah suatu sistem perangkat lunak yang dibuat pada bagian sebuah jaringan komputer.  Perangkat lunaklah yang menentukan tingkat keterpaduan dan transparansi jarimngan yang bersangkutan. Karena itu perbedaan jaringan dengan sistem terdistribusi lebih terletak pada perangkat lunaknya (khususnya sistem operasi), bukan pada perangkat kerasnya.

 

1.2 Manfaat Jaringan Komputer

 

Sebelum membahas  kita masalah-masalah teknis lebih mendalam lagi, perlu kiranya diperhatikan hal-hal yang membuat orang tertarik pada jaringan komputer dan untuk apa jaringan ini digunakan. Manfaat jaringan komputer bagi manusia dapat dikelompokkan pada jaringan untuk perusahaan, jaringan untuk umum, dan masalah sosial jaringan.

 

 

 

 

1.1.1      Jaringan untuk perusahaan/organisasi

 

Dalam membangun jaringan komputer di perusahaan/ organisasi, ada beberapa keuntungan  yang dapat diperoleh dalam hal-hal resource sharing, reliabilitas tinggi, lebih ekonomis, skalabilitas, dan media komunikasi.

Resource sharing bertujuan agar seluruh program, peralatan, khususnya data dapat digunakan oleh setiap orang yang ada pada jaringan tanpa terpengaruh oleh lokasi resource dan pemakai. jadi source sharing adalah suatu usaha untuk menghilangkan kendala jarak.

Dengan menggunakan jaringan komputer akan memberikan reliabilitas tinggi yaitu adanya sumber-sumber alternatif  pengganti jika terjadi masalah pada salah satu perangkat dalam jaringan, artinya karena perangkat yang digunakan lebih dari satu jika salah satu perangkat mengalami masalah, maka perangkat yang lain dapat menggantikannya.

Komputer yang kecil memiliki rasio harga/kinerja yang lebih baik dibanding dengan komputer besar. Komputer mainframe memiliki kecepatan kurang lebih sepuluh kali lipat kecepatan komputer pribadi, akan tetapi harga mainframe seribu kalinya lebih mahal. Dengan selisih rasio harga/kinerja yang cukup besar ini menyebabkan perancang sistem  memilih membangun sistem yang terdiri dari komputer-komputer pribadi dibanding menggunakan mainframe.

Yang dimaksud dengan skalabilitas yaitu kemampuan untuk meningkatkan kinerja sistem secara berangsur-angsur sesuai dengan beban pekerjaan dengan hanya menambahkan sejumlah prosesor. Pada komputer mainframe yang tersentralisasi, jika sistem sudah jenuh, maka komputer harus diganti dengan komputer yang mempunyai kemampuan lebih besar. Hal ini membutuhkan biaya yang sangat besar dan dapat menyebabkan gangguan terhadap kontinyuitas kerja para pemakai.

Sebuah jaringan komputer mampu bertindak sebagai media komunikasi  yang baik bagi para pegawai yang terpisah jauh. Dengan menggunakan jaringan, dua orang atau lebih yang tinggal berjauhan akan lebih mudah bekerja sama dalam menyusun laporan.

 

1.1.2      Jaringan untuk umum

 

Apa yang telah diulas di atas bahwa minat untuk membangun jaringan komputer semata-mata hanya didasarkan pada alasan ekonomi dan teknologi saja. Bila komputer mainframe yang besar dan baik  dapat diperoleh dengan harga murah, maka akan banyak perusahaan/organisasi yang menggunakannya.

Jaringan komputer akan memberikan layanan yang berbeda kepada perorangan di rumah-rumah dibandingkan dengan layanan yang diberikan pada perusahaan seperti apa yang telah diulas di atas. Terdapat tiga hal pokok yang  mejadi daya tarik jaringan komputer pada  perorangan yaitu:

  • access ke informasi  yang berada di tempat yang jauh
  • komunikasi orang-ke-orang
  • hiburan interaktif.

Ada bermacam-macam bentuk access ke infomasi jarak jauh yang dapat dilakukan, terutama setelah berkembangnya teknologi internet , berita-berita di koran sekarang dapat di down load ke komputer kita melalui internet, dan tidak hanya itu sekarang kita dapat melakukan pemesanan suatu produk melalui internet, bisnis yang dikenal dengan istilah electronic commerce (e-commerce),  ini sekarang sedang berkemang dengan pesat .

Dengan menggunakan internet kita juga dapat melakukan komunikasi orang-ke orang , fasilitas electronic mail (e-mail) telah dipakai secara meluas oleh jutaan orang. Komunikasi menggunakan e-mail ini masih mengandung delay atau waktu tunda.

 Videoconference atau pertemuan maya merupakan teknologi yang memungkinkan terjadinya komunikasi jarak jauh tanpa delay. Pertemuan maya ini dapat pula digunakan untuk keperluan sekolah jarak jauh, memperoleh hasil pemeriksaan medis seorang dokter yang berada di tempat yang jauh, dan sejumlah aplikasi lainnya.

Video on demand merupakan daya tarik ketiga dai jaringan komputer bagi orang per orang dimana kita dapat memilih film  atau acara televisi dari negara mana saja dan kemudian ditampilkan di layar monitor kita.

 

 

1.1.3      Masalah sosial jaringan 

 

Penggunaan jaringan oleh masyarakat luas akan menyebabkan masalah-masalah sosial, etika, dan politik. Internet telah masuk ke segala  penjuru kehidupan masyarakat, semua orang dapat  memanfaatkannya tanpa memandang status sosial, usia, jenis kelamin. Penggunaan internet tidak akan menimbulkan masalah selama subyeknya terbatas pada topik-topik teknis, pendidikan atau hobi, hal-hal dalam batas norma-norma kehidupan, tetapi kesulitan mulai muncul bila suatu situs di internet mempunyai  topik yang sangat menarik perhatian orang, seperti politik, agama, sex. Gambar-gambar yang dipasang di situs-situs tersebut mungkin akan merupakan sesuatu yang sangat mengganggu bagi sebagian orang. Selain itu, bentuk pesan-pesan tidaklah terbatas hanya pesan tekstual saja. Foto berwarna dengan resolusi tinggi dan bahkan video clip singkatpun sekarang dapat dengan mudah disebar-luaskan melalui jaringan komputer. Sebagian orang dapat bersikap acuh tak acuh, tapi bagi sebgaian lainnya pemasangan materi tertentu (misalnya pornografi ) merupakan sesuatu yang tidak dapat diterima.

 

1.2 Macam Jaringan Komputer

 

Dalam mempelajari macam-macam jaringan komputer terdapat dua klasifikasi yang sangat penting yaitu teknologi transmisi dan jarak. Secara garis besar, terdapat dua jenis teknologi transmisi  yaitu jaringan broadcast dan jaringan point-to-point

Jaringan broadcast memiliki saluran komunikasi tunggal yang dipakai bersama-sama oleh semua mesin yang ada pada jaringan.

Pesan-pesan berukuran kecil, disebut paket, yang dikirimkan oleh suatu mesin akan diterima oleh mesin-mesin lainnya. Field alamat pada sebuah paket berisi keterangan tentang kepada siapa paket tersebut ditujukan. Saat menerima paket, mesin akan mencek field alamat. Bila paket terserbut ditujukan untuk dirinya, maka mesin akan memproses paket itu , bila paket ditujukan untuk mesin lainnya, mesin terserbut akan mengabaikannya.

Jaringan point-to-point terdiri dari beberapa koneksi pasangan individu dari mesin-mesin. Untuk mengirim paket dari sumber ke suatu tujuan, sebuah paket pad ajringan jenis ini mungkin harus melalui satu atau lebih mesin-mesin perantara. Seringkali harus melalui baynak route yang mungkin berbeda jaraknya. Karena itu algoritma rout memegang peranan penting pada jaringan  point-to-point.

Pada umumnya jaringan yang lebih kecil dan terlokalisasi secara geografis cendurung memakai broadcasting, sedangkan jaringan yang lebih besar menggunakan point-to-point.

Kriteria alternatif untuk mengklasifikasikan jaringan adalah didasarkan pada jaraknya. Tabel berikut ini menampilkan klasifikasi sistem multiprosesor berdasarkan ukuran-ukuran fisiknya.

 

Jarak antar prosesor

Prosesor di tempat yang sama

Contoh

0,1 m

Papan rangkaian

Data flow machine

1 m

Sistem

Multicomputer

10 m

Ruangan

 

100 m

Gedung

Local Area Network

1 km

Kampus

 

10 km

Kota

Metropolitan Area Network

100 km

Negara

Wide area Network

1.000 km

Benua

10.000 km

Planet

The Internet

Tabel 1.1 Klasifikasi prosesor interkoneksi berdasarkan jarak

 

Dari tabel di atas terlihat pada bagian paling atas adalah  dataflow machine, komputer-komputer yang sangat paralel yang memiliki beberapa unit fungsi yang semuanya bekerja untuk program yang sama. Kemudian multicomputer, sistem yang berkomunikasi dengan  cara mengirim pesan-pesannya melalui bus pendek dan sangat cepat. Setelah kelas multicomputer adalah jaringan sejati, komputer-komputer yang bekomunikasi dengan cara  bertukar data/pesan melalui kabel yang lebih panjang. Jaringan seperti ini dapat dibagi menjadi local area network (LAN), metropolitan area network (MAN), dan wide area network (WAN). Akhirnya, koneksi antara dua jaringan atau lebih disebut internetwork. Internet merupakan salah satu contoh yang terkenal dari suatu internetwork.

1.2.1 Local Area Network

Local Area Network (LAN) merupakan jaringan milik pribadi di dalam sebuah gedung atau kampus yang berukuran sampai beberapa kilometer.

LAN seringkali digunakan untuk menghubungkan komputer-komputer pribadi dan workstation dalam kantor perusahaan atau pabrik-pabrik untuk memakai bersama resource (misalnya, printer, scanner) dan saling bertukar informasi. LAN dapat dibedakan dari jenis jaringan lainnya berdasarkan tiga karakteristik: ukuran, teknologi transmisi dan topologinya.

LAN mempunyai ukuran yang terbatas, yang berarti bahwa waktu transmisi pada keadaan terburuknya terbatas dan dapat diketahui sebelumnya. Dengan mengetahui keterbatasnnya, menyebabkan adanya kemungkinan untuk menggunakan jenis desain tertentu. Hal ini juga memudahkan manajemen jaringan.

LAN seringkali menggunakan teknologih transmisi kabel tunggal. LAN tradisional beroperasi pada kecepatan mulai 10 sampai 100 Mbps (mega bit/detik)  dengan delay rendah (puluhan mikro second) dan mempunyai faktor kesalahan yang kecil. LAN-LAN modern dapat beroperasi pada kecepatan yang lebih tinggi, sampai ratusan megabit/detik.

 

 Gambar 1.1 Dua jenis jaringan broadcast. (a) Bus. (b) Ring

 

Terdapat beberapa macam topologi yang dapat digunakan pada LAN broadcast. Gambar 1.1 menggambarkan dua diantara topologi-topologi yang ada. Pada jaringan  bus (yaitu kabel liner), pada suatu saat sebuah mesin bertindak sebagai master dan diijinkan  untuk mengirim paket. Mesin-mesin lainnya perlu menahan diri untuk  tidak mengirimkan apapun. Maka untuk mencegah terjadinya konflik, ketika dua mesin atau lebih ingin mengirikan secara bersamaan, maka mekanisme pengatur diperlukan. Me4kanisme pengatur dapat berbentuk tersentralisasi atau terdistribusi. IEEE 802.3 yang populer disebut Ethernet merupakan jaringan broadcast bus dengan pengendali terdesentralisasi yang beroperasi pada kecepatan 10 s.d. 100 Mbps. Komputer-komputer pada Ethernet dapat mengirim kapan saja mereka inginkan, bila dua buah paket atau lebih bertabrakan, maka masing-masing komputer cukup menunggu dengan waktu tunggu yang acak sebelum mengulangi lagi pengiriman.

Sistem broadcast   yang lain adalah ring, pada topologi ini setiap bit dikirim ke daerah sekitarnya tanpa menunggu paket lengkap diterima. Biasanya setiap bit mengelilingi ring dalam waktu yang dibutuhkan untuk mengirimkan beberapa bit, bahkan seringkali sebelum paket lengkap dikirim seluruhnya. Seperti sistem broadcast lainnya, beberapa aturan harus dipenuhi untuk mengendalikan access simultan ke ring. IEEE 802.5 (token ring) merupakan LAN ring yang populer yang beroperasi pada kecepatan antara 4 s.d 16 Mbps.

Berdasarkan alokasi channelnya, jaringan broadcast dapat dibagi menjadi dua, yaitu statik dan dinamik. Jenis al;okasi statik dapat dibagi berdasarkan waktu interval-interval diskrit dan algoritma round robin, yang mengijinkan setiap mesin untuk melakukan broadcast hanya bila slot waktunya sudah diterima. Alokasi statik sering menyia-nyiakan kapasitas channel bila sebuah mesin tidak punya lgi yang perlu dikerjakan pada saat slot alokasinya diterima. Karena itu sebagian besar sistem cenderung mengalokasi channel-nya secara dinamik (yaitu berdasarkan  kebutuhan).

Metoda alokasi dinamik bagi suatu channel dapat tersentralisasi ataupun terdesentralisasi. Pada metoda alokasi channel tersentralisasi terdapat sebuah entity tunggal, misalnya unit bus pengatur, yang menentukan siapa giliran berikutnya. Pengiriman paket ini bisa  dilakukan setelah menerima giliran dan membuat keputusan yang berkaitan dengan algoritma internal. Pada metoda aloksi channel terdesentralisasi, tidak terdapat entity sentral, setiap mesin harus dapat menentukan dirinya sendiri kapan bisa atau tidaknya mengirim.

 

1.2.2 Metropolitan  Area Network

 

Metropolitan  Area Network (MAN) pada dasarnya merupakan versi LAN yang berukuran lebih besar dan biasanya memakai teknologi yang sama dengan LAN.  MAN dapat mencakup kantor-kantor perusahaan yang berdekatan dan dapat dimanfaatkan untuk keperluan pribadi (swasta) atau umum. MAN biasanya mamapu menunjang data dan suara, dan bahkan dapat berhubungan dengan jaringan televisi kabel. MAN hanya memiliki sebuah atau dua buiah kabel dan tidak mempunyai elemen switching, yang berfungsi untuk mengatur paket melalui beberapa output kabel. Adanya elemen switching membuat rancangan  menjadi lebih sederhana.

Alasan utama memisahkan MAN sebagai kategori khusus adalah telah ditentukannya standart untuk MAN, dan standart ini sekarang sedang diimplementasikan. Standart tersebut disebut DQDB (Distributed Queue Dual Bus) atau 802.6 menurut standart IEEE. DQDB terdiri dari dua buah kabel  unidirectional dimana semua komputer dihubungkan, seperti ditunjukkan pada gambar 1.2. Setiap bus mempunyai sebuah head–end, perangkat untuk memulai aktivitas transmisi. Lalulintas yang menuju komputer yang berada di sebelah kanan pengirim menggunakan bus bagian atas. Lalulintas ke arah kiri menggunakan bus yang berada di bawah.

 

 

 

Gambar 1.3 Arsitektur MAN DQDB

 

 

1.2.3 Wide Area Network

 

Wide Area Network  (WAN) mencakup daerah geografis yang luas, sertingkali mencakup sebuah negara atau benua.  WAN terdiri dari kumpulan mesin yang bertujuan untuk mejalankan program-program aplikasi.

Kita akan mengikuti penggunaan tradisional dan menyebut

mesin-mesin ini sebagai host. Istilah End System kadang-kadang juga digunakan  dalam literatur. Host dihubungkan dengan sebuah subnet komunikasi, atau cukup disebut subnet. Tugas subnet adalah membawa pesan dari host ke host lainnya, seperti halnya sistem telepon yang membawa isi pembicaraan dari pembicara ke pendengar. Dengan memisahkan aspek komunikasi murni sebuah jaringan (subnet) dari aspek-aspek aplikasi (host), rancangan jaringan lengkap menjadi jauh lebih sederhana.

Pada sebagian besar WAN, subnet terdiri dari dua komponen, yaitu kabel transmisi dan elemen switching. Kabel transmisi (disebut  juga sirkuit, channel, atau trunk) memindahkan  bit-bit dari satu mesin ke mesin lainnya.

Element switching adalah komputer khusus yang dipakai untuk menghubungkan dua kabel transmisi atau lebih. Saat data sampai ke kabel penerima, element switching harus memilih kabel pengirim untuk meneruskan pesan-pesan tersebut. Sayangnya tidak ada terminologi standart dalam menamakan komputer seperti  ini. Namanya sangat bervariasi disebut paket switching node, intermidiate system, data switching exchange dan sebagainya.

 

Gambar 1.4 Hubungan antara host-host dengan subnet

Sebagai istilah generik bagi komputer switching, kita akan menggunakan istilah router. Tapi perlu diketahui terlebih dahulu bahwa tidak ada konsensus dalam penggunaan terminologi ini. Dalam model ini, seperti ditunjukkan oleh gambar 1.4 setiap host dihubungkan ke LAN tempat dimana terdapat sebuah router, walaupun dalam beberapa keadaan tertentu sebuah host dapat dihubungkan langsung ke sebuah router. Kumpulan saluran komunikasi dan router (tapi bukan host) akan membentuk subnet.

Istilah subnet sangat penting, tadinya subnet berarti kumpulan kumpulan router-router dan saluran-sakuran komunikasi yang memindahkan paket dari host host tujuan. Akan tatapi, beberpa tahun kemudian subnet mendapatkan arti lainnya sehubungan dengan pengalamatan jaringan.

Pada sebagian besar WAN, jaringan terdiri dari sejumlah banyak kabel atau saluran telepon yang menghubungkan sepasang router. Bila dua router yang tidak mengandung kabel yang sama akan melakukan komunikasi, keduanya harus berkomunikasi secara tak langsung melalui router lainnya. ketika sebuah paket dikirimkan dari sebuah router ke router lainnya melalui router perantara atau lebih, maka paket akan diterima router dalam keadaan lengkap, disimpan sampai saluran output menjadi bebas, dan kemudian baru diteruskan.

 

Gambar 1.5 bebarapa topologi subnet untuk poin-to-point .

(a)Bintang  (b)Cincin  (c)Pohon  (d)Lengkap (e) Cincin berinteraksi  (f)Sembarang.

 

Subnet yang mengandung prinsip seperti ini disebut subnet point-to-point, store-and-forward, atau packet-switched. Hampir semua WAN (kecuali yang menggunakan satelit) memiliki subnet store-and-forward.

Di dalam menggunakan subnet point-to-point, masalah rancangan yang penting adalah pemilihan jenis topologi interkoneksi router. Gambar 1.5 menjelaskan beberapa kemungkinan topologi.  LAN biasanya berbentuk topologi simetris, sebaliknya WAN umumnya bertopologi tak menentu.

 

1.2.4 Jaringan Tanpa Kabel

 

Komputer mobile seperti komputer notebook dan personal digital assistant  (PDA), merupakan cabang industri komputer yang paling cepat pertumbuhannya. Banyak pemilik jenis komputer tersebut yang sebenarnya telah memiliki mesin-mesin desktop yang terpasang pada LAN atau WAN tetapi karena koneksi kabel tidaklah mungkin dibuat di dalam mobil atau pesawat terbang, maka banyak yang tertarik untuk memiliki komputer dengan jaringan tanpa kabel ini.

Jaringan tanpa kabel mempunyai berbagai manfaat, yang telah umum dikenal adalah kantor portable. Orang yang sedang dalam perjalanan seringkali ingin menggunakan peralatan elektronik portable-nya untuk mengirim atau menerima telepon, fax, e-mail, membaca fail jarak jauh login ke mesin jarak jauh, dan sebagainya dan juga ingin melakukan hal-hal tersebut dimana saja, darat, laut, udara. Jaringan tanpa kabel sangat bermanfaat untuk mengatasi masalah-masalah di atas.

 

Wireless

Mobile

Aplikasi

Tidak

Tidak

Worksation tetap di kantor

Tidak

Ya

Komputer portable terhubung ke len telepon

Ya

Tidak

LAN dengan komunikasi wireless

Ya

Ya

Kantor portable, PDA untuk persediaan

 

Tabel 1.2 Kombinasi jaringan tanpa kabel dan komputasi mobile

 

Walaupun jaringan tanpa kabel dan sistem komputasi yang dapat berpindah-pindah sering kali berkaitan erat, sebenarnya tidaklah sama, seperti yang tampak pada tabel 1.2. Komputer portabel kadang-kadang menggunakan kabel juga, yaitu disaat seseorang yang sedang dalam perjalanan menyambungkan komputer portable-nya ke jack telepon di sebuah hotel, maka kita mempunyai mobilitas yang bukan jaringan tanpa kabel. Sebaliknya, ada juga komputer-komputer yang menggunakan jaringan tanpa kabel tetapi bukan portabel, hal ini dapat terjadi disaat komputer-komputer tersebut terhubung pada LAN yang menggunakan fasilitas komunikasi wireless (radio).

Meskipun jaringan tanpa kabel ini cukup mudah untuk di pasang, tetapi jaringan macam ini memiliki banyak kekurangan. Biasanya jaringan tanpa kabel mempunyai kemampuan 1-2 Mbps, yang mana jauh lebih rendah  dibandingkan dengan jaringan berkabel. Laju kesalahan juga sering kali lebih besar, dan transmisi dari komputer yang berbeda dapat mengganggu satu sama lain.

 

1.4 Referensi

 

  1. 1.    Tanenbaum, AS, Computer Networks, Prentise Hall, 1996
  2. 2.    Stallings, W. Data and Computer Communications, Macmillan Publishing Company, 1985.
  3. 3.    Stallings, W. Local Network, Macmillan Publishing Company, 1985.

 

 

 

 

 

 

 

Model Referensi OSI

Model referensi OSI (Open System Interconnection) menggambarkan bagaimana informasi dari suatu software aplikasi di sebuah komputer berpindah  melewati sebuah media jaringan ke suatu software aplikasi di komputer lain. Model referensi OSI secara konseptual terbagi ke dalam 7 lapisan dimana masing-masing lapisan memiliki fungsi jaringan yang spesifik, seperti yang dijelaskan oleh gambar 2.1 (tanpa media fisik). Model ini diciptakan berdasarkan sebuah proposal yang dibuat oleh the International Standards Organization (ISO) sebagai langkah awal menuju standarisasi protokol internasional yang digunakan pada berbagai layer . Model ini disebut ISO OSI (Open System Interconnection) Reference Model karena model ini ditujukan bagi pengkoneksian open system. Open System dapat diartikan sebagai suatu sistem yang terbuka untuk berkomunikasi dengan sistem-sistem lainnya. Untuk ringkas-nya, kita akan menyebut model tersebut sebagai model OSI saja.

Gambar 2.1. Model Referensi OSI

                Model OSI memiliki tujuh layer. Prinsip-prinsip yang digunakan bagi ketujuh layer tersebut adalah :

  1. Sebuah layer harus dibuat bila diperlukan tingkat abstraksi yang berbeda.
  2. Setiap layer harus memiliki fungsi-fungsi tertentu.
  3. Fungsi setiap layer harus dipilih dengan teliti sesuai dengan ketentuan standar protocol internasional.
  4. Batas-batas layer diusahakan agar meminimalkan aliran informasi yang melewati interface.
  5. Jumlah layer harus cukup banyak, sehingga fungsi-fungsi yang berbeda tidak perlu disatukan dalam satu layer diluar keperluannya. Akan tetapi jumlah layer juga harus diusahakan sesedikit mungkin sehingga arsitektur jaringan tidak menjadi sulit dipakai.

                Di bawah ini kita membahas setiap layer pada model OSI secara berurutan, dimulai dari layer terbawah. Perlu dicatat bahwa model OSI itu sendiri bukanlah merupakan arsitektur jaringan, karena model ini tidak menjelaskan secara pasti layanan dan protokolnya untuk digunakan pada setiap layernya. Model OSI hanya menjelaskan tentang apa yang harus dikerjakan oleh sebuah layer. Akan tetapi ISO juga telah membuat standard  untuk semua layer, walaupun standard-standard ini bukan merupakan model referensi itu sendiri. Setiap layer telah dinyatakan sebagai standard internasional yang terpisah.

 

2.1 Karakteristik Lapisan OSI

Ke tujuh lapisan dari model referensi OSI dapat dibagi ke dalam dua kategori, yaitu lapisan atas dan lapisan bawah.

Lapisan atas dari model OSI berurusan dengan persoalan aplikasi dan pada umumnya diimplementasi hanya pada software. Lapisan tertinggi (lapisan applikasi) adalah lapisan penutup sebelum ke pengguna (user), keduanya, pengguna dan lapisan aplikasi saling berinteraksi proses dengan software aplikasi yang berisi sebuah komponen komunikasi. Istilah lapisan atas kadang-kadang digunakan untuk menunjuk ke beberapa lapisan atas dari lapisan lapisan yang lain di model OSI.

Lapisan bawah dari model OSI mengendalikan persoalan transport data. Lapisan fisik dan lapisan data link diimplementasikan ke dalam hardware dan software. Lapisan-lapisan bawah yang lain pada umumnya hanya diimplementasikan dalam software. Lapisan terbawah, yaitu lapisan fisik adalah lapisan penutup bagi media jaringan fisik (misalnya jaringan kabel), dan sebagai penanggung jawab bagi penempatan informasi pada media jaringan. Tabel berikut ini menampilkan pemisahan kedua lapisan tersebut pada lapisan-lapisan model OSI.

 

Application

Application

Lapisan Atas

Presentation

Session

Transport

Data Transport

Lapisan Bawah

Network

Data Link

Physical

Tabel 2.1 Pemisahan Lapisan atas dan Lapisan bawah pada model OSI

 

2.2 Protokol

 

Model OSI menyediakan secara konseptual kerangka kerja untuk komunikasi antar komputer, tetapi model ini bukan merupakan metoda komunikasi. Sebenarnya komunikasi dapat terjadi karena menggunakan protokol komunikasi. Di dalam konteks jaringan data, sebuah protokol adalah suatu aturan formal dan kesepakatan yang menentukan bagaimana komputer bertukar informasi melewati sebuah media jaringan. Sebuah protokol mengimplementasikan salah satu atau lebih dari lapisan-lapisan OSI. Sebuah variasi yang lebar dari adanya protokol komunikasi, tetapi semua memelihara pada salah satu aliran group: protokol LAN, protokol WAN, protokol jaringan, dan protokol routing. Protokol LAN beroperasi pada lapisan fisik dan data link dari model OSI dan mendefinisikan komunikasi di atas macam-macam media LAN. Protokol WAN beroperasi pada ketiga lapisan terbawah dari model OSI dan mendefinisikan komunikasi di atas macam-macam WAN. Protokol routing adalah protokol lapisan jaringan yang bertanggung jawab untuk menentukan jalan dan pengaturan lalu lintas. Akhirnya protokol jaringan adalah berbagai  protokol dari lapisan teratas yang ada dalam sederetan protokol.

 

2.3 Lapisan-lapisan Model OSI

2.3.1 Physical Layer

 

                Physical Layer berfungsi dalam pengiriman raw bit ke channel komunikasi. Masalah desain yang harus diperhatikan disini adalah memastikan bahwa bila satu sisi mengirim data 1 bit, data tersebut harus diterima oleh sisi lainnya sebagai 1 bit pula, dan bukan 0 bit. Pertanyaan yang timbul dalam hal ini adalah : berapa volt yang perlu digunakan untuk menyatakan nilai 1? dan berapa volt pula yang diperlukan untuk angka 0?. Diperlukan berapa mikrosekon suatu bit akan habis? Apakah transmisi dapat diproses secara simultan pada kedua arahnya? Berapa jumlah pin yang dimiliki jaringan dan apa kegunaan masing-masing pin? Secara umum masalah-masalah desain yang ditemukan di sini berhubungan secara mekanik, elektrik dan interface prosedural, dan media fisik yang berada di bawah physical layer.

 

2.3.2 Data Link Layer

 

                Tugas utama data link layer adalah sebagai fasilitas transmisi raw data dan mentransformasi data tersebut ke saluran yang bebas dari kesalahan transmisi. Sebelum diteruskan kenetwork layer, data link layer melaksanakan tugas ini dengan memungkinkan pengirim memecag-mecah data input menjadi sejumlah data frame (biasanya berjumlah ratusan atau ribuan byte). Kemudian data link layer mentransmisikan frame tersebut secara berurutan, dan memproses acknowledgement frame yang dikirim kembali oleh penerima. Karena physical layer menerima dan mengirim aliran bit tanpa mengindahkan arti atau arsitektur frame, maka tergantung pada data link layer-lah untuk membuat dan mengenali batas-batas frame itu. Hal ini bisa dilakukan dengan cara membubuhkan bit khusus ke awal dan akhir frame. Bila secara insidental pola-pola bit ini bisa ditemui pada data, maka diperlukan perhatian khusus untuk menyakinkan bahwa pola tersebut tidak secara salah dianggap sebagai batas-batas frame.

                Terjadinya noise pada saluran dapat merusak frame. Dalam hal ini, perangkat lunak data link layer pada mesin sumber dapat mengirim kembali frame yang rusak tersebut. Akan tetapi transmisi frame sama secara berulang-ulang bisa menimbulkan duplikasi frame. Frame duplikat perlu dikirim apabila acknowledgement frame dari penerima yang dikembalikan ke pengirim telah hilang. Tergantung pada layer inilah untuk mengatasi masalah-masalah yang disebabkan rusaknya, hilangnya dan duplikasi frame. Data link layer menyediakan beberapa kelas layanan bagi network layer. Kelas layanan ini dapat dibedakan dalam hal kualitas dan harganya.

                Masalah-masalah lainnya yang timbul pada data link layer (dan juga sebagian besar layer-layer di atasnya) adalah mengusahakan kelancaran proses pengiriman data dari pengirim yang cepat ke penerima yang lambat. Mekanisme pengaturan lalu-lintas data harus memungkinkan pengirim mengetahui jumlah ruang buffer yang dimiliki penerima pada suatu saat tertentu. Seringkali pengaturan aliran dan penanganan error ini dilakukan secara terintegrasi.

                Saluran yang dapat mengirim data pada kedua arahnya juga bisa menimbulkan masalah. Sehingga dengan demikian perlu dijadikan bahan pertimbangan bagi software data link layer. Masalah yang dapat timbul di sini adalah bahwa frame-frame acknoeledgement yang mengalir dari A ke B bersaing saling mendahului dengan aliran dari B ke A. Penyelesaian yang terbaik (piggy backing) telah bisa digunakan; nanti kita akan membahasnya secara mendalam.

                Jaringan broadcast memiliki masalah tambahan pada data link layer. Masalah tersebut adalah dalam hal mengontrol akses ke saluran yang dipakai bersama. Untuk mengatasinya dapat digunakan sublayer khusus data link layer, yang disebut medium access sublayer.

Masalah mengenai data link control akan diuraikan lebih detail lagi pada bab tiga.

 

2.3.3 Network Layer

 

Network layer berfungsi untuk pengendalian operasi subnet. Masalah desain yang penting adalah bagaimana caranya menentukan route pengiriman paket dari sumber ke tujuannya. Route dapat didasarkan pada table statik yang “dihubungkan ke” network. Route juga dapat ditentukan pada saat awal percakapan misalnya session terminal. Terakhir, route dapat juga sangat dinamik, dapat berbeda bagi setiap paketnya. Oleh karena itu, route pengiriman sebuah paket tergantung beban jaringan saat itu.

Bila pada saat  yang sama dalam sebuah subnet terdapat terlalu banyak paket, maka ada kemungkinan paket-paket tersebut tiba pada saat yang bersamaan. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya bottleneck. Pengendalian kemacetan seperti itu juga merupakan tugas network layer.

Karena operator subnet mengharap bayaran yang baik atas tugas pekerjaannya. seringkali terdapat beberapa fungsi accounting yang dibuat pada network layer. Untuk membuat informasi tagihan, setidaknya software mesti menghitung jumlah paket atau karakter atau bit yang dikirimkan oleh setiap pelanggannya. Accounting menjadi lebih rumit, bilamana sebuah paket melintasi batas negara yang memiliki tarip yang berbeda.

Perpindahan paket dari satu jaringan ke jaringan lainnya juga dapat menimbulkan masalah yang tidak sedikit. Cara pengalamatan yang digunakan oleh sebuah jaringan dapat berbeda dengan cara yang dipakai oleh jaringan lainnya. Suatu jaringan mungkin tidak dapat menerima paket sama sekali karena ukuran paket yang terlalu besar. Protokolnyapun bisa berbeda pula, demikian juga dengan yang lainnya. Network layer telah mendapat tugas untuk mengatasi semua masalah seperti ini, sehingga memungkinkan jaringan-jaringan yang berbeda untuk saling terinterkoneksi.

 

2.3.4 Transport Layer

 

                Fungsi dasar transport layer adalah menerima data dari session layer, memecah data menjadi bagian-bagian yang lebih kecil bila perlu, meneruskan data ke network layer, dan menjamin bahwa semua potongan data tersebut bisa tiba di sisi lainnya dengan benar. Selain itu, semua hal tersebut harus dilaksanakan secara efisien, dan bertujuan dapat melindungi layer-layer bagian atas dari perubahan teknologi hardware yang tidak dapat dihindari.

                Dalam keadaan normal, transport layer membuat koneksi jaringan yang berbeda bagi setiap koneksi transport yang diperlukan oleh session layer. Bila koneksi transport memerlukan throughput yang tinggi, maka transport layer dapat membuat koneksi jaringan yang banyak. Transport layer membagi-bagi pengiriman data ke sejumlah jaringan untuk meningkatkan throughput. Di lain pihak, bila pembuatan atau pemeliharaan koneksi jaringan cukup mahal, transport layer dapat menggabungkan beberapa koneksi transport ke koneksi jaringan yang sama. Hal tersebut dilakukan untuk membuat penggabungan ini tidak terlihat oleh session layer.

                Transport layer juga menentukan jenis layanan untuk session layer, dan pada gilirannya jenis layanan bagi para pengguna jaringan. Jenis transport layer yang paling populer adalah saluran error-free point to point yang meneruskan pesan atau byte sesuai dengan urutan pengirimannya. Akan tetapi, terdapat pula jenis layanan transport lainnya. Layanan tersebut adalah transport pesan terisolasi yang tidak menjamin urutan pengiriman, dan membroadcast pesan-pesan ke sejumlah tujuan.  Jenis layanan ditentukan pada saat koneksi dimulai.

                Transport layer merupakan layer end to end sebenarnya, dari sumber ke tujuan. Dengan kata lain, sebuah program pada mesin sumber membawa percakapan dengan program yang sama dengan pada mesin yang dituju. Pada layer-layer bawah, protokol terdapat di antara kedua mesin dan mesin-mesin lain yang berada didekatnya. Protokol tidak terdapat pada mesin sumber terluar atau mesin tujuan terluar, yang mungkin dipisahkan oleh sejumlah router. Perbedaan antara layer 1 sampai 3 yang terjalin, dan layer 4 sampai 7 yang end to end. Hal ini dapat dijelaskan seperti pada gambar 2-1.

                Sebagai tambahan bagi penggabungan beberapa aliran pesan ke satu channel, transport layer harus hati-hati dalam menetapkan dan memutuskan koneksi pada jaringan. Proses ini memerlukan mekanisma penamaan, sehingga suatu proses pada sebuah mesin mempunyai cara untuk menerangkan dengan siapa mesin itu ingin bercakap-cakap. Juga harus ada mekanisme untuk mengatur arus  informasi, sehingga arus informasi  dari host yang cepat tidak membanjiri host yang lambat. Mekanisme seperti itu disebut pengendalian aliran dan memainkan peranan penting pada transport layer (juga pada layer-layer lainnya). Pengendalian aliran antara host dengan host berbeda dengan pengendalian aliran  router dengan router. Kita akan mengetahui nanti bahwa prinsip-prinsip yang sama digunakan untuk kedua jenis pengendalian tersebut.

 

2.3.5 Session Layer

 

                Session layer mengijinkan para pengguna untuk menetapkan session dengan pengguna lainnya. Sebuah session selain  memungkinkan transport data biasa, seperti yang dilakukan oleh transport layer, juga menyediakan layanan yang istimewa untuk aplikasi-aplikasi tertentu. Sebuah session digunakan untuk memungkinkan seseorang pengguna log ke remote timesharing system  atau untuk memindahkan file dari satu mesin kemesin lainnya.

                Sebuah layanan session layer adalah untuk melaksanakan pengendalian dialog. Session dapat memungkinkan lalu lintas bergerak  dalam bentuk dua arah pada suatu saat, atau hanya satu arah saja. Jika pada satu saat lalu lintas hanya satu arah saja (analog dengan rel kereta api tunggal), session layer membantu untuk menentukan giliran yang berhak menggunakan saluran pada suatu saat.

                Layanan session di atas disebut manajemen token. Untuk sebagian protokol, adalah penting untuk memastikan bahwa kedua pihak yang bersangkutan tidak melakukan operasi pada saat yang sama. Untuk  mengatur aktivitas ini, session layer menyediakan token-token yang dapat digilirkan. Hanya pihak yang memegang token yang diijinkan melakukan operasi kritis.

                Layanan session lainnya adalah sinkronisasi. Ambil contoh yang dapat terjadi ketika mencoba transfer file yang berdurasi 2 jam dari mesin yang satu ke mesin lainnya dengan kemungkinan mempunyai selang waktu 1 jam antara dua crash yang dapat terjadi. Setelah  masing-masing transfer dibatalkan, seluruh transfer mungkin perlu diulangi lagi dari awal, dan mungkin saja mengalami kegagalan lain. Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya masalah ini, session layer dapat menyisipkan tanda tertentu ke aliran data. Karena itu bila terjadi crash, hanya data yang berada sesudah tanda tersebut yang akan ditransfer ulang.

 

 

2.3.6 Pressentation Layer

 

                Pressentation layer melakukan fungsi-fungsi tertentu yang diminta untuk menjamin penemuan sebuah penyelesaian umum bagi masalah tertentu. Pressentation Layer tidak mengijinkan pengguna untuk menyelesaikan sendiri suatu masalah. Tidak seperti layer-layer di bawahnya yang hanya melakukan pemindahan bit dari satu tempat ke tempat lainnya, presentation layer memperhatikan syntax dan semantik informasi yang dikirimkan.

                Satu contoh layanan pressentation adalah encoding data. Kebanyakan pengguna tidak memindahkan string bit biner yang random. Para pengguna saling bertukar data sperti nama orang, tanggal, jumlah uang, dan tagihan. Item-item tersebut dinyatakan dalam bentuk string karakter, bilangan interger, bilangan floating point, struktur data yang dibentuk dari beberapa item yang lebih sederhana. Terdapat perbedaan antara satu komputer dengan komputer lainnya dalam memberi kode untuk menyatakan string karakter (misalnya, ASCII dan Unicode), integer (misalnya komplemen satu dan komplemen dua), dan sebagainya. Untuk memungkinkan dua buah komputer yang memiliki presentation yang berbeda untuk dapat berkomunikasi, struktur data yang akan dipertukarkan dapat dinyatakan dengan cara abstrak, sesuai dengan encoding standard yang akan digunakan “pada saluran”. Presentation layer mengatur data-struktur abstrak ini dan mengkonversi dari representation yang digunakan pada sebuah komputer menjadi representation standard jaringan, dan sebaliknya.

 

2.3.7 Application Layer

 

                Application layer terdiri dari  bermacam-macam protokol. Misalnya terdapat ratusan jenis terminal yang tidak kompatibel di seluruh dunia. Ambil keadaan dimana editor layar penuh yang diharapkan bekerja pada jaringan dengan bermacam-macam terminal, yang masing-masing memiliki layout layar yang berlainan, mempunyai cara urutan penekanan tombol yang berbeda untuk penyisipan dan penghapusan teks, memindahkan sensor dan sebagainya.

                Suatu cara untuk mengatasi masalah seperti di ata, adalah dengan menentukan terminal virtual jaringan abstrak, serhingga editor dan program-program lainnya dapat ditulis agar saling bersesuaian. Untuk menangani setiap jenis terminal, satu bagian software harus ditulis untuk memetakan fungsi terminal virtual jaringan ke terminal sebenarnya. Misalnya, saat editor menggerakkan cursor terminal virtual ke sudut layar kiri, software tersebut harus mengeluarkan urutan perintah yang sesuai untuk mencapai cursor tersebut. Seluruh software terminal virtual berada pada application layer.

                Fungsi application layer  lainnya adalah pemindahan file. Sistem file yang satu dengan yang lainnya memiliki konvensi penamaan yang berbeda, cara menyatakan baris-baris teks yang berbeda, dan sebagainya. Perpindahan file dari sebuah sistem ke sistem lainnya yang berbeda memerlukan penanganan untuk mengatasi adanya ketidak-kompatibelan ini. Tugas tersebut juga merupakan pekerjaan appication layer, seperti pada surat elektronik, remote job entry, directory lookup, dan berbagai fasilitas bertujuan umum dan fasilitas bertujuan khusus lainnya.

 

2.4 Transmisi Data Pada Model OSI

 

                Gambar 1-17 menjelaskan sebuah contoh tentang bagaimana data dapat ditransmisikan dengan menggunakan model OSI. Proses pengiriman memiliki data yang akan dikirimkan ke proses penerima. Proses pengirim menyerahkan data ke application layer, yang kemudian menambahkan aplication header, AH (yang mungkin juga kosong), ke ujung depannya dan menyerahkan hasilnya ke presentation layer.

                Pressentation layer dapat membentuk data ini dalam berbagai cara dan mungkin saja menambahkan sebuah header di ujung depannya, yang diberikan oleh session layer. Penting untuk diingat bahwa presentation layer tidak menyadari tentang  bagian data yang mana yang diberi tanda AH oleh application layer yang merupakan data pengguna yang sebenarnya.

                Proses pemberian header ini berulang terus sampai data tersebut mencapai physical layer, dimana data akan ditransmisikan ke mesin lainnya. Pada mesin tersebut, semua header tadi dicopoti satu per satu sampai mencapai proses penerimaan.

 

Gambar 2.2  Contoh tentang bagaimana model OSI digunakan

                Yang menjadi kunci di sini adalah bahwa walaupun transmisi data aktual berbentuk vertikal seperti pada gambar 1-17, setiap layer diprogram seolah-olah sebagai transmisi yang bersangkutan berlangsung secara horizontal. Misalnya, saat transport layer pengiriman mendapatkan pesan dari session layer, maka transport layer akan membubuhkan header transport layer dan mengirimkannya ke transport layer penerima.

 

2.5  Referensi

  1. Tanenbaum, AS, Computer Networks, Prentise Hall, 1996
  2. Stallings, W. Data and Computer Communications, Macmillan Publishing Company, 1985.
  3. Stallings, W. Local Network, Macmillan Publishing Company, 1985.
  4. Raj Jain, Professor of CIS The Ohio State University Columbus, OH 43210 Jain@ACM.Org

   http://www.cis.ohio-state.edu/~jain/cis677-98/

  1. Cisco Press   

http://www.cicso.com/cpress/cc/td/cpress/fund/ith2nd/it2401.html

Data Link Control

 

Pembahasan kita kali ini mengenai pengiriman sinyal melewati sebuah saluran transmisi, agar komunikasi dapat efektif banyak hal tentang pengendalian dan managemen pertukaran yang harus diperhatikan. Data link control ini bekerja di lapisan ke dua pada model referensi OSI.

Beberapa hal yang diperlukan untuk mengefektifkan komunikasi data antara dua stasiun transmiter dan receiver adalah:

  • Sinkronisasi frame, data yang dikirimkan dalam bentuk blok disebut frame. Awal dan akhir suatu frame harus teridentifikasi dengan jelas.
  • Menggunakan salah satu dari  konfigurasi saluran, akan dibahas pada bab selanjutnya.
  • Kendali Aliran, stasiun pengirim harus tidak mengirimkan frame sebelum memastikan bahwa data yang dikirimkan sebelumnya telah sampai.
  • Kendali kesalahan, bit-bit kesalahan yang ditunjukkan oleh sistem transmisi harus benar.
  • Pengalamat, pada sebuah saluran multipoint, indentitas dari dua buah stasiun dalam sebuah transmisi harus dikenali.
  • Kendali dan data dalam beberapa saluran, biasanya tidak diperlukan sinyal kontrol  dalam sistem komunikasi yang terpisah, maka penerima harus dapat membedakan informasi  kendali dari data yang dirimkan.
  • Managemen hubungan, inisiasi, perbaikan, akhir dari suatu data exchange memerlukan beberapa korodinasi dan kerja sama antar stasiun.

 

 

 

 

 

 

 

3.1 Konfigurasi Saluran

 

Tiga karakteristik  yang membedakan macam-macam konfigurasi saluran adalah topologi, dupleksitas, dan disiplin saluran.

 

3.1.1 Topologi dan dupleksitas.

 

Topologi dari sebuah  hubungan data berkenaan dengan susunan fisik dari sebuah stasiun pada sebuah hubungan.jika hanya terdapat dua buah stasiun maka hubungan yang dapat dibangun diantara keduanya adalah point-to-poitn. Jika terdapat lebih dari dua stasiun, maka harus digunakan topoloty multipoint. Dahulu, sebuah hubungan multipoint digunakan pada suatu kasus hubungan antara sebuah komputer (stasiun primer) dan satu set terminal (stasiun sekunder), tetapi sekarang untuk versi yang lebih kompleks topologi multipoint digunakan pada jaringan lokal.

Saluran multipoint tradisional memungkinkan dibuat ketika sebuah terminal hanya mengirim pada satu saat. Gambar 3.1 menunjukkan keuntungan dari konfigurasi multipoint. Jika tiap-tiap komputer memiliki hubungan point-to-point ke suatu komputer  jadi komputer harus harus mempunyai sebuah I/O port untuk masing-masing terminal. Jadi terdapat sebuah saluran transmisi yang terpisah dari komputer ke masing-masing terminal. Di dalam sebuah konfigurasi multipoint, komputer memerlukan hanya sebuah I/O port, hanya sebuah saluran transmisi yang diperlukan.

Dupleksitas dari sebuah hubungan berkenaan dengan arah dan waktu aliran sinyal. Dalam transmisi simpleks, aliran sinyal selalu dalam satu arah. Sebagai contoh, sebuah perangkat input hanya dapat mentransmisikan, dan tidak pernah menerima. Sebuah perangkat output misalnya sebuah printer atau aktuator dapat dikonfigurasi hanya sebagai penerima. Simpleks tidak lazim digunakan karena dia tidak mungkin mmngirim ulang kesalahan atau sinyal kontrol ke sumber data . Simpleks identik dengan satu jalan ada  satu lintasan.

 

 

Gambar 3.1 Konfigurasi terminal.

 

Gambar 3.2 Hubungan konfigurasi saluran

 

Sebuah hubungan half-dupleks dapat mengirim dan menerima tetapi tidak simultan. Mode ini seperti dua lintasan alternatif, dua stasiun dalam sebuah hubungan half-dupleks harus bergantian dalam mentransmisikan sesuatu. Hal ini dentik dengan satu jalan ada dua lintasan. Dalam sebuah hubungan full-dupleks, dua buah stasiun dapat mengirim dan menerima secara simultan data dari yang satu ke yang lain. Sehingga pada mode ini dikenal sebagai dua lintasan simultan, dan mungkin sebanding dengan dua jalan ada dua lintasan.

Sejumlah kombinasi dari topologi dan dupleksitas yang mungkin terjadi dapat dilihat pada gambar 3.2 yang melukiskan sebagian keadaan konfigurasi. Gambar selalu menunjukkan sebuah stasiun primer (P) tunggal dan lebih dari satu stasiun sekunder (S). Untuk hubungan point-to-point , dua kemungkinan dapat dijelaskan. Untuk hubungan multipoint, tiga konfigurasi mungkin terjadi:

  • Ø Primary full-duplex, secondaries half-duplex (multi-multipoint).
  • Ø Both primary and secondaries half-duplex (multipoint half-duplex).
  • Ø Both primary and secondaries full-duplex (multipoint duplex).

 

3.1.2 Disiplin saluran

 

Beberapa disiplin diperlukan dalam menggunakan sebuah hubungan tarnsmisi. Pada sebuah hubungan half-duplex, hanya sebuah stasiun pada suatu waktu yang harus mengirim. Pada kasus yang lain, hubungan half atau full-duplex, sebuah setasiun hanya dapat mengirim jika dia tahu bahwa di sisi penerima telah siap untuk menerima.

 

Hubungan point-to-point.

Disiplin saluran adalah sederhana dengan sebuah hubungan point-to-point. Marilah pertimbangkan pertama-tama sebuah hubungan half-duplex dalam masing-masing stasiun  telah siap menerima perubahan. Sebuah  contoh perubahan dilukiskan pada gambar 3.3 Jika masing-masing stasiun menginginkan untuk mengirimkan data ke yang lain, yang pertama dilakukan adalah mengetahui apakah stasiun tujuan telah siap untuk menerima. Stasiun kedua menjawab dengan sebuah positive acknowledge (ack) untuk mengindikasikan bahwa dia telah siap. Stasiun pertama kemudian mengirim beberapa data yang telah dibentuk dalam frame. Pada komunikasi asinkron data akan dikirim seperti sebuah deretan karakter asinkron. Dalam beberapa kasus, setelah beberapa quantum data dikirimkan , stasiun pertama berhenti untuk menunggu jawaban. Stasiun kedua menjawab keberhasilan menerima data dengan ack. Stasiun pertama kemudian mengirim akhir dari transmisi (eot) yang mengakhiri komunikasi dan kembali ke keadaan awal.

 

 

Gambar 3.3 Hubungan kendali point-to-point

 

Beberapa ciri tambahan ditambahkan pada gambar 3.3 untuk melengkapi proses transmisi dengan kontrol kesalahan. Sebuah negative acknowledgement (nak) digunakan untuk menandakan bahwa sebuah stasiun belum siap menerima atau data diterima dalam keadaan error. Sebuah stasiun mungkin mengabaikan jawan atau menjawab dengan pesan yang cacat. Hasil dari kondisi ini ditunjukkan oleh garis kecil di dalam gambar, garis tebal menandakan keadaan komunikasi yang normal. Jika sebuah keadaan tak diinginkan terjadi, seperti sebuah nak atau invalid reply, sebuah stasiun mungkin mengulang untuk memberikan aksi terakhir atau mungkin mengadakan beberapa prosedure penemuan kembali kesalahan (erp).

 

Terdapat  tiga phase penting dalam prosedur pengontrolan komunikasi ini:

  • Establishement, keputusan yang menentukan stasiun yang mana harus mengirim dan stasiun yang mana harus siap-siap untuk menerima.
  • Data Transfer, data ditransfer dalam satu atau lebih blok pengiriman.
  • Termination pemberhentian hubungan secara logika. (hubungan transmitter-receiver).

 

Hubungan Multipoint

 

Pilihan dari disiplin saluran untuk hubungan multipoint tergantung pada penentuan ada-tidaknya stasiun primer. Ketika terdapat sebuah stasiun primer, data hanya akan ditukar antara stasiun primer dan stasiun sekunder, bukan antara sesama stasiun sekunder. Sebagian besar disiplin bersama menggunakan situasi ini, yaitu  semua perbedaan dari sebuah skema dikenal sebagai poll dan select.

  • Poll, stasiun primer meminta data dari stasiun sekunder.
  • Sellect, stasiun primer memiliki data untuk dikirim dan diberitahukan ke stasiun sekunder bahwa data sedang datang.

Gambar 3.4 menunjukkan konsep ini, dimana  stasiun primer poll ke stasiun sekunder dengan mengirim sebuah pesan singkat. Pada kasus ini, stasiun sekunder tidak mengirim dan menjawab dengan beberapa pesan nak. Waktu keseluruhan untuk urutan ini ditunjukkan dengan

TN = tprop + tpoll + tproc + tnak + tprop

dimana  :

TN : total waktu  untuk poll tanpa mengirim

tprop : waktu propagasi = t1-t0 = t5-t4

tpoll  : waktu untuk mengririm poll = t2-t1

tproc : waktu untuk pross poll sebelum menerima jawaban

                      = t3-t2

tnak : waktu untuk mengririm sebuah negative acknowledgment

      = t4-t3

Gambar 3.4 Poll and select sequences

 

Gambar 3.4 juga menjelaskan kasus dari sebuah keberhasilan poll, waktu yang dibutuhkan adalah:

TP = 3tprop + tpoll + tack + tdata + 2tproc

TP = TN + tprop + tdata + tproc

disini kita asumsikan waktu proses untuk menjawab beberapa pesan adalah konstan.

Sebagian besar bentuk polling bersama disebut roll-call polling, yang mana stasiun primer menyeleksi masing-masing poll dari satsiun sekunder dalam sebuah urutan pra penentuan. Dalam kasus sederhana, stasiun primer poll ke tiap-tiap stasiun sekunder dalam urutan round robbin S1, S2, S3, . . .  Sn, sampai semua stasiun sekunder dan mengulang urutan. Waktu yang diperlukan dapat diekspersikan sebagai:

Tc = nTN + kTD

dimana

T: waktu untuk satu siklus polling lengkap

TN : waktu rata-rata untuk poll sebuah stasiun sekunder dari   data transfer

TD: waktu transfer data

n  : jumlah stasiun sekunder

k : jumlah stasiun sekundert dengan data untuk dikirim selama siklus.

Fungsi penyeleksian ditunjukkan pada gambar 3.4c Terlihat bahwa empat transmisi terpisah menerima transfer data dari stasiun primer ke stasiun sekunder. Sebuah teknik alternatif disebut fast sellect. pada kasus ini penyeleksian pesan termasuk data ditransfer (gambar 3.4d). Pertama kali mengganti dari stasiun sekunder sebuah acknowledgement yang mengindikasikan bahwa stasiun telah dipersiapkan untuk menerima dan telah menerima data dengan  sukses. Pemilihan cepat adalah teristimewa cocok untuk aplikasi dimana pesan pendek sering dikirimkan dan waktu transfer untuk pesan tidak cukup lama dibanding waktu reply.

Penggunaan dari roll-call polling untuk konfigurasi lain adalah mudah dijelaskan. Pada kasus multi-multipoint (gambar 3.2c), stasiun primer dapat mengirim sebuah poll ke salah satu stasiun sekunder pada waktu yang samadia menerima sebuah pesan kontrol atau data dari yang lain. Untuk multipoint duplex stasiun primer dapat digunakan dalam komunikasi full duplex dengan beberapa stasiun sekunder.

Sebuah karakteristik dari semua saluran disiplin multipoint adalah membutuhkan pengalamatan. Dalam kasus roll call polling pengirirman dari sebuah stasiun sekunder harus diidentifikasi. Pada sebuah situasi, kedua pengirim dan penerima harus diidentifikasi. Terdapat tiga keadaan, yaitu:

  • point-to-point : tidak memerlukan pengalamatan
  • primary-secundary multipoint : sebuah alamat diperlukan untuk mengidentifikasi stasiun sekunder.
  • peer multipoint : diperlukan dua alamat, untuk mengiden-tifikasi pengirim dan penerima.

 

 

 

3.2 Kontrol Aliran

 

Flow control adalah suatu teknik untuk menjamin bahwa sebuah stasiun pengirim tidak membanjiri stasiun penerima dengan data. Stasiun penerima secara khas akan menyediakan suatu buffer data dengan panjang tertentu. Ketika data diterima, dia harus mengerjakan beberapa poses sebelum dia dapat membersihkan buffer dan mempersiapkan penerimaan data berikutnya.

Bentuk sederhana dari kontrol aliran dikenal sebagai stop and wait, dia bekerja sebagai berikut. Penerima mengindikasikan bahwa dia siap untuk menerima data dengan mengirim sebual poll atau menjawab dengan select. Pengirim kemudian mengirimkan data.

Flow control ini diatur/dikelola oleh Data Link Control (DLC) atau biasa disebut sebagai Line Protocol sehingga pengiriman maupun penerimaan ribuan message dapat terjadi dalam kurun waktu sesingkat mungkin. DLC harus memindahkan data dalam lalu lintas yang efisien. Jalur komunikasi harus digunakan sedatar mungkin, sehingga tidak ada stasiun yang berada dalam kadaan idle sementara stasiun yang lain  saturasi dengan lalu lintas yang berkelebihan. Jadi flow control merupakan bagian yang sangat kritis dari suatu jaringan.  Berikut ini ditampilkan time diagram Flow control saat komunikasi terjadi pada kondisi tanpa error dan ada error.

 

 

Gambar 3.5  Diagram waktu flow control saat transmisi tanpa kesalahan (a) dan saat terjadi kehilangan paket dan terjadi kesalahan (b)

 

Mekanisme Flow control yang sudah umum digunakan adalah Stop and Wait dan Sliding window, berikut ini akan dijelaskan kedua mekanisme tersebut.

 

3.2.1 Stop and wait

 

Protokol ini memiliki karakteristik dimana sebuah pengirim mengirimkan sebuah frame dan kemudian menunggu acknowledgment sebelum memprosesnya lebih lanjut. Mekanisme stop and wait dapat dijelaskan dengan menggunakan gambar 3.6, dimana DLC mengizinkan sebuah message untuk ditransmisikan (event 1), pengujian terhadap terjadinya error dilakukan dengan teknik seperti VCR (Vertical Redundancy Check) atau LRC (Longitudinal Redundancy Check) terjadi pada even 2 dan pada saat yang tepat sebuah ACK atau NAK dikirimkan kembali untuk ke stasiun pengirim (event 3). Tidak ada messages lain yang dapat ditransmisikan selama stasiun penerima mengirimkan kembali sebuah jawaban. Jadi istilah stop and wait diperoleh dari proses pengiriman message oleh stasiun pengirim, menghentikan transmisi berikutnya, dan menunggu jawaban.

Pendekatan stop and wait adalah sesuai untuk susunan transmisi half duplex, karena dia menyediakan untuk transmisi data dalam dua arah, tetapi hanya dalam satu arah setiap saat. Kekurangan yang terbesar adalah disaat jalur tidak jalan sebagai akibat dari stasiun yang dalam keadaan menunggu, sehingga kebanyakan DLC stop and wait sekarang menyediakan lebih dari satu terminal yang on line. Terminal-terminal tetap beroperasi dalam  susunan yang sederhana. Stasiun pertama atau host sebagai penaggung jawab untuk peletakkan message diantara terminal-terminal (biasanya melalui sebuah terminal pengontrol yang berada di depannya) dan akses pengontrolan untuk hubungan komunikasi.

Urutan sederhana ditunjukkan pada gambar 3.6 dan menjadi masalah yang serius ketika ACK atau NAK hilang dalam jaringan atau dalam jalur. Jika ACK pada event 3 hilang, setelah habis batas waktunya stasiun master mengirim ulang message yang sama untuk kedua kalinya. Transmisi yang berkelebihan mungkin terjadi dan menciptakan sebuah duplikasi record pada tempat kedua dari file data pengguna. Akibatnya, DLC harus mengadakan suatu cara untuk mengidentifikasi dan mengurutkan message yang dikirimkan dengan berdasarkan pada ACK atau NAK sehingga harus dimiliki suatu metoda untuk mengecek duplikat message.

 

 

 

Gambar 3.6  Stop and wait data link control

 

Pada gambar 3.7 ditunjukkan bagaimana urutan pendeteksian duplikasi message bekerja, pada event 1 stasiun pengirim mengirikan sebuah message dengan urutan 0 pada headernya. Stasiun penerima menjawab dengan sebuah ACK dan sebuah nomor urutan 0 (event 2). Pengirim menerima ACK, memeriksa nomor urutan 0 di headernya, mengubah nomor urutan menjadi 1 dan mengirimkan message berikutnya (event 3).

 

 

 

 

 

Gambar 3.7 Stop-and-wait alternating sequence

 

Stasiun penerima mendapatkan message dengan ACK 1 di event 4. Akan tetapi  message ini diterima dalam keadaan rusak atau hilang pada jalan. Stasiun pengirim mengenali bahwa message di event 3 tidak dikenali. Setelah batas waktu terlampau (timeout) stasiun pengirim mengirim ulang message ini (event 5). Stasiun penerima mencari sebuah message dengan nomor urutan 0. Dia membuang message, sejak itu dia adalah sebuah duplikat  dari message yang dikirim pada event 3. Untuk melengkapi pertang-gung-jawaban, stasiun penerima mengirim ulang ACK 1 (event 6).

 

Efek delay propagasi dan kecepatan transmisi

 

Kita akan menentukan efisiensi maksimum dari sebuah jalur point-to-point menggunakan  skema stop and wait.  Total waktu yang diperlukan untuk mengirim data adalah :

Td = TI + nTF

dimana     TI  = waktu untuk menginisiasi urutan = tprop + tpoll + tproc

TF  = waktu untuk mengirim satu frame

TF  = tprop + tframe + tproc + tprop + tack + tproc

                                tprop  = waktu propagasi

tframe = waktu pengiriman

tack   = waktu balasan

Untuk menyederhanakan persamaan di atas, kita dapat mengabaikan term. Misalnya, untuk sepanjang urutan frame, TI relatif kecil sehingga dapat diabaikan. Kita asumsikan bahwa waktu proses antara pengiriman dan penerimaan diabaikan dan waktu balasan frame adalah sangat kecil, sehingga kita dapat mengekspresikan TD sebagai berikut:

 

TD = n(2tprop + t frame)

 

Dari keseluruhan waktu yang diperlukan hanya n x t frame yang dihabiskan selama pengiriman data sehingga utilization (U) atau efisiensi jalur diperoleh :

 

3.2.2 Sliding window control

 

Sifat inefisiensi dari stop and wait DLC telah menghasilkan teknik pengembangan dalam meperlengkapi overlapping antara message data dan message control yang sesuai. Data dan sinyal kontrol mengalir dari pengirim ke penerima secara kontinyu, dan beberapa message yang menonjol (pada jalur atau dalam buffer penerima) pada suatu waktu.

DLC ini sering disebut sliding windows karena metode yang digunakan sinkron dengan pengiriman nomer urutan pada header dengan pengenalan yang sesuai. Stasiun transmisi mengurus sebuah jendela pengiriman yang melukiskan jumlah dari message(dan nomor urutannya) yang diijinkan untuk dikirim. Stasiun penerima mengurus sebuah jendela penerimaan yang melakukan fungsi yang saling mengimbangi. Dua tempat menggunakan keadaan jendela bagaimana banyak message dapat/ menonjol dalam suatu jalur atau pada penerima sebelum pengirim menghentikan pengiriman dan menunggu jawaban.

 

 

Gambar 3.8. Sliding window data link control

 

Sebagai contoh pada gambar 3.8 suatu penerima dari ACK dari message 1 mengalir ke Station A untuk menggeser jendela sesuai dengan urutan nomor. Jika total message 10 harus dalam jendela, Station A dapat menahan pengiriman message 5,6,7,8,9,0, dan 1. (menahan message-message 2,3 dan 4 dalam kondisi transit). Dia tidak harus mengirim sebuah message menggunakan urutan 2 sampai dia menerima sebuah ACK untuk 2. Jendela melilitkan secara melingkar untuk mengumpulkan nomor-nomor set yang sama.Untuk lebih jelasnya dapat dilihat gambar berikut menampilkan lebih detail mekanisme sliding window dan contoh transmisi messagenya.

 

 

 

 

 

 

 

 Gambar 3.9 Mekanisme sliding windows beserta contoh transimisi message

 

 

 

3.3 Deteksi Dan Koreksi Error

 

Sebagai akibat proses-proses fisika yang menyebabkannya terjadi, error pada beberapa media (misalnya, radio) cenderung timbul secara meletup (burst) bukannya satu demi satu. Error yang meletup seperti itu memiliki baik keuntungan maupun kerugian pada error bit tunggal yang terisolasi. Sisi keuntungannya, data komputer selalu dikirim dalam bentuk blok-blok bit. Anggap ukuran blok sama dengan 1000 bit, dan laju error adalah 0,001 per bit. Bila error-errornya independen, maka sebagian besar blok akan mengandung error. Bila error terjadi dengan letupan 100, maka hanya satu atau dua blok dalam 100 blok yang akan terpengaruh, secara rata-ratanya. Kerugian error letupan adalah bahwa error seperti itu lebih sulit untuk dideteksi dan dikoreksi dibanding dengan error yang terisolasi.

 

3.3.1 Kode-kode Pengkoreksian Error

 

Para perancang jaringan telah membuat dua strategi dasar yang berkenaan dengan error. Cara pertama adalah dengan melibatkan informasi redundan secukupnya bersama-sama dengan setiap blok data yang dikirimkan untuk memungkinkan penerima menarik kesimpulan tentang apa karakter yang ditransmisikan yang seharusnya ada. Cara lainnya adalah dengan hanya melibatkan redundansi secukupnya untuk menarik kesimpulan bahwa suatu error telah terjadi, dan membiarkannya untuk meminta pengiriman ulang. Strategi pertama menggunakan kode-kode pengkoreksian error (error-correcting codes), sedangkan strategi kedua menggunakan kode-kode pendeteksian error (error-detecting codes).

Untuk bisa mengerti tentang penanganan error, kita perlu melihat dari dekat tentang apa yang disebut error itu. Biasanya, sebuah frame terdiri dari m bit data (yaitu pesan) dan r redundan, atau check bits. Ambil panjang total sebesar n (yaitu, n=m+r). Sebuah satuan n-bit yang berisi data dan checkbit sering kali dikaitkan sebagai codeword n-bit.

Ditentukan dua buah codeword: 10001001 dan 10110001. Disini kita dapat menentukan berapa banyak bit yang berkaitan berbeda. Dalam hal ini, terdapat 3 bit yang berlainan. Untuk menentukannya cukup melakukan operasi EXCLUSIVE OR pada kedua codeword, dan menghitung jumlah bit 1 pada hasil operasi. Jumlah posisi bit dimana dua codeword berbeda disebut jarak Hamming (Hamming, 1950). Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa bila dua codeword terpisah dengan jarak Hamming d, maka akan diperlukan error bit tunggal d untuk mengkonversi dari yang satu menjadi yang lainnya.

Pada sebagian besar aplikasi transmisi data, seluruh 2m pesan data merupakan data yang legal. Tetapi sehubungan dengan cara penghitungan check bit, tidak semua 2n digunakan. Bila ditentukan algoritma untuk menghitung check bit, maka akan dimungkinkan untuk membuat daftar lengkap codeword yang legal. Dari daftar ini dapat dicari dua codeword yang jarak Hamming-nya minimum. Jarak ini merupakan jarak Hamming bagi kode yang lengkap.

Sifat-sifat pendeteksian error dan perbaikan error suatu kode tergantung pada jarak Hamming-nya. Untuk mendeteksi d error, anda membutuhkan kode dengan jarak d+1 karena dengan kode seperti itu tidak mungkin bahwa error bit tunggal d dapat mengubah sebuah codeword yang valid menjadi codeword valid lainnya. Ketika penerima melihat codeword yang tidak valid, maka penerima dapat berkata bahwa telah terjadi error pada transmisi. Demikian juga, untuk memperbaiki error d, anda memerlukan kode yang berjarak 2d+1 karena hal itu menyatakan codeword legal dapat terpisah bahkan dengan perubahan d, codeword orisinil akan lebih dekat dibanding codeword lainnya, maka perbaikan error dapat ditentukan secara unik.

Sebagai sebuah contoh sederhana bagi kode pendeteksian error, ambil sebuah kode dimana parity bit tunggal ditambahkan ke data. Parity bit dipilih supaya jumlah bit-bit 1 dalam codeword menjadi genap (atau ganjil). Misalnya, bila 10110101 dikirimkan dalam parity genap dengan menambahkan sebuah bit pada bagian ujungnya, maka data itu menjadi 101101011, sedangkan dengan parity genap 10110001 menjadi 101100010. Sebuah kode dengan parity bit tunggal mempunyai jarak 2, karena sembarang error bit tunggal menghasilkan sebuah codeword dengan parity yang salah. Cara ini dapat digunakan untuk mendeteksi erro-error tunggal.

Sebagai contoh sederhana dari kode perbaikan error, ambil sebuah kode yang hanya memiliki empat buah codeword valid :

 

0000000000,0000011111,1111100000 dan 1111111111

 

Kode ini mempunyai jarak 5, yang berarti bahwa code tersebut dapat memperbaiki error ganda. Bila codeword 0000011111 tiba, maka penerima akan tahun bahwa data orisinil seharusnya adalah 0000011111. Akan tetapi bila error tripel mengubah 0000000000 menjadi  0000000111, maka error tidak akan dapat diperbaiki.

Bayangkan bahwa kita akan merancang kode dengan m bit pesan dan r bit check yang akan memungkinkan semua error tunggal bisa diperbaiki. Masing-masing dari 2m pesan yang legal membutuhkan pola bit n+1. Karena jumlah total pola bit adalah 2n, kita harus memiliki (n+1)2m £ 2n.

Dengan memakai n = m + r, persyaratan ini menjadi (m + r + 1)£2r. Bila m ditentukan, maka ini akan meletakkan batas bawah pada jumlah bit check yang diperlukan untuk mengkoreksi error tunggal.

Dalam kenyataannya, batas bawah teoritis ini dapat diperoleh dengan menggunakan metoda Hamming (1950). Bit-bit codeword  dinomori secara berurutan, diawali dengan bit 1 pada sisi paling kiri. Bit bit yang merupakan pangkat 2 (1,2,4,8,16 dan seterusnya) adalah bit check. Sisanya (3,5,6,7,9 dan seterusnya) disisipi dengan m bit data. Setiap bit check memaksa parity sebagian kumpulan bit, termasuk dirinya sendiri,  menjadi genap (atau ganjil). Sebuah bit dapat dimasukkan dalam beberapa komputasi parity. Untuk mengetahui bit check dimana bit data pada posisi k berkontribusi, tulis ulang k sebagai jumlahan pangkat 2. Misalnya, 11=1+2+8 dan 29=1+4+8+16. Sebuah bit dicek oleh bit check yang terjadi pada ekspansinya (misalnya, bit 11 dicek oleh bit 1,2 dan 8).

Ketika sebuah codeword tiba, penerima menginisialisasi counter ke nol. Kemudian codeword memeriksa setiap bit check, k (k=1,2,4,8,….) untuk melihat apakah bit check tersebut mempunyai parity yang benar. Bila tidak, codeword akan menambahkan k ke counter. Bila counter sama dengan nol setelah semua bit check diuji (yaitu, bila semua bit checknya benar), codeword akan diterima sebagai valid. Bila counter tidak sama dengan nol, maka pesan mengandung sejumlah bit yang tidak benar. Misalnya bila bit check 1,2, dan 8 mengalami kesalahan (error), maka bit inversinya adalah 11, karena itu hanya satu-satunya yang diperiksa oleh bit 1,2, dan 8. Gambar 3.10 menggambarkan beberapa karakter ASCII 7-bit yang diencode sebagai codeword 11 bit dengan menggunakan kode Hamming. Perlu diingat bahwa data terdapat pada posisi bit 3,5,6,7,9,10,11.

 

 

Gambar 3.10 Penggunaan kode Hamming untuk mengkoreksi burst error

Kode Hamming hanya bisa memperbaiki error tunggal. Akan tetapi, ada trick yang dapat digunakan untuk memungkinkan kode Hamming dapat memperbaiki error yang meletup. Sejumlah k buah codeword yang berurutan disusun sebagai sebuah matriks, satu codeword per baris. Biasanya, data akan ditransmisikan satu baris codeword sekali, dari kiri ke kanan. Untuk mengkoreksi error yang meletup, data harus ditransmisikan satu kolom sekali, diawali dengan kolom yang paling kiri. Ketika seluruh k bit telah dikirimkan, kolom kedua mulai dikirimkan, dan seterusnya. Pada saat frame tiba pada penerima, matriks direkonstruksi, satu kolom per satuan waktu. Bila suatu error yang meletup terjadi, paling banyak 1 bit pada setiap k codeword akan terpengaruh. Akan tetapi kode Hamming dapat memperbaiki satu error per codeword, sehingga seluruh blok dapat diperbaiki. Metode ini memakai kr bit check untuk membuat km bit data dapat immune terhadap error tunggal yang meletup dengan panjang k atau kurang.

 

3.2.2 Kode-kode Pendeteksian Kesalahan

Kode pendeteksian error kadang kala digunakan dalam transmisi data. Misalnya, bila saturan simplex, maka transmisi ulang tidak bisa diminta. Akan tetapi sering kali deteksi error yang diikuti oleh transmisi ulang lebih disenangi. Hal ini disebabkan karena pemakaian transmisi ulang lebih efisien. Sebagai sebuah contoh yang sederhana, ambil sebuah saluran yang errornya terisolasi dan mempunyai laju error 10 –6 per bit.

Anggap ukuran blok sama dengan 1000 bit. Untuk melaksanakan koreksi error blok 1000 bit, diperlukan 10 bit check; satu megabit data akan membutuhkan 10.000 bit check. Untuk mendeteksi sebuah blok dengan error tunggal 1-bit saja, sebuah bit parity per blok akan mencukupi. Sekali setiap 1000 blok dan blok tambahan (1001) akan harus ditransmisikan. Overhead total bagi deteksi error + metoda transmisi ulang adalah hanya 2001 bit per megabit data, dibanding 10.000 bit bagi kode Hamming.

Bila sebuah bit parity tunggal ditambahkan ke sebuah blok dan blok dirusak oleh error letupan yang lama, maka probabilitas error dapat untuk bisa dideteksi adalah hanya 0,5 hal yang sangat sulit untuk bisa diterma. Bit-bit ganjil dapat ditingkatkan cukup banyak dengan mempertimbangkan setiap blok yang akan dikirim sebagai matriks persegi panjang dengan lebar n bit dan tinggi k bit. Bit parity dihitung secara terpisah bagi setiap kolomnya dan ditambahkan ke matriks sebagai baris terakhir. Kemudian matriks ditransmisikan kembali baris per baris. Ketika blok tiba, penerima akan memeriksa semua bit parity, Bila ada bit parity yang salah, penerima meminta agar blok ditransmisi ulang.

Metoda ini dapat mendeteksi sebuah letupan dengan panjang n, karena hanya 1 bit per kolom yang akan diubah. Sebuah letupan dengan panjang n+1 akan lolos tanpa terdeteksi. Akan tetapi bila bit pertama diinversikan, maka bit terakhir juga akan diinversikan, dan semua bit lainnya adalah benar. (Sebuah error letupan tidak berarti bahwa semua bit salah; tetapi mengindikasikan bahwa paling tidak bit pertama dan terakhirnya salah). Bila blok mengalami kerusakan berat akibat terjadinya error letupan yang panjang atau error letupan pendek yang banyak, maka probabilitas bahwa sembarang  n  kolom akan mempunyai parity yang benar adalah 0,5. Sehingga probabilitas dari blok yang buruk akan bisa diterima adalah 2 –n.

Walaupun metoda di atas kadang-kadang adekuat, pada prakteknya terdapat metode lain yang luas digunakan: Kode polynomial (dikenal juga sebagai cyclic redundancy code atau kode CRC). Kode polynomial didasarkan pada perlakuan string-string bit sebagai representatsi polynomial dengan memakai hanya koefisien 0 dan 1 saja. Sebuah frame k bit berkaitan dengan daftar koefisien bagi polynomial yang mempunyai k suku, dengan range dari xk-1 sampai x0. Polynomial seperti itu disebut polynomial yang bertingkat k-1. Bit dengan orde tertinggi (paling kiri) merupakan koefisien dari xk-1; bit berikutnya merupakan koefisien dari xk-2, dan seterusnya. Misalnya 110001 memiliki 6 bit, maka merepresentasikan polynomial bersuku 6 dengan koefisien 1,1,0,0,0 dan 1:x5+x4+x0.

Aritmetika polynomial dikerjakan dengan modulus 2, mengikuti aturan teori aljabar. Tidak ada pengambilan untuk pertambahan dan peminjaman untuk pengurangan. Pertambahan dan pengurangan identik dengan EXCLUSIVE OR, misalnya :

 

 

Gambar 3.11 Pertambahan dengan EXOR

 

Pembagian juga diselesaikan dengan cara yang sama seperti pada pembagian bilangan biner, kecuali pengurangan dikerjakan berdasarkan modulus 2. Pembagi dikatakan “masuk ke” yang dibagi bila bilangan yang dibagi mempunyai bit sebanyak bilangan pembagi.

Saat metode kode polynomial dipakai, pengirim dan penerima harus setuju terlebih dahulu tentang polynomial generator, G(x). Baik bit orde tinggi maupun bit orde rendah dari generator harus mempunyai harga 1. Untuk menghitung checksum bagi beberapa frame dengan m bit, yang berkaitan dengan polynomial M(x), maka frame harus lebih panjang dari polynomial generator. Hal ini untuk menambahkan checksum  keakhir frame sedemikian rupa sehingga polynomial yang direpresentasikan oleh frame berchecksum dapat habis dibagi oleh G(x). Ketika penerima memperoleh frame berchecksum, penerima mencoba membaginya dengan G(x). Bila ternyata terdapat sisa pembagian, maka dianggap telah terjadi error transmisi.

Algoritma untuk perhitungan checksum adalah sebagai berikut :

  1. Ambil r sebagai pangkat G(x), Tambahkan bit nol r ke bagian orde rendah dari frame, sehingga sekarang berisi m+r bit dan berkaitan dengan polynomial xrM(x).
  2. Dengan menggunakan modulus 2, bagi string bit yang berkaitan dengan G(x) menjadi string bit yang berhubungan dengan xrM(x).
  3. Kurangkan sisa (yang selalu bernilai r bit atau kurang) dari string bit yang berkaitan dengan xrM(x) dengan menggunakan pengurangan bermodulus 2. Hasilnya merupakan frame berchecksum yang akan ditransmisikan. Disebut polynomial T(x).

Gambar 3-12 menjelaskan proses perhitungan untuk frame 1101011011 dan G(x) = x4 + x + 1.

Jelas bahwa T(x) habis dibagi (modulus 2) oleh G(x). Dalam sembarang masalah pembagian, bila anda mengurangi angka yang dibagi dengan sisanya, maka yang  akan tersisa adalah angka yang dapat habis dibagi oleh pembagi. Misalnya dalam basis 10, bila anda membagi 210.278 dengan 10.941, maka sisanya 2399. Dengan mengurangkan 2399 ke 210.278, maka yang bilangan yang tersisa (207.879) habis dibagi oleh 10.941.

Sekarang kita menganalisis kekuatan metoda ini. Error jenis apa yang akan bisa dideteksi ? Anggap terjadi error pada suatu transmisi, sehingga bukannya string bit untuk T(x) yang tiba, akan tetapi T(x) + E(X). Setiap bit 1 pada E(x) berkaitan dengan bit yang telah diinversikan. Bila terdapat k buah bit 1 pada E(x), maka k buah error bit tunggal telah terjadi. Error tunggal letupan dikarakterisasi oleh sebuah awalan 1, campuran 0 dan 1, dan sebuah akhiran 1, dengan semua bit lainnya adalah 0.

Begitu frame berchecksum diterima, penerima membaginya dengan G(x); yaitu, menghitung [T(x)+E(x)]/G(x). T(x)/G(x) sama dengan 0, maka hasil perhitungannya adalah E(x)/G(x). Error seperti ini dapat terjadi pada polynomial yang mengandung G(x) sebagai faktor yang akan mengalami penyimpangan, seluruh error lainnya akan dapat dideteksi.

Bila terdapat error bit tunggal, E(x)=xi, dimana i menentukan bit mana yang mengalami error. Bila G(x) terdiri dari dua suku atau lebih, maka x tidak pernah dapat habis membagi E(x), sehingga seluruh error dapat dideteksi.

 

Gambar 3-12.Perhitungan checksum kode polynomial

 

Bila terdapat dua buah error bit-tunggal yang terisolasi, E(x)=xi+xj, dimana i > j. Dapat juga dituliskan sebagai E(x)=xj(xi-j + 1). Bila kita mengasumsikan bahwa G(x) tidak dapat dibagi oleh x, kondisi yang diperlukan untuk dapat mendeteksi semua error adalah bahwa G(x)  tidak dapat habis membagi xk+1 untuk sembarang harga k sampai nilai maksimum i-j (yaitu sampai panjang frame maksimum). Terdapat polynomial sederhana atau berorde rendah yang memberikan perlindungan bagi frame-frame yang panjang. Misalnya, x15+x14+1 tidak akan habis membagi xk+1 untuk sembarang harga k yang kurang dari 32.768.

Bila terdapat jumlah bit yang ganjil dalam error, E(x) terdiri dari jumlah suku yang ganjil (misalnya,x5+x2+1, dan bukannya x2+1). Sangat menarik, tidak terdapat polynomial yang bersuku ganjil yang mempunyai x + 1 sebagai faktor dalam sistem modulus 2. Dengan membuat x + 1 sebagai faktor G(x), kita akan mendeteksi semua error yang terdiri dari bilangan ganjil dari bit yang diinversikan.

Untuk mengetahui bahwa polynomial yang bersuku ganjil dapat habis dibagi oleh x+1, anggap bahwa E(x) mempunyai suku ganjil dan dapat habis dibagi oleh x+1. Ubah bentuk E(x) menjadi (x+1)Q(x). Sekarang evaluasi E(1) = (1+1)Q(1). Karena 1+1=0 (modulus 2), maka E(1) harus nol. Bila E(x) mempunyai suku ganjil, pensubtitusian 1 untuk semua harga x akan selalu menghasilkan 1. Jadi tidak ada polynomial bersuku ganjil yang habis dibagi oleh x+1.

Terakhir, dan yang terpenting, kode polynomial dengan r buah check bit akan mendeteksi semua error letupan yang memiliki panjang <=r. Suatu error letupan dengan panjang k dapat dinyatakan oleh xi(xk-1 + …..+1), dimana i menentukan sejauh mana dari sisi ujung kanan frame yang diterima letupan itu ditemui. Bila G(x) mengandung suku x0, maka G(x) tidak akan memiliki xi sebagai faktornya. Sehingga bila tingkat ekspresi yang berada alam tanda kurung kurang dari tingkat G(x), sisa pembagian tidak akan pernah berharga nol.

Bila panjang letupan adalah r+1, maka sisa pembagian oleh G(x) akan nol bila dan hanya bila letupan tersebut identik dengan G(x). Menurut definisi letupan, bit awal dan bit akhir harus 1, sehingga apakah bit itu akan sesuai tergantung pada bit pertengahan r-1. Bila semua kombinasi adalah sama dan sebanding, maka probabilitas frame yang tidak benar yang akan diterima sebagai frame yang valid adalah ½ r-1.

Dapat juga dibuktikan bahwa bila letupan error yang lebih panjang dari bit r+1 terjadi, maka probabilitas frame buruk untuk melintasi tanpat peringatan adalah 1/2r yang menganggap bahwa semua pola bit adalah sama dan sebanding.

Tiga  buah polynomial telah menjadi standard internasional:

  • CRC-12              = X12 + X11 + X3 + X2 + X1 + 1
  • CRC-16              = X16 + X15 + X2 + 1
  • CRC-CCITT      = X16 + X12 + X5 + 1

 

Ketiganya mengandung x+1 sebagai faktor prima.CRC-12  digunakan bila panjang karakternya sama dengan 6 bit. Dua polynomial lainnya menggunakan karakter 8 bit. Sebuah checksum 16 bit seperti CRC-16 atau CRC-CCITT, mendeteksi semua error tunggal dan error ganda, semua error dengan jumlah bit ganjil, semua error letupan yang mempunyai panjang 16 atau kurang, 99,997 persen letupan error 17 bit, dan  99,996 letupan 18 bit atau lebih panjang.

 

3.3 Kendali kesalahan

 

Tujuan dilakukan pengontrolan terhadap error adalah untuk menyampaikan frame-frame  tanpa error, dalam urutan yang tepat ke lapisan jaringan. Teknik yang umum digunakan untuk error control berbasis pada dua fungsi, yaitu:

 

  • Error detection, biasanya menggunakan teknik CRC (Cyclic Redundancy Check)
  • Automatic Repeat Request (ARQ), ketika error terdeteksi, pengirim meminta mengirim ulang frame yang terjadi kesalahan.

 

Mekanisme Error control meliputi

à       Ack/Nak : Provide sender some feedback about other end

à       Time-out: for the case when entire packet or ack is lost

à       Sequence numbers: to distinguish retransmissions from originals

 

Untuk menghindari terjadinya error atau memperbaiki jika terjadi error yang dilakukan adalah melakukan perngiriman message secara berulang,  proses ini dilakukan secara otomatis dan dikenal sebagai Automatic Repeat Request (ARQ).

Pada proses ARQ dilakukan beberapa langkah diantaranya (1):

à       Error detection

à       Acknowledgment

à       Retransmission after timeout

à       Negative Acknowledgment

Macam-macam error control adalah:

 

3.3.1           Stop and Wait ARQ

 

Mekanisme ini menggunakan skema sederhana stop and wait acknowledgment dan dapat dijelaskan seperti tampak pada gambar 3.13 Stasiun pengirim mengirimkan sebuah frame dan kemudian harus menunggu balasan dari penerima. Tidak ada frame data yang dapat dikirimkan sampai stasiun penerima menjawab kedatangan pada stasiun pengirim. Penerima mengirim sebuah positive acknowledgment  (ACK) jika frame benar dan sebuah negative acknoledgment jika sebaliknya.

 

 

Gambar 3.13  Stop and wait ARQ

 

3.3.2           Go Back N ARQ

 

Gambar 3.14 menampilkan aliran frame untuk mekanisme go-back-and ARQ pada sebuah jalur full-duplex. Ketika frame 2,3, dan 4 ditransmisikan, dari stasiun A ke stasiun B, sebuah ACK dari penerimaan sebelumnya frame 1 mengalir dari B ke A. Beberapa waktu kemudian, frame 2 diterima dalam kondisi error. Frame-frame 2,3,4 dan 5 dikirimkan, stasiun B mengirim sebuah NAK2 ke stasiun A yang diterima setelah frame 5 dikirimkan tetapi sebelum stasiun A siap mengirim frame 6. Sekarang harus dilakukan pengiriman ulang frame-frame 2,3,4, dan 5 waluapun hanya pada frame 2 terjadinya kesalahan. Sekali lagi, catat bahwa stasiun A harus sebuah copy dari setiap unacknowledgment frame.

 

 

Gambar 3.14 Go-back-N ARQ

 

3.3.3           Selective-report ARQ

 

Pada mekanisme ini sebenarnya mirip dengan mekanisme go-back-N ARQ bedanya, pada selective-report ARQ yang dikirimkan hanyalah frame yang terjadi kesalahan saja. Gambar 3.14 menjelaskan mekanisme tersebut.

 

 

 

 

Gambar 3.14  Selective-report ARQ

 

3.3.4           Contoh  Continuous ARQ

 

Untuk lebih memahami mekanisme error control dari kedua mekanisme terakhir dan mengetahui perbedaan diantara keduanya dapat dilihat tampilan pada gambar 3.15 yang memperlihatkan aliran frame-frame secara kontinyu.

 

Gambar 3.15 Contoh continuous ARQ

 

3.4. Referensi

  1. Tanenbaum, AS, Computer Networks, Prentise Hall, 1996
  2. Stallings, W. Data and Computer Communications, Macmillan Publishing Company, 1985.
  3. Stallings, W. Local Network, Macmillan Publishing Company, 1985.
  4. Black, U.D, Data Communications and Distributed Networks, Prentise Hall.
  5. Raj Jain, Professor of CIS The Ohio State University Columbus, OH 43210 Jain@ACM.Org

http://www.cis.ohio-state.edu/~jain/cis677-98/

  1. 6.    Cisco Press

http://www.cicso.com/cpress/cc/td/cpress/fund/ith2nd/it2401.html

 

 

 

4

 

 

 

Networking

 

 

Sebelum masuk ke pembahasan yang lebih mendalam, sebaiknya kita mengenal pengertian istilah packet switching, virtual circuit dan datagram. Selanjutnya fokus pembahasan bab ini meliputi mekanisme dan algoritma routing, traffic control, internetworking dan pembahasan tentang protokol internet

Untuk membantu pemahaman, beberapa pembahasan routing akan mengacu ke gambar jaringan berikut (gambar 4.1). Rute-rute pada jaringan tersebut menghubungkan 6 titik (node).

 

 
   

 

 

 
   

 

 

 

Gambar 4.1. Rute jaringan 6 titik

 

4.1 Prinsip Packet Switching, Virtual Circuit dan Datagram

 

Pada hubungan Circuit Switching, koneksi biasanya terjadi secara fisik bersifat point to point. Kerugian terbesar dari teknik ini adalah penggunaan jalur yang bertambah banyak untuk jumlah hubungan yang meningkat. Efek yang timbul adalah cost yang akan semakin meningkat di samping pengaturan switching menjadi sangat komplek. Kelemahan yang lain adalah munculnya idle time bagi jalur yang tidak digunakan. Hal ini tentu akan menambah inefisiensi. Model circuit switching, karena sifatnya, biasanya mentransmisikan data dengan kecepatan yang konstan, sehingga untuk menggabungkan suatu jaringan dengan jaringan lain yang berbeda kecepatan tentu akan sulit diwujudkan.

 

 
   

Pemecahan yang baik yang bisa digunakan untuk mengatasi persoalan di atas adalah dengan metoda data switching. Dengan pendekatan ini, pesan yang dikirim dipecah-pecah dengan besar tertentu dan pada tiap pecahan data ditambahkan informasi kendali. Informasi kendali ini, dalam bentuk yang paling minim, digunakan untuk membantu proses pencarian rute dalam suatu jaringan ehingga pesan dapat sampai ke alamat tujuan. Contoh pemecahan data menjadi paket-paket data ditunjukkan pada gambar.

 

 

Gambar 4.2 Pemecahan Data menjadi paket-paket

 

 

Penggunaan Data Switching mempunyai keuntungan dibandingkan dengan penggunaan Circuit switching antara lain :

  1. Efisiensi jalur lebih besar  karena hubungan antar node dapat menggunakan jalur yang dipakai bersama secara dianmis tergantung banyakanya paket yang dikirm.
  2. Bisa mengatasi permasalah data rate yang berbeda antara dua jenis jaringan yang berbeda data rate-nya.
  3. Saat beban lalulintas menignkat, pada model circuit switching, beberapa pesan yang akan ditransfer dikenai pemblokiran. Transmisi baru dapat dilakukan apabila beban lalu lintas mulai menurun. Sedangkan pada model data switching, paket tetap bisa dikirimkan, tetapi akan lambat sampai ke tujuan (delivery delay meningkat).
  4. Pengiriman dapat dilakukan berdasarkan prioritas data. Jadi  dalam suatu antrian paket yang akan dikirim, sebuah paket dapat diberi prioritas lebih tinggi untuk dikirm dibanding paket yang lain. Dalam hal ini, prioritas yang lebih tinggi akan mempunyai delivery delay yang lebih kecil dibandingkan paket dengan prioritas yang lebih rendah.

 

 

Virtual circuit eksternal dan internal

 

Virtual Circuit pada dasarnya adalah suatu hubungan secara logik yang dibentuk untuk menyambungkan dua stasiun. Paket dilabelkan dengan nomor sirkit maya dan nomor urut. Paket dikirimkan dan datang secara berurutan. Gambar berikut ini menjelaskan keterangan tersebut.

 

 
   
 
   

 

 

 

Gambar 5.3.Virtual Circuit eksternal

 

Stasiun A mengirimkan 6 paket. Jalur antara A dan B secara logik disebut sebagai jalur 1, sedangkan jalur antara A dan C disebut sebagai jalur 2. Paket pertama yang akan dikirimkan lewat jalur 1 dilabelkan sebagai paket 1.1, sedangkan paket ke-2 yang dilewatkan jalur yang sama dilabelkan sebagai paket 1.2 dan paket terakhir yang dilewatkan jalur 1 disebut sebagai paket 1.3. Sedangkan paket yang pertama yang dikirimkan lewat jalur 2 disebut sebagai paket 2.1, paket kedua sebagai paket 2.2 dan paket terakhir sebagai paket 2.3 Dari gambar tersebut kiranya jelas bahwa paket yang dikirimkan diberi label jalur yang harus dilewatinya dan paket tersebut akan tiba di stasiun yang dituju dengan urutan seperti urutan pengiriman.

         Secara internal rangkaian maya ini bisa digambarkan sebagai suatu jalur yang sudah disusun untuk berhubungan antara satu stasiun dengan stasiun yang lain. Semua paket dengan asal dan tujuan yang sama akan melewati jalur yang sama sehingga akan samapi ke stasiun yang dituju sesuai dengan urutan pada saat pengiriman (FIFO). Gambar berikut menjelaskan tentang sirkit maya internal.

 

 
   
 
   

 

 

 

Gambar 4.4. Virtual Circuit internal

 

Gambar 4.4 menunjukkan adanya jalur yang harus dilewati apabila suatu paket ingin dikirimkan dari A menuju B (sirkit maya 1 atau Virtual Circuit 1 disingkat VC #1). Sirkit ini dibentuk denagan rute melewati node 1-2-3. Sedangkan untuk mengirimkan paket dari A menuju C dibentuk sirkit maya VC #2, yaitu rute yang melewati node 1-4-3-6.

 

Datagram eksternal dan internal

 

Dalam bentuk datagram, setiap paket dikirimkan secara independen. Setiap paket diberi label alamat tujuan. Berbeda dengan sirkit maya, datagram memungkinkan paket yang diterima berbeda urutan dengan urutan saat paket tersebut dikirim. Gambar 5.5 berikut ini akan membantu memperjelas ilustrasi.

Jaringan mempunyai satu stasiun sumber, A dan dua stasiun tujuan yakni B dan C. Paket yang akan dikirimkan ke stasiun B diberi label alamat stasiun tujuan yakni B dan ditambah nomor paket sehingga menjadi misalnya B.1, B.37, dsb. Demikian juga paket yang ditujukan ke stasiun C diberi label yang serupa, misalnya paket C.5, C.17, dsb.

 

 

 

 
   
 
   

 

 

 

Gambar 4.5 Datagram eksternal

 

 

Dari gambar 4.5, stasiun A mengirimkan enam buah paket. Tiga paket ditujukan ke alamat B. Urutan pengiriman untuk paket B adalah paket B.1, Paket B.2 dan paket B.3. sedangkan tiga paket yang dikirimkan ke C masing-masing secara urut adalah paket C.1, paket C.2 dan paket C.3. Paket-paket tersebut sampai di B dengan urutan kedatangan B.2, paket B.3 dan terakhir paket B.1 sedangan di statiun C, paket paket tersebut diterima dengan urutan C.3, kemudian paket C.1 dan terakhir paket C.2. Ketidakurutan ini lebih disebabkan karena paket dengan alamat tujuan yang sama tidak harus melewati jalur yang sama. Setiap paket bersifat independen terhadap sebuah jalur. Artinya sebuah paket sangat mungkin untuk melewati jalur yang lebih panjang dibanding paket yang lain, sehingga waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke alamat tujuan berbeda tergantung rute yang ditempuhnya. Secara internal datagram dapat digambarkan sebagai berikut

 

 

 
   

 

 

 
   

 

Gambar 4.6. Datagram internal

 

Sangat dimungkinkan untuk menggabungkan antara keempat konfigurasi tersebut menjadi beberapa kemungkinan berikut.

  • Virtual Circuit eksternal, virtual circuit internal
  • Virtual Circuit eksternal, Datagram internal
  • Datagram eksternal, datagram internal
  • Datagram eksternal, virtual circuit internal

 

 

4.2. Routing

 

Fungsi utama dari jaringan packet-switched adalah menerima paket dari stasiun pengirim untuk diteruskan ke stasiun penerima. Untuk keperluan ini, suatu jalur atau rute dalam jaringan tersebut harus dipilih, sehingga akan muncul lebih dari satu kemungkinan rute untuk mengalirkan data. Untuk itu fungsi dari routing harus diwujudkan. Fungsi routing sendiri harus mengacu kepada nilai nilai antara lain : tanpa kesalahan, sederhana, kokoh, stabil, adil dan optimal disamping juga harus mengingat perhitungan faktor efisiensi.

         Untuk membentuk routing, maka harus mengetahui unsur-unsur routing, antara lain (lebih jelas lihat Stalling, 1994) :

 

–          Kriteria Kinerja :

–   Jumlah hop

–   Cost

–   Delay

–   Througput

–          Decision Time

–        Paket (datagram)

–        Session (virtual Circuit)

–          Decision Place

–   Each Node (terdistribusi)

–   Central Node (terpusat )

–   Originating Node

–          Network Information source

–        None

–        Local

–        Adjacent nodes

–        Nodes along route

–        All Nodes

–          Routing Strategy

–        Fixed

–        Flooding

–        Random

–        Adaptive

–          Adaptive Routing Update Time

–        Continuous

–        Periodic

–        Major load change

–        Topology change

 

 

 

 

Algoritma Routing

 

Forward-search algorithm dinyatakan sebagai menentukan jarak terpendek dari node awal yang ditentukan ke setiap node yang ada.Algoritma diungkapkan dalam stage. Dengan k buah stage, jalur terpendek  node k terhadap node sumber ditentukan. Node-node ini ada dalam himpunan N. Pada stage ke (k+1), node yang tidak ada dalam M yang mempunyai jarak terpendek terhadap sumber ditambahkan ke M. Sebagai sebuah node yang ditambahkan dalam M, maka jalur dari sumber menjadi terdefinisi.

Algoritma ini memiliki 3 tahapan :

  1. Tetapkan M={S}. Untuk tiap node nÎN-S, tetapkan C1(n)=l(S,n).
  2. Cari WÎN-M sehingga C1(W) minimum dan tambahkan ke M. Kemudian C1 (n) = MIN[C1(n), C1(W) + l(W,n) untuk tiap node nÎN-M. Apabila pada pernyataan terakhir bernilai minimum, jalur dari S ke n sebagai jalur S ke W memotong link dari W ke n.
    1. Ulang langkah 2 sampai M=N.

 

Keterangan :

N = himpunan node dalam jaringan

S = node sumber

M = himpunan node yang dihasilkan oleh algoritma

l(I,J) = link cost dari node ke I sampi node ke j, biaya bernilai ¥ jika node tidak secara langsung terhubung.

C1(n) : Biaya dari jalur biaya terkecil dari S ke n yang dihasilkan pada saat algoritma dikerjakan.

 

 

Tabel berikut ini memperlihatkan hasil algoritma terhadap gambar di muka. Dengan menggunakan S=1.

 

 

 

 

 

 

 

 
   

 

Tabel 4.1 Hasil forward search algorithm

 

Backward search algorithm

 

Menentukan jalur biaya terkecil yang diberikan node tujuan dari semua node yang ada. Algoritma ini juga diproses tiap stage. Pada tiap stage, algoritma menunjuk masing-masing node.

Definisi yang digunakan :

N = Himpunan node yang terdapat pada jaringan

D= node tujuan

l(i,j) = seperti keterangan di muka

C2(n) = biaya dari jalur biaya terkecil dari n ke D yang dihasilkan saat algoritma dikerjakan.

 

Algoritma ini juga  terdiri dari 3 tahapan :

  1. Tetapkan C2(D)=0. Untuk tiap node nÎN-D, tetapkan C2(n) =¥.
  2. Untuk tiap node nÎN-D, tetapkan C2(n)=MIN WÎN[C2(n), C2(W) + l(n,W)]. Apabila pada pernyataan terakhir bernilai minimum, maka jalur dari n ke D saat ini merupakan link dari n ke W dan menggantikan jalur dari W ke D
  3. Ulangi langkah ke –2 sampai tidak ada cost yang berubah.

 

Tabel berikut adalah hasil pengolahan gambar 1 dengan D=1

 

 

 

 

 

 

Tabel 4.1 Hasil backward search algorithm

 

 

Strategi Routing

 

Terdapat beberapa strategi untuk melakukan routing, antara lain :

–     Fixed Routing

 

 
   

Merupakan cara routing yang paling sederhana.   Dalam hal ini rute bersifat tetap, atau paling tidak rute hanya diubah apabila topologi jaringan berubah. Gambar berikut (mengacu dari gambar 1) memperlihatkan bagaimana sebuah rute yang tetap dikonfigurasikan.

Gambar 4.7. Direktori untuk fixed routing

 

Kemungkinan rute yang bisa dikonfigurasikan, ditabelkan sebagai berikut :

 

 
   

 

Gambar 4.8 Direktori masing-masing node

Tabel ini disusun berdasar rute terpendek (menggunakan least-cost algorithm). Sebagai misal direktori node 1. Dari node 1 untuk mencapai node 6, maka rute terpendek yang bisa dilewati adalah rute dari node 1,4,5,6. Maka pada tabel direktori node 1 dituliskan destination = 6, dan next node = 4.

Keuntungan konfigurasi dengan rute tetap semacam ini adalah bahwa konfigurasi menajdi sederhana. Pengunaan sirkit maya atau datagram tidak dibedakan. Artinya semua paket dari sumber menuju titik tujuan akan melewati rute yang sama. Kinerja yang bagus didapatkan apabila beban bersifat tetap. Tetapi pada beban yang bersifat dinamis, kinerja menjadi turun. Sistem ini tidak memberi tanggapan apabila terjadi error maupun kemacetan jalur.

 

–          Flooding

Teknik routing yang lain yang dirasa sederhana adalah flooding. Cara kerja teknik ini adalah mengirmkan paket dari suatu sumber ke seluruh node tetangganya. Pada tiap node, setiap paket yang datang akan ditransmisikan kembali ke seluruh link yang dipunyai kecuali link yang dipakai untuk menerima paket tersebut. Mengambil contoh rute yang sama, sebutlah bahwa node 1 akan mengirimkan paketnya ke node 6. Pertamakali node 1 akan mengirimkan paket keseluruh tetangganya, yakni ke node 2, node 4 dan node 5 (gambar 5.9)

 

 
   
 
   

 

 

 

Gambar 4.9. Hop pertama.

 

Selanjutnya operasi terjadi pada node 2, 3 dan 4. Node 2 mengirimkan paket ke tetangganya yaitu ke node 3 dan node 4. Sedangkan node 3 meneruskan paket ke node 2,4,5 dan node 6. Node 4 meneruskan paket ke node 2,3,5. Semua node ini tidak mengirimkan paket ke node 1. Ilustrasi tersebut digambarkan pada gambar 4.10.

 

 
   

 

Gambar 4.10 Hop kedua

 

 

 

 

Pada saat ini jumlah copy yang diciptakan berjumlah 9 buah. Paket-paket yang sampai ke titik tujuan, yakni node 6, tidak lagi diteruskan.

 

 
   

Posisi terakhir node-node yang menerima paket dan harus meneruskan adalah node 2,3,4,5. Dengan cara yang sama masing-masing node tersebut membuat copy dan memberikan ke mode tetangganya. Pada saat ini dihasilkan copy sebanyak 22.

Gambar 4.11. Hop ketiga

Terdapat dua catatan penting dengan penggunaan teknik flooding ini, yaitu :

  1. Semua rute yang dimungkinkan akan dicoba. Karena itu teknik ini memiliki keandalan yang tinggi dan cenderung memberi prioritas untuk pengiriman-pengiriman paket tertentu.
  2. Karena keseluruhan rute dicoba, maka akan muncul paling tidak satu buah copy paket di titik tujuan dengan waktu paling minimum. Tetapi hal ini akan menyebakan naiknya bebean lalulintas yang pada akhirnya menambah delay bagi rute-rute secara keseluruhan.

 

Random Routing

 

Prinsip utama dari teknik ini adalah sebuah node memiliki hanya satu jalur keluaran untuk menyalurkan paket yang datang kepadanya. Pemilihan terhadap sebuah jalur keluaran bersifat acak. Apabila link yang akan dipilih memiliki bobot yang sama, maka bisa dilakukan dengan pendekatan seperti teknik round-robin.

 

 

 
   

Routing ini adalah mencari probabilitas untuk tiap-tiap outgoing linkdan memilih link berdasar nilai probabilitasnya. Probabilitas bisa dicari berdasarkan data rate, dalam kasus ini didefisinikan sebagai

 

 

Di mana :

                Pi =  probabilitas pemilihan i

                Rj = data rate pada link j

 

Penjumlahan dilakukan untuk keseluruhan link outgoing. Skema seperti ini memungkinkan distribusi lalulintas yang baik. Seperti teknik flooding, Random routing tidak memerlukan informasi jaringan, karena rute akan dipilih dengan cara random.

 

Adaptive Routing

 

Strategi routing yang sudah dibahas dimuka, tidak mempunyai reaksi terhadap perubanhan kondisi yang terjadi di dalam suatu jaringan. Untuk itu pendekatan dengan strategi adaptif mempunyai kemapuan yang lebih dibandingkan dengan beberapa hal di muka. Dua hal yang penting yang menguntungkan adalah :

–   Strategi routing adaptif dapat meningkatkan performance seperti apa yang keinginan user

–   Strategi adaptif dapat membantu kendali lalulintas.

 

Akan tetapi, strategi ini dapat menimbulkan beberapa akibat, misalnya :

–   Proses pengambilan keputusan untuk menetapkan rute menjadi sangat rumit akibatnya beban pemrosesan pada jaringan meningkat.

–   Pada kebanyakan kasu, strategi adaptif tergantung pada informasi status yang dikumpulkan pada satu tempat tetapi digunakan di tempat lain.  Akibatnya beban lalu lintas meningkat

–   Strategi adaptif bisa memunculkan masalah seperti kemacetan apabila reaksi yang terjadi terlampau cepat, atau menjadi tidak relevan apabila reaksi sangat lambat.

 

Kategori Strategi Adaptif dapat dibagi menjadi :

 

–   Isolated adaptive         : informasi lokal, kendali terdistribusi

–   Distributed Adaptive  : informasi dari node yang berdekatan, kendali terdistribusi

–   Centralized Adaptive : informasi dari selluruh node, kendali terpusat

 

Kendali lalu lintas

 

Konsep kendali lalulintas dalam sebuah jaringan packet-switching adalah komplek dan memiliki pendekatan yang banyak.  Mekanisme kendali lalulintas sendiri mempunyai 3 tipe umum, yaitu flow control, congestion control dan deadlock avoidance.

Flow Control digunakan untuk mengatur aliran data dari dua titik. Flow control juga digunakan untuk hubungan yang bersifat indirect, seperti misal dua titik dalam sebuah jaringan packet-switching di mana kedua endpoint-nya merupakan sirkit maya. Secara fundamental dapat dikatakan bahwa fungsi dari flow control adalah untuk memberi kesempatan kepada penerima (receiver) agar dapat mengendalikan laju penerimaan data, sehingga ia tidak terbanjiri oleh limpahan data.

Congestion Control digunakan untuk menangani terjadinya kemacetan. Terjadinya kemacetan bisa diterangkan lewat uraian berikut. Pada dasarnya, sebuah jaringan packet-switched adalah jaringan antrian. Pada masing-masing node, terdapat sebuah antrian paket yang akan dikirimkan ke kanal tertentu. Apabila kecepatan datangya suatu paket dalam sebuah antrian lebih besar dibandingkan kecepatan pentransferan paket, maka akan muncul efek bottleneck. Apabila antrian makin panjang dan jumlah node yang menggunakn kanal juga bertambah, maka kemungkinan terjadi kemacetan sangat besar.

Permasalahan yang serius yang diakibatkan efek congestion adalah deadlock, yaitu suatu kondisi di mana sekelompok node tidak bisa meneruskan pengiriman paket karena tidak ada buffer yang tersedia. Teknik deadlock  avoidance digunakan untuk mendisain jaringan sehingga deadlock tidak terjadi.

Bentuk deadlock yang paling sederhana adalah direct store-and-forward deadlock. Pada gambar 5.12(a) memperlihatkan situasi bagaimana antara node A dan node B berinteraksi di mana kedua buffer penuh dan deadlock terjadi.

Bentuk deadlock kedua adalah indirect store-and-forward deadlock(gambar 512(b)). Hal ini terjadi tidak pada sebuah link tunggal seperti bentuk deadlock di muka. Pada tiap node, antrian yang ditujukan untuk node terdekatnya bersifat searah dan menjadi penuh.

Bentuk deadlock yang ketiga adalah reassembly deadlock.Situasi ini digambarkan pada 5.12(c) di mana node C memiliki 4 paket terdiri dari paket 1 tiga buah dan sebuah paket 3. Seluruh buffer penuh dan tidak mungkin lagi menerima paket baru.

 

 

 
   

 

 

 

 

Gambar 4.12 Tipe-tipe deadlock

 

 

4.3 Internetworking

Ketika dua atau lebih jaringan bergabung dalam sebuah aplikasi, biasanya kita sebut ragam kerja antar sistem seperti ini sebagai sebauh internetworking. Penggunaaan istilah internetwork (atau juga internet) mengacu pada perpaduan jaringan, misalnya LAN- WAN-LAN, yang digunakan. Masing-masing jaringan (LAN atau WAN) yang terlibat dalam internetwork disebut sebagai subnetwork atau subnet.

         Piranti yang digunakan untuk menghubungkan antara dua jaringan, meminjam istilah ISO, disebut sebagai intermmediate system (IS) atau sebuah internetworking unit (IWU). Selanjutnya apabila fungsi utama dari sebuah intermmediate system adalah melakukan routing, maka piranti dimaksud disebut sebagai router, sedangkan apabila tugas piranti adalah menghubungkan antara dua tipe jaringan, maka disebut sebagai gateway.

 

 

 

 

Gambar 4.13 Router /gateway

 

Sebuah protocol converter adalah sebuah IS yang menghubungkan dua jaringan yang bekerja dengan susunan protokol yang sangat berlainan, misalnya menghubungkan antara sebuah susunan protokol standar ISO dengan susunan protokol khusus dari vendor dengan susunan tertentu. Protocol converter dapat digambarkan seperti berikut ini :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
   

 

Gambar 4.14 Protocol converter

 

Arsitektur internetworking

 

Arsitektur internetwork diperlihatkan pada gambar berikut ini. Gambar 4.15 memperlihatkan dua contoh dari tipe jaringan tunggal. Yang pertama (gambar 4.15a) adalah site-wide LAN yang menggabungkan LAN satu gedung atau perkantoran yang terhubung lewat sebuah jaringan backbone. Untuk menggabungkan LAN dengan tipe yang sama menggunakan piranti bridge sedangkan untuk jaringan yang bertipe beda menggunakan router.

Contoh yang kedua (gambar 4.15b) adalah sebuah WAN tunggal, seperti jaringan X.25. Pada kasus ini, setiap pertukaran paket (DCE/PSE) melayani set DCE sendiri, yang secara langsung lewat sebuah PAD, dan tiap PSE terinterkoneksi oleh jaringan switching dengan topologi mesh.

 

 

 

 
   

                     Gambar (a)                                      Gambar (b)

 

Gambar 4.15. Arsitektur internetwork

 

 

 
   

 

 
   

 

 

 

 

Gambar 4.16. Contoh Interkoneksi LAN/WAN

 

 

 

 

 

Network service

 

Pada sebuah LAN, Alamat sublayer MAC digunakan untuk mengidentifikasi ES (stasiun / DTE), dengan menggunakan untuk membentuk rute bagi frame antar sistem. Selebihnya, karena tunda transit yang pendek dan laju kesalahan bit yang kecil pada LAN, sebuah protokol jaringan tak terhubung sederhana biasanya digunakan. Artinya, kebanyakan LAN berbasis jaringan connectionless network access (CLNS)

Berbeda dengan LAN, alamat-alamat lapisan link pada kebanyakan WAN lapisan network digunakan untuk mengidentifikasi ED dan membentuk rute bagi paket didalam suatu jaringan. Karena WAN mempunyai transit yang panjang dan rentan terhadap munculnya error, maka protokol yang berorientasi hubungan (koneksi) lebih tepat untuk digunakan. Artinya, kebanyakan WAN menggunakan connection-oriented network service (CONS)

 

 
   

 

 

 

Gambar 4.17 Skema pelayanan jaringan internet

 

 

Pengalamatan

 

Alamat Network Service Access Point (NSAP) dipakai untuk mengidentifikasi sebuah NS_user dalam suatu end system (ES) adalah sebagai alamat network-wide unik yang membuat user teridentifikasi secara unik dalam keseluruhan jaringan. Dalam sebuah LAN atau WAN, alamat NSAP harus unik (dengan suatu batasan) di dalam domain pengalamatan jaringan tunggal. Alamat NSAP dari NS_user dibangun dari alamat point of attachtment (PA) yang digabung dengan LSAP (link) dan selector alamat interlayer NSAP (network) dalam sistem.

 

 

Gambar 4.18 Hubungan antara alamat NSAP dan NPA

 

 

Untuk sebuah internet yang terbentuk dari beberapa jaringan dengan tipe yang berlainan, sebgai contoh LAN dengan X.25 WAN, mempunyai fornmat (susunan) dan sintaks yang berbeda dengan alamat PA dari end system atau ES (dalam hal ini juga IS). Apabila terdapat beberapa jaringan yang terhubung, maka alamat network point of attatchment (NPA)  tidak bisa digunakan sebagai dasar alamat NSAP dari NS_user. Untuk pembentukan sebuah open system internetworking environment (OSIE), maka NSAP dengan susunan yang berbeda harus digunakan untk mengidentifkasi NS_user. Pengalamatan baru ini bersifat independen dari alamat NPA. Hubungan antara alamat NSAP dan NPA ditunjukkan pada gambar 4.18. Terlihat bahwa terdapat dua alamat yang sama sekali berbeda untuk masing-masing ESyang terhubung ke internet yaitu NPA dan NSAP. Almat NPA memungkinkan sistem melakukan pengiriman dan penerimaan NPDU dilingkungan lokal, sedangkan alamat NSAP berlaku untuk identifikasi NS_user dalam sebuah jaringan yang lebih luas (internetwide atau keseluruhan OSIE). Apabila sebuah IS terhubung ke lebih dari sebuah jaringan, ia harus memiliki alamat sesuai dengan NPA untuk masing-masing jaringan yang dimasukinya.

 

 

Susunan Lapisan Network

 

Aturan dari lapisan jaringan untk tiap-tiap End System adalah untuk membentuk hubungan end to end. Bisa jadi hubgunan ini berbentuk CON atau CLNS. Dalam kedua bentuk tersebut, NS_user akan berhubungan tidak peduli berapa banyak tipe jaingan yang terlibat. Untuk itu diperlukan router.

Untuk mencapai tujuan interkloneksi yang demikian ini, maka sesuai model referensi OSI, lapisan network tiap-tiap ES dan IS tidak hanya terdiri dari sebuah protokol tetapi paling tidak tiga (sublayer) protokol. Masing-=masing protokol ini akan membentuk aturan yang lengkap dalam sistem pelayanan antar lapisan jaringan. Dalm terminologi ISO, masing-masing jaringan yang membangun internet yang dikenal sebagai subnet, memliki tiga protokol penting yaitu :

 

–          Subnetwork independent convergence Protocol (SNICP)

–          Subnetwork dependent convergence protocol (SNDCP)

–          Subnetwork dependent access protocol (SNDAP)

 

Susunan ketiga protokol tersebut dalam ES digambarkan dalam gambar 4.19. Gambar 4.19(a) memperlihatkan bagian-bagian protokol tersebut dalam lapisan network (NL), sedangkan gambar 4.19(b) memeperlihatkan hubungannya dengan sebuah IS.

 

 

 
   
 
   

 

 

 

Gambar 4.19(a). Tiga buah protokol dalam NL

 

 
   

 

 
   

 

 

 

Gambar 4.19(b). Struktur IS

4.4. Standar Protokol Internet

 

Beragam WAN tipe X.25 dapat diinterkoneksikan dengan gateway berbasis X.75. Penggunaan sebuah standar yang mespesifikasikan operasi protokol lapisan paket X.25 dalam LAN berarti sebuah pendekatan internetworking dengan mengadopsi X.25 sebagai sebuah protokol internetwide yang pada akhirnya dapat bekerja dalam modus connection-oriented atau mode pseudoconnectionless. Pemecahan ini menarik karena fungsi-fungsi internetworking terkurangi. Kerugian pendekatan ini adalah munculnya overhead pada paket X.25 menjadi tinggi dan throughput paket untuk jaringan ini menjadi rendah.

 

 
   

Pemecahan tersebut mengadopsi ISO berdasar pada pelayanan internet connectionless (connectionles internet service) dan sebuah associated connectionless SNICP. SNICP didefinisikan dalam ISO 8475. Pendekatan ini dikembangkan oleh US Defense Advanced Research Project Agency(DARPA). Internet yang dibangun pada awalnya diberi nama ARPANET, yang digunakan untuk menghubungkan beberapa jaringan komputer dengan beberapa situs penelitian dan situs universitas.

 

Gambar 4.20 Skema IP internetwide

 

Protokol internet hanyalah sebuah protokol yang berasosiasi dengan deretan protokol lengkap (stack) yang digunakan galam internet. Deretan protokol yang lengkap ini dikenal dengan istilah TCP/IP, meliputi protokol aplikasi dan protokol transport. Dua protokol yang menarik untuk dikaji adalah jenis protokol Internet Protocol atau dikenal sebagai IP dan ISO Internet Protocol atau dikenal sebagai ISO-IP atau ISO CLNP. Secara umum pendekatan dua protokol ini dapat digambarkan pada gambar 4.20.

Internet Protocol merupakan protokol internetwide yang dapat menghubungkan dua entitas protokol transport yang berada pada ES atau host yang berbeda agar dapat saling menukarkan unit-unit pesan (NSDU). Protokol jenis ini sangat luas digunakan untuk internet jenis komersial maupun riset.

Jenis yang kedua yaitu ISO-IP atau ISO CLNP menggunakan acuan internetwide, connectionless dan subnetwork-independent convergence protocol. Protokol ini didefinisikan secara lengkap di ISO 8473. Dalam sebuah protokol internetworking yang lengkap, terdapat dua subnet yaitu inactive network protocol dan nonsegmenting protocol. Model protokol jaringan modus connectionless biasanya digunakan dalam LAN dan dginakankan untuk aplikasi-aplikasi jaringan tunggal (dalam hal ini sumber dan tujuan tergabung dalam sebuah jaringan. Sedangkan protokol nonsegmenting (dalam terminologi IP disebut nonfragmenting) digunakan dalam internet yang mengandung subnet dengan ukuran paket maksimum yang tidak boleh lebih dari yang dibutuhkan oleh NS_user untuk mentransfer data.

 

4.5 Referensi

 

  1. Stallings, William, Data and Computer Communications, Macxmillan,1985
  2. Stallings, William, Data and Computer Communications, Prentice Hall,1994
  3. Halsall, Fred, Data Communications, Computer Networks and Open System, Addison-Wesley Pub.Co,1996

 

 

 

56

 

 

 

Keamanan Jaringan

 

 

         Keamanan jaringan saat ini menjadi isu yang sangat penting dan terus berkembang. Beberapa kasus menyangkut keamanan sistem saat ini menjadi suatu garapan yang membutuhkan biaya penanganan dan proteksi yang sedemikian besar. Sistem-sistem vital seperti sistem pertahanan, sistem perbankan dan sistem-sistem setingkat itu, membutuhkan tingkat keamanan yang sedemikian tinggi. Hal ini lebih disebabkan karena kemajuan bidang jaringan komputer dengan konsep open sistemnya sehingga siapapun, di manapun dan kapanpun, mempunyai kesempatan untuk mengakses kawasan-kawasan vital tersebut.

         Keamanan jaringan didefinisikan sebagai sebuah perlindungan dari sumber daya daya terhadap upaya penyingkapan, modifikasi, utilisasi, pelarangan dan perusakan oleh person yang tidak diijinkan. Beberapa insinyur jaringan mengatakan bahwa hanya ada satu cara mudah dan ampuh untuk mewujudkan sistem jaringan komputer yang aman yaitu dengan menggunakan pemisah antara komputer dengan jaringan selebar satu inci, dengan kata lain, hanya komputer yang tidak terhubung ke jaringanlah yang mempunyai keamanan yang sempurna. Meskipun ini adalah solusi yang buruk, tetapi ini menjadi trade-off antara pertimbangan fungsionalitas dan memasukan kekebalan terhadap gangguan.

Protokol suatu jaringan sendiri dapat dibuat aman. Server-server baru yang menerapkan protokol-protokol yang sudah dimodifikasi harus diterapkan. Sebuah protokol atau layanan (service) dianggap cukup aman apabila mempunyai kekebalan ITL klas 0 (tentang ITL akan dibahas nanti). Sebagai contoh, protokol seperti FTP atau Telnet, yang sering mengirimkan password secara terbuka melintasi jaringan, dapat dimodifikasi dengan menggunakan teknik enkripsi. Jaringan daemon, seperti sendmail atau fingerd, dapat dibuat lebih aman oleh pihak vendor dengan pemeriksaan kode dan patching. Bagaimanapun, permasalahan mis-konfigurasi, seperti misalnya spesifikasi yang tidak benar dari netgroup, dapat menimbulkan permasalahan kekebalan (menjadi rentan). Demikian juga  kebijakan dari departemen teknologi informasi seringkali memunculkan kerumitan pemecahan masalah untuk membuat sistem menjadi kebal.

 

Tipe Threat

Terdapat dua kategori threat yaitu threat pasif dan threat aktif.

 

 
   

         Threat pasif melakukan pemantauan dan atau perekaman data selama data ditranmisikan lewat fasilitas komunikasi. Tujuan penyerang adalah untuk mendapatkan informasi yang sedang dikirimkan. Kategori ini memiliki dua tipe yaitu release of message contain dan traffic analysis. Tipe Release of message contain memungkinan penyusup utnuk mendengar pesan, sedangkan tipe traffic analysis memungkinan penyusup untuk membaca headerdari suatu paket sehingga bisa menentukan arah atau alamat tujuan paket dikirimkan. Penyusup dapat pula menentukan panjang dan frekuensi pesan.

Gambar 5.1 Kategori threat

         Threat aktif merupakan pengguna gelap suatu peralatan terhubung fasilitas komunikasi untuk mengubah transmisi data atau mengubah isyarat kendali atau memunculkandata atau isyarat kendali palsu. Untuk kategori ini terdapat tida tipe yaitu : message-stream modification, denial of  message service dan masquerade. Tipe message-stream modification memungkinan pelaku untuk memilih untuk menghapus, memodifikasi, menunda, melakukan reorder dan menduplikasi pesan asli. Pelaku juga mungkin untuk menambahkan pesan-pesan palsu. Tipe denial of  message service memungkinkan pelaku untuk merusak atau menunda sebagian besar atau seluruh pesan. Tipe masquerade memungkinkan pelaku untuk menyamar sebagi host atau switch asli dan berkomunikasi dengan yang host yang lain atau switch untuk mendapatkan data atau pelayanan.

 

Internet Threat Level

 

Celah-celah keamanan sistem internet, dapat disusun dalam skala klasifikasi. Skala klasifikasi ini disebut dengan istilah skala Internet Threat Level atau skala ITL. Ancaman terendah digolongkan dalam ITL kelas 0, sedangkan ancaman tertinggi digolongkan dalam ITL kelas 9. Tabel 5.1 menjelaskan masing-masing kelas ITL.

 

Kebanyakan permasalahan keamanan dapat diklasifikasikan ke dalam 3 kategori utama, tergantung pada kerumitan perilaku ancaman kepada sistem sasaran, yaitu :

 

–          Ancaman-ancaman lokal.  

–          Ancaman-ancaman remote

–          Ancaman-ancaman dari lintas firewall

 

Selanjutnya klasifikasi ini dapat dipisah dalam derajat yang lebih rinci, yaitu :

 

•  Read access

                •  Non-root write and execution access

                •  Root write and execution access

 

Table 5.1 Skala Internet Threat Level (ITL)

 

Kelas

Penjelasan

0

Denial of service attack—users are unable to access files or programs.

1

Local users can gain read access to files on the local system.

2

Local users can gain write and/or execution access to non–root-owned files on the system.

3

Local users can gain write and/or execution access to root-owned files on the system.

4

Remote users on the same network can gain read access to files on the system or transmitted over the network.

5

Remote users on the same network can gain write and/or execution access to non–root-owned files on the system or transmitted over the network.

6

Remote users on the same network can gain write and/or execution access to root-owned files on the system.

7

Remote users across a firewall can gain read access to files on the system or transmitted over the network.

8

Remote users across a firewall can gain write and/or execution access to non–root-owned files on the system or transmitted over the network.

9

Remote users across a firewall can gain write and/or execution access to root-owned files on the system.

 

 

Seberapa besar tingkat ancaman dapat diukur dengan melihat beberapa faktor, antara lain :

 

     •  Kegunaan sistem

     •  Kerahasiaan data dalam sistem.

     •  Tingkat kepetingan dari integritas data

     •  Kepentingan untuk menjaga akses yang tidak boleh terputus

     •  Profil pengguna

     •  Hubungan antara sistem dengan sistem yang lain.

 

ENKRIPSI

 

Setiap orang bahwa ketika dikehendaki untuk menyimpan sesuatu secara pribadi, maka kita harus menyembunyikan agar orang lain tidak tahu. Sebagai misal ketika kita megirim surat kepada seseorang, maka kita membungkus surat tersebut dengan amplop agar tidak terbaca oleh orang lain. Untuk menambah kerahasiaan surat tersebut agar tetap tidak secara mudah dibaca orang apabila amplop dibuka, maka kita mengupayakan untuk membuat mekanisme tertentu agar isi surat tidak secara mudah dipahami.

 

Cara untuk membuat pesan tidak mudah terbaca adalah enkripsi. Dalam hal ini terdapat tiga kategori enkripsi antara lain :

–          Kunci enkripsi rahasia, dalam hal ini terdapat sebuah kunci yang digunakan untuk meng-enkripsi dan juga sekaligus men-dekripsi informasi.

–          Kunci enksripsi public, dalam hal ini dua kunci digunakan, satu untuk proses enkripsi dan yang lain untuk proses dekripsi.

–          Fungsi one-way, di mana informasi di-enkripsi untuk menciptakan “signature” dari informasi asli yang bisa digunakan untuk keperluan autentifikasi.

Enkripsi dibentuk dengan berdasarkan suatu algoritma yang akan mengacak suatu informasi menjadi bentuk yang tidak bisa dibaca atau tak bisa dilihat. Dekripsi adalah proses dengan algoritma yang sama untuk mengembalikan informasi teracak menjadi bentuk aslinya. Algoritma yang digunakan harus terdiri dari susunan prosedur yang direncanakan secara hati-hati yang harus secara efektif menghasilkan sebuah bentuk terenkripsi yang tidak bisa dikembalikan oleh seseorang bahkan sekalipun mereka memiliki algoritma yang sama.

Algoritma sederhana dapat dicontohkan di sini. Sebuah algoritma direncanakan, selanjutnya disebut algoritma (karakter+3), agar mampu mengubah setiap karakter menjadi karakter nomor tiga setelahnya. Artinya setiap menemukan huruf A, maka algoritma kan mengubahnya menjadi D, B menjadi E, C menjadi F dan seterusnya.

Sebuah pesan asli, disebut plaintext dalam bahasa kripto, dikonversikan oleh algoritma karakter+3 menjadi ciphertext (bahasa kripto untuk hasil enkripsi). Sedangkan untuk mendekripsi pesan digunakan algoritma dengan fungsi kebalikannya yaitu karakter-3

Metode enkripsi yang lebih umum adalah menggunakan sebuah algoritma dan sebuah kunci. Pada contoh di atas, algoritma bisa diubah menjadi karakter+x, di mana x adlah variabel yang berlaku sebagai kunci. Kunci bisa bersifat dinamis, artinya kunci dapt berubah-ubah sesuai kesepatan untuk lebih meningkatkan keamanan pesan. Kunci harus diletakkan terpisah dari pesan yang terenkripsi dan dikirimkan secara rahasia. Teknik semacam ini disebut sebagai symmetric (single key) atau secret key cryptography. Selanjutnya akan muncul permasalahn kedua, yaitu bagaimana mengirim kunci tersebut agar kerahasiaannya terjamin. Karena jika kunci dapat diketahui oeleh seseorang maka orang tersebut dapat membongkar pesan yang kita kirim.

 

 
   

Untuk mengatasi permasalahan ini, sepasang ahli masalah keamanan bernama Whitfield Diffie dan Martin Hellman mengembangkan konseppublic-key cryptography. Skema ini, disebut juga sebagai asymmetric encryption, secara konsep sangat sederhana, tetapi bersifat revolusioner dalam cakupannya. Gambar 5.2 memperlihatkan mekanisme kerja dari metode ini.

Gambar 5.2 Public key cryptography.

 

–          Seperti terlihat pada gambar 6.2, masing-masing person mempunyai sepasang kunci, kunci privat dan kunci publik, yang secara matematis berasosiasi tetapi beda dalam fungsi.

–          Dari dua kunci tersebut, sebuah disimpan secara pribadi (kunci privat) dan yang satunya dipublikasikan (kunci publik)

 

         Kunci privat dijaga kerahasiaanya oleh pemiliknya atau diterbitkan pada server kunci publik apabila dihendaki. Apabila kita menginginkan untuk mengirimkan sebuah pesan terenkripsi, maka kunci publik dari penerima pesan harus diberitahukan untuk mengenkripsi pesan. Saat pesan tersebut sampai, maka penerima akan mendekripsi pesan dengan kunci privatnya. Jadi konsep sederhana yang diaplikasikan di sini adalah bahwa sebuah pesan hanya bisa didekripsi dengan sebuah kunci privat hanya apabila ia sebelumnya telah dienskripsi dengan kunci public dari pemilik kunci yang sama.

 

         Enkripsi ini memiliki bersifat one-way function. Artinya proses enkripsi sangat mudah dilakukan, sedangkan proses dekripsi sangat sulit dilakukan apbila kunci tidak diketahui. Artinya untuk membuat suatu pesan terenkripsi hanya dibutuhkan waktu beberapa detik, sedangkan mencoba mendekripsi dengan segala kemungkinan membutuhkan waktu ratusan, tahuanan bahkan jutaan tahun meskipun menggunakan komuter yang handal sekalipun

         Enkripsi one-way digunakan untuk bebearap kegunaan. Misalkan kita memliki dokumen yang akan dikirimkan kepada seseorang atau menyimpan untuk kita buka suatu saat, kita bisa menggunakan teknik one-way function yang akan menghasilkan nilai dengan panjang tertentu yang disebut hash.. Hash merupakan suatu signature yang unik dari suatu dokumen di mana kita bisa menaruh atau mengirimkan bersama dengan dokumen kita. Penerima pesan bisa menjalankan one-way function yang sama untuk menghasilkan hash yang lain. Selanjutnya hash tersebut saling dibanding. Apabila cocok, maka dokumen dapat dikembalikan ke bentuk aslinya.

         Gambar 5.3 memperlihatkan tiga teknik utama kriptografi yaitu symmetric cryptography, asymmetric cryptography, dan one-way functions.

 

 
   

 

Gambar 5.3 Tiga teknik kriptografi

 

Tujuan Kriptografi

 

Tujuan dari sistem kriptografi adalah :

     •   Confidentiality : memberikan kerahasiaan pesan dan menyimpan data dengan menyembuyikan informasi lewat teknik-teknik enkripsi.

     • Message Integrity : memberikan jaminan untuk tiap bagian bahwa pesan tidak akan mengalami perubahan dari saat ia dibuat samapai saat ia dibuka.

     • Non-repudiation  : memberikan cara untuk membuktikan bahwa suatu dokumen datang dari seseorang apabila ia mencoba menyangkal memiliki dokumen tersebut.

     •   Authentication : Memberikan dua layanan. Pertama mengidentifikasi keaslian suatu pesan dan memberikan jaminan keotentikannya. Kedua untuk menguji identitas seseorang apabila ia kan memasuki sebuah sistem.

 

         Dengan demikian menjadi jelas bahwa kriptografi dapat diterapkan dalam banyak bidang . Beberapa hal di antaranya :

     •  Certificates (Digital IDs) .

     •  Digital signatures. 

     •  Secure channels.

 

 

 
   

Tiga contoh ini dapat dilihat pada gambar 5.4.

 

Gambar 5.4. Tiga tipe kanal aman yang dapat memberikan kerahasiaan data.

5.6 Referensi

 

1.   Atkins, Derek,dan Paul Buis, Chris Hare, Robert Kelley, Carey Nachenberg, Anthony B. Nelson, Paul Phillips, Tim Ritchey, Tom Sheldom, Joel Snyder, Internet Security Professional Reference, Macmillan Computer Publishing,

2. Stallings, William, Data and Computer Communications, Macmillan,1985

  1. Stallings, William, Local Network, Macmillan,1990
  2. Stallings, William, Data and Computer Communications, Prentice Hall,1994
  3. Halsall, Fred, Data Communications, Computer Networks and Open System, Addison-Wesley Pub.Co,1996

 

 

DAFTAR  PUSTAKA

 

  1. Tanenbaum, AS, Computer Networks, Prentise Hall, 1996
  2. Stallings, W. Data and Computer Communications, Macmillan Publishing Company, 1985.
  3. Stallings, W. Local Network, Macmillan Publishing Company, 1985.
  4. Black, U.D, Data Communications and Distributed Networks, Prentise Hall.
  5. Raj Jain, Professor of CIS The Ohio State University Columbus, OH 43210 Jain@ACM.Org

http://www.cis.ohio-state.edu/~jain/cis677-98/

  1. Cisco Press

http://www.cicso.com/cpress/cc/td/cpress/fund/ith2nd/it2401.html

7.   Atkins, Derek,dan Paul Buis, Chris Hare, Robert Kelley, Carey Nachenberg, Anthony B. Nelson, Paul Phillips, Tim Ritchey, Tom Sheldom, Joel Snyder, Internet Security Professional Reference, Macmillan Computer Publishing,

 

 

UU sisdikas 2003

 

 

UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
1.
Bidang DIKBUD KBRI Tokyo
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 20 TAHUN 2003
TENTANG
SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
Menimbang :
a. bahwa pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945
mengamanatkan Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa
Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan
ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan
sosial;
b. bahwa Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
mengamanatkan Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem
pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan
Yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa
yang diatur dengan undang-undang;
c. bahwa sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan
kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen
pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan
kehidupan lokal, nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan
pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan;
d. bahwa Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional
tidak memadai lagi dan perlu diganti serta perlu disempurnakan agar sesuai dengan
amanat perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, b, c, dan d
perlu membentuk Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Mengingat :
Pasal 20, Pasal 21, Pasal 28 C ayat (1), Pasal 31, dan Pasal 32 Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
Dengan persetujuan bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
DAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
MEMUTUSKAN:
Menetapkan :
UNDANG-UNDANG TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan:
1. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat,
UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
2.
Bidang DIKBUD KBRI Tokyo
bangsa dan negara.
2. Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai
agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan
zaman.
3. Sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling
terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
4. Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi
diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis
pendidikan tertentu.
5. Tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan
diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan.
6. Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen,
konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain
yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan
pendidikan.
7. Jalur pendidikan adalah wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan
potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan.
8. Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat
perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang
dikembangkan.
9. Jenis pendidikan adalah kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan
pendidikan suatu satuan pendidikan.
10. Satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan
pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal pada setiap jenjang dan jenis
pendidikan.
11. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang
terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
12. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat
dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.
13. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.
14. Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada
anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian
rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani
dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
15. Pendidikan jarak jauh adalah pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari
pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui
teknologi komunikasi, informasi, dan media lain.
16. Pendidikan berbasis masyarakat adalah penyelenggaraan pendidikan berdasarkan
kekhasan agama, sosial, budaya, aspirasi, dan potensi masyarakat sebagai
perwujudan pendidikan dari, oleh, dan untuk masyarakat.
17. Standar nasional pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di
seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.
18. Wajib belajar adalah program pendidikan minimal yang harus diikuti oleh warga
negara Indonesia atas tanggung jawab Pemerintah dan pemerintah daerah.
19. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan
bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan
kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
20. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber
belajar pada suatu lingkungan belajar.
21. Evaluasi pendidikan adalah kegiatan pengendalian, penjaminan, dan penetapan
mutu pendidikan terhadap berbagai komponen pendidikan pada setiap jalur, jenjang,
dan jenis pendidikan sebagai bentuk pertanggungjawaban penyelenggaraan
UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
3.
Bidang DIKBUD KBRI Tokyo
pendidikan.
22. Akreditasi adalah kegiatan penilaian kelayakan program dalam satuan pendidikan
berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.
23. Sumber daya pendidikan adalah segala sesuatu yang dipergunakan dalam
penyelenggaraan pendidikan yang meliputi tenaga kependidikan, masyarakat, dana,
sarana, dan prasarana.
24. Dewan pendidikan adalah lembaga mandiri yang beranggotakan berbagai unsur
masyarakat yang peduli pendidikan.
25. Komite sekolah/madrasah adalah lembaga mandiri yang beranggotakan orang
tua/wali peserta didik, komunitas sekolah, serta tokoh masyarakat yang peduli
pendidikan.
26. Warga negara adalah warga negara Indonesia baik yang tinggal di wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia maupun di luar wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
27. Masyarakat adalah kelompok warga negara Indonesia nonpemerintah yang
mempunyai perhatian dan peranan dalam bidang pendidikan.
28. Pemerintah adalah Pemerintah Pusat.
29. Pemerintah daerah adalah pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, atau
pemerintah kota.
30. Menteri adalah menteri yang bertanggung jawab dalam bidang pendidikan nasional.
BAB II
DASAR, FUNGSI DAN TUJUAN
Pasal 2
Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945.
Pasal 3
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak
serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia
yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab.
BAB III
PRINSIP PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN
Pasal 4
(1) Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak
diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai
kultural, dan kemajemukan bangsa.
(2) Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan sistem
terbuka dan multimakna.
(3) Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan
pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.
(4) Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan,
UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
4.
Bidang DIKBUD KBRI Tokyo
dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran.
(5) Pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis,
dan berhitung bagi segenap warga masyarakat.
(6) Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen
masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu
layanan pendidikan.
BAB IV
HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA,
ORANG TUA, MASYARAKAT, DAN PEMERINTAH
Bagian Kesatu
Hak dan Kewajiban Warga Negara
Pasal 5
(1) Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan
yang bermutu.
(2) Warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau
sosial berhak memperoleh pendidikan khusus.
(3) Warga negara di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat adat yang
terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus.
(4) Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak
memperoleh pendidikan khusus.
(5) Setiap warga negara berhak mendapat kesempatan meningkatkan pendidikan
sepanjang hayat.
Pasal 6
(1) Setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib
mengikuti pendidikan dasar.
(2) Setiap warga negara bertanggung jawab terhadap keberlangsungan
penyelenggaraan pendidikan.
Bagian Kedua
Hak dan Kewajiban Orang Tua
Pasal 7
(1) Orang tua berhak berperan serta dalam memilih satuan pendidikan dan memperoleh
informasi tentang perkembangan pendidikan anaknya.
(2) Orang tua dari anak usia wajib belajar, berkewajiban memberikan pendidikan dasar
kepada anaknya.
Bagian Ketiga
Hak dan Kewajiban Masyarakat
Pasal 8
Masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan
UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
5.
Bidang DIKBUD KBRI Tokyo
evaluasi program pendidikan.
Pasal 9
Masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan
pendidikan.
Bagian Keempat
Hak dan Kewajiban Pemerintah dan Pemerintah Daerah.
Pasal 10
Pemerintah dan pemerintah daerah berhak mengarahkan, membimbing, membantu, dan
mengawasi penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
Pasal 11
(1) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan,
serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga
negara tanpa diskriminasi.
(2) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib menjamin tersedianya dana guna
terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia tujuh sampai
dengan lima belas tahun.
BAB V
PESERTA DIDIK
Pasal 12
(1) Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak:
a. mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan
diajarkan oleh pendidik yang seagama;
b. mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan
kemampuannya;
c. mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi yang orang tuanya tidak mampu
membiayai pendidikannya;
d. mendapatkan biaya pendidikan bagi mereka yang orang tuanya tidak mampu
membiayai pendidikannya;
e. pindah ke program pendidikan pada jalur dan satuan pendidikan lain yang
setara;
f. menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar masingmasing
dan tidak menyimpang dari ketentuan batas waktu yang ditetapkan.
(2) Setiap peserta didik berkewajiban:
a. menjaga norma-norma pendidikan untuk menjamin keberlangsungan proses
dan keberhasilan pendidikan;
b. ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan, kecuali bagi peserta
didik yang dibebaskan dari kewajiban tersebut sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
(3) Warga negara asing dapat menjadi peserta didik pada satuan pendidikan yang
UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
6.
Bidang DIKBUD KBRI Tokyo
diselenggarakan dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
(4) Ketentuan mengenai hak dan kewajiban peserta didik sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
BAB VI
JALUR, JENJANG, DAN JENIS PENDIDIKAN
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 13
(1) Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat
saling melengkapi dan memperkaya.
(2) Pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan dengan sistem
terbuka melalui tatap muka dan/atau melalui jarak jauh.
Pasal 14
Jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan
pendidikan tinggi.
Pasal 15
Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, vokasi,
keagamaan, dan khusus.
Pasal 16
Jalur, jenjang, dan jenis pendidikan dapat diwujudkan dalam bentuk satuan pendidikan
yang diselenggarakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat.
Bagian Kedua
Pendidikan Dasar
Pasal 17
(1) Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang
pendidikan menengah.
(2) Pendidikan dasar berbentuk sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI) atau
bentuk lain yang sederajat serta sekolah menengah pertama (SMP) dan madrasah
tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.
(3) Ketentuan mengenai pendidikan dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan
ayat (2) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
Bagian Ketiga
Pendidikan Menengah
Pasal 18
UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
7.
Bidang DIKBUD KBRI Tokyo
(1) Pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar.
(2) Pendidikan menengah terdiri atas pendidikan menengah umum dan pendidikan
menengah kejuruan.
(3) Pendidikan menengah berbentuk sekolah menengah atas (SMA), madrasah aliyah
(MA), sekolah menengah kejuruan (SMK), dan madrasah aliyah kejuruan (MAK),
atau bentuk lain yang sederajat.
(4) Ketentuan mengenai pendidikan menengah sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
Bagian Keempat
Pendidikan Tinggi
Pasal 19
(1) Pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah
yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan
doktor yang diselenggarakan oleh pendidikan tinggi.
(2) Pendidikan tinggi diselenggarakan dengan sistem terbuka.
Pasal 20
(1) Perguruan tinggi dapat berbentuk akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut, atau
universitas.
(2) Perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan
pengabdian kepada masyarakat.
(3) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program akademik, profesi, dan/atau
vokasi.
(4) Ketentuan mengenai perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat
(2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
Pasal 21
(1) Perguruan tinggi yang memenuhi persyaratan pendirian dan dinyatakan berhak
menyelenggarakan program pendidikan tertentu dapat memberikan gelar akademik,
profesi, atau vokasi sesuai dengan program pendidikan yang diselenggarakannya.
(2) Perseorangan, organisasi, atau penyelenggara pendidikan yang bukan perguruan
tinggi dilarang memberikan gelar akademik, profesi, atau vokasi.
(3) Gelar akademik, profesi, atau vokasi hanya digunakan oleh lulusan dari perguruan
tinggi yang dinyatakan berhak memberikan gelar akademik, profesi, atau vokasi.
(4) Penggunaan gelar akademik, profesi, atau vokasi lulusan perguruan tinggi hanya
dibenarkan dalam bentuk dan singkatan yang diterima dari perguruan tinggi yang
bersangkutan.
(5) Penyelenggara pendidikan yang tidak memenuhi persyaratan pendirian
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) atau penyelenggara pendidikan bukan
perguruan tinggi yang melakukan tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dikenakan sanksi administratif berupa penutupan penyelenggaraan pendidikan.
(6) Gelar akademik, profesi, atau vokasi yang dikeluarkan oleh penyelenggara
pendidikan yang tidak sesuai dengan ketentuan ayat (1) atau penyelenggara
pendidikan yang bukan perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dinyatakan tidak sah.
UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
8.
Bidang DIKBUD KBRI Tokyo
(7) Ketentuan mengenai gelar akademik, profesi, atau vokasi sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), ayat (5), dan ayat (6) diatur lebih lanjut
dengan peraturan pemerintah.
Pasal 22
Universitas, institut, dan sekolah tinggi yang memiliki program doktor berhak memberikan
gelar doktor kehormatan (doktor honoris causa) kepada setiap individu yang layak
memperoleh penghargaan berkenaan dengan jasa-jasa yang luar biasa dalam bidang
ilmu pengetahuan, teknologi, kemasyarakatan, keagamaan, kebudayaan, atau seni.
Pasal 23
(1) Pada universitas, institut, dan sekolah tinggi dapat diangkat guru besar atau
profesor sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(2) Sebutan guru besar atau profesor hanya dipergunakan selama yang bersangkutan
masih aktif bekerja sebagai pendidik di perguruan tinggi.
Pasal 24
(1) Dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, pada
perguruan tinggi berlaku kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik
serta otonomi keilmuan.
(2) Perguruan tinggi memiliki otonomi untuk mengelola sendiri lembaganya sebagai
pusat penyelenggaraan pendidikan tinggi, penelitian ilmiah, dan pengabdian kepada
masyarakat.
(3) Perguruan tinggi dapat memperoleh sumber dana dari masyarakat yang
pengelolaannya dilakukan berdasarkan prinsip akuntabilitas publik.
(4) Ketentuan mengenai penyelenggaraan pendidikan tinggi sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
Pasal 25
(1) Perguruan tinggi menetapkan persyaratan kelulusan untuk mendapatkan gelar
akademik, profesi, atau vokasi.
(2) Lulusan perguruan tinggi yang karya ilmiahnya digunakan untuk memperoleh gelar
akademik, profesi, atau vokasi terbukti merupakan jiplakan dicabut gelarnya.
(3) Ketentuan mengenai persyaratan kelulusan dan pencabutan gelar akademik,
profesi, atau vokasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih
lanjut dengan peraturan pemerintah.
Bagian Kelima
Pendidikan Nonformal
Pasal 26
(1) Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan
layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau
pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang
hayat.
(2) Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan
penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta
UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
9.
Bidang DIKBUD KBRI Tokyo
pengembangan sikap dan kepribadian profesional.
(3) Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia
dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan
keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan,
serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta
didik.
(4) Satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan,
kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta
satuan pendidikan yang sejenis.
(5) Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal
pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan
diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
(6) Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan
formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk
oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dengan mengacu pada standar nasional
pendidikan.
(7) Ketentuan mengenai penyelenggaraan pendidikan nonformal sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), ayat (5), dan ayat (6) diatur lebih
lanjut dengan peraturan pemerintah.
Bagian Keenam
Pendidikan Informal
Pasal 27
(1) Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan
berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.
(2) Hasil pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diakui sama dengan
pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan
standar nasional pendidikan.
(3) Ketentuan mengenai pengakuan hasil pendidikan informal sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
Bagian Ketujuh
Pendidikan Anak Usia Dini
Pasal 28
(1) Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar.
(2) Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal,
nonformal, dan/atau informal.
(3) Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk taman kanakkanak
(TK), raudatul athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat.
(4) Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk kelompok
bermain (KB), taman penitipan anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat.
(5) Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan
keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.
(6) Ketentuan mengenai pendidikan anak usia dini sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
10.
Bidang DIKBUD KBRI Tokyo
Bagian Kedelapan
Pendidikan Kedinasan
Pasal 29
(1) Pendidikan kedinasan merupakan pendidikan profesi yang diselenggarakan oleh
departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen.
(2) Pendidikan kedinasan berfungsi meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam
pelaksanaan tugas kedinasan bagi pegawai dan calon pegawai negeri suatu
departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen.
(3) Pendidikan kedinasan diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal dan
nonformal.
(4) Ketentuan mengenai pendidikan kedinasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
Bagian Kesembilan
Pendidikan Keagamaan
Pasal 30
(1) Pendidikan keagamaan diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau kelompok
masyarakat dari pemeluk agama, sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
(2) Pendidikan keagamaan berfungsi mempersiapkan peserta didik menjadi anggota
masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya
dan/atau menjadi ahli ilmu agama.
(3) Pendidikan keagamaan dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal,
nonformal, dan informal.
(4) Pendidikan keagamaan berbentuk pendidikan diniyah, pesantren, pasraman,
pabhaja samanera, dan bentuk lain yang sejenis.
(5) Ketentuan mengenai pendidikan keagamaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
Bagian Kesepuluh
Pendidikan Jarak Jauh
Pasal 31
(1) Pendidikan jarak jauh diselenggarakan pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan.
(2) Pendidikan jarak jauh berfungsi memberikan layanan pendidikan kepada kelompok
masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atau reguler.
(3) Pendidikan jarak jauh diselenggarakan dalam berbagai bentuk, modus, dan cakupan
yang didukung oleh sarana dan layanan belajar serta sistem penilaian yang
menjamin mutu lulusan sesuai dengan standar nasional pendidikan.
(4) Ketentuan mengenai penyelenggaraan pendidikan jarak jauh sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan
pemerintah.
Bagian Kesebelas
Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus.
UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
11.
Bidang DIKBUD KBRI Tokyo
Pasal 32
(1) Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat
kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional,
mental, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.
(2) Pendidikan layanan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik di daerah
terpencil atau terbelakang, masyarakat adat yang terpencil, dan/atau mengalami
bencana alam, bencana sosial, dan tidak mampu dari segi ekonomi.
(3) Ketentuan mengenai pelaksanaan pendidikan khusus dan pendidikan layanan
khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan
peraturan pemerintah.
BAB VII
BAHASA PENGANTAR
Pasal 33
(1) Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara menjadi bahasa pengantar dalam
pendidikan nasional.
(2) Bahasa daerah dapat digunakan sebagai bahasa pengantar dalam tahap awal
pendidikan apabila diperlukan dalam penyampaian pengetahuan dan/atau
keterampilan tertentu.
(3) Bahasa asing dapat digunakan sebagai bahasa pengantar pada satuan pendidikan
tertentu untuk mendukung kemampuan berbahasa asing peserta didik.
BAB VIII
WAJIB BELAJAR
Pasal 34
(1) Setiap warga negara yang berusia 6 tahun dapat mengikuti program wajib belajar.
(2) Pemerintah dan pemerintah daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar
minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya.
(3) Wajib belajar merupakan tanggung jawab negara yang diselenggarakan oleh
lembaga pendidikan Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat.
(4) Ketentuan mengenai wajib belajar sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2),
dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
BAB IX
STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
Pasal 35
(1) Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan,
tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan
penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala.
(2) Standar nasional pendidikan digunakan sebagai acuan pengembangan kurikulum,
UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
12.
Bidang DIKBUD KBRI Tokyo
tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, dan pembiayaan.
(3) Pengembangan standar nasional pendidikan serta pemantauan dan pelaporan
pencapaiannya secara nasional dilaksanakan oleh suatu badan standardisasi,
penjaminan, dan pengendalian mutu pendidikan.
(4) Ketentuan mengenai standar nasional pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
BAB X
KURIKULUM
Pasal 36
(1) Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional
pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
(2) Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip
diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik.
(3) Kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara
Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan:
a. peningkatan iman dan takwa;
b. peningkatan akhlak mulia;
c. peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik;
d. keragaman potensi daerah dan lingkungan;
e. tuntutan pembangunan daerah dan nasional;
f. tuntutan dunia kerja;
g. perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;
h. agama;
i. dinamika perkembangan global; dan
j. persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.
(4) Ketentuan mengenai pengembangan kurikulum sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
Pasal 37
(1) Kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat:
a. pendidikan agama;
b. pendidikan kewarganegaraan;
c. bahasa;
d. matematika;
e. ilmu pengetahuan alam;
f. ilmu pengetahuan sosial;
g. seni dan budaya;
h. pendidikan jasmani dan olahraga;
i. keterampilan/kejuruan; dan
j. muatan lokal.
(2) Kurikulum pendidikan tinggi wajib memuat:
a. pendidikan agama;
b. pendidikan kewarganegaraan; dan
c. bahasa.
(3) Ketentuan mengenai kurikulum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
13.
Bidang DIKBUD KBRI Tokyo
Pasal 38
(1) Kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan dasar dan menengah ditetapkan
oleh Pemerintah.
(2) Kurikulum pendidikan dasar dan menengah dikembangkan sesuai dengan
relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite
sekolah/madrasah di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor
departemen agama kabupaten/kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk
pendidikan menengah.
(3) Kurikulum pendidikan tinggi dikembangkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan
dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk setiap program studi.
(4) Kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan tinggi dikembangkan oleh
perguruan tinggi yang bersangkutan dengan mengacu pada standar nasional
pendidikan untuk setiap program studi.
BAB XI
PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
Pasal 39
(1) Tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan,
pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses
pendidikan pada satuan pendidikan.
(2) Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan
melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan
pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada
masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.
Pasal 40
(1) Pendidik dan tenaga kependidikan berhak memperoleh:
a. penghasilan dan jaminan kesejahteraan sosial yang pantas dan memadai;
b. penghargaan sesuai dengan tugas dan prestasi kerja;
c. pembinaan karier sesuai dengan tuntutan pengembangan kualitas;
d. perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas dan hak atas hasil kekayaan
intelektual; dan
e. kesempatan untuk menggunakan sarana, prasarana, dan fasilitas pendidikan
untuk menunjang kelancaran pelaksanaan tugas.
(2) Pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban:
a. menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif,
dinamis, dan dialogis;
b. mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu
pendidikan; dan
c. memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan
sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya.
Pasal 41
(1) Pendidik dan tenaga kependidikan dapat bekerja secara lintas daerah.
(2) Pengangkatan, penempatan, dan penyebaran pendidik dan tenaga kependidikan
diatur oleh lembaga yang mengangkatnya berdasarkan kebutuhan satuan
pendidikan formal.
UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
14.
Bidang DIKBUD KBRI Tokyo
(3) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memfasilitasi satuan pendidikan dengan
pendidik dan tenaga kependidikan yang diperlukan untuk menjamin
terselenggaranya pendidikan yang bermutu.
(4) Ketentuan mengenai pendidik dan tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
Pasal 42
(1) Pendidik harus memiliki kualifikasi minimum dan sertifikasi sesuai dengan jenjang
kewenangan mengajar, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk
mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
(2) Pendidik untuk pendidikan formal pada jenjang pendidikan usia dini, pendidikan
dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi dihasilkan oleh perguruan tinggi
yang terakreditasi.
(3) Ketentuan mengenai kualifikasi pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan
ayat (2) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
Pasal 43
(1) Promosi dan penghargaan bagi pendidik dan tenaga kependidikan dilakukan
berdasarkan latar belakang pendidikan, pengalaman, kemampuan, dan prestasi
kerja dalam bidang pendidikan.
(2) Sertifikasi pendidik diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program
pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi.
(3) Ketentuan mengenai promosi, penghargaan, dan sertifikasi pendidik sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan peraturan
pemerintah.
Pasal 44
(1) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membina dan mengembangkan tenaga
kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan
pemerintah daerah.
(2) Penyelenggara pendidikan oleh masyarakat berkewajiban membina dan
mengembangkan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang
diselenggarakannya.
(3) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membantu pembinaan dan
pengembangan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan formal yang
diselenggarakan oleh masyarakat.
BAB XII
SARANA DAN PRASARANA PENDIDIKAN
Pasal 45
(1) Setiap satuan pendidikan formal dan nonformal menyediakan sarana dan prasarana
yang memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan
perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial, emosional, dan kejiwaan
peserta didik.
(2) Ketentuan mengenai penyediaan sarana dan prasarana pendidikan pada semua
satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan
peraturan pemerintah.
UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
15.
Bidang DIKBUD KBRI Tokyo
BAB XIII
PENDANAAN PENDIDIKAN
Bagian Kesatu
Tanggung Jawab Pendanaan
Pasal 46
(1) Pendanaan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara Pemerintah,
pemerintah daerah, dan masyarakat.
(2) Pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab menyediakan anggaran
pendidikan sebagaimana diatur dalam Pasal 31 ayat (4) Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
(3) Ketentuan mengenai tanggung jawab pendanaan pendidikan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan peraturan
pemerintah.
Bagian Kedua
Sumber Pendanaan Pendidikan
Pasal 47
(1) Sumber pendanaan pendidikan ditentukan berdasarkan prinsip keadilan,
kecukupan, dan keberlanjutan.
(2) Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat mengerahkan sumber daya yang
ada sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(3) Ketentuan mengenai sumber pendanaan pendidikan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
Bagian Ketiga
Pengelolaan Dana Pendidikan
Pasal 48
(1) Pengelolaan dana pendidikan berdasarkan pada prinsip keadilan, efisiensi,
transparansi, dan akuntabilitas publik.
(2) Ketentuan mengenai pengelolaan dana pendidikan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
Bagian Keempat
Pengalokasian Dana Pendidikan
Pasal 49
(1) Dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan
minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada sektor
pendidikan dan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
16.
Bidang DIKBUD KBRI Tokyo
(APBD).
(2) Gaji guru dan dosen yang diangkat oleh Pemerintah dialokasikan dalam Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
(3) Dana pendidikan dari Pemerintah dan pemerintah daerah untuk satuan pendidikan
diberikan dalam bentuk hibah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
(4) Dana pendidikan dari Pemerintah kepada pemerintah daerah diberikan dalam
bentuk hibah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(5) Ketentuan mengenai pengalokasian dana pendidikan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan peraturan
pemerintah.
BAB XIV
PENGELOLAAN PENDIDIKAN
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 50
(1) Pengelolaan sistem pendidikan nasional merupakan tanggung jawab menteri.
(2) Pemerintah menentukan kebijakan nasional dan standar nasional pendidikan untuk
menjamin mutu pendidikan nasional.
(3) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya
satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan
menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional.
(4) Pemerintah daerah provinsi melakukan koordinasi atas penyelenggaraan
pendidikan, pengembangan tenaga kependidikan, dan penyediaan fasilitas
penyelenggaraan pendidikan lintas daerah kabupaten/kota untuk tingkat pendidikan
dasar dan menengah.
(5) Pemerintah kabupaten/kota mengelola pendidikan dasar dan pendidikan menengah,
serta satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal.
(6) Perguruan tinggi menentukan kebijakan dan memiliki otonomi dalam mengelola
pendidikan di lembaganya.
(7) Ketentuan mengenai pengelolaan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
ayat (2), ayat (3), ayat (4), ayat (5), dan ayat (6) diatur lebih lanjut dengan peraturan
pemerintah.
Pasal 51
(1) Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan
menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip
manajemen berbasis sekolah/madrasah.
(2) Pengelolaan satuan pendidikan tinggi dilaksanakan berdasarkan prinsip otonomi,
akuntabilitas, jaminan mutu, dan evaluasi yang transparan.
(3) Ketentuan mengenai pengelolaan satuan pendidikasenbagaimana dimaksud pada
ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
Pasal 52
(1) Pengelolaan satuan pendidikan nonformal dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah
UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
17.
Bidang DIKBUD KBRI Tokyo
daerah, dan/atau masyarakat.
(2) Ketentuan mengenai pengelolaan satuan pendidikan nonformal sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
Bagian Kedua
Badan Hukum Pendidikan
Pasal 53
(1) Penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh Pemerintah
atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan.
(2) Badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berfungsi
memberikan pelayanan pendidikan kepada peserta didik.
(3) Badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berprinsip nirlaba
dan dapat mengelola dana secara mandiri untuk memajukan satuan pendidikan.
(4) Ketentuan tentang badan hukum pendidikan diatur dengan undang-undang
tersendiri.
BAB XV
PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENDIDIKAN
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 54
(1) Peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perseorangan,
kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan
dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan.
(2) Masyarakat dapat berperan serta sebagai sumber, pelaksana, dan pengguna hasil
pendidikan.
(3) Ketentuan mengenai peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
Bagian Kedua
Pendidikan Berbasis Masyarakat
Pasal 55
(1) Masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan berbasis masyarakat pada
pendidikan formal dan nonformal sesuai dengan kekhasan agama, lingkungan
sosial, dan budaya untuk kepentingan masyarakat.
(2) Penyelenggara pendidikan berbasis masyarakat mengembangkan dan
melaksanakan kurikulum dan evaluasi pendidikan, serta manajemen dan
pendanaannya sesuai dengan standar nasional pendidikan.
(3) Dana penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat dapat bersumber dari
penyelenggara, masyarakat, Pemerintah, pemerintah daerah dan/atau sumber lain
yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
18.
Bidang DIKBUD KBRI Tokyo
(4) Lembaga pendidikan berbasis masyarakat dapat memperoleh bantuan teknis,
subsidi dana, dan sumber daya lain secara adil dan merata dari Pemerintah
dan/atau pemerintah daerah.
(5) Ketentuan mengenai peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
Bagian Ketiga
Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah/Madrasah
Pasal 56
(1) Masyarakat berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan yang meliputi
perencanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan melalui dewan
pendidikan dan komite sekolah/madrasah.
(2) Dewan pendidikan sebagai lembaga mandiri dibentuk dan berperan dalam
peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan, arahan
dan dukungan tenaga, sarana dan prasarana, serta pengawasan pendidikan pada
tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota yang tidak mempunyai hubungan
hirarkis.
(3) Komite sekolah/madrasah, sebagai lembaga mandiri, dibentuk dan berperan dalam
peningkatan mutu pelayanan dengan memberikan pertimbangan, arahan dan
dukungan tenaga, sarana dan prasarana, serta pengawasan pendidikan pada
tingkat satuan pendidikan.
(4) Ketentuan mengenai pembentukan dewan pendidikan dan komite
sekolah/madrasah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3)
diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
BAB XVI
EVALUASI, AKREDITASI, DAN SERTIFIKASI
Bagian Kesatu
Evaluasi
Pasal 57
(1) Evaluasi dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional
sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang
berkepentingan.
(2) Evaluasi dilakukan terhadap peserta didik, lembaga, dan program pendidikan pada
jalur formal dan nonformal untuk semua jenjang, satuan, dan jenis pendidikan.
Pasal 58
(1) Evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses,
kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan.
(2) Evaluasi peserta didik, satuan pendidikan, dan program pendidikan dilakukan oleh
lembaga mandiri secara berkala, menyeluruh, transparan, dan sistemik untuk
menilai pencapaian standar nasional pendidikan.
UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
19.
Bidang DIKBUD KBRI Tokyo
Pasal 59
(1) Pemerintah dan pemerintah daerah melakukan evaluasi terhadap pengelola, satuan,
jalur, jenjang, dan jenis pendidikan.
(2) Masyarakat dan/atau organisasi profesi dapat membentuk lembaga yang mandiri
untuk melakukan evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58.
(3) Ketentuan mengenai evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
Bagian Kedua
Akreditasi
Pasal 60
(1) Akreditasi dilakukan untuk menentukan kelayakan program dan satuan pendidikan
pada jalur pendidikan formal dan nonformal pada setiap jenjang dan jenis
pendidikan.
(2) Akreditasi terhadap program dan satuan pendidikan dilakukan oleh Pemerintah
dan/atau lembaga mandiri yang berwenang sebagai bentuk akuntabilitas publik.
(3) Akreditasi dilakukan atas dasar kriteria yang bersifat terbuka.
(4) Ketentuan mengenai akreditasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan
ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
Bagian Ketiga
Sertifikasi
Pasal 61
(1) Sertifikat berbentuk ijazah dan sertifikat kompetensi.
(2) Ijazah diberikan kepada peserta didik sebagai pengakuan terhadap prestasi belajar
dan/atau penyelesaian suatu jenjang pendidikan setelah lulus ujian yang
diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang terakreditasi.
(3) Sertifikat kompetensi diberikan oleh penyelenggara pendidikan dan lembaga
pelatihan kepada peserta didik dan warga masyarakat sebagai pengakuan terhadap
kompetensi untuk melakukan pekerjaan tertentu setelah lulus uji kompetensi yang
diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang terakreditasi atau lembaga sertifikasi.
(4) Ketentuan mengenai sertifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan
ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
BAB XVII
PENDIRIAN SATUAN PENDIDIKAN
Pasal 62
(1) Setiap satuan pendidikan formal dan nonformal yang didirikan wajib memperoleh
izin Pemerintah atau pemerintah daerah.
(2) Syarat-syarat untuk memperoleh izin meliputi isi pendidikan, jumlah dan kualifikasi
pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana pendidikan, pembiayaan
pendidikan, sistem evaluasi dan sertifikasi, serta manajemen dan proses
pendidikan.
UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
20.
Bidang DIKBUD KBRI Tokyo
(3) Pemerintah atau pemerintah daerah memberi atau mencabut izin pendirian satuan
pendidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(4) Ketentuan mengenai pendirian satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
Pasal 63
Satuan pendidikan yang didirikan dan diselenggarakan oleh Perwakilan Republik
Indonesia di negara lain menggunakan ketentuan undang-undang ini.
BAB XVIII
PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN OLEH LEMBAGA NEGARA LAIN
Pasal 64
Satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh perwakilan negara asing di wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia, bagi peserta didik warga negara asing, dapat
menggunakan ketentuan yang berlaku di negara yang bersangkutan atas persetujuan
Pemerintah Republik Indonesia.
Pasal 65
(1) Lembaga pendidikan asing yang terakreditasi atau yang diakui di negaranya dapat
menyelenggarakan pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(2) Lembaga pendidikan asing pada tingkat pendidikan dasar dan menengah wajib
memberikan pendidikan agama dan kewarganegaraan bagi peserta didik warga
negara Indonesia.
(3) Penyelenggaraan pendidikan asing wajib bekerja sama dengan lembaga pendidikan
di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan mengikutsertakan tenaga
pendidik dan pengelola warga negara Indonesia.
(4) Kegiatan pendidikan yang menggunakan sistem pendidikan negara lain yang
diselenggarakan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dilakukan sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(5) Ketentuan mengenai penyelenggaraan pendidikan asing sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan peraturan
pemerintah.
BAB XIX
PENGAWASAN
Pasal 66
(1) Pemerintah, pemerintah daerah, dewan pendidikan, dan komite sekolah/madrasah
melakukan pengawasan atas penyelenggaraan pendidikan pada semua jenjang dan
jenis pendidikan sesuai dengan kewenangan masing-masing.
(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan prinsip
transparansi dan akuntabilitas publik.
(3) Ketentuan mengenai pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih
lanjut dengan peraturan pemerintah.
UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
21.
Bidang DIKBUD KBRI Tokyo
BAB XX
KETENTUAN PIDANA
Pasal 67
(1) Perseorangan, organisasi, atau penyelenggara pendidikan yang memberikan ijazah,
sertifikat kompetensi, gelar akademik, profesi, dan/atau vokasi tanpa hak dipidana
dengan pidana penjara paling lama sepuluh tahun dan/atau pidana denda paling
banyak Rp.1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
(2) Penyelenggara perguruan tinggi yang dinyatakan ditutup berdasarkan Pasal 21 ayat
(5) dan masih beroperasi dipidana dengan pidana penjara paling lama sepuluh
tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp.1.000.000.000,00 (satu miliar
rupiah).
(3) Penyelenggara pendidikan yang memberikan sebutan guru besar atau profesor
dengan melanggar Pasal 23 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama
sepuluh tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp.1.000.000.000,00 (satu
miliar rupiah).
(4) Penyelenggara pendidikan jarak jauh yang tidak memenuhi persyaratan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara
paling lama sepuluh tahun dan/atau pidana denda paling banyak
Rp.1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
Pasal 68
(1) Setiap orang yang membantu memberikan ijazah, sertifikat kompetensi, gelar
akademik, profesi, dan/atau vokasi dari satuan pendidikan yang tidak memenuhi
persyaratan dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan/atau
pidana denda paling banyak Rp.500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
(2) Setiap orang yang menggunakan ijazah, sertifikat kompetensi, gelar akademik,
profesi, dan/atau vokasi yang diperoleh dari satuan pendidikan yang tidak
memenuhi persyaratan dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun
dan/atau pidana denda paling banyak Rp.500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
(3) Setiap orang yang menggunakan gelar lulusan yang tidak sesuai dengan bentuk
dan singkatan yang diterima dari perguruan tinggi yang bersangkutan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 21 ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama dua
tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp.200.000.000,00 (dua ratus juta
rupiah).
(4) Setiap orang yang memperoleh dan/atau menggunakan sebutan guru besar yang
tidak sesuai dengan Pasal 23 ayat (1) dan/atau ayat (2) dipidana dengan pidana
penjara paling lama lima tahun dan/atau pidana denda paling banyak
Rp.500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
Pasal 69
(1) Setiap orang yang menggunakan ijazah, sertifikat kompetensi, gelar akademik,
profesi, dan/atau vokasi yang terbukti palsu dipidana dengan pidana penjara paling
lama lima tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp.500.000.000,00 (lima
ratus juta rupiah).
(2) Setiap orang yang dengan sengaja tanpa hak menggunakan ijazah dan/atau
sertifikat kompetensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 ayat (2) dan ayat (3)
yang terbukti palsu dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan/atau
pidana denda paling banyak Rp.500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
22.
Bidang DIKBUD KBRI Tokyo
Pasal 70
Lulusan yang karya ilmiah yang digunakannya untuk mendapatkan gelar akademik,
profesi, atau vokasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (2) terbukti merupakan
jiplakan dipidana dengan pidana penjara paling lama dua tahun dan/atau pidana denda
paling banyak Rp.200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).
Pasal 71
Penyelenggara satuan pendidikan yang didirikan tanpa izin Pemerintah atau pemerintah
daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara
paling lama sepuluh tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp.1.000.000.000,00
(satu miliar rupiah).
BAB XXI
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 72
Penyelenggaraan pendidikan yang pada saat undang-undang ini diundangkan belum
berbentuk badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 tetap
berlaku sampai dengan terbentuknya undang-undang yang mengatur badan hukum
pendidikan.
Pasal 73
Pemerintah atau pemerintah daerah wajib memberikan izin paling lambat dua tahun
kepada satuan pendidikan formal yang telah berjalan pada saat undang-undang ini
diundangkan belum memiliki izin.
Pasal 74
Semua peraturan perundang-undangan yang merupakan peraturan pelaksanaan Undang-
Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara
Tahun 1989 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3390) yang ada pada saat
diundangkannya undang-undang ini masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan
dan belum diganti berdasarkan undang-undang ini.
BAB XXII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 75
Semua peraturan perundang-undangan yang diperlukan untuk melaksanakan undangundang
ini harus diselesaikan paling lambat dua tahun terhitung sejak berlakunya
undang-undang ini.
Pasal 76
Pada saat mulai berlakunya undang-undang ini, Undang-Undang Nomor 48/Prp./1960
UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
23.
Bidang DIKBUD KBRI Tokyo
tentang Pengawasan Pendidikan dan Pengajaran Asing (Lembaran Negara Tahun 1960
Nomor 155, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2103) dan Undang-Undang Nomor 2
Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Tahun 1989 Nomor
6, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3390) dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 77
Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan undang-undang ini
dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
Disahkan di Jakarta
pada tanggal 8 Juli 2003
Presiden Republik Indonesia,
Megawati Soekarnoputri
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 8 Juli 2003
Sekretaris Negara Republik Indonesia,
Bambang Kesowo
UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
24.
Bidang DIKBUD KBRI Tokyo
TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI
No.4301
PENDIDIKAN.
Sistem Pendidikan Nasional. Warga Negara. Masyarakat. Pemerintah. Pemerintah
Daerah.
(Penjelasan atas Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78)
PENJELASAN
ATAS
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 20 TAHUN 2003
TENTANG
SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
I. UMUM
Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pendidikan merupakan usaha
agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran
dan/atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat. Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap
warga negara berhak mendapat pendidikan, dan ayat (3) menegaskan bahwa Pemerintah
mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang
meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang. Untuk itu, seluruh komponen
bangsa wajib mencerdaskan kehidupan bangsa yang merupakan salah satu tujuan
negara Indonesia.
Gerakan reformasi di Indonesia secara umum menuntut diterapkannya prinsip demokrasi,
desentralisasi, keadilan, dan menjunjung tinggi hak asasi manusia dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara. Dalam hubungannya dengan pendidikan, prinsip-prinsip
tersebut akan memberikan dampak yang mendasar pada kandungan, proses, dan
manajemen sistem pendidikan. Selain itu, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang
pesat dan memunculkan tuntutan baru dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam
sistem pendidikan. Tuntutan tersebut menyangkut pembaharuan sistem pendidikan, di
antaranya pembaharuan kurikulum, yaitu diversifikasi kurikulum untuk melayani peserta
didik dan potensi daerah yang beragam, diversifikasi jenis pendidikan yang dilakukan
secara profesional, penyusunan standar kompetensi tamatan yang berlaku secara
nasional dan daerah menyesuaikan dengan kondisi setempat; penyusunan standar
kualifikasi pendidik yang sesuai dengan tuntutan pelaksanaan tugas secara profesional;
penyusunan standar pendanaan pendidikan untuk setiap satuan pendidikan sesuai
prinsip-prinsip pemerataan dan keadilan; pelaksanaan manajemen pendidikan berbasis
sekolah dan otonomi perguruan tinggi; serta penyelenggaraan pendidikan dengan sistem
terbuka dan multimakna. Pembaharuan sistem pendidikan juga meliputi penghapusan
diskriminasi antara pendidikan yang dikelola pemerintah dan pendidikan yang dikelola
masyarakat, serta pembedaan antara pendidikan keagamaan dan pendidikan umum.
Pembaharuan sistem pendidikan nasional dilakukan untuk memperbaharui visi, misi, dan
strategi pembangunan pendidikan nasional. Pendidikan nasional mempunyai visi
terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk
memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang
berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu
berubah.
Dengan visi pendidikan tersebut, pendidikan nasional mempunyai misi sebagai berikut:
1. mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan
yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia;
UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
25.
Bidang DIKBUD KBRI Tokyo
2. membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh
sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar;
3. meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk
mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral;
4. meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat
pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, sikap, dan nilai
berdasarkan standar nasional dan global; dan
5. memberdayakan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan
berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks Negara Kesatuan RI.
Berdasarkan visi dan misi pendidikan nasional tersebut, pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,
dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Pembaharuan sistem pendidikan memerlukan strategi tertentu. Strategi pembangunan
pendidikan nasional dalam undang-undang ini meliputi :
1. pelaksanaan pendidikan agama serta akhlak mulia;
2. pengembangan dan pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi;
3. proses pembelajaran yang mendidik dan dialogis;
4. evaluasi, akreditasi, dan sertifikasi pendidikan yang memberdayakan;
5. peningkatan keprofesionalan pendidik dan tenaga kependidikan;
6. penyediaan sarana belajar yang mendidik;
7. pembiayaan pendidikan yang sesuai dengan prinsip pemerataan dan berkeadilan;
8. penyelenggaraan pendidikan yang terbuka dan merata;
9. pelaksanaan wajib belajar;
10. pelaksanaan otonomi manajemen pendidikan;
11. pemberdayaan peran masyarakat;
12. pusat pembudayaan dan pembangunan masyarakat; dan
13. pelaksanaan pengawasan dalam sistem pendidikan nasional.
Dengan strategi tersebut diharapkan visi, misi, dan tujuan pendidikan nasional dapat
terwujud secara efektif dengan melibatkan berbagai pihak secara aktif dalam
penyelenggaraan pendidikan.
Pembaruan sistem pendidikan nasional perlu pula disesuaikan dengan pelaksanaan
otonomi daerah sebagaimana diatur dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 22
Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Republik Indonesia
Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan
Daerah.
Sehubungan dengan hal-hal di atas, Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang
Sistem Pendidikan Nasional perlu diperbaharui dan diganti.
II. PASAL DEMI PASAL
Pasal 1
Cukup jelas
Pasal 2
Cukup jelas
Pasal 3
Cukup jelas
UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
26.
Bidang DIKBUD KBRI Tokyo
Pasal 4
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Pendidikan dengan sistem terbuka adalah pendidikan yang diselenggarakan dengan
fleksibilitas pilihan dan waktu penyelesaian program lintas satuan dan jalur pendidikan
(multi entry-multi exit system). Peserta didik dapat belajar sambil bekerja, atau mengambil
program-program pendidikan pada jenis dan jalur pendidikan yang berbeda secara
terpadu dan berkelanjutan melalui pembelajaran tatap muka atau jarak jauh. Pendidikan
multimakna adalah proses pendidikan yang diselenggarakan dengan berorientasi pada
pembudayaan, pemberdayaan, pembentukan watak dan kepribadian, serta berbagai
kecakapan hidup.
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas
Ayat (5)
Cukup jelas
Ayat (6)
Memberdayakan semua komponen masyarakat berarti pendidikan diselenggarakan oleh
pemerintah dan masyarakat dalam suasana kemitraan dan kerja sama yang saling
melengkapi dan memperkuat.
Pasal 5
Cukup jelas
Pasal 6
Cukup jelas
Pasal 7
Cukup jelas
Pasal 8
Cukup jelas
Pasal 9
Cukup jelas
Pasal 10
Cukup jelas
Pasal 11
Cukup jelas
Pasal 12
Ayat (1)
huruf a
Pendidik dan/atau guru agama yang seagama dengan peserta didik difasilitasi dan/atau
UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
27.
Bidang DIKBUD KBRI Tokyo
disediakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai kebutuhan satuan pendidikan
sebagaimana diatur dalam Pasal 41 ayat (3).
Ayat (1)
huruf b
Pendidik dan/atau guru yang mampu mengembangkan bakat, minat, dan
kemampuan peserta didik difasilitasi dan/atau disediakan oleh Pemerintah atau
pemerintah daerah sesuai dengan kebutuhan satuan pendidikan sebagaimana diatur
dalam Pasal 41 ayat (3).
Ayat (1)
huruf c
Cukup jelas
Ayat (1)
huruf d
Cukup jelas
Ayat (1)
huruf e
Cukup jelas
Ayat (1)
huruf f
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas
Pasal 13
Cukup jelas
Pasal 14
Cukup jelas
Pasal 15
Pendidikan umum merupakan pendidikan dasar dan menengah yang mengutamakan
perluasan pengetahuan yang diperlukan oleh peserta didik untuk melanjutkan pendidikan
ke jenjang yang lebih tinggi.
Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta
didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu.
Pendidikan akademik merupakan pendidikan tinggi program sarjana dan pascasarjana
yang diarahkan terutama pada penguasaan disiplin ilmu pengetahuan tertentu.
Pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program sarjana yang
mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian
khusus.
UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
28.
Bidang DIKBUD KBRI Tokyo
Pendidikan vokasi merupakan pendidikan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk
memiliki pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu maksimal setara dengan program
sarjana.
Pendidikan keagamaan merupakan pendidikan dasar, menengah, dan tinggi yang
mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut
penguasaan pengetahuan tentang ajaran agama dan/atau menjadi ahli ilmu agama.
Pendidikan khusus merupakan penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik yang
berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan
secara inklusif atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan
menengah.
Pasal 16
Cukup jelas
Pasal 17
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Pendidikan yang sederajat dengan SD/MI adalah program seperti Paket A dan yang
sederajat dengan SMP/MTs adalah program seperti Paket B.
Ayat (3)
Cukup jelas
Pasal 18
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Pendidikan yang sederajat dengan SMA/MA adalah program seperti Paket C.
Ayat (4)
Cukup jelas
Pasal 19
Cukup jelas
Pasal 20
Ayat (1)
Akademi menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam satu cabang atau sebagian cabang
ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni tertentu.
Politeknik menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam sejumlah bidang pengetahuan
khusus.
Sekolah tinggi menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau vokasi dalam lingkup
satu disiplin ilmu tertentu dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan
profesi.
Institut menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau pendidikan vokasi dalam
sekelompok disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni dan jika memenuhi syarat
dapat menyelenggarakan pendidikan profesi.
Universitas menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau pendidikan vokasi dalam
UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
29.
Bidang DIKBUD KBRI Tokyo
sejumlah ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni dan jika memenuhi syarat dapat
menyelenggarakan pendidikan profesi.
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas
Pasal 21
Ayat (1)
Gelar akademik yang dimaksud, antara lain, sarjana, magister, dan doktor.
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas
Ayat (5)
Cukup jelas
Ayat (6)
Cukup jelas
Ayat (7)
Cukup jelas
Pasal 22
Cukup jelas
Pasal 23
Ayat (1)
Guru besar atau profesor adalah jabatan fungsional bagi dosen yang masih mengajar di
lingkungan perguruan tinggi.
Ayat (2)
Cukup jelas
Pasal 24
Cukup jelas
Pasal 25
Cukup jelas
UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
30.
Bidang DIKBUD KBRI Tokyo
Pasal 26
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Pendidikan kecakapan hidup (life skills) adalah pendidikan yang memberikan kecakapan
personal, kecakapan sosial, kecakapan intelektual, dan kecakapan vokasional untuk
bekerja atau usaha mandiri.
Pendidikan kepemudaan adalah pendidikan yang diselenggarakan untuk mempersiapkan
kader pemimpin bangsa, sepert i organisasi pemuda, pendidikan
kepanduan/kepramukaan, keolahragaan, palang merah, pelatihan, kepemimpinan,
pecinta alam, serta kewirausahaan.
Pendidikan pemberdayaan perempuan adalah pendidikan untuk mengangkat harkat dan
martabat perempuan.
Pendidikan kesetaraan adalah program pendidikan nonformal yang menyelenggarakan
pendidikan umum setara SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA yang mencakup program paket
A, paket B, dan paket C.
Pendidikan dan pelatihan kerja dilaksanakan untuk meningkatkan kemampuan peserta
didik dengan penekanan pada penguasaan keterampilan fungsional yang sesuai dengan
kebutuhan dunia kerja.
Ayat (4)
Cukup jelas
Ayat (5)
Kursus dan pelatihan sebagai bentuk pendidikan berkelanjutan untuk mengembangkan
kemampuan peserta didik dengan penekanan pada penguasaan keterampilan, standar
kompetensi, pengembangan sikap kewirausahaan serta pengembangan kepribadian
profesional. Kursus dan pelatihan dikembangkan melalui sertifikasi dan akreditasi yang
bertaraf nasional dan internasional.
Ayat (6)
Cukup jelas
Ayat (7)
Cukup jelas
Pasal 27
Cukup jelas
Pasal 28
Ayat (1)
Pendidikan anak usia dini diselenggarakan bagi anak sejak lahir sampai dengan enam
tahun dan bukan merupakan prasyarat untuk mengikuti pendidikan dasar.
Ayat (2)
Cukup jelas
UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
31.
Bidang DIKBUD KBRI Tokyo
Ayat (3)
Taman kanak-kanak (TK) menyelenggarakan pendidikan untuk mengembangkan
kepribadian dan potensi diri sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik.
Raudhatul athfal (RA) menyelenggarakan pendidikan keagamaan Islam yang
menanamkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan kepada peserta didik untuk
mengembangkan potensi diri seperti pada taman kanak-kanak.
Ayat (4)
Cukup jelas
Ayat (5)
Cukup jelas
Ayat (6)
Cukup jelas
Pasal 29
Cukup jelas
Pasal 30
Cukup jelas
Pasal 31
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Bentuk pendidikan jarak jauh mencakup program pendidikan tertulis (korespondensi),
radio, audio/video, TV, dan/atau berbasis jaringan komputer.
Modus penyelenggaraan pendidikan jarak jauh mencakup pengorganisasian tunggal
(single mode), atau bersama tatap muka (dual mode).
Cakupan pendidikan jarak jauh dapat berupa program pendidikan berbasis mata
pelajaran/mata kuliah dan/atau program pendidikan berbasis bidang studi.
Ayat (4)
Cukup jelas
Pasal 32
Cukup jelas
Pasal 33
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Pengajaran bahasa daerah pada jenjang pendidikan dasar di suatu daerah disesuaikan
dengan intensitas penggunaannya dalam wilayah yang bersangkutan.
Tahap awal pendidikan adalah pendidikan pada tahun pertama dan kedua sekolah dasar.
UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
32.
Bidang DIKBUD KBRI Tokyo
Ayat (3)
Cukup jelas
Pasal 34
Cukup jelas
Pasal 35
Ayat (1)
Standar isi mencakup ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan ke
dalam persyaratan tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi
mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada
jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
Kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap,
pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati.
Standar tenaga kependidikan mencakup persyaratan pendidikan prajabatan dan
kelayakan, baik fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan.
Standar sarana dan prasarana pendidikan mencakup ruang belajar, tempat berolahraga,
tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat
berkreasi dan berekreasi, dan sumber belajar lain yang diperlukan untuk menunjang
proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.
Peningkatan secara berencana dan berkala dimaksudkan untuk meningkatkan
keunggulan lokal, kepentingan nasional, keadilan, dan kompetisi antarbangsa dalam
peradaban dunia.
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Badan standardisasi, penjaminan, dan pengendalian mutu pendidikan bersifat mandiri
pada tingkat nasional dan propinsi.
Ayat (4)
Cukup jelas
Pasal 36
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Pengembangan kurikulum secara berdiversifikasi dimaksudkan untuk memungkinkan
penyesuaian program pendidikan pada satuan pendidikan dengan kondisi dan kekhasan
potensi yang ada di daerah.
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas
Pasal 37
Ayat (1)
Pendidikan agama dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia.
UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
33.
Bidang DIKBUD KBRI Tokyo
Pendidikan kewarganegaraan dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi
manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air.
Bahan kajian bahasa mencakup bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing
dengan pertimbangan:
1. Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional;
2. Bahasa daerah merupakan bahasa ibu peserta didik; dan
3. Bahasa asing terutama bahasa Inggris merupakan bahasa internasional yang
sangat penting kegunaannya dalam pergaulan global.
Bahan kajian matematika, antara lain, berhitung, ilmu ukur, dan aljabar dimaksudkan
untuk mengembangkan logika dan kemampuan berpikir peserta didik.
Bahan kajian ilmu pengetahuan alam, antara lain, fisika, biologi, dan kimia dimaksudkan
untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis peserta
didik terhadap lingkungan alam dan sekitarnya.
Bahan kajian ilmu pengetahuan sosial, antara lain, ilmu bumi, sejarah, ekonomi,
kesehatan, dan sebagainya dimaksudkan untuk mengembangkan pengetahuan,
pemahaman, dan kemampuan analisis peserta didik terhadap kondisi sosial masyarakat.
Bahan kajian seni dan budaya dimaksudkan untuk membentuk karakter peserta didik
menjadi manusia yang memiliki rasa seni dan pemahaman budaya. Bahan kajian seni
mencakup menulis, menggambar/melukis, menyanyi, dan menari.
Bahan kajian pendidikan jasmani dan olah raga dimaksudkan untuk membentuk karakter
peserta didik agar sehat jasmani dan rohani, dan menumbuhkan rasa sportivitas.
Bahan kajian keterampilan dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi
manusia yang memiliki keterampilan.
Bahan kajian muatan lokal dimaksudkan untuk membentuk pemahaman terhadap potensi
di daerah tempat tinggalnya.
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Pasal 38
Cukup jelas
Pasal 39
Ayat (1)
Tenaga kependidikan meliputi pengelola satuan pendidikan, penilik, pamong belajar,
pengawas, peneliti, pengembang, pustakawan, laboran, dan teknisi sumber belajar.
Ayat (2)
Cukup jelas
Pasal 40
Ayat (1)
huruf a
Yang dimaksud dengan penghasilan yang pantas dan memadai adalah penghasilan yang
mencerminkan martabat guru sebagai pendidik yang profesional di atas kebutuhan hidup
minimum (KHM).
Yang dimaksud dengan jaminan kesejahteraan sosial yang pantas dan memadai, antara
lain, jaminan kesehatan dan jaminan hari tua.
UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
34.
Bidang DIKBUD KBRI Tokyo
huruf b
Cukup jelas
huruf c
Cukup jelas
huruf d
Cukup jelas
huruf e
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Pasal 41
Ayat (1)
Pendidik dan tenaga kependidikan dapat bertugas di mana pun dalam wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia dengan tetap memperhatikan peraturan perundangundangan
yang berlaku.
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Pemberian fasilitas oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah dimaksudkan untuk
menghindari adanya daerah yang kekurangan atau kelebihan pendidik dan tenaga
kependidikan, serta juga dimaksudkan untuk peningkatan kualitas satuan pendidikan.
Ayat (4)
Cukup jelas
Pasal 42
Cukup jelas
Pasal 43
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Program sertifikasi bertujuan untuk memenuhi kualifikasi minimum pendidik yang
merupakan bagian dari program pengembangan karier oleh Pemerintah dan/atau
pemerintah daerah.
Ayat (3)
Cukup jelas
Pasal 44
Cukup jelas
Pasal 45
Cukup jelas
UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
35.
Bidang DIKBUD KBRI Tokyo
Pasal 46
Ayat (1)
Sumber pendanaan pendidikan dari pemerintah meliputi Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), dan
sumber pendanaan pendidikan dari masyarakat mencakup antara lain sumbangan
pendidikan, hibah, wakaf, zakat, pembayaran nadzar, pinjaman, sumbangan perusahaan,
keringanan dan penghapusan pajak untuk pendidikan, dan lain-lain penerimaan yang sah.
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Pasal 47
Cukup jelas
Pasal 48
Cukup jelas
Pasal 49
Ayat (1)
Pemenuhan pendanaan pendidikan dapat dilakukan secara bertahap.
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas
Ayat (5)
Cukup jelas
Pasal 50
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas
Ayat (5)
Cukup jelas
UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
36.
Bidang DIKBUD KBRI Tokyo
Ayat (6)
Yang dimaksud dengan otonomi perguruan tinggi adalah kemandirian perguruan tinggi
untuk mengelola sendiri lembaganya.
Ayat (7)
Cukup jelas
Pasal 51
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan manajemen berbasis sekolah/madrasah adalah bentuk otonomi
manajemen pendidikan pada satuan pendidikan, yang dalam hal ini kepala
sekolah/madrasah dan guru dibantu oleh komite sekolah/madrasah dalam mengelola
kegiatan pendidikan.
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Pasal 52
Cukup jelas
Pasal 53
Ayat (1)
Badan hukum pendidikan dimaksudkan sebagai landasan hukum bagi penyelenggara
dan/atau satuan pendidikan, antara lain, berbentuk badan hukum milik negara (BHMN).
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas
Pasal 54
Cukup jelas
Pasal 55
Ayat (1)
Kekhasan satuan pendidikan yang diselenggarakan masyarakat tetap dihargai dan
dijamin oleh undang-undang ini.
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas
UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
37.
Bidang DIKBUD KBRI Tokyo
Ayat (5)
Cukup jelas
Pasal 56
Cukup jelas
Pasal 57
Cukup jelas
Pasal 58
Cukup jelas
Pasal 59
Cukup jelas
Pasal 60
Cukup jelas
Pasal 61
Cukup jelas
Pasal 62
Cukup jelas
Pasal 63
Cukup jelas
Pasal 64
Cukup jelas
Pasal 65
Ayat (1)
Peraturan perundang-undangan yang dimaksud antara lain mencakup undang-undang
tentang imigrasi, pajak, investasi asing, dan tenaga kerja.
Ayat (2)
Pelaksanaan pendidikan agama sesuai dengan ketentuan Pasal 12 ayat (1) huruf a.
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Sistem pendidikan negara lain mencakup kurikulum, sistem penilaian, dan penjenjangan
pendidikan.
Ayat (5)
Cukup jelas
Pasal 66
Ayat (1)
Cukup jelas
UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
38.
Bidang DIKBUD KBRI Tokyo
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Peraturan pemerintah yang dimaksud dalam ayat ini, antara lain, mengatur tata cara
pengawasan dan sanksi administratif.
Pasal 67
Cukup jelas
Pasal 68
Cukup jelas
Pasal 69
Cukup jelas
Pasal 70
Cukup jelas
Pasal 71
Cukup jelas
Pasal 72
Cukup jelas
Pasal 73
Cukup jelas
Pasal 74
Cukup jelas
Pasal 75
Cukup jelas
Pasal 76
Cukup jelas
Pasal 77
Cukup jelas
®®®

pengertian input dan output device

 

Bab 2

Konsep Dasar Komputer

 

Salah satu kemajuan yang paling pesat diperoleh manusia pada dekade ini adalah kemajuan teknologi komputer. Komputer telah mengisi hampir segala aspek dari kehidupan kita. Dimana-mana disekeliling kita, kita selalu melihat komputer.  Di rumah, di kantor di pabrik dimana saja ada komputer.  Tidak peduli apapun pendidikan, dan profesi yang ditekuni seseorang pengetahuan tentang komputer menjadi mutlak.

 

Komputer dapat dikatakan sebagai sebuah sistem, yang dapat kita bagi menjadi dua buah subsistem – hardware dan software. Berikut ini kita akan membicarakan beberapa prinsip dasar tentang komputer. Pembahasan akan dimulai dengan hardware kemudian dilanjutkan dengan sotfware.

 

Yang dikatakan hardware komputer adalah pisik dari mesin atau komputer itu sendiri. Tentu anda bertanya apakh memang kita perlu mengerti tentang hardware komputer, sebagai orang yang bukan spesialis komputer, kita hanya sebagai pemakai dari komputer. Hal ini sama saja dengan seorang pengendara mobil, sebai sopir apakah anda perlu tahu dengan mesin, cara kerja mesin. Memang anda dapat menjadi pengandara mobil tanpa tahu cara kerja mesin. Tetapi dengan mengetahui cara kerja mesin kita dapat berbicara dengan mekanik, anda dapat membenarkan sendiri jika ada kesalahan atau kerusakan kecil. Demikian juga dengan komputer dengan adanya pengetahuan tentang hardware komputer anda dapat berkomunikasi dengan komputer specialist.

 

Lebih lagi dengan banyaknya aneka ragam komputer yang beredar dipasar dan beraneka software pakages, pengetahuan tetang komputer oleh sipemakai terasa semakin lebih penting.  Hampir setiap hari muncul peralatan baru, pemakai harus memahami bahwa ada berbagai alternative yang jenis dan kapasitasnya mungkin berbeda. Mulai dari pembuatan keputusan untuk membeli komputer pribadi sampai pada sebagai seorang anggota komite pembelian komputer dalam organisasi. Bila anda melihat komputer atau anda sedang berbicara tetang komputer, dengan adanya pengetahuan komputer anda dapat berkomunikasi dengan lancar dan memberikan pendapat anda tentang topik yang sedang dibicarakan.

 

ISTILAH KOMPUTER

 

CHASSIS  Kotak logam atau plastik tempat menyimpan     komponen-komponen computer

MOTHERBOARD Disebut juga sebagai System Board, tempat  meletakkan CPU, Memory dan sebagian besar  sirkit pengawasan komputer.

EXPANSION SLOT   Penghubung internal yang memungkinkan disambungmya Motherboard, disebut juga Circuit Board, Expansion Boards atau Cards.

DEVICE CONTROLLER Satu buah board, atau beberapa set chip, untuk mengoperasikan peralatan peralatan komputer lainnya.

 

Gambar No.2.1  Istilah Jomputer

 

 

TERMINOLOGY UNTUK KONFIGURASI HARDWARE DAN SOFTWARE

BIT                           Binary Digit (hidup/mati, satu/nol)

NIBBLE                     4 BIT

BYTE                        8 BIT (satu karakter, misalnya satu huruf atau angka)

KILOBYTE               Kb        1024 BYTE

MEGABYTE            Mb        1024 Kb

GIGABYTE              Gb        1024 Mb

TERABYTE             Tb        1024 Gb

 

Gambar No. 2.2 Terminologi Konfigurasi

 

Sekarang ini banyak variasi komputer yang beredar dipasar. Kalau kita akan memilih komputer mana yang cocok baik untuk pemakainan pribadi maupun untuk perusahaan atau kantor banyak faktor yang perlu dipertimbangkan. Faktor pertama yang perlu dipertimbangkan adalah ukurannya. Pemilihan besar kecilnya sebuah komputer tidak banayak berbeda dengan pemilihan besarnya mobil. Mobil yang besar mungkin lebih banyak kapasitasnya, tetapi tentu juga membutuhkan garase yang lebih luas dan tidak lincah diwaktu jalan ramai, sebaliknya mobil kecil mungkin tidak akan dapat memuat semua anggota keluarga. Disamping itu pemilihan komputer tidak hanya mempertimbangkan kebutuhan waktu kini tetapi juga harus memprediksi katakan untuk masa lima tahun mendatang.

Faktor-faktor lain yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan hardware komputer adalah; harga, kapasitas ditinjau dari segi storage dan memory, tingkat kompatibelitas dengan arsitektur standar industri dan software yang dipilih, kecepatan pengolahan data (processing speed).

 

 

Penggolongan Hardware

 

Berdasarkan Ukurannya Hardware Komputer dapat dikelompokkan menjadi:

1. Besar, komputer besar disebut dengan Mainframe

2. Medium, komputer medium disebut dengan Minicomputer

3. Small, komputer kecil disebut dengan Microcomputer

Sungguhpun pengelompokan komputer menjadi tiga kelompok ini tidakklah mutlak.

 

Mainframe

Ada beraneka ragam tipe, merek dan ukuran komputer mainframe. Dalam banyak hal sistem tersebut telah dirancang untuk memenuhi spesifik pemakai dan dirancang khusus untuk perusahaan tertentu.

Biaya komputer besar secara umum adalah lebih mahal dari segala hal: hardware, software, comunikasi dan perlengkapan lainnya (peripheral).

 

Disamping itu komputer besar juga cenderung membutuhkan tim operator dan staf teknis (support staff) yang besar. Pemakai sistem besar memerlukan fasilitas sekuriti dan backup yang benar-benar tangguh. Harga sistem ini dapat berkisar Rp 10 miyar, tetapi fasilitas backup yang pada dasarnya adalah duplikat dari sistem utama dan berfungsi penuh dapat saja melebihi harga ini.

 

Sistem besar biasanya digunakan oleh perusahaan-perusahaan besar. Pemakai lainnya dalah untuk dunia ilmu pengetahuan, sperti untuk bidang modelling cuaca dan ekonomi dan grafik. Untuk keperluan saintifik ini biasanya komputer tidak harus menanganai banyak pemakai sekaligus akan tetapi komputer perlu untuk melaksanakan yang sangat banyak dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Mesin ini biasa diukur dangan MIP (Millions of instructions per second).

 

Pada negara maju pemerintah adalah pemakai komputer besar utama, dan di Indonesia dimasa datang juga mungkin akan demikian. Contoh pemakai mainframe yang lain dalah Perusahaan Penerbangan, Bank dan Lembaga Keuangan.

 

Perusahaan yang memproduksi sistem besar tidaklah terlalu banyak jumlahnya, karena memerlukan pengalaman, modal dan keahlian yang banyak untuk dapat memasuki pasar ini. Pemakai ingin berurusan dengan pemasok yang sudah punya reputasi, mengingat sistem besar memerlukan investasi yang sangat besar. Vendor harus dapat membuktikan bahwa mereka benar-benar dapar memberikan support yang banyak kepada pembeli. Pembeli juga ingin memastikan bahwa supplier mereka tidak akan jatuh bangkrut dalam semalam. Tentu saja pembeli ingin mendapatkan servise yang terbaik untuk jumlah uang mereka yang banyak.

 

Sebuah supplier terbesar (IBM) selalu siap dengan dengan insinyur mereka untuk terbang kemana saja  didunia ini untuk memecahkan masalah yang dihadapi pemakai. Pembuat sistem besar  diantaranya adalah:

IBM (International Business Machine)

DEC (Digital Equipment Corporation)

Amdahl

NCR

Fujitsu

Hitachi

Honeywell

Dengan semakin meningkatnya kemampuan sistem yang berskala lehih akhir-akhir ini, dan dengan menurunya harga mesin tersebut, banyak organisasi yang sebelumnya menggunakan mainframe telah melakukan penggantian komputer mereka ke komputer yang secara pisik lebih kecil tetapi dengan kemapuan yang sama.

 

 

 

Kebaikan dari Mainframe

Dibandingkan dengan komputer yang lebih kecil mainframe mempunyai beberapa kebaikan  diantaranya

  • Support yang baik dari vendor
  • Kualitas hardware dan software sangat baik dan telah teruji
  • Proses dan operasi yang sangat cepat, bila dipakai pada kondisi  yang sesuai
  • Kapasitas prosesor yang besar
  • Kapasitas on-line storage yang besar

 

Kejelekan dari Mainframe

Sedangkan kejelekan mainframe diantaranya adalah

  • Harga dan biaya operasi yang besar
  • Memerlukan environmen yang khusus
  • Instalasi yang khusus juga memerlukan sistem pengamanan yang   lebih canggih
  • Gedung sering harus dimodifikasi atau didisain khusus
  • Memerlukan personel yang lebih banyak
  • Memerlukan kategori staf atau personel yang baru dan harus  digaji mahal

 

Mini Komputer 

Mini komputer melayani pasar yang memerlukan kapasistas prosesor dan storage yang lebih kecil dari mainframe, tetapi lebih besar dari microcomputer. Walaupun demikian seperti telah disebutkan diatas, dengan perkembangan teknologi batas-batas pembagian komputer berdasarkan kapasitasnya menjadi kabur. Sekarang ini banyak microcomputer yang mempunyai kapasitas melebihi generasi awal minicomputer. demikian juga banyak mincomputer yang baru melebihi kapasitas generasi awal mainframe.

 

Minicomputer dinegara maju banyak digunakan oleh organisasi seperti; hotel, rumahsakit, perpustakaan, perusahaan pengecer, perintahan daerah dan perusahaan-perusahaan mengah.

 

Seperti halnya mainframe pemakai minicomputer  secara traditional juga banyak yang mengganti komputernya dengan workstation dan minicomputer generasi terakhir, yang lazimnya satu sama lain nya dihubungkan dalam sistem network.

 

Kebaikan dari minicomputer

Beberapa kebaikan dari minicomputer adalah

  • Dapat digunakan untuk aplikasi yang sama dengan mainframe
  • Baik untuk remote job entry
  • Environment pisik yang diperlukan tidak sekaku mainframe
  • Baik untuk sisten yang didesentralisasi
  • Instalasi yang lebih sederhana dari mainframe
  • Industri lebih standard

 

Keburukan dari Minicomputer

Sedangkan kejelekan dai minicomputer diantaranya adalah

  • Biasanya lebih lambat dari mainframe dan mempunyai kapasitas  yang lebih kecil
  • Sistem security biasanya tidak komprehensisve
  • Kualitas tidak begitu dapat diandalkan terutama untuk merek dan supplier yang belum terkenal
  • Juga memerlukan tenaga profesional.

 

Micro Computer,

Microcomputer dan sering juga disebut PC berkembang dengan sangat pesat. Perkembagan tersebut tidak hanya dari segi volume penjualan dan populeritas, tetapi juga dari segi perkembangan teknologi. Ukuran pisik micro semakin kecil, tetapi tetapi kapasitas

storage dan prosesor semakin besar dengan biaya yang semakin kecil.

 

Sekarang ini banyak sekali pabrik yang menghasilkan microcomputer. Karena banyaknya type, ukuran dan konfigurasi hardware, beberapa pabrik membuat stylenya sendiri seperti Apple MacIntosh, sehingga tidak ada MacIntosh compatible yang legal.

 

Sementra IBM menjadi standard bagi personal computer untuk bisnis, dan merek-merek lain mengidentifikasikan diri mereka dengan IBM yang dikenal dengan IBM Compatible. Yang berarti semua software yang dapat digunakan pada mesin IBM juga dapat dijalankan pada mesin ini. Ini disebut dengan industri standard architecture (ISA).

 

Beberapa merek yang termasuk komputer ISA adalah COMPAQ, NEC, OLIVETTI, EPSON, AMSTRAD, IPEX, ALR.

 

Harga dari sebuah microcomputer berkisar antara Rp 3juta – Rp 25 juta. Perbedaan anatara satu komputer dengan komputer lain dapat sangat menentukan sekali. Sistem yang lebih lebih kecil mempunyai memory yang kecil pula sehingga tidak dapat menjalankan versi canggih dari software application package. Umumnya application package bisnis yang baik dan lengkap termasuk Lotus 123, Excel, MS Work dan dBase sekurang-kurangnya memerlukan 640K RAM. Dan juga memerlukan hard disk.

 

Monitor berwarna sangat mendukung penampilan paket-paket ini,  pada monitor monochome sangat sulit untuk membedakan karakter tertentu seperti cetak tebal, garis bawah dan sebaginya.

 

Penggunaan microcomputer juga menjadi semakin luas karena perkembangan teknologi komunikasi yang memungkinkan satu komputer berhubungan dengan komputer lain. Penggunaan modem berarti memungkinkan kita akses ke komputer dan data dimana saja diseluruh dunia.

 

 Kebaikan dari Microcomputer

 Beberapa kebaikan dari micro computer adalah

  • Harga yang lebih murah
  • Pemakaian energy yang lebih sedikit
  • Tidak memerlukan environment khusus
  • Lebih mudah untuk dioperasikan
  • Banyak variasi software yang tersedia
  • Pengetahuan programing tidak begitu penting
  • User friendly
  • Instalasi yang sederhana
  • Dapat digunakan sebagai smart workstation dengan network yang   compatible.  

 

Kejelekan dari Microcomputer

  • Hampir tidak ada support dari vendor
  • Pelatihan pemakai tidak dianggap serus
  • Dokumentasi dan manual tidak lengkap.

 

Unsur-Unsur Sistem Pisik Komputer

 

Biarpun teknologi komputer berkembang dengan sangat pesat dalam 40 tahun terakir ini namun struktur hardwarenya tidak mengalami perubahan seperti terlihat pada gambar no 2.3 hardware semua komputer akan selalu terdiri dari beberapa unsur:

1. Central Processor Unit (CPU)

3. Secondary Storage (misalnya disk)

4. Input Device (misalnya keyboard/mouse)

5. Output Device (misalnya Screen/Monitor, Printer)

 

Setiap komputer mempunyai satu atau lebih input device untuk memasukkan data ke bagian transformasi dan kontrol dari sistem yang kita sebut sebagai central processing unit (CPU). CPU terdiri

 

dari , arithmatic and logic unit dan control unit.  Primary storage unit  adalah tempat menyimpan data dan program. Arithmatic dan logic unit untuk melaksanakan perhitungan-perhitungan dan pembuatan keputusan-keputusan logis. Sedangkan kegiatan komputer secara keseluruhan dikendalikan oleh control unit. Data atau informasi hasil transformasi dipindahkan dari primary storage unit ke satu atau lebih output device. Disamping primary storage unit ada lagi secondary storage unit. Secondary storage unit menyimpan data atau informasi dalam alat seperti magnetic disk atau magnanetic tape.

 

Central Processing Unit

 

Pengolahan data sesungguhnya terjadi pada CPU. Pada micro computer, CPU hanya terdiri dari satu microprocessor chip. Sedangkan pada komputer yang lebih besar CPU mungkin secara pisik terdiri dari beberapa chip dan circuit yang berbeda.  secara conceptual ada tiga unsur dati CPU yaitu arithmatic dan logic unit, register dan control unit.

 

Arithmatic dan Logic Unit (ALU)

Arithmatic dan logic unit adalah bagian dari CPU yang pekerjaannya melakukan perhitungan-perhitungan dan operasi logis.

 

Control Unit

Control unit berfungsi mengarahkan pekerjaan CPU dengan menginterpretasikan program, memberitahu ALU untuk melakukan instruksi-instruksi tersebut, berkomunikasi dengan primary storage dan input serta output controller.

 

Primary Storage

 

Primary storage juga disebut main memory, adalah tempat input, program, hasil perhitungan sementara, dan output disimpan sementara sebelum atau setelah diproses CPU.Fungsi utama dari primary storage adalah untuk menyimpan program yang sedang dikerjakan. Program adalah instruksi yang menjelaskan apa yang harus dilakukan oleh komputer. Fungsi lain dari primary storage adalah  tempat data yang  diperlukan oleh program yang sedang dikerjakan.

 

Kapasitas Primary storage

Pada mulanya berbagai program dan data disimpan pada secondary storage menunggu tersedianya CPU dan space pada primary storage. Ukuran promary storage secara pisik adalah relative lebih kecil dari secondary storage. Akan tetapi kapasitas dari primary storage sangat terbatas. Kapasitas dari primary storage ini sangat penting sekali jadi pertimabangan. Umumnya kapasitas primary storage akan menentukan program-program yang dapat dijalankan pada komputer tersebut.

 

Program yang besar, kompleks dan berkemampuan tinggi biasanya juga memerlukan primary storage yang lebih besar dibandingkan dengan program yang lebih kecil dan sederhana. Kadang- kadang

 

kapasitas primary storage juga menentukan jumlah data yang dapat diproses. Setidaknya dengan primary storage yang kurang program akan tetap dapat dijalankan tetapi sangat lambat

 

 

 

 

 

 

                               

 

Random Akses Memory

Salah satu karakteristik penting dari primary storage adalah ia memerlukan waktu sama untuk mengambil data  dari sembarang lokasi, keadaan seperti ini dikenal dengan random access memory.  Sebagai lawannya sequential access yang merupakan karakteristik dari beberapa secondary storage media seperti magnatic tape. Waktu yang diperlukan untuk mengambil dari tape akan ditentukan oleh lokasi dari data tersebut. Karena memerlukan waktu untuk memutar tape (pita) tersebut sampai lokasi data yang diinginkan ditemukan.

 

Volatility

Secara umum, primary storage hanya dapat menyimpan data, selagi komputer tersebut masih hidup. Karena keadaan seperti ini sifat dari primary storage dikatakan volatile. Dengan memutuskan aliran lestrik ke chip sekejap saja seperseratus detik akan menyebabkan data yang tersimpan pada primary storage terhapus. Berbeda dengan secondary storage yang dapat menyimpan data dalam waktu yang tidak terbatas tampa harus menerima aliran lestrik.  

 

 

Input Device

 

Cara yang lazim untuk mengimput data ke komputer adalah lewat terminal keyboard. Pengertian terminal disini adalah lokasi berbagai peralatan untuk mengumpulkan input dari pemakai, dan mengirim data ke komputer, menerima informasi dari komputer dan menayangkannya.

 

Computer terminal keyboard.

Terminal mempunyai keyboard yang hampir sama dengan keyboard yang ada pada mesin ketik. Disamping memuat huruf romawi, angka dan tanda-tanda yang lazim ada pada mesin ketik, computer terminal keyboard juga mempunyai tombol-tombol extra ‘function key’. Arti dari masing-masing function key ini akan tergantung pada program yang digunakan.

 

Terminal dapat diklasifikasikan sebagai dumb, smart, atau intelligent. Adumb terminal dapat digunakan untuk mengirim dan menerima data dari komputer. Smart terminal mempunyai microprocessor dan internal storage sendiri, yang memungkinkannya untuk mengedit data sebelum dikirim. Sedangkan intelligent terminal is smart terminal yang dapat diprogram oleh user untuk melakukan pekerjaan tertentu yang sederhana, bebas dari komputer induk tempat dia dihubungkan.

 

 

Point of sale (POS) register.

Adalah terminal khusus yang ditempatkan pada counter check-out pada toko pengecer. Terminal ini dikategorikan pada intelligent terminal, terminal ini dilengkapi dengan fixed bar code reader, disamping keyboard cash register yang canggih. Terminal ini mengirim data code barang yang dijual ke komputer toko tersebut, yang akan mengupdate angka persediaan dan penjualan, dan mengirim kembali informasi harga. Beberapa POS juga memproses credit card transaction, memeriksa status credit langganan dan mengupdate credit account mereka.

 

POS terminal juga menggunakan optical character recognition (OCR) untuk membaca karakter aphanumeric dari kartu harga (price tag). Tetapi aphanumerik data ini harus dicetak standard.

 

Bar code recognition membaca garis-garis strip yang hampir selalu terdapat pada barang-barang yang dijual di supermarket dan bahkan sering terdapat pada kulit-kulit buku dan majalah. Kode ini sering disebut Universal Product Code (UPD) atau Bar Code.

 

Penggunaan bar code pada counter penjualan memberikan mamfaat antara lain; harga yang lebih akurat, kerja yang lebih cepat, mengurangi training pegawai dan biaya gaji, memudahkan inventory control. Kesuksesan penggunaan bar code pada supermarket telah menyebabkan meluasnya penggunaannya ke perpustakaan dan kartu mahasiswa.

 

Magnetic strip .

Ini sering kita temui pada bagian belakang credit card, bank card, identification card dan security badge. Magnetic strip ini diisi dengan data rahasia seperti nomor rekening, personal identifikasi number, privacy code dan access code.data yang ada pada magnetic strip ini dapat dan diimput ke komputer dengan menggunakan mesin kusus yang dapat menerima kartu tersebut dari pemakai. Jika data yang terdapat pada magnetic strip tersebut sesuai dengan standard yang sudah ditentukan maka pemakai dapat akses ke rekening mereka memperoleh otorisasi untuk masuk sistem. Magnetic strip tidak dapat dibaca oleh manusia dan dapat dapat memuat data yang lebih banyak dari pada dicetak sera biasa pada tempat yang sama. Magnetic strip sangat baik digunakan untuk menyimpan data yang rahasia dan sering diimput ke komputer. Tetapi magnetic strip ini mudah rusak bila terkena magnit atau terlipat.

 

Optical mark recognition (OMR),

Sering juga disebut mark sensing Ini sering digunakan dalam penentuan score dalam ujian yang sifatnya masal, seperti ujian penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi negeri (UMPTN). Untuk menjawab ujian harus digunakan pensil, dengan menandai kotak-kotak atau ruangan yang sudah disediakan pada kertas jawaban. Kemudia kertas jawaban ini diperiksa atau ditentukan scorenya dengan menggunakan mark sensing ini, yang merubah tanda pensil tadi menjadi sinyal electrik yang dapat diimput ke komputer.

 

Maganetic Ink Character Recognition (MICR).

Yaitu metode menginput data dengan menggunakan karakter tecetak dengan tinta magnetis sehingga dapat dibaca dengan mesin. Ini biasa digunakan pada check bank. Waktu pemegang cek menguangkankannya di counter atau di kliring si petugas bank mencek jumlah cek tersebut pada bagian bawah cek dengan tita yang dapat dibebani magnet. Kemudian tulisan tinta khusus ini dibebani magnet. Karekter magnetis yang ada pada cek ini sekarang dapat dibaca langsung oleh komputer dan di pindahkan ke tape atau disk.

 

Image Processing.

Computer dapat juga memproses gamabar yang diambil dengan vidio camera. Disamping menggunakan camera cara lainnya untuk membaca gambar adalah apa yang disebut dengan page scanners, yang cara kerjanya sama dengan mesin facsimile (fax). 

 

Grafik Input Device .

Ada berbagai macam alat lainny untuk yang dapat digunakan mengimput data ke komputer diantaranya adalah  Digitizer atau disebut juga dengan grafik tablet, light pen. Kedua alat ini adalah utnuk mengimput grafik.

 

Voice Recognition Module.

Walupun peralatan yang dapat mengerti suara masih belum berkembang, ini sudah merupakan realitas. Waktu ini sudah ada alat yang dapat mengerti antara 40 sampai 200 bunyi, kata dan phrases yang berbeda.

 

Mouse.

Alat input lainnya adalah apa yang disebut dengan mouse atau terjemahan langsungnya tikus. Diberi nama mouse karena besarnya memang sebesar tikus dan bentuknya juga seperti tikus menggunakannya dijalankan dimeja dan ditekan hingga berbunyi klik. Dengan ,ouse ini orang tidak perlu belajar keyboard. Sehingga sangat digemari oleh para manager yang tidak mendapat pendidikan formal yang sebelumnya tidak pernah menggunakan mesin tik atau keyboard.

 

 

 

Output Device

 

Tersedia berbagai jenis peralatan untuk memperoleh output dari sistem, mulai dari yang hanya berbentuk tayangan, cetakan di kertas, di film sampai yang berbentuk suara.

 

Layar Komputer (Monitor)

Unit yang hanya terdiri dari layar tayangan biasanya disebut sebagai monitor. Macam dan kegunaan layar monitor ini sangat bervariasi. Monitor komputer tidak banyak berbeda dengan layar televisi. Monitor berfungsi untuk menayangkan data yang sedang diimput ke komputer dan informasi yang diambil dari komputer. Disamping itu monitor juga berfungsi untuk menayangkan pesan-pesan dari komputer untuk pemakai, misalnya pesan-pesan kesalahan dan peringatan. Output yang hanya ditayangkan di layar ini disebut dengan soft copy output.

 

Paper ouput system.

Paper output sering juga disebut dengan hard copy. Output kertas dibuat pada berbagai macam jenis dan ukuran kertas dan dengan berbagai macam cara penyajian. Untuk menghasilkan output dalam bentuk cetakan di kertas pada dasarnya ada dua macam alat: printer dan plotter. Output berbentuk cetakan di kertas ini disebut dengan hard copy output

 

Printer adalah mesin yang dapat menghasilkan output cetakan dikertas dalam bentuk huruf, angka, gambar/grafik maupun dalam bentuk karakter lainnya. Sedangkan plotter adalah mesin yang khusus digunakan untuk membuat gambar dalam bentuk peta, grafik, atau ilustrasi lain yang cara kerjanya dapat dikontrol dengan komputer.

 

 

 

Microform Output

Adakalanya output dalam bentuk kertas tidaklah diingini. Terutama sekali bila kuantitasnya sangat banyak, berat dan memerlukan tempat yang sangat luas, akan memerlukan banyak lemari, atau rak untuk menyimpannya.

 

Microform output berbentuk  roll (microfilm) atau sheet (microfiche) dari plastik tipis, tempat dimuatnya output melalui proses photografis, dengan ukuran yang relative sangat kecil dibandingkan dengan aslinya. Output komputer dalam bentuk micro ini jauh lebih mudah untuk diorganisir dari pada mengarsipkan output dalm bentuk kertas yang sangat memakan tempat.

 

 

 

Secondary Storage

 

Seperti sudah dibicarakan diatas, untuk dapat mengerjakan pekerjaan tertentu, komputer memerlukan program dan data dalam primary memorynya. Secondary storage atau disebut juga auxiliary storage, membantu primary storage dengan menyediakan tempat untuk menyimpan program maupun data selama data tersebut belum diperlukan.  Secondary storage dapat on-line (dikendalikan oleh CPU, dan selalu siap digunakan) maupun off-line (memerlukan pekerjaan manual sebelum dapat dibaca maupun ditulis oleh CPU). Akses terhadap secondary storage biasanya memerlukan operasi mekanis, seperti menunggu pita berputas atau menungggu res/write head bergerak, sehingga tentu akan lebih lambat jika dibandingkan dengan akses primary storage. Disamping keunggulan-keunggulan primary storage seperti yang telah disebutkan diatas ada beberapa kelemahan primary storage yang menyebabkan secondary storage diperlukan diantaranya adalah :

 

Umumnya primary memory bersifat volatile. Bila aliran lestrik terputus, semua isi dari primary storage akan serta merta hilang. Sedangkan secondary storage yang biasanya magnetis ketimbang electronis, maka isinya tidak akan terpengaruh oleh terputusnya aliran lestrik.

 

Kapasitas primary memory terbatas. Biarpun perkembangan teknology telah meningkatkan kapasitas primary memory yang terpasang pada komputer, tetapi batas kapasitas tersebut masih saja jauh dibawah batas kapasitas yang diperlukan pemakai untuk program dan datanya. Sedangkan kapasitas secondary storage dapat tidak terbatas.

 

Primary memory mahal. Kemajuan technology memang sudah dapat menurunkan biaya untuk memasang primary memory yang besar, tetapi harga dari secondary storage masih jauh lebih murah.

Primary memory tidak portable. Isi dari primary memory tidak dapat dipindahkan ke komputer lain  tampa tersedianya comunication link. Sedangkan secondary storage banyak yang dapat dipindahkan-pindahkan dari satu mesin ke mesin lainnya.

 

Tipe-tipe Secondary Storage

Secara umum ada dua tipe secondary storage;

1. Secondary storage yang dapat diakses secara random

2. Secondary storage yang hanya dapat diakses secara sequential

 

Secondary storage yang dapat diakses secara random, data yang tersimpan dapat dibaca dengan cepat tanpa ada perbedaan dimana data tersebut berada secara pisik. Sehingga storage ini sangat cocok untuk data-data yang selalu dibaca berlangkali, sehingga sehingga kecepatan menemukan data yang dinginkan menjadi faktor utama. Biarpun dari random access secondary storage dapat dibaca dengan sangat cepat, tidaklah berarti direc acces secondary storage ini selalu tetapat untuk segala macam applikasi.

 

Sequential access storage device tetap saja dapat digunakan dengan effektive untuk data yang memang selalu dibaca secata berurut, atau untuk data yang memang tidak dimaksudkan untuk selalu dibaca seperti backup data. Karena backup data hanya akan dibaca bila data utama rusak maka untuk ini juga tidak masalah kalau digunakan sequential access storage device ini.

 

Magnetic Tape.

Magnetic tape biasanya terbuat dari plastik tipis, liat yang disebut dengan Mylar, yang salah satu sisinya dilapisi dengan film bahannya dapat dengan mudah dibebani dengan magnet. Pita magnet ini dapat digunakan berulang kali, dengan direkamnya  data baru data lama yang ada pada lokasi tersebut dengan sendirinya akan terhapus. Bentuk dan cara kerja pita komputer hampir sama dengan pita rekaman audio. Perbedaan utamanya pita untuk data komputer biasanya berkualitas tinggi dan dikemas dengan cara berbeda pula.

 

Organisasi data pada pita. Sekali data direkam ke pita, selamanya dia akan adanya disana, sampai dihapus atau data baru direkam pada lokasi tersebut. Pita adalah sekuential akses media, yang maksudnya karakter disimpan atau direkam secara berurukan searah dengan panjangnnya pita. Sehingga untuk membaca data yang ada pada pita, pita tersebut harus diputar atau dibaca secara berurutan sampai ketemu lokasi data yang diingini.

 

Kebaikan Pita Magnetis.

Penggunaan pita magnetis untuk media penyimpanan data punya kelemahan dan kebaikan, yang akan menentukan cara penggunaannya yang tepat. Diantara kebaikannya adalah;

  • Pita mempunyai harga yang  murah, dapat digunakan berulang kali, dan mudah digunakan.
  • Pita mempunyai data density yang tinggi, dan dapat dibaca dan ditulis dengan sangat cepat, dan dapat menyimpan records yang tidak sama panjang.
  • Pita tidak bersifat volatile. Banyak digunakan untuk salinan backup off-line dari data-data penting.
  • Pita bersifat standard, dan dapat saling ditukarkan diantara komputer yang dibuat pabrik yang berbeda.

 

Kelemahan Pita Magnetis

  • Pita hanya dapat diakses secara sequential, sehingga tidak dapat digunakan untuk menyimpan data yang perlu dibaca secara random, seperti untuk data pada reservasi hotel atau perusahaan penerbangan.
  • Pita mudah rusak kena debu atau pada tingkat suhu atau kelembaban yang tinggi.  

 

Magnetic Disk.

 

Magnetic Disk adalah tempat penyimpanan data yang dapat diaksess secara langsung atau random yang menjadi pembeda utamanya dengan pita. Magnetic Disk portabel yang lazim digunakan untuk microcomputer disebut dengan diskette atau plophydisk.Magnetic disk maupun magnetic tape memang sama-sama mudah rusak, akan tetapi disk lebih mudah rusak kalau kita bandingkan dengan pita.

 

 

Software

 

Software adalah semua instruksi-instruksi yang diperlukan sehingga komputer dapat beroperasi. Tanpa ada software komputer hanyalah sebuah mesin yang tidak dapat digunakan sama sekali.

 

Jenis-jenis Software

 

Ada beberapa cara untuk mengelompokkan sofware. Software ini sesuai dengan fungsinya dapat dikelompukkan menjadi berbagai macam. Perlu juga ditegaskan disini bahwa banyak software yang beredar dipasar dapat digolongkan kedalam lebih dari satu kelompok. Atau dengan kata lainnya dengan masuknya suatu software kedalam salah satu kelompk tidak berarti sofware tersebut tidak dapat dapat dimasukkan kedalam kelompok lainnya.

 

Operating System . Operating System adalah software atau program komputer yang berfungsi untuk mengatur hardware sehingga siap untuk menerima software lain. Sehingga operating system ini digunakan semenjak komputer dihidupkan. Contoh operating system adalah MS-DOS, Unix dan sebagainya.

 

Application System. Application System adalah program komputer yang berfungsi untuk melaksanakan pekerjaan spesifik, misalnya program untuk mencatat penjualan pada perusahaan atau program untuk mencatat nilai pada sebuah universitas.

 

Programming Language. Adalah program komputer yang digunakan untuk membuat application system atau program kompuer lainnya. Contoh programing language adalah COBOL, PASCAL, BASIc dan sebagaimya.

 

Utility System. Utility system adalah program yang dapat digunakan untuk menggandakan, menghapus, text editor dan sebagainya. Contoh utility system adalah DOS, dan banyak paket-paket sofware lain juga punya kemampuan utility ini.

 

Data Base Management System. Data Base Management System (DBMS) adalah program komputer yang berfungsi untuk mengelola atau mamanaj file data base. Dengan Data Base Management System ini kita dapat dengan mudah untuh membuat, mengisi, menghapus, mengubah dan bahkan menyiapkan laporan dari file database. Contoh Data Base Management System adalah dBase, Oracel, DB II dan sebagainya.

 

Spreadsheet. Spreadsheet adalah program komputer yang punya keunggulan ungtuk mengolah angka-angka dalam tabel. Dengan program ini angka-angka dapat dengan mudah dikali, dibagi, ditambah, dikurang dan diproses dengan rumus-rumus matematik lainnya. Contoh dari spreadsheet adalah MS Excell, Lotus 123 dan sebagainya.

 

Report Writing Software. Report Writing Software adalah program komputer yang dapat digunakan dengan mudah untuk menulis laporan secara langsung dari data yang sudah tersimpat pada file-file database. Banyak DBMS yang muncul belakangan ini juga punya kemampuan untuk digolongkan sekaligus sebagai Report Writing Software ini. Contoh dari Report Writing Software adalah RR Report Writer dan Cristal Report.

 

Sistem Development Tool. Sitem Development Tool adalah software yang berfungsi atau digunakan dalam membuat merancang dan bahkan sampai mengembangkan application system. Kemampuan sistem developmen tool ini sangat bervariasi, mulai dari yang hanya dapat digunakan untuk menyiapkan flowchart dokumentsai sistem sampai pada yang dapat secara otomatis dapat digunakan untuk men-generate kode secara otomatis. Contoh dari software ini adalah Genifer, Excellarator, Inggres dan sebagainya.

 

Word Processor. Word processor atau pengolah kata adalah sofware yang digunakan untuk mempersiapkan naskah. Ini adalah software yang paling banyak digunakan, kita tidak membayangkan lagi dunia tampa word processor. Dengan word processor penulisan naskah menjadi sangat mudah, naskah yang sudah diketik dapat diubah dan diedit dengan mudah dan dapat digunakan berulang kali.

 

Tambahan lagi wordprocessor lazimnya juga dilengkapi dengan kemampuan atau fasilitas untuk penguji ejaan. Sekarang ini kalau kita mengetik naskah dalam bahasa Inggris hampir tidak pernah lagi ada ditemui salah eja, karena word processor yang ada umumnya hanya punya fasilitas pengujian ejaan untuk naskah yang ditulis dalam bahasa Inggris.

 

Application Package. Adalah paket program jadi yang diperuntukan untuk melaksanakan pekerjaan tertentu yang bersifat umum misalnya Dec Easy Accounting untuk aplikasi akuntansi.

 

Cara Prolehan Sosftware

 

Ada dua cara untuk memperoleh sofware khususnya untuk application System. Pertma dengan membeli paket software yang sudah jadi, kedua dengan mengembangkan sendiri diperusahaan, dengan menggunakan programing language, Database Management System maupun menggunakan software lain. Sedangkan untuk kelompok software yang lain hampir selalu dibeli paket yang sudah jadi.

 

Kalau membeli paket yang sudah jadi jadi biasanya biayanya akan lebih murah, tetapi biasanya tidak sepenuhnya sesuai dengan kondisi spesifik yang ada di perusahaan. Dan sering paket yang dibeli dalam keadaan jadi harus dimodifikasi terlebih dulu sebelum dapat digunakan.

 

Sebaliknya software yang dikembangkan sendiri diperusahaan tentu dengan biaya pengembangan yang lebih mahal. Tetapi software ini dapat dibuat sedemikian rupa sehingga benar-benar sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Akan tetapi dengan berkembangnya sistem development tool, argumen biaya yang lebih mahal mungkin tidak jadi valid lagi. Mengingat sangat murah dan mudahnya cara pengembangan sistem dengan software generasi ke empat ini.

 

BAB I TIK SMK

 

BUKU AJAR
DASAR KOMPUTER
DAN PEMROGRAMAN
oleh :
RINTA KRIDALUKMANA, S.Kom, M.T.
Program Studi Sistem Komputer
Fakultas Teknik
Universitas Diponegoro
2009

Kata Pengantar
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan YME, karena berkat limpahan
rahmat dan kasih-Nya, buku ajar Dasar Komputer dan Pemrograman ini dapat
diselesaikan. Dalam penyusunan buku ajar ini tidak terlepas dari kendala dan hambatan,
namun berkat bimbingan dan motivasi dari semua pihak yang telah membantu maka
penulis dapat menyelesaikannya
Penulis menyadari bahwa buku ini masih jauh dari sempurna, hal ini tidak lepas
dari keterbatasan kemampuan penulis. Untuk itu saran dan kritik yang membangun dari
pembaca sangat penulis harapkan untuk dapat meningkatkan kemampuan penulis. Akhir
kata buku ini dapat bermanfaat dan dapat memenuhi harapan sebagaimana mestinya.
Semarang, 2009
Rinta Kridalukmana, S.Kom, MT

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ……………………………………………………………………………………… i
Daftar Isi………………………………………………………………………………………………. ii
Chapter 1 – Konsep Dasar Sistem Komputer
1.1. Komputer Generasi Pertama………………………………………………. 1
1.2. Struktur Dasar dan Fungsi Komputer……………………………………… 4
Evaluasi ………………………………………………………………………… 9
Chapter 2 – Input Output Device
2.1. Pendahuluan……………………………………………………………….. 10
2.2. Perangkat Input…………………………………………………………….. 11
2.3. Perangkat Output…………………………………………………………… 15
2.4. Perangkat Input/Output Masa Depan……………………………………….. 17
Evaluasi ………………………………………………………………………….. 18
Chapter 3 – Memori
3.1. Memori……………………………………………………………………… 19
3.2. Sifat Sel Memori……………………………………………………………. 19
3.3. Karakteristik Sistem Memori……………………………………………….. 20
3.4. Hirarki Memori……………………………………………………………… 24
3.5. Memori Utama…..………………………………………………………….. 25
3.6. Cache Memori.. …………………………………………………………….. 27
Evaluasi…………………………………………………………………………… 31
Chapter 4 – Prosesor
4.1. Evolusi Prosesor……………………………………………………………… 32
4.2. Komponen Prosesor………………………………………………………….. 37
4.3. Siklus Instruksi Dasar…..……………………………………………………. 38
Evaluasi…………………………………………………………………………… 41

Chapter 5 – Sistem Operasi
5.1. Dukungan Sistem Operasi……………………………………………………43
5.2. Karakteristik Sistem Operasi…………………………………………………43
5.3. Layanan Sistem Operasi. …………………………………………………….45
5.4. Contoh Sistem Operasi……………………………………………………… 46
5.4.1. Microsoft Windows…………………………………………………. 46
5.4.2. Unix…………………………………………………………………. 51
5.4.3. Linux………………………………………………………………… 55
Evaluasi………………………………………………………………………….. 57
Chapter 6 – Pengantar Pemrograman
6.1. Program dan Pemrograman…………………………………………………. 58
6.2. Fase-fase Pemrograman…………………………………………………….. 59
6.3. Generasi Bahasa Pemrograman…………………………………………….. 61
6.4. Pemrograman Visual, Markup, dan Scripting………………………………. 66
6.5. Perbandingan Beberapa High Level Programming Language……………… 67
6.6. Belajar Pemrograman vs Belajar Bahasa Pemrograman……………………. 71
6.7. Produk vs Proses…………………………………………………………….. 71
Evaluasi…………………………………………………………………………… 72
Chapter 7 – Dasar Pemrograman
7.1. Aksi, Initial State, Final State……………………………………………….. 73
7.2. Sub Aksi, Proses, Algoritma………………………………………………… 74
7.3. Aksi Kondisional……………………………………………………………. 75
7.4. Aksi Perulangan…………………………………………………………….. 77
7.5. Struktur Kontrol…………………………………………………………….. 78
Evaluasi………………………………………………………………………….. 80
Chapter 8 – Struktur Program
8.1. Struktur Program…………………………………………………………….. 81
8.2. Penamaan Elemen Program…………………………………………………. 82

8.3. Konstanta dan Variabel……………………………………………………… 83
8.4. Type…………………………………………………………………………. 84
Evaluasi…………………………………………………………………………… 88

CHAPTER 1
KONSEP DASAR SISTEM KOMPUTER
Tujuan Instruksional :
1. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep dasar sistem komputer dengan mengacu
pada struktur komputer mesin von neumann
2. Mahasiswa dapat menjelaskan fungsi dan struktur komputer secara umum
1.1. Komputer Generasi Pertama
Komputer generasi pertama dipergunakan kurang lebih pada tahun 1940-an dengan
memanfaatkan teknologi tabung vakum. Beberapa komputer yang dikenal saat itu adalah
ENIAC dan Mesin Von Neumann.
Eniac
ENIAC singkatan dari Electronic Numerical Integrator and Computer, yang dirancang
dan dibuat di bawah pengawasan John Mauchly dan John Presper, merupakan komputer
digital elektronik untuk kebutuhan umum pertama di dunia.
Dengan berat 30 ton, volume 15.000 kaki persegi, berisi 18.000 tabung vakum dan daya
listrik 140 kilowatt, ENIAC mampu melakukan 5000 operasi penambahan per detik.
Mesin von Neumann
Tahun 1946, von Neumann dan rekan-rekannya mulai melakukan perancangan storedprogram
komputer baru, dikenal sebagai komputer IAS. Struktur umum komputer IAS
terdiri dari :
– Memori utama, yang menyimpan baik data maupun instruksi-instruksi dalam bentuk
biner
– ALU yang memiliki kemampuan mengoperasikan data biner
– Control Unit, yang melakukan intepretasi instruksi-instruksi di dalam memori dan
menyebabkan instruksi tersebut dieksekusi
– Peralatan I/O yang dioperasikan oleh Control Unit.

Main
Memory
Program
Control
Unit
Arithmetic
Logic Unit
I/O
equipment
Gb. 1.1 Struktur Komputer IAS
Memori IAS terdiri dari 1000 lokasi penyimpan, yang disebut word, yang masing-masing
terdiri dari 40 binary digit (bit). Baik data maupun instruksi disimpan di sini. Sehingga
bilangan harus dinyatakan dalam bentuk biner, dan instruksi juga harus berupa kode
biner.
0 1
Bit tanda
39
a) Word bilangan
0 8 19 20 28 39
Op code Alamat Op code Alamat
a) Word instruksi
Gambar 1.2. Format Memori IAS
Gambar 1.2 menjelaskan format-format tersebut :
– Setiap bilangan dinyatakan oleh sebuah bit tanda dan 39 bit nilai
– Sebuah word dapat juga terdiri dari 20 bit instruksi, dengan masing-masing instruksi
terdiri dari 8-bit kode operasi (op code) yang menspesifikasikan operasi yang akan

dibentuk dan sebuah 12 bit alamat yang menandai salah satu word di dalam memori
(bilangan dari 0 hingga 999).
– Control unit mengoperasikan IAS dengan cara mengambil instruksi-instruksi dari
memori dan mengeksekusinya sekaligus.
ALU merupakan singkatan dari Arithmetic Logic Unit dan terdiri dari 4 komponen,
yaitu :
– Akumulator (AC) dan Multiplier Quotient (MQ), yang digunakan untuk menyimpan
sementara ‘ operand dan hasil operasi ALU. Misalnya, hasil perkalian dua buah bilangan
40 bit adalah sebuah bilangan 80 bit; 40 bit yang paling berarti disimpan di dalam
AC, dan 40 bit yang kurang berarti disimpan di MQ.
– Memory Buffer Register : berisi sebuah word yang akan disimpan di dalam memori
atau digunakan untuk menerima word dari memori
– Arithmetic-Logic Circuits
Sedangkan komponen yang ada di dalam control unit adalah :
– Memory Address Register (MAR): Menentukan alamat word di memori untuk dituliskan
dari MBR atau dibaca ke MBR.
– Instruction Register (IR): Berisi instruksi 8-bit op code yang akan dieksekusi.
– Instruction Buffer Register (IBR): Digunakan untuk menyimpan sementara instruksi
sebe-lah kanan word di dalam memori.
– Program Counter (PC): Berisi alamat pasangan instruksi berikutnya yang akan diambil
dari memori.
– Control Circuits
Komputer IAS memiliki 21 buah instruksi yang dikelompokkan seperti berikut ini :
– Data transfer : memindahkan data di antara memori dengan register-register ALU
atau antara dua register ALU
– Unconditional branch : biasanya control unit mengeksekusi instruksi-instruksi di
dalam urutan memori. Urutan ini dapat diubah dengan instruksi pencabangan yang
memudahkan operasi repetitif

– Conditional branch : cabang dapat diubah tergantung pada suatu persyaratan, jadi
memungkinkan titik-titik keputusan
– Arithmetic : operasi yang dibentuk oleh ALU
– Address modify : memungkinkan alamat-alamat untuk dikomputasi dalam ALU dan
kemudian disisipkan ke dalam instruksi-instruksi yang disimpan di dalam memori.
Hal ini memungkinkan fleksibilitas alamat yang tinggi pada program.
Struktur komputer IAS inilah yang menjadi dasar pengembangan komputer-komputer
pada era selanjutnya.
1.2. Struktur dan Fungsi Komputer
Komputer merupakan sistem yang kompleks; komputer kontemporer berisi jutaan
komponen elektronik elementer. Kemudian bagaimana seseorang dapat menjelaskan
komponen-komponen tersebut? Kuncinya adalah dengan mengetahui sifat hirarki sistemsistem
yang paling kompleks, termasuk komputer [SIM069].
Sebuah sistem hirarki adalah sekumpulan subsistem yang saling berkaitan, hirarki yang
satu dengan yang sebelumnya, hingga kita mencapai tingkatan yang paling rendah dari
subsistem elementer.
Sifat hirarki dari sebuah sistem yang kompleks merupakan hal yang sangat penting baik
bagi rancangannya maupun bagi deskripsinya. Pada suatu saat tertentu, perancang hanya
memerlukan kaitannya dengan tingkat tertentu daripada sistem. Pada setiap tingkatan,
sistem terdiri dari sejumlah komponen dan saling keterkaitannya. Tingkah laku pada
masing-masing tingkatan hanya tergantung pada karakterisasi sistem pada tingkat
berikutnya yang disederhanakan dan diabstraksi saja. Pada setiap tingkatan, perancang
perlu memperhatikan struktur dan fungsi [KOES78]:
• Struktur: Cara komponen-komponen saling terkait.
• Fungsi: Operasi masing-masing komponen sebagai bagian dari struktur.

Secara deskripsi, kita mempunyai dua buah pilihan: berawal dari bagian bawah dan maju
ke bagian atas, atau dimulai dari bagian atas kemudian menguraikan subbagiansubbagiannya
sistem. Berdasarkan pengalaman, pendekatan secara atas-bawah (topdown)
akan lebih jelas dan paling efektif [WEIN75].
FUNGSI
Pada dasarnya struktur dan pengfungsian komputer merupakan hal yang sederhana.
Gambar 1.1 menjelaskan fungsi-fungsi dasar dimana sebuah komputer dapat dibentuk.
Secara umum, hanya terdapat empat buah fungsi:
1. Pengolahan Data
Komputer harus dapat memproses data. Jenis data dapat bervariasi sekali, dan range
kebutuhan pengolahannyapun sangat luas sekali. Namun nanti kita akan mengetahui
bahwa hanya terdapat beberapa metode atau jenis penting daripada pengolahan data.
2. Penyimpanan Data
Di samping itu sangatlah penting bahwa komputer harus dapat menyimpan data.
Walaupun komputer hanya memproses data untuk keperluan dalam waktu yang
pendek (misalnya, data mnasuk dan diproses, dan hasilnya akan segera dikirimkan),
komputer harus dapat menyimpan secara sementara sedikitnya potongan data yang
sedang dikerjakan oleh komputer pada suatu saat. Jadi, sedikitnya terdapat fungsi
penyimpan data dalam selang waktu yang pendek. File-file data disimpan di dalam
komputer untuk dapat dicari dan diperbaharui.
3. Pemindahan Data
Komputer harus dapat meinindahkan data antara dirinya dengan dunia luar.
Lingkungan pengoperasi komputer lerdiri dari perangkat yang melayani sumber data
atau tempat tujuan data. Ketika data diterima dari atau dikirimkan ke sebuah
perangkat yang terhubung langsung dengan komputer, maka proses itu dikenal

sebagai input-output (I/O), dan perangkat tersebut dikenal sebagai peripheral. Pada
saat data dipindahkan ke jarak yang cukup jauh, atau dari remote device, proses
tersebut dikenal sebagai komunikasi data.
4. Kontrol
Harus terdapat kontrol bagi ketiga fungsi di atas. Kontrol ini dilatih oleh individual
yang menyediakan komputer dengan instruksi-instruksi. Di dalam sistem komputer,
sebuah unit kontrol mengatur sumber daya komputer dan mengendalikan unjuk kerja
bagian-bagian fungsional dalam memberikan respons terhadap instruksi-instruksi
tersebut.
Peralatan
Pemindahan
Data
Mekanisme
Pengontrolan
Fasilitas
Penyimpanan
Data
Fasilitas
Pengolahan
Data
RUANG LINGKUP OPERASI
(Sumber & Tujuan Data)
Gambar 1.3 – Fungsi Komputer
STRUKTUR
Dalam Gambar 1.4. ditunjukkan empat struktur utama komputer, yaitu:
1. Central Processing Unit (CPU): Mengontrol operasi komputer dan membentuk
fungsi-fungsi pengolahan datanya. Seringkali CPU cukup disebut sebagai processor
(prosesor) saja.
2. Memori utama: Menyimpan data.
3. I/O: Memindahkan data antara komputer dengan lingkungan luarnya.

4. System Interconnection: Beberapa mekanisme komunikasi antara CPU, memori utama
dan I/O.
KOMPUTER
Central
Processing
Unit
Main Memory
System
Interconnection
I/O
Gambar 1.4 – Komputer : Struktur Top-Level
Adapun komponen-komponen struktur utama dari CPU adalah sebagai berikut :
• Control Unit: Mengontrol operasi CPU dan pada gilirannya mengontrol komputer.
• Arithmetic and Logic Unit (ALU): Membentuk fungsi-fungsi pengolahan data
komputer.
• Register: Sebagai penyimpan internal bagi CPU.
• CPU Interconnections: Sejumlah mekanisme komunikasi antara control unit, ALU, dan
register-register.

Memory
System
Bus
I/O
CPU
KOMPUTER
Control Unit
Arithmetic and
Logic Unit
Internal CPU
Interconnection
Register
CENTRAL
PROCESSING
UNIT
Gambar 1.5 – Central Processing Unit
Dari 4 komponen CPU, yang paling menarik adalah Control Unit. Sekarang ini terdapat
beberapa pendekatan dalam melakukan implementasi control unit, namun sejauh ini
pendekatan yang paling umum digunakan adalah implementasi microprogrammed.
Adapun struktur dari kontrol unit dapat dilihat pada Gambar 1.6
Control Unit
ALU
Internal
CPU Bus
Register
CENTRAL
PROCESSING
UNIT
Control Unit
Registers and
Decoders
Sequencing
logic
Control
Memory
CONTROL
UNIT
Gambar 1.56– Control Unit

PERTANYAAN EVALUASI
1. Apa fungsi komputer secara umum ?
2. Gambarkan struktur komputer IAS dan jelaskan fungsi dari tiap komponennya
3. Apa beda memori utama dengan register ?
4. Jelaskan fungsi dari system interconnection pada sebuah komputer.

Bahasa Indonesia Profesi

 

Bahasa Indonesia Profesi

“Morfologi”

Dosen: H. M. Nur Kholis,S.Pd,M.M.Pd

 

 
   

 

 

 

 

 

 

Prodi: B. Inggris 2011-A

Oleh:

  1. Tutik Kristina N   (1171025)
  2. Reni Lailatul L     (117794)
  3. Rahmad Eko Y    (117814)
  4. Nur Rafika H       (117823)
  5. Giri Danang D     (117853)
  6. Eva Zuliana          (117854)

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA

2011

 

KATA PENGANTAR

 

Puja – puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Esa, atas rahmat dan hidayah nya kami dapat menyelesaikan tugas akhir ini.

 

Tugas akhir ini di susun bertujuan untuk memenuhi tugas “Bahasa Indonesia” yang di berikan kepada kami. Dalam tugas ini kami membahas tentang “MORFOLOGI”.

 

Kami yakin walaupun kami telah berusaha semaksimal mungkin dalam pembuatan tugas ini tidak lepas dari kekurangan, oleh karena itu saran dan kritik yang bersifat membangun kami harapkan untuk memperbaiki tugas ini.

 

Dan akhirnya kami tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada teman – teman yang telah membantu terwujudnya makalah ini dan kepada Bapak H.M.Nur Kholis,S.Pd,M.M.Pd selaku dosen “ Bahasa Indonesia” . Semoga tugas ini dapat bermanfa’at bagi semua pihak.

 

 

 

penyusun

 

 

 

daftar isi

Kata Pengantar…………………………………………………….. 2

Daftar isi……………………………………………………………3

Bab I

Afiksasi……………………………………………………………..4-23

Bab II

Kelas kata dan kata………………………………………………..24-26

Bab III

Bentuk Derivasional………………………………………………..27-33

Bab IV

Bentuk Infleksional……………………………………………….34-38

Bab V

Kategori kata dalam bahasa Indonesia…………………………….34-46

Bab VI

Penulisan nama diri dan nama jenis………………………………46-54

English Version…………………………………………………..55-94

Daftar Pustaka…………………………………………………..95

 

 

 

Bab I

Afiksasi

(Proses Pembubuhan Imbuhan)

A. Pengertian Afiksasi

Afiksasi atau pengimbuhan adalah proses pembentukan kata dengan membubuhkan afiks(imbuhan)pada bentuk dasar, baik bentuk dasar tunggal maupun kompleks. Misal pembubuhan afiks meN- pada bentuk dasar jual menjadi menjual,bolak-balik menjadi membolak-balik. Pembubuhan afiks ber- pada bentuk dasar main menjadi bermain, main peran menjadi bermain peran. Berdasarkan contoh-contoh tersebut pembubuhan afiks dapat terjadi pada bentuk linguistik berupa bentuk tunggal(jual,main) dan kompleks (bolak-balik,main peran).

Afiksasi sangat produktif untuk pembentukan kata dalam bahasa Indonesia. Dikarenakan, bahasa indonesia bersistem “aglutinasi”. Yaitu sistem bahasa yang pada proses pembentukannya unsur-unsurnya dilakukan dengan cara menempelkan unsur atau bentuk lainnya.

Dalam proses afiksasi, afikslah yang menjadi dasarnya. Afiks adalah linguistik yang pada suatu kata merupakan unsur langsung dan bukan kata atau pokok kata, yang bisa membentuk kata atau pokok kata baru.

Kombinasi morfem adlah gabungan antara morfem bebas dengan morfem terikat atau morfem bebas dan morfem bebas sebagai bentuk kompleks.Misalnya kata menciummerupakan bentuk terikat. Bentuk cium dapat berdiri sendiri sedangkan bentuk meN- tidak dapat berdiri sendiri sehingga dikatakan sebagai bentuk terikat. Oleh karena itu meN- merupakan afiks. Setiap afiks merupakan bentuk teikat. Dan aiksasi dapat mengakibatkan
(1) mengalami perubahan bentuk,(2)menjadi kategori tertentu sehingga berstatus kata atau bila berstatus kata berganti kategori,(3) berubah makna.

B. Jenis-jenis Afiks

Dari segi penempatan afiks dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok. Jenis-jenis afiks adalah sebagai berikut.

1)  Prefiks (awalan), yaitu afiks yang diletakkan di depan bentuk dasar.

Contoh: meN-, ber-, ter-, pe-, per-, se-

2) Infiks (sisipan), yaitu afiks yang diletakkan di dalam bentuk dasar.

Contohnya : -el, -er, -em, dan –in.

3) Sufiks (akhiran), yaitu afiks yang diletakkan di belakang bentuk dasar.

Contohya : -an, -kan, -i.

4) Simulfiks, yaitu afiks yang dimanifestikan dengan ciri-ciri segmental yang dileburkan pada bentuk dasar.

Contohnya : kopi menjadi ngopi,sate menjadi nyate.

5) Konfiks, yaitu afiks yang terdiri atas dua unsur, yaitu di depan dan di belakang bentuk dasar.

Contohnya : ke-an pada bentuk dasar ada mrnjadi keadaan,per-an pada bentuk dasar sahabat menjadi persahabatan.

6) Imbuhan gabungan(kombinasi afiks), yaitu kombinasi dari dua afiks atau lebih yang bergabung dengan bentuk dasar.

Contohnya : pada kata memperkenalkanterdapat sebuah bentuk dasar kenal dengan dua prefiks (mem dan per)

7) Suprafiks atau superfiks adalah yang dimanefestasikan dengan ciri-ciri suprasegmental atau afiks yang berhubungan dengan mofem suprasegmental. Afiks tersebut tidak terdapat pada bahasa Indonesia.

* Catatan:

Suprafiks terdapat pada bahasa batak atau toraja.

Contoh: bitti                  ‘kecil’              dan      bittik                ‘kecil sekali’

               Malampo         ‘gemuk’           dan      malo’pok         ‘gemuk sekali’

8) Interfiks, yaitu jenis afiks yang muncul diantara dua unsur.

Contoh : interfiks –n dan –o pada gabungan Indonesia dan logi menjadi Indonesianologi; jawa dan logi menjadi jawanologi.

9) Transfiks, yaitu jenis infiks yang menyebabkan bentuk dasar menjadi tebagi. Bentuk tersebut terdapat pada bahasa Afro-Asiatika, antara lain bahasa Arab.

Contohnya : akar ktb dapat diberi transfiks a-a,l-a,a-l, dan lain sebagainya menjadi katab (ia menulis), katib(penulis).

Berdasarkan asalnya, afiks dalam bahasa Indonesia dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu

1) Afiks asli, yaitu afiks yang bersumber dari bahsa Indonesia. Misalnya, meN-, ber-, ter-, el-, em-, er-, -l, -kan, dan lain-lain.

2) Afiks serapan, yaitu afiks yang bersumber dari bahasa asing ataupun bahasa daerah. Misalnya, -man, -wan, -isme, -isasi, dan lain-lain.

 

C. Pembubuhan Prefiks

1. Prefiks Asli Bahasa Indonesia

a. Prefiks meN-

1) Bentuk prefiks meN-

Dalam pembentikan kata, prefiks meN- mengalami perubahab bentuk sesuai kondisi morfem yang mengikutinya. N (kapital) pada prefiks meN- tidak bersifat bebas, tetapi mengalami perubahan.

Kaidah perubahan meN-:

a)      Prefiks meN- berubah menjadi meng- jika diikuti oleh bentuk dasar yang bermula dengan fonem /k/, /g/, /h/, /kh/, dan semua vokal (a, i, u, e, o). Fonem /k/ mengalami peluluhan.

Contoh :

meN- + ambil                           mengambil

meN- + ikat                              mengikat

b)      Prefiks meN- benrubah menjadi me- jika diikuti oleh bentuk dasar yang bermula dengan fonem /l/, /m/, /n/, /r/, /y/, dan /w/.

Contoh :

meN- + makan                          memakan

meN- + ramaikan                      meramaikan

c)      Prefiks meN- berubah menjadi men- jika diikuti oleh bentuk dasar yang bermula dengan fonem /d/ dan /t/. Fonem /t/ mengalami peluluhan.

Contoh :

MeN- + tanam                          menanam

meN- + datang                         mendatang

d)     Prefiks meN- berubah menjai mem- jika diikuti oleh bentuk dasar yang bermula dengan fonem /b/, /p/, /f/. Fonem /p/ peluluhan

Contoh :

meN- + bantu                           membantu

MeN- + pukul                           memukul

e)      Prefiks meN- berubah menjadi meny- jika diikuti oleh bentuk dasr yang bermula dengan fonem /c/, /j/, /s/, dan /sy/. Fonem /s/ mengalami peluluhan.

Contoh :

meN- + sayangi                        menyayangi

meN- + sucikan                        menyucikan

f)       Prefiks meN- berubah menjadi menge- jika diikuti oleh bentuk dasar yang bersuku satu.

Contoh :

meN- + tik                                mengetik

meN- + pel                               mengepel

2) Fungsi prefiks meN-

Adalah membentuk kata kerja, baik kata kerja transitif maupun intransitif.

3) Arti prefiks meN-

Ditinjau dari dua segi, yaitu sebagai unsur pembentuk kata kerja intransitif dan transitif.

Sebagai unsur pembentuk Intransitif, prefiks meN- memiliki arti sebagai berikut:

a)      Mengerjakan sesuatu perbuatan atau gerakan: menari, menyanyi, merangkak.

b)      Menghasilkan atau me,buat sesuatu hal: mengguak, mencicit,meringkik.

c)      Jika kata dasarnya menyatakan tempat, memiliki ari menu ke arah: menepi,menyisi,meminggir.

d)     Berbuat seperti, berlaku seperti, atau menjadi seperti: merajalela,membantu,menyemak.

e)      Jika kata dasarnya adalah sifat atau bilangan,memiliki arti menjadi: memutih,merendah,meninggi.

f)       Variasai lain dari meN- + kata bilangan adalah menyatakan membuat untuk kesekian kalinya: menuju hari, meniga hari.

Sebagai unsur pembentuk kata kerja transitif, prefiks meN- mengandung arti:

a)      Melakukan suatu perbuatan: menulis, membuang, menangkap.

b)      Bekerja dengan apa yang terkandung dalam kata dasar: menyapu, memarang,menyabit.

c)      Membuat atau menghasilkan apa yang disebut dalam kata dasar: menyambal, menggulai.

b. Prefiks peN-

1) Bentuk Prefiks peN-

Seperti halnya prefiks meN-, prefiks peN- juga mengalami perubahan.

Kaidah perubahan peN:

a)      Prefiks peN- berubah menjadi peng- jika diikuti bentuk dasar yang bemula dengan fonem /k/, /g/, /h/, /kh/, dan semua vokal (a,i,u,e,o). Fonem /k/ mengalami peluluahn

Contoh:

peN- + ambil                            mengambil

peN- +kothbah                         pengothbah

b)      Prefiks peN- berubah menjadi pe- jika diikuti oleh bentuk dasar yang bemula dengan fonem /l/, /m/, /n/, /ny/, /ng/, /r/, /y/, dan /w/.

Contoh:

peN- + ramal                           peramal

peN- + waris                            pewaris

c)      Prefiks peN- berubah menjadi pen- jika diikuti oleh bentuk dasar yang bermula dengan fonem /d/ dan /t/. Fonem /t/ mengalami peluluhan.

Contoh:

peN- + datang                          pendatang

peN- + tanam                           penanam

d)     Prefiks peN- berubah menjadi pem- jika diikuti oleh bentuk dasar yang bermula dengan fonem /b/, /p/, /f/. Fonem /p/ mengalami peluluhan.

Contoh:

peN- + bantu                            pembantu

peN- + pukul                            pemukul

e)      Prefiks peN- berubah menjadi peny- jika diikuti oleh bentuk dasar yang bermula dengan fonem /c/, /j/, /s/. Fonem /s/ mengalami peluluhan.

Contoh :

peN- + sayang                          penyayang

peN- + sandar                           penyandar

f)       Prefiks peN- berubah menjadi penge- jika diikuti oleh bentuk dasar yang bersuku satu.

Contoh:

peN- + tik                                 pengetik

peN- + pel                                pengepel

2) Fungsi Prefiks peN-

Fungsi utama peN- adalah membentuk kata benda. Tetapi bisa berfungsi sebagai kata sifat.

Contoh:

Ia seorang penakut ——- kata benda                     Ia sangat penakut ——- kata sifat

Ia seorang pemalas ——- kata benda                     Ia sangat pemalas ——- kata sifat

3) Arti Prefiks peN-

Berfungsi membentuk kata benda dari kata dasar .

Arti prefiks peN- dapat digolongkan sebagai berikut:

a)      Menyatakan orang yang biasa melakukan tindakan yang tersebut pada bentuk dasar. Misalnya, pembaca, pengarang, pengukur.

b)      Menyatakan alat yang dipakai untuk melakukan tindakan yang tersebut pada bentuk dasar. Misalnya, pemotong, pemukul, penjahit.

c)      Menyatakan memiliki sifat yang pada bentuk dasarnya. Misalnya, pemalas, penakut, pemalu.

d)     Menyatakan yang menyebabkan adanya sufat tersebut pada bentuk dasar. Misalnya, pengeras, penguat, pendingin.

e)      Menyatakan memiliki sifat berlebihan yang tersebut pada bentuk dasar. Misalnya, pemalu, penakut, pemberani.

f)       Menyatakan yang biasa melakukan tindakan yang brhhubungan dengan benda yang tersebut pada bentuk dasar.Misalnya, pelaut, penyair, pengusaha.

c. Prefiks ber-

1) Bentuk

Prefiks ber- juga dapat mengalami perubahan bentuk.Terdapat tiga bentuk yang dapat terjadi jika prefiks dijdikn bentuk dasar. Yaitu be-, ber-, bel.

Kaidah perubahan ber-:

a)      Prefiks ber– berubah menjadi be- jika ditempatkan pada bentuk dasar yang bermula dengan fonem /r/ atau suku pertamanya /er/.

Misalnya:

ber- + ranting                            beranting

ber- + rantai                              berantai

b)      Bentuk ber- berubah menjadi ber-(tidak mengalami perubahan) jika ditempatkan pada bentuk daasar yang suku pertamanya bukan fonem /r/ atau tidak mengandung /er/.

Misanya:

ber- + main                               bermain

ber- + dasi                                berdasi

c)      Prefiks ber- berubah menjadi bel- jika diletakkan pada bentuk dasar ajar.

ber- +  ajar                                belajar

2) Fungsi

Adalah membentuk kata-kata yang termasuk ke dalam golongan kata kerja. Contohnya, bermain, bersiul, berjalan.

3) Arti

Makna prefiks ber- dapat dikelompokkan seperti berikut:

a)      Mengandung arti mempunyai atau memiliki. Contohnya: bernama, beristri, beribu.

b)      Memakai sesuatu yang disebut dalam kata dasar. Contohnya: berkereta, bersepeda, berkalung.

c)      Mengerjakan atau menggandakan sesuatu. Contohnya: berwajah, berkuli, bernafas.

d)     Memperoleh atau menghasilkan sesuatu. Contohnya: berhujan, beruntung, bersiul.

e)      Berada pada keadaan sebagai yang disebut dalam kata dasar. Contohnya: beramai-ramai,bergegas-gegas.

f)       Jika kata dasarnya adalah bilangan atau kata benda yang menyatakan ukuran, ber- mengandung arti himpunan. Contohnya: bersatu, bermeter-meter, bertahun-tahun.

g)      Menyatakan perbuatan yang tidak transitif. Contohnya: berjalan, berkata, berdiri.

h)      Menyatakan perbuatan mengenai diri sendiri atau refleksif. Contohnya: berhias, bercukur, berlindung.

i)        Menyatakan perbuatan berbalasan atau resiprok. Contohnya: berkelahi, bertinju, bergulat.

j)        Mengandung arti katabila dirangkai di depan sebuah kata berobjek. Contohnya: berkedai nasi, bermain mata, bermain bola.

d. Prefiks ter- dan di-

1) Bentuk prefiks ter- dan di-

Prefiks ter mempunyai alomorf ter- dan tel-. Bentuk ter- hanya terjadi pada kata-kata tertentu seperti terlanjur dan terlentang, sedangkan di-tidak pernah mengalami perubahan bentuk ketika diletakkan dengan bentuk lain.

2) Fungsi Prefiks ter- dan di-

Yaitu sama-sama membentuk kata kerja pasif. Yaitu kata kerja yang subjeknya dikenai tindakan. Contoh (1) Burhan ditangkap polisi (2) Buku itu terbawa lola kemarin.

3) Arti Prefiks ter- dan di-

a)      Menyatakan aspek perfektif. Misalnya pada kalimat berikut:

Kerajaan Mataram kini terbagi menjadi empat kerajaan.

Kata terbagi dalam kalimat tersebut berarti sudahdibagi atau dengan kata lain menyatakan prespektif.

b)      Menyatakan ketidaksengajaan. Misalnya: terpijak; tidak sengaja dipijak.

c)      Menyatakan ketiba-tibaan. Misalnya: terbangun, tertidur,teringat.

d)     Menyatakan suatu kemungkinan.

Misalnya:

Tidak ternilai                : tidak dapat dinilai

Tidak terduga               : tidak dapat diduga

e)      Menyatakan makna paling. Misalnya: tertinggi, terluas,terpandai.

 

e. Prefiks per-

Prefiks per- sangat berkaitan dengan prefiks ber-. Jika kata kerjanya berawalan ber- dan tidak pernah ditemukan dalam bentuk meN-, kata bendanya menjdai per-.

Misalnya: kata dasar tapa

Bentuk ber- dari kata tersebut adalah bertapa(kata kerja), tidak ditemukan dalam bentuk meN-, yaitu menapa.Oleh karena itu kata bendanya adalah pertapa.

Kelas kata benda dengan per- luluh ke menjadi per-.

Misalnya:

Bertapa———pertapa———petapa

Bertani———-pertani———petani

Selain membentuk kata benda prefiks per- juga beerfungsi membentuk kata kerja kausatif. Misalnya, perkecil,percantik.

f. Prefiks ke-

Prefiks ke- tidak mengalami perubahan jika digabungkan dengan bentuk dasar.

Prefiks ke- berfungsi membentuk kata benda dan juga kata bilangan. ke- membentuk kata benda, Misalnya, ketua, kehendak, dan kekasih. Ke- membentuk kata bilangan, misalnya, keempat, kelima, keenam.

Makna prefiks ke-:

1)     Menyatakan kumpulan yang terdiri atas jumlah yang tersebut pada bentuk dasarnya:

Kedua (orang)             : kumpulan yang terdiri atas dua orang

Keempat (pasang)       : kumpulan yang terdiri dari empat pasang

2)      Menyatakan urutan. Misalnya:

Ia menduduki ranking kedua

g. Prefiks se-

Prefiks se- berasal dari kata sa yang berati satu, tetapi karena tekanan struktur kata, vokal a dilemahkan e.

Prefiks se- pada umumnya melekat pada kata benda seperti serumah, seminggu, sehari. Dan kata sifat seperti, setinggi, seluas, seindah.

Arti prefiks se- adalah sebagai berikut:

1)      Menyatakan makna satu. Misalnya: serombongan, sebuah, sekampung.

2)      Menyatakan makna seluruh. Misalnya:sedunia, sekampung, sekota.

3)      Menyatakan makna sama.

Misalnya: sepohon kelapa      :sama dengan pohon kelapa

4)      Menyatakan makna setelah. Misalnya; sesampainya, setibamu, sepulangku.

2. Prefiks Serapan

Bahasa Indonesia banyak menyerap kata-kata maupun afiks dari bahasa lain, baik bahas daerah maupun bahasa asing.

Prefiks serapan terssebut antara lain:

1)      Pra       : ‘yang mendahului’ atau ‘sebelumnya’.

  Contoh: prasejarah, prasangka, prasarana.

2)      Tuna    : ‘tidak sempurna’ atau ‘kurang’

  Contoh: tunanetra, tunarungu, tunasusila.

3)      Pramu  : ‘petugas’

  Contoh: pramuria, pramusiwi, pramuniaga.

4)      Maha   : ‘besar’

  Contoh; mahasiswa, mahaguru, maharaja.

5)       Non    : ‘tidak’

  Contoh: nonaktif,nonteknis, nonakademis.

6)      Swa     : ‘sendiri’

  Contoh:swasta, swasembada, swatantra.

D. Pembubuhan Infiks

Infiks dalam bahasa Indonesai adalah -el-,-em-,-er-. Pembentukan kata kata dengan Infiks adalah dengan menyisipkan infiks tersebut diantara konsonan dan vokal pada suku pertama kata dasar.

Misalnya:

Gigi + -er-                           = gerigi

Tunjuk + -el-                       = telunjuk

Guruh + -em-                      = gemuruh

Dari contoh tersebut, terlihat bahwa Infiks dalam bahasa Indonesia tidak mengalami perubahan bentuk.

Arti Infiks sebagai berikut:

1)      Menyatakan banyak dan bermacam-macam.

Misalnya: tali –temali-, gigi –gerigi-.

2)      Menyatakan intensitas atau frekuensi.

Misalnya:

Guruh – gemuruh

Terang – temerang

3)      Mempunyai sifat atau memiliki hal yang disebut dalam kata dasar dan dapat pula berarti yang melakukan.

Misalnya:

Patuk – pelatuk

Turun – temurun

 

E. Pembubuhan Sufiks

Sufiks atu akhiran adalah morfem terikat yang diletakkan dibelakang suatu bentuk dasar dalam membentuk kata. Sufiks asli dalam bahasa Indonesai yaitu, -an, -i, -kan, dan –nya. Sedangkan sufiks serapan yaitu, -man,-wan, -wati, -isasi, -isme, dan lain – lain.

1. Sufiks Asli

a. Sufiks –an.

1)    Bentuk

Sufiks –an tidak mengalami perubahan bentuk dalam penggabungannya dengan unsur-unsur lain.

2)      Fungsi

Berfungsi untuk membentuk kata benda atau membendakan.

3)      Arti

a)      Menyatakan tempat: kubangan, pangkalan, labuhan.

b)      Menyatakan kumpulan atau seluruh: lautan, daratan, kotoran.

c)      Menyatakan alat: kurungan, timbangan, pikulan.

d)     Menyatakan hal atau cara: didikan. Pimpinan.

e)      Akibat atau hasil perbuatan: buatan, hukuman, balasan.

f)       Sesuatu yang di…atau sesuatu yang telah…: larangan, pantangan, makanan.

g)      Menyerupai atau tiruan dari: kuda-kudaan, sapi-sapian.

h)      Tiap-tiap: harian, bulanan, kodian.

i)        Ssesuatu yang mempunyai sifat sebagai yang disebut pada kata dasar: manisan, asinan, lapangan.

j)        Menyatakan Intensitas: sayur-sayuran, buah-buahan.

 

b. Sufiks –kan

1)    Bentuk

       Sufiks –kan tidak mengalami perubahan bentuk.

1)      Fungsi

Berfungsi membentuk kata kerja transitif.

2)      Arti

a)      Menyatakan kausatif, yaitu membuat, menyebabkan, menjadikan sesuatu. Misalnya, menerbangkan, melemparkan,membukukan.

b)      Suatu variasi dari kausatif adalah menggunakan sebagai alat atau membuat dengan. Misalnya, menikamkan tombak, memukulkan tongkat.

c)      Menyatakan benefatif atau membuat untuk orang lain. Misalnya. Membelikan, meminjamkan.

d)     Merupakan ringkasan dari kata tugas akan. Misalnya, sayangkan, kasihkan, sadarkan.

c. Sufiks –i

1) Bentuk

Sufiks –i tidak mengalami perubahan bentuk.

2) Fungsi

Berfungsi untuk membentuk kata karja transitif. Sufiks –i mempunyai persamaan dengan sufiks –kan, yaitu sama-sama membentuk kata kerja transitif. Akan tetapi sufiks –i objeknya bersifat diam, sedangkan sufiks –kan objeknya bersifat bergerak.

Contoh: (1) Anak itu menaiki tangga

              (2) Anak itu menaikkan tangga

 

3) Arti

a) Menyatakan objekdari kata kerja menunjukkan suatu tempat atau arah berlangsungnya suatu peristiwa. Contohnya: Saya mengelilingi kota.

b) Terkadang arti lokatif tersebut mendapat arrti khusus, yaitu memberi kapada atau menyebabkan sesuatu menjadi. Contohnya: menyakiti hati.

c) Menyatakan intetensitas, pekerjaan yang dilangsungkan berulang-ulang(frekuentatif), atau pelakunya lebih dari satu orang. Contohnya: Tentara itu menembaki musuh.

d) Menimbulkan arti yang berlawanan.

    Contoh:

    Saya membului ayam = mencabuti bulu ayam

d. Sufiks -nya

bentuk –nya yang merupakan akhiran berfungsi sebagai berikut:

1)      Untuk mengadakan transposisi atau jenis kata lain menjadi kata benda (substantiv, yaitu pembedaan suatu kata, baik dari kata kerja maupun dari kata sifat)

Contoh: Baik buruknya

2)      Menjelaskan atau menekan kata yang di depannya

Contoh: Ambillah obatnnya dan minumlah

3)      Menjelaskan situasi

Contoh: Ia belajar dengan rajinnya

4)      Selain itu, terdapat beberapa kata tugas yang dibentuk dengan mempergunakan akhiran –nya. Misalnya: agaknya, rupanya,sesengguhnya.

 

 

 

2. Sufiks Serapan

a. Sufiks –man, -wan, -wati

Sufiks –man, -wan, -wati berasal dari bahasa sansekerta. Dalam bahasa Sansekerta, sufiks –man dan –wan dipakai untukmennjukkan jenis kelamin laki-laki, sedang wanita ditunjukkan dengan bentuk –wati. Misalnya: budiman,seniwati,negarawan.

b. Sufiks –a,-i

Sufiks –a dan –i juga berasal dari bahasa senskerta. Penggunaan sufiks tersebut beranologi dari dewa-dewi. –a menyatakan laki-laki,-i menyatakan perempuan. Contohnya: putra-putri, mahasiswa-mahasiswi

c. Sufiks –in/at

Sufiks –in/-at berasal dari bahasa arab. Sufiks tersebut adalah bentuk jamak yang menyatakan jenis kelamin. Contohnya: muslimin-muslinat

d. Sufiks –i

Sufiks –i berararti sifat atau asalnya. Misalnya: hewani, badani, ilahi

e. Sufiks –ani

Sufiks –ani berati menurut atau bersifat. Contohnya: rohani

f. Sufiks –iah

Sufiks –iah berarti sifat, sal keadaan. Misalnya: badaniah,alamiah

g. Sufiks –is

Sufiks –is berarti sifat atau orang. Misalnya: egois, novelis,kapitalis

h. Sufiks-isme

Sufiks –isme menyatakan paham atau aliran. Misalnya: animisme. Liberalisme, sukuisme

 

 

F. Pembubuhan Imbuhan Gabung

Kata kompleks adalah suatu bentuk kata yang paling sedikit terdiri atas satu morfem bebas dan satu morfem terikat.

Morfem-morfem yang menjadikan kata kompleks dapat dibedakan menjadi morfem gabungan atau konfiks. Ciri-ciri morfem gabungan yaitu: (1) tidak secara bersam-sama membentuk nosi atau arti yang baru, (2) imbuhan gabung biasanya membentuk kata kerja jenis verba.

1)      Imbuhan gabungan me-kan,di-kan,memper-kan,diper-kan

Mempunyai arti sebagai berikut:

1)      Mengandung arti kausatif, yaitu menyebabkan terjadinya suatu proses. Misalnya: meninggikan

2)      Menjadikan sesuatu atau menganggap sebagai. Misalnya: memperbudakkan

3)      Mengandung arti intensitas, menegaskan arti yang disebut dalam kata dasar, dan dapat berarti menyuruh. Misalnya: memperebbutkan

2)      Imbuhan gabung memper-i atau diper-i

Mempunyai arti sebagai berikut:

1)      Mengandung arti kausatif, yaitu menyebabkan sesuatau yang terkandung dalam kata dasar. Misalnya: memperbaiki

2)      Menyatakan intensitas dan terdapat pula intensitas yang mengandung arti berulang-ulang. Misalnya: Mempelajari

3. Imbuhan gabung ber-kan

Mempunyai arti sebagai berikut:

1)      Penguat dan dapat berarti atau memakai sebagai. Misalnya, berdasarkan

2)      Keringkasan dari kan. Misalnya, berharapkan

3)      Terdapat pula imbuhan gabung ber-kan yang hanya sekedar dipakai sebagai pemanis. Misalnya, bertaburkan

4. Imbuhan gabung ber-kan

Mempunyai arti sebagai berikut:

1)      Saling(timbal balik), terutama jika kata terus diulang. Misalnya, berkirim-kiriman

2)      Perbuatan terjadi berulang-ulang, tetap berlangsung, atau pelakunya banyak. Mi arti, tetapi tergolongisalnya, berebutan

G. Pembubuhan Konfiks

Konfiks adalah kesatuan afiks yang secara bersama-sama membentuk sebuah kelas kata.

Beberapa contoh konfiks:

1)      Ke – an     : Kedudukan. Jika kata tersebut dipecah akan menjadi:

   Keduduk      : tidak mempunyai arto]i

   Dudukan      : tidak mempunyai arti

2)      peN-an     : Perampokan (substantiva abstrak)

  perampok      : mempunyai arti tetapi tergolong kelas substraktiva konkret

  Rampokan     : mempunyai arti, tetapi tergolong substativa konkret.

3)      Per-an       : perikanan ( substativa abstrak)

  Perikan          : tidak mempunyai arti leksikal

  Ikanan           : tidak mempunyai arti leksikal

4)      Ber-an      : berguguran (verba reflektif)

  Bergugur       : tidak mempunyai arti

  Guguran        : mempunyai arti(substativa abstrak), tetapi tidak berhubungan dengan berguguran

5)      Per – an atau per – kan

Bentuk per-an adalah bentuk kata benda abstrak dari kata kerja ber- atu memperkan seperti: berdagang

Bentuk per-kan adalah bentuk imperatif(perintah) seperti perdengarkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab II

KATA KELAS DAN KATA

 

  1. Pengertian kata
    1. Kata sebagai satuan fonologis
    2. Kata sebagai satuan gramatis
    3. Kata sebagai satuan arti

Kata sebagai satuan fonologis,menurut :

è Kridalaksana(1985) , ciri fonologis :

–          Pola fonotatik tertentu

–          Tidak ada gugus konsonan pada pada suku akhir

–          Tidak memiliki ciri-ciri suprasegmental untuk menentukan batas suku kata

–          Jeda potensial

–          Bahwa fonem yang kedua merupakan bagian kata lain

è  Ramlan (1996), kata  :

Kata merupakan dua macam satuan,satuan fonologis dan gramatis.

è Alisyahbana (1978),kata :

adalah kesatuan kumpulan fonem atau huruf yang terkecil yang mengandung pengertian.

è Bloomfield (1996),kata :

minimal free form yaitu sebagai suatu bentuk yang dapat di ujarkan tersendiri dan bermakna tetapi bentuk tersebut tidak dapat di pisahkan atas bagian-bagian yang satu diantara nya(bermakna).

è (parera,1994 ; robin,1992 ; lyons,2995)

Keseluruhan bentuk tersebut di sebut kata

  1. Pegangan dalam perincian kelas kata      

Kelas kata adalah perangkat kata yang sedikit banyak berperilaku sintaksis sama. Sub kelas adalah bagian dari suatu perangkat kata yang berperilaku sintaksis sama.

 

  1. Kelas kata dalam bahasa Indonesia

Sudut pandang nya untuk membentuk bentuk derivasi dan infleksi,afiks dan kelas kata menjadi landasan teori nya. Para pakar tersebut diantaranya :

  1. Harimurti kridalaksana (1994),13 kelas kata :
  2. Verba
  3. Ajektiva
  4. Nomina
  5. Promina
  6. Numeralia
  7. Adverbia
  8. Interogativa
  9. Demonstrative
  10. Artikula
  11. Preposisi
  12. Konjungsi
  13. Kategori fatis

m. Interjeksi

 

  1. Hasan alwi dkk
  2. Kata benda (nomina)
  3. Kata kerja (verba)
  4. Kata sifat (ajektiva)
  5. Kata keterangan (adverbia)
  6. Kata tugas

 

  1. Gorys keraf
  2. Kata benda
  3. Bentuk
  4. Kelompok kata
  5. Transposisi
  6. Subgolongan kata benda
  7. Kata kerja atau verba
  8. Bentuk
  9. Kelompok kata
  10. Transposisi
  11. Kata sifat dan ajektiva
  12. Bentuk
  13. Kelompok kata
  14. Transposisi
  15. Subgolongan
  16. Kata tugas
  17. Bentuk
  18. Kelompok kata
  19. Partikel kah,tah,lah,pun

 

  1. Sutan takdir alisyahbana (STA)
  2. Kata benda dan subtantif (termasuk pronominal)
  3. Kata kerja atau verba
  4. Kata keadaan atau ajektiva (termasuk numeralia dan adverbial)
  5. Kata sambung atau konjungs(termasuk preposisi)
  6. Kata sandang atau partikel
  7. Kata seru atau interjeksi
  8. C.A Mees
  9. Kata benda atau nomen subtanvium
  10. Kata keadaan atau nomen adjectivum
  11. Kata ganti atau pronominal
  12. Kata kerja atau verbum
  13. Kata bilangan atau numeri
  14. Kata sandang atau articulus
  15. Kata depan atau praeposition
  16. Kata keterangan atau adverbium
  17. Kata sambung atau conjunction
  18. Kata seru atau interjection

 

 

Bab III

BENTUK DERIVASIONAL

A.Derivasional

Derivasional merupakan konstruksi yang berbeda distribusinya dari dasarnya(Samsuri,1980).Derivasi mendaftar berbagai proses pembentukan kata-kata baru dari kata-kata yang sudah ada(atau akar,asal)ajektiva dari nomina (seasonal dari season),nomina dari verba (singer dari sing),ajektiva dari verba (acceptable dari accept),dan sebagainya (Lynos,1995).Afiks-afiks yang dapat membentuk derivasional antara lain:ke-an dalam kebaikan,per-an dalam pertunjukan,pe-an dalam penurunan.

 

B.Afiks Formator Derivasional

Afiks formator adalah afiks-afiks yang membentuk kata,yaitu afiks-afiks pembentuk kata yang sifatnya mengubah kelas kata.Afiks-afiks formator derivasional antara lain :                                                                                                                                                               1) me-N digabungkan dengan kata benda                                                                                                         misalnya: 

– meN-  + gunting      =menggunting             (kata kerja)                                                                                                         – meN-  + sapu          =menyapu                   (kata kerja)                                                                             – meN-  + bor             =mengebor                 (kata kerja)

2) ber-digabungkan dengan kata benda                                                                                misalnya :

– ber-     + sepeda       =bersepeda               (kata kerja)                                               – ber-     + kebun         =berkebun                 (kata kerja)

 – ber-     + sampan      =bersampan              (kata kerja)

3) per-digabungkan dengan kata sifat                                                                              misalnya :

– per-     + panjang      =perpanjang              (kata kerja)     

-per-     + tinggi          =pertinggi                  (kata kerja)                    \

– per-     + besar          =perbesar                 (kata kerja)

4) peN-digabungkan dengan :                                                                                                            a)kata kerja                                                                                                                                 misalnya:

– peN-     + jilat             =penjilat                    (kata benda)                                                           – peN-     +pukul           =pemukul                  (kata benda)                                                    – peN-     +tunjuk          =penunjuk                 (kata benda)

            b)kata sifat                                                                                                                              misalnya:

– peN-      +nikmat        =penikmat                 (kata benda)                                                        – peN-      +marah        =pemarah                  (kata benda)                                                                          – peN-      +besar         =pembesar                (kata benda) 

5) ke- digabungkan dengan kata sifat    

 misalnya: – ke-      + tua        =ketua                       (kata benda) 

6) –i digabungkan dengan kata sifat                                                                                       misalnya:

-sayang     + -i              =sayangi                   (kata kerja)                                                            -cinta         + -i              =cintai                       (kata kerja)                                                                              -kasih        + -i              =kasihi                      (kata kerja)                                                                      

7) –kan digabung dengan:                                                                                                      a)kata benda                                                                                                                                  misalnya:

-gunting     + -kan        =guntingkan               (kata kerja)                                                       -lem           + -kan        =lemkan                     (kata kerja)

-bor            + -kan       =borkan                      (kata kerja)

b)kata sifat                                                                                                                          misalnya:                                                                                                                                  

-putih         + -kan       =putihkan                   (kata kerja)                                                              -jauh          + -kan       =jauhkan                    (kata kerja)                                                     -mulia        + -kan       =muliakan                  (kata kerja)     

8) –an digabungkan dengan kata kerja                                                                                  misalnya:

-makan     + -an          =makanan                 (kata benda)                                                              -tulis         + -an          =tulisan                      (kata benda)                                                             -tembak    + -an          =tembakan                (kata benda)                                                                                            

 

  1. D.    Afiks Majemuk Derivasional  

 Afiks majemuk derivasional adalah konfliks maupun imbuhan gabung yang membentuk kata,yaitu konfiks atau imbuhan gabung pembentuk kata yang sifatnya mengubah kelas kata.                                                                          Contoh afiks majemuk derivasional.

1) ke-an digabungkan dengan kata sifat                                                                                         misalnya:                                                                                                                                           

-putih      + ke-an         =keputihan               (kata benda)                                                -jujur       + ke-an         =kejujuran                (kata benda)                                                            -damai    + ke-an         =kedamaian             (kata benda)                                                                            

2) per-an digabungkan dengan:         

a)kata kerja                                                                                                           misalnya:

 -tunjuk     + per-an       =pertunjukan           (kata benda)                                                                                                    -sentuh    + per-an       =persentuhan          (kata benda)                                                                                                         -mandi     + per-an       =permandian           (kata benda)                                                                                             

b)kata sifat                                                              

  misalnya:                                                                                                                                             -panjang   + per-an      =perpanjangan        (kata benda)                                          -pendek    + per-an      =perpendekan         (kata benda)                                                                          -damai      + per-an      =perdamaian           (kata benda)                                                                     

3) peN- an digabungkan dengan :

a)kata kerja                                                                                                

 misalnya:                                                                                                   

-turun        + peN-an    =penurunan             (kata benda)                                                                                 -tembak    + peN-an    =penembakan          (kata benda)                                                                     -angkut     + peN-an    =pengangkutan        (kata benda)

b)kata sifat                                                                                                                      misalnya:                                                                                                                                                                     -bulat      + peN-an      =pembulatan           (kata benda)                                                                                                  -pendek  + peN-an      =pemendekan         (kata benda)                                                                               -hijau      + peN-an      =penghijauan          (kata benda) 

4) meN-kan digabungkan dengan :

a)kata benda                                                                                                                                    misalnya:                                                                                                                                               -buku      + meN-kan     =membukukan        (kata kerja)                                                                                                                        -gambar  + meN-kan    =menggambarkan   (kata kerja)                                                                                                                 -sampul  + meN-kan    =menyampulkan      (kata kerja)          

b)kata sifat                                                                                                                                  misalnya :                                                                                                                                                    -panjang  + meN-kan    =memanjangkan      (kata kerja)                                                                                                 -dekat      + meN-kan    =mendekatkan         (kata kerja)                                                                            -putih       + meN-kan    =memutihkan           (kata kerja)                                                                                                                         

c)kata bilangan                                                                                                                                     misalnya:                                                                            

-satu        + meN-kan    =menyatukan           (kata kerja)                                                                                      -dua         + meN-kan    =menduakan            (kata kerja)                                                                      

5) meN-i digabungkan dengan :                                                                                                                                                

a)kata benda                                                                                                                                          misalnya :                                                                                                                                         -bulu        + meN-i         =membului               (kata kerja)                                                                                                                  -kulit        + meN-i         =menguliti                 (kata kerja)                                                                                                -surat      + meN-i         =menyurati                (kata kerja)                                                                                                                                                 

b)kata sifat                                                                                                                                misalnya :                                                                                                                                       -dekat      + meN-i         =mendekati              (kata kerja)                                                                                         -kagum    + meN-i         =mengagumi            (kata kerja)                                                            -marah     + meN-i         =memarahi              (kata kerja)                                          

c)kata keterangan                                                                                                                                          misalnya :                                                                                                                  -sudah      + meN-i          =menyudahi            (kata kerja)

6) memper- digabungkan dengan :                                                                                                                                                              

a)kata benda 

misalnya:                                                                                                                                                                                                        – memper-   + budak        =memperbudak        (kata kerja)                                                                                 

b)kata sifat                                                                                                                          misalnya:                                                                                                                        – memper-   + indah         =memperindah          (kata kerja)                                                                                                               – memper-   + cantik        =mempercantik          (kata kerja)                                                                                     – memper-   + kecil           =memperkeci            (kata kerja)                

7) memper- kan digabungkan dengan kata sifat                                                                                                                 

Misalnya :                                                                                                                                    -banyak       + memper-kan  =memperbanyakkan   (kata kerja)                                                                                                        

8) memper-i digabungkan dengan kata sifat                                                                                                                                                                                                        

Misalnya :                                                                                                                                -baik            + memper-i       =memperbaiki             (kata kerja)                                                                                       

9) ter-kan digabungkan dengan                                                                                                                      

a)kata benda

Misalnya :                                                                                                                             -gambar       + ter-kan           =tergambarkan                                                                                 -ludah          + ter-kan           =terludahkan                                                                                                                                                                   -pasar          + ter-kan           =terpasarkan                                                                                                              

b)kata sifat                                                                                                                    

misalnya:                                                                                                                                             -lupa            + ter-kan           =terlupakan                                                                                                                     -sesal          + ter-kan           =tersesalkan

10) ter-i digabungkan dengan :

a)kata benda

misalnya :                                                                                                                                   -gambar         + ter-i             =tergambari                                                                                                           -ludah            + ter-i             =terludahi

b)kata sifat                                                                                                                                                                          misalnya :   

 -dekat            + ter-i              =terdekati                                                                                                          -sakit             + ter-i              =tersakiti                      

12) ber-kan digabungkan dengan kata benda                                                                    

Misalnya :                                                                                                                              -dasar           + ber-kan          =berdasarkan                                                                                                                                             -suami           + ber-kan         =bersuamikan                                                                                                                -sampul         + ber-kan         =bersampulkan                                          

13) di-kan digabungkan dengan :                                                                                                                                                                       

a)kata benda                                                                                                                       misalnya :                                                                                                                                     -gambar        + di-kan          =digambarkan                                                                                                                                                   -ludah           + di-kan          =diludahkan                                                                                                                            -darat            + di-kan          =didaratkan                                                                                                                                                                                  

b)kata sifat misalnya :                                                                                                    -hilang          + di-kan          =dihilangkan                                                                                    -luas             + di-kan          =diluaskan                                                                                              -rendah        + di-kan          =direndahkan

14) di-i digabungkan dengan :

a)kata benda                                                                                                                                                               misalnya :                                                                                                                                                                                      -hadiah         + di-i              =dihadiahi                                                                                                -air                + di-i              =diairi                                                                                                                        

b)kata sifat                                                                                                                                                                 misalnya :                                                                                                                                                     -senang        + di-i              =disenangi                                                                                                                                        -jauh             + di-i              =dijauhi       

 

 

 

 

 

 

 

Bab IV

BENTUK INFLEKSIONAL

A.Infleksional

Infleksional adalah konstruksi yang menduduki distribusi yang sama dengan dasarnya (Samsuri, 1980).Afiks-afiks yang membentuk infleksional adalah meN- pada kata mendengar,ber- pada kata berlari,ter- pada kata terangkat,peN- pada kata peladang,di- pada kata dipukul,-i pada kata tulisi,-kan pada kata ambilkan,-an pada kata lautan.

 

B.Afiks Formator Infleksional

Afiks formator adalah afiks-afiks yang membentuk kata,yaitu afiks-afiks pembentuk kata yang sifatnya tidak mengubah kelas kita.Contoh afiks formator :

1)meN- digabungkan dengan kata kerja

Misalnya:

–       meN-           + dengar        =mendengar       (kata kerja)

–       meN-           + pukul           =memukul          (kata kerja)

–       meN-           + karang        =mengarang       (kata kerja)

 

2)ber- digabungkan dengan kata kerja

Misalnya:

–       ber-             + lari               =berlari               (kata kerja)

–       ber-             + main            =bermain            (kata kerja)

–       ber-             + tinju             =bertinju              (kata kerja)

 

3)ter- digabungkan dengan:

a)kata kerja

misalnya:

–       ter-               + angkat         =terangkat          (kata kerja)

–       ter-               + jual              =terjual                (kata kerja)

–       ter-               + injak            =terinjak              (kata kerja)

b)kata sifat

misalnya:

–       ter-                + tinggi           =tertinggi            (kata sifat)

–       ter-                + indah           =terindah            (kata sifat)

–       ter-                + panjang      =terpanjang        (kata sifat)

 

4) peN- digabungkan dengan kata benda

    Misalnya:

–       peN-              + ladang        =peladang         (kata benda) 

–       peN-              + kail             =pengail             (kata benda)

–       peN-              + bor             =pengebor          (kata benda)      

 

5) di- digabungkan dengan kata kerja

    Misalnya:

–       di-                  + pukul          =dipukul              (kata kerja)

–       di-                  + tikam          =ditikam              (kata kerja)

–       di-                  + sodok         =disodok             (kata kerja)

 

6) – i digabungkan dengan kata kerja

    Misalnya:

–       tulis                + -i                 =tulisi                  (kata kerja)

–       cabut              + -i                =cabuti                (kata kerja)

–       cium               + -i                =ciumi                  (kata kerja)

 

7) – kan digabungkan dengan kata kerja

    Misalnya:

–       ambil              + -kan            =ambilkan           (kata kerja)

–       tembak           + -kan            =tembakkan        (kata kerja)

–       masuk            + -kan            =masukkan          (kata kerja)

 

8) – an digabungkan dengan kata benda

    Misalnya:

–       rambut           + -an              =rambutan          (kata benda)

–       laut                + -an              =lautan                (kata benda)

–       jamur             + -an              =jamuran             (kata benda)

C.Afiks Majemuk Infleksional  

Afiks majemuk adalah konfiks maupun imbuhan gabung yang membentuk kata,yaitu konfiks dan imbuhan gabung pembentuk kata yang sifatnya tidak mengubah kelas kata.Contoh afiks majemuk :

1)      ke-an digabungkan dengan kata benda

misalnya:

–       sultan               + ke-an          =kesultanan        (kata benda)

–       raja                   + ke-an          =kerajaan           (kata benda)

–       lurah                 + ke-an          =kelurahan         (kata benda)

 

2)      per-an digabungkan dengan kata benda                                                  misalnya :

–       rumah               + per-an        =perumahan       (kata benda)

–       ikan                  + per-an        =perikanan          (kata benda)

–       tanah                + per-an        =pertanahan       (kata benda)

3)      ber-an digabungkan dengan kata kerja

misalnya :

–       pukul                 + ber-an        = berpukulan       (kata kerja)

–       lari                     + ber-an        =berlarian            (kata kerja)

–       senggol             + ber-an        = bersenggolan    (kata kerja)

4)peN-an digabungkan dengan kata benda

Misalnya:                              

– nama                  + peN-an       =penamaan         (kata benda)                                             – makam               + peN-an       =pemakaman       (kata benda)

5)meN-kan digabungkan dengan kata kerja

Misalnya:

–       kerja                 + meN-kan     =mengerjakan     (kata kerja)

–       terjun                + meN-kan     =menerjunkan     (kata kerja)

–       tembak             + meN-kan     =menembakkan  (kata kerja)

6)meN-i digabungkan dengan kata kerja

Misalnya:

–       cabut                + meN-i         =mencabuti          (kata kerja)

–       tendang            + meN-i         =menendangi       (kata kerja)

7)memper-kan digabungkan dengan kata kerja

Misalnya:

–       debat               + memper-kan    =memperdebatkan

–       rebut                + memper-kan    =memperebutkan

–       tunjuk               + memper-kan   =mempertunjukkan

8)ter-kan digabungkan dengan kata kerja

Misalnya:

–       guling               + ter-kan             =tergulingkan

–       urai                   + ter-kan             =teruraikan

–       jatuh                 + ter-kan             =terjatuhkan

9)ter-i digabungkan dengan kata kerja

Misalnya:

–       lalu                   + ter-i                   =terlalui

–       lewat                + ter-i                   =terlewati

10)di-kan digabungkan dengan kata kerja

Misalnya:

–       terbang            + di-kan                =diterbangkan

–       lempar             + di-kan                =dilemparkan

–       jatuh                + di-kan                =dijatuhkan

11)di-i digabungkan dengan kata kerja

Misalnya:

–       pukul                  + di-i                     =dipukuli

–       cabut                  + di-i                     =dicabuti

–       tendang              + di-i                     =ditendangi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab V

KATEGORI KATA DALAM BAHASA INDONESIA

A.Kategori verba

Verba dapat diketahui lewat perilaku semantis dan sintaksis serta bentuk morfologisnya. Pada umumnya,verba memiliki cirri berikut.

  1. Verba berfungsi sebagai predikat atau inti predikat kalimat ,seperti

(1)   a, Pagi – pagi sekali mereka telah berlari  berkeliling lapangan .

b, Kami sedang bermain bola.

c, Bom meledak di Kuta.

Berlari,sedang bermain dan meledak pada contoh di atas berfungsi sebagai predikat; kata bermain pada sedang bermain merupakan inti predikat. Verba juga dapat berfungsi lain di luar predikat.

  1. Secara inheren, kata verba mengandung makna “ perbuatan ( aksi ), proses,atau keadaan yang bukan sifat atau bukan kualitas “
  2. Verba yang bermakna keadaan tidak dapat diberi prefiks ter – , untuk menyatakan makna ‘paling’. Jadi,tidak ada kata “terhidup”,”termati”, dan “terpingsan”.
  3. Secara umum,verba tidak dapat bergabung dengan kata penunjuk kesangatan. Akibatnya, bentuk seperti :Agak mandi,sangat mengambil atau menangis saat , menjadi tidak berterima.

.. Perilaku semantis verba

Setiap kata memiliki perilaku inheren  ( makna yang terkandung di dalamnya ). Verba makan atau mandi , misalnya secara inheren mengandung makna perbuatan, yang biasanya dapat menjawab pertanyaan  “ Apa yang terjadi pada subjek?  Jawabanya ; ia sedang mandi “. Demikian pula dengan “Bernyanyi,belajar mendekat,mencuri dan menarik “ ( juga mengandung perbuatan ),Misalnya , Kuda menarik beban  dan Adikku rajin mengaji.

Verba proses menunjukkan perubahan dari satu keadaan ke keadaan yang lain, misalnya menguning  menunjukan perubahan dari belum kuning menjadi kuning. Contoh lain adalah verba mati,meninggal ( terjadi hanya sekali,biasanya cepat ), jatuh,naik,turun,kebanjiran,mongering,terbakar,mengecil,terdampar, dan membengkak.

Verba mendengarkan, misalnya, mengandung makna adanya unsur kesengajaan. Jadi , Dia mendengarkan pidato berarti  dia sengaja mendengarkan pidato. Tetapi  Dia mendengar  berarti dia mendengar  ( walaupun tidak sengaja ) karena siapapun yang tidak tuli ia akan mendengar . verba, seperti mendengar,melihat , tahu, lupa, ingat, menyadari, dan merasa, tergolong verba pengalaman ( subjeknya mengalamai perubahan yang disebutkan verba ).

Verba dapat mengalami afiksasi, yang mengakibatkan verba itu mendapat makna tambahan. Misalnya , hadirnya sufiks – kan pada verba membuka dan memberi  mengakibatkan verba membukakan  memiliki arti membukakan untuk orang lain  dan memberikan berarti memberi kepada orang lain. Tambahan sufiks – i  pada verba mengambil mengambil, mengakibatkan mengambili berarti mengambili lebih dari sekali. dan prefiks – ter  pada terambil memunculkan makna tidak sengaja mengambil.

Perilaku sintaksis verba                                                               

Verba merupakan unsur  paling penting dalam kalimat karena verbalah yang menetapkan unsur lain yang harus,boleh atau dilarang hadir di dalam kalimat itu. Verba mengambil , misalnya, mengharuskan hadir subjek ( pelaku ) di depan dan melarang adanya objek di belakangnya, tetapi mengambili mengharuskan hadir subjek  ( pelaku ) dan objek. Prilaku sintaksis berkaitan erat dengan makna ketransitifan verba .

Ketransitifan

Ketransitifan verba ditentukan oleh nomina yang terdapat  di belakang verba ( sebagai objek kalimat aktif ). Nomina itu dapat menjadi subjek ( ketika kalimat dipasifkan ). Oleh karena itu, verba terdiri atas verba transitif  ( yang dapat dipasifkan ) dan verba taktransitif  ( yang tidak dapat dipasifkan ). Verba taktransitif  ada yang berpreposisi dan ada yang tidak.

Verba Transitif

Verba transitif memerlukan nomina sebagai objek ( pada kalimat aktif ) dan itu dapat menjadi subjek ( pada kalimat pasif ). Seperti :

(1)   a, Bi Minah sedang mencuci piring.

b, Rakyat sangat merindukan pimpinan yang adil dan jujur.

c, Pak lurah melarang warganya membuang sampah sembarangan.    

mencuci, merindukan, dan melarang pada contoh diatas adalah verba transitif karena masing – masing diikuti oleh nomina ( piring dan warganya ) atau frasa nominal ( pemimpin yang adil dan jujur ) yang berfungsi sebagai objek, yang dapat menjadi subjek ketika kalimat itu dipasifkan, seperti :

     ( 2 ) a, piring sedang dicuci oleh Bi Minah.                                                                                    b, Pemimpin yang adil dan jujur sangat dirindukan oleh rakyat.                          c, Warganya dilarang Pak Lurah membuang sampah sembarangan.    

Verba Taktransitif

Verba Taktransitf tidak memiliki nomina di belakangnya ( yang seharusnya dapat menjadi subjek kalimat pasif ).

     (1)a, Maaf , Dik, anak saya sedang mandi.

b, Kita  harus bekerja keras untuk mencapai cita – cita.

          c, Petani bertanam jagung dan ketela pohon. 

Verba mandi dan bekerja pada contoh (1a,b) diatas adalah verba taktransitif  Karen atidak diikuti nomina sebagai objek, sedangkan verba bertanam pada contoh (1c) diikuti oleh nomina jagung dan ketela pohon tetapi nomina tersebut buka objek, melainkan pelengkap ( nomina tersebut tidak dapat menjasi subjek ketika kalimat itu dipasifkan ). Oleh Karen itu betanam disebut dengan verba taktransitif.

Berikut ini  contoh verba transitif dan verba taktransitif :

contoh verba ekatransitif  :merestui, membawa ,membeli,membuktikan, mengerjakan,mmepermainkan,membelanjakan,mengadili dan memperbaiki.

a)      Contoh verba dwitransitif :membawakan, membelikan, mencarikan, mengambilkan,menyerahi, memenggil, menuduh, mengirimi, menyebut, dan menjuluki.

b)      Contoh verba semitransitif :makan, minum, menulis, menonton, menyimak dan membaca.

c)      Contoh verba taktransitif tak berpelengkap :berdiri. Menghijau,kemalaman,duduk,berlari,tenggelam,pergi,membaik,terkejut,datang,memburuk,terkicuh, kedinginan,membusuk dan timbul.

d)     Contoh verba taktransitif berpelengkap wajib : kejatuhan,berdasarkan,berkesimpulan,kehilangan,berdasarkan, berpandangan ( bahwa ) merukan,berpesan,bersendikan, ( bahwa ), dan menyerupai.

e)      Contoh verba taktransitif berpelengkap manasuka : beratap, naik, ketahuan, berharga, berbaju, berpola kehujanan,berhenti,bercat,kecopetan,berpakaian,berdinding,berpintu,mersa,berpagar.

Verba Berpreposisi.

 Verba berpreposisi adalah verba taktransitif  yang selalu diikuti oleh preposisi tertentu, seperti :

Belum tahu akan / tentang  hal itu                  berbicara tentang pertanian

Berminat  pada bidang seni                               bergantung pada aktivitas

Cinta pada tanah air                                             cinta akan kebenaran

Teringat akan  kasihmu  teringat pada orang tuanya

Suka akan kebersihan       suka pada keindahan

tergolong dalam kerabat keratonterbagi atas dua kelompok

terkenang akan/pada                                        terdiri atas dua pandangan

terjadi dari….                         Terbuat dari

Sesuai dengan peraturan yang ada                menyesal atas perbuatanya

Sehubungan dengan                                       berkaitan dengan

Mirip dengan                                                 bercerita tentang

Berkhotbah tentang                                        masuk ke ( dalam )

Keluar ke / dari                                               berangkat ke / dari

Datang ke / dari                                                memandang ke / dari

Datang ke / dari                                                serupa dengan

Sejalan dengan                                                  bertentangan dengan

Setingkat dengan                                               berlawanan dengan

Berhadapan dengan                                           berdiskusi tentang      

 

Diantara verba berpreposisi itu ada yang sama atau hampir sama artinya dengan verb transitif, seperti :

Berbicara tentang                                            membicarakan

Cinta pada / akan                                            mencintai

Suka akan                                                        menyukai

Tabu akan / tentang                                         mengetahui

Bertemu dengan                                              menemui

 

Di dalam pemakaiannya, ternyata sering ditemukan dua macam kesalahan, pertama, pemakaian bentuk transitif dengan tetap mempertahankan preposisi.

B. Kategori Adjektiva

Ciri Adjektiva :

Fungsi adjektiva di dalam kalimat adalah memberikan keterangan lebih khusus tentang sesuatu yang dinyatakan oleh nomina ( menjadi atribut bagi nomina ). Keterangan atau atribut dapat berupa deskripsi mengenai kualitas atau keanggotaan , contohnya : kecil,ikhlas,tulus,berat,merah,bundar,dan gaib. Pada rumah kecil,rasa tulus,baju merah,meja bundar,dunia gaib.

Adjektiva dapat berfungsi  predikatif ataupun adverbial. Fungsi predikatif dan adverbial itu dapat mengacu ke suatu keadaan , seperti , mabuk, sakit, basah baik dan sadar. Seperti :

(1)   a, Barangkali dia sedang mabuk.

b, Orang sakit itu sudah tidak tertolong lagi.

c, Ia basah kehujanan.

d, Semoga Anna berhasil dengan baik.

Adjektiva dapat digunakan untuk menyatakan tingkat kualitas dan tingkat bandingan acuan nomina yang diterangkannya. Tingkat kualitas ditegaskan, antara lain, dengan kata sangat dan agak ( yang diletakkan di depan adjektiva )

 

 

Perilaku semantis Adjektiva

Ada dua jenis utama adjektiva bertaraf ( pengungkapan kualitas ) dan ajdektiva tak bertaraf ( pengungkapan keanggotaan sesuatu di dalam golongan ). Perbedaan itu berkaitan dengan mungkin tidaknya suatu adjektiva menyatakan tingkat kualitas dan tingkat bandingan.

Adjektiva Bertaraf

Adjektifa bertaraf terdiri atas :

(1). Adjektiva pemeri sifat.

(2). Adjektiva ukuran.

(3). Adjektiva warna.

(4). Adjektiva waktu.

(5). Adjektiva jarak.

(6). Adjektiva sikap batin.

(7). Adjektiva cerapan .

Secara semantis, batas ketujuh kategori itu tidak selalu jelas dan sering bertumpang tindih. Namun, secra morfologis perbedaan itu tampak pada penurunannya.

Adjektiva Takbertaraf.

Adjektiva takbertaraf  menyebabkan acuan nomina diwatasinya berada di dalam atau di luar kelompok atau golongan tertentu. Kehadiran adjektiva itu tidak dapat bertaraf taraf  sehingga nomina acuannya harus berada di dalam atau diluar kelompok itu.

C. Kategori Adverbia

Adverbia terdapat pada tataran frasa dan Klausa. Pada tataran frasa, adverbial berfungsi menjelaskan verba,adjektiva, atau adverbia lain. Pada tataran klausa adverbia mewatasi atau menjelaskan fungsi sintaksis. Kata atau bagian kalimat yang dijelaskannya pada umumnya berfungsi sebagai predikat. Walaupun begitu, adverbia juga dapat menerangkan kata atau bagian sifat kalimat yang bukan predikat. Akibatnya, sejumlah adverbia dapat menerangkan nomina ataupun frasa preposisi.

 

BENTUK BENTUK ADVERBIA TERDIRI ATAS .

PERILAKU SINTAKSIS ADVERBIA

Perilaku Sintaksis adverbia dapat dilihat dari  posisinya terhadap kata atau bagian kalimat yang dijelaskan. Atas dasar itu dapat digambarkan dengan bagan sebagai berikut :

1)      Adverbia yang mendahului kata yang diterangkan , contohnya :

      Ialebih tegap dan lebih gagah dari pada adiknya.

      Danau ranau ternyata sangat indah.

2)      Adverbia yangmengikuti kata yang diterangkan, contohnya :

      Cantik nian gadis desa yang ramah itu.

      Kami tenang tenang saja menunggum kehadirannya.

3)      Adverbia yang mendahului atau yang mengikuti kata yang diterangkan, contohnya :

      Lawakan anak muda itu ternyata amat lucu.

      Ternyata lucu amat lawakan muda itu.

4)      Adverbia yang mendahului dan mengikuti kata yang diterangkan, contohnya :

      Polisi yakin bukan dia saja dalang dari pencurian itu.

      Yang kuraih itu, bagiku sesuatu yang sangat luar biasa sekali.

d. kategori nomina.

Batasan dan ciri nomina

Nomina ( kata benda ) dapat dilihat dari segi semanatis,sintaksis dan bentuk. Dari segi semantis nomina adalah kata yang mengacu pada manusia, binatang, benda dan konsep atau pengertian.

Bentuk Nomina

Nomina dapat berupa kata dasar dan kata turunan. Nomina turunan dihasilkan lewat afiksasi,perulangan, atau pemajemukan.

      Nomina Dasar : berujud pada satu morfem, nomina dasar terdiri atas nomina dasar umum dan nomina dasar khusus

      Nomina turunan : dihasilkan lewat afiksasi,perulangan atau pemajemukan. Yang perlu diingat adalah adalah bahwa kata turunan itu belum tentu diturunkan dari kata dasar. Lihat proses berikut :

Keterkaitan makna menjadi dasar penentuan sumber sehingga hampir setiap nomina turunan mempunyai sumber sendiri. Memang tidak mudah menentukan verba mana yang menjadi sumber penurunan nomina. Umumnya sumber nomina turunan adalah verba atau adjektiva, tetapi ada pula nomina yang diturunkan dari kategori lain karena nomina itu tidak mempunyai verba.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

            

 

 

Bab VI

Penulisan Nama Diri dan Nama Jenis

 

Nama Diri

Nama diri (proper name) dipakai untuk menamai orang, tempat, atau sesuatu, termasuk konsep atau gagasan. Nama diri itu tidak memiliki superordinat (tidak ada lagi nama diri di bawahnya). Sebuah nama diri selalu berdiri sendiri.

  • Yang Memiliki Nama Diri

Nama Diri Tuhan

Menurut kaidah ejaan, nama diri Tuhan, termasuk unsurnya, dituliskan dengan huruf kapital. Keterangan di belakang nama diri Tuhan dan kata ganti Tuhan dituliskan dengan huruf capital.

 Nama Diri Persona

Tulisan ini menggolongkan nama diri orang, nama diri nabi dan rasul, nama diri malaikat, nama diri dewa, nama diri setan, nama diri iblis (jika iblis punya nama), dan sebagainya.

Tidak terdapat kaidah penulisan nama diri nabi, rasul, malaikat, dewa, setan, iblis, dan sebagainya, tapi dalam contoh nama-nama itu selalu dituliskan dengan huruf awal kapital.

 Nama Diri yang Berhubungan dengan Kalender

Peristiwa penting, tahun, bulan, hari, zaman, dan masa memiliki nama diri. Menurut Pedoman Umum EYD, nama itu, termasuk unsurnya, dituliskan dengan huruf awal kapital.

 

 

 

 Benda Khas Geografi

Planet, benua, pulau, gunung, selat, laut, lautan, teluk, sungai, danau, bukit, dan lembah dapat memiliki nama diri. Nama diri itu, termasuk unsurnya, dituliskan dengan hurufawal kapital.

Penulisan nama khas geografi yang berupa nama kota, pada dasarnya, dituliskan dalam satu kata atau serangkai, kecuali yang terdiri atas tiga unsure atau lebih dan yang berupa arah mata angin.

Nama khas geografi yang menggunakan bahasa daerah ditulis sesuai dengan nama aslinya, tidak diindonesiakan karena ada pertimbangan sejarah, asal-usul daerha, atau budaya khas daerah estempat.

Nama Benda

Benda Bernyawa

Yang termasuk benda bernyawa (animate) adalah manusia dan hewan. Baik manusia, hewan, maupun tumbuhan dapat memiliki nama diri.

Nama diri orang amat tergantung pada maksud, tujuan, tradisi, atau adapt budaya di tempat itu. Nama diri hewan tidak berkaitan dengan nama jenis hewan, tetapi dapat berupa epitet.

Benda Takbernyawa

Yang termasuk benda takbernyawa, misalnya agama, kitab suci, dan aliran kepercayaan, dokumen, majalah, surat kabar, nama program, pertemuan, tempat dan/atau fasilitas umum, lembag organisasi, perkumpulan, bangsa, suku bangsa, bahasa, desa, kota, wilayah dsb., kerajaan, negara. Benda takbernyawa dapat memiliki nama diri.

Nama Jenis

Memang agak sulit membedakan nama jenis (nomenclature) dan nama diri (proper name) dengan baik. Di dalam teks, misalnya pada produk hokum dan surat-surat resmi, ejaan nama jenis sering terkacaukan dengan ejaan nama diri. Ada kecenderungan sesuatu yang dianggap bernilai, karismatis, dipuja, dihormati, dsb. dituliskan dengan huruf kapital. Padahal, ejaan dan anggapan adalah dua hal yang berbeda.

Hewan dan tumbuhan dapat dikelompokkan secara hierarkis berdasarkan kesamaan sifat dan/atau ciri di antara hewan atau tumbuhan itu, seperti spesies, genus, subkelas, dsb.

Nama jenis adalah kata benda (nomina) yang menunjuk sembarang anggota dalam kelas maujud bernyawa atau hidup, atau dalam kelas maujud takbernyawa.

Nama jenis dalam bahasa Indonesia dapat dibagi atas nama jenis benda alami (hewan, tumbuhan, penyakit) dan nama jenis benda olahan. Menurut Pedoman Umum EYD, nama jenis benda alami dibedakan sebagai berikut:

  1. menurut system binominal,
  2. mengikuti kaidah Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (tanpa disertai nama tempat atau nama khas geografi),
  3. mengikuti kaidah Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (nama tempat termasuk nama jenis).

Nama jenis benda olahan dapat dibagi menjadi:

  1. nama jenis tidak menyertakan nama tempat (dituliskan dengan huruf awal kecil),
  2. nama jenis menyertakan nama tempat,
  3. nama jenis menyertakan nama orang.

Nama Jenis Benda Bukan Alami

Nama jenis benda bukan alami (benda takbernyawa), misalnya nama jenis jabatan, nama jenis pangkat, nama jenis gelar, nama jenis profesi, nama jenis alat pertukangan kayu, nama jenis alat tulis, nama jenis bumbu dapur olahan, nama jenis bumbu dapur alami, nama jenis rumah.

Morfem

Dikenal juga satuan seperti kata, frasa, klausa, dan kalimat. Morfemmenjadi bagian pembentukatau konstituen satuan-satuan gramatikalyang lebih besar.

     Morfem dapatdikenal pemunculannya yang berulang. Dalam praktik, morfem diitemukan dalam jalan memperbandingkan satuan-satuan ujaran yang mengandung kesamaan dan pertentangan, yakni kesamaan dan per-tentangan dalam bentuk dan dalam makna. Jika kata

1)      Dibawa,

2)      Diambil,

3)      Dicuri,

4)      Didukung

Dibandingkan dengan kata

5)      Ambil

6)      Bawa

7)      Curi

8)      Dukung

Pertama-tama akan terlihat bentuk-bentuk yang sama susunan fonemnya, yakni /di/. Kedua, makna yang membedakan diambil dengan ambil juga terdapat dalam pasangan dibawa-bawa, dicuri-curi, dan didukung-dukung. Dengan kata lain, /di/ mempunyai makna. Bentuk /di/ ternyata tidak dapat dipecah menjadi bagian-bagian bermakna yang lebih kecil. Dengan perbandingan seperti di atas, kedudukan /di/ sebagai morfem untuk sementara dianggap terbukti.

Dengan memperbandingkan

9)      Di Enarotali

10)  Di Fakfak

11)  Di Gorontalo

Dengan

12)  Enarotali

13)  Fakfak

14)  Gorontalo

Akan terlihat juga bentuk dengan susunan fonem /di/ yang bermakna. Dari perbandingan diperoleh pula morfem yang berbentuk /di/. Namun, segera akan terlihat bahwa /di/ yang terdapat pada diambil, dibawa, dicuri, dan didukung mempunyai makna yang jelas berbeda dari makna /di/ yang terdapat dalam di Enarotali, di Fakfak, di Gorontalo. Kedua /di/ harus dilihat dari dua morfem yang berbeda. Untuk membedakan kedua morfem itu, dapat digunakan angka seperti {di1} dan {di2}.

Dari contoh pengenalan morfem di atas, kelihatan bahwa pekerjaan itu mudah dilakukan. Contoh yang dibicarakan adalah dari bahasa pengamat sendiri atau dari bahasa yang dikuasai pengamat.

Morfem atau Alomorf

Morfem merupakan satuan hasil abstraksi wujud lahiriah atau bentuk fonologisnya. Bentuk fonologis morfem dipandang sebagai anggota moorfem tersebut.

     Sebagian besar morfem mempunyai wujud lahiriah yang tetap di mana pun tempatnya, sedang sebagian lain berbeda wujud lahiriah jika berbeda tempatnya.

     Berdasarkan uraian di atas, dapat di katakan bahwa, misalnya, {ber} mempunyai tiga alomorf, yakni /bər/ (dalam bertemu, berjalan, dan lain-lain), /bə/ (dalam bekerja, beserta dan lain-lain), /bə/ (dalam belajar).

     Dapatlah sekarang di katakan bahwa setiap morfem mempunyai sekurang-kurangnya satu alomorf. Pemunculan alomorf-alomorf suatu morfem rupanya mengikuti persyaratan tertentu.

Jenis morfem

Morfem dapat di bedakan menurut jenisnya berdasarkan beberapa ukuran.

     Morfem juga dapat digolongkan menurut kemungkinannya berdiri sebagai kata. Morfem seperti {di} dan {ber} menurut penggolongan ini disebut morfem terikat, karen keduanya tidak dapat berdiri sendiri sebagai kata, melainkan selalu ada bersama dengan morfem lain.

     Menurut jenisnya fonem yang menyusunnya, di kenal morfem segmental, morfem suprasegmental, dan morfem segmental-suprasegmental. Morfem seperti {lihat}, {orang}, {ter}, dan {lah} adalah morfem segmental.

Bahasa Burma, Cina, dan Thai merupakan contoh bahasa yang bermorfem segmental-suprasegmental. Kata yang berbeda maknanya dinyatakan dengan bentuk segmental yang sama. Contoh;

{muɳ} ‘memberi atap; mengerumunnya’

{mÛɳ} ‘mengarah kepada’

[múɳ} ‘kelamba’

Unsur segmental dan suprasegmental bersama-sama membentuk ketiga morfem di atas.

Hubungan formal bagian-bagian morfem dapat juga di pakai sebagai ukuran penggolongan. Dalam penggolongan ini terdapat morfem utuh, seperti {ter}, {orang}, {lihat}, {pun}, yang bagian-bagian pembentukannya tidak bersambung.

Perbedaan antara morfem yang satu dengan morfem yang lainnya dapat juga ditinjau berdasarkan jumlah fonem yang membentuknya.

{i}                   1 fonem

{ke}                2 fonem

{aku}              3 fonem

Perlu dicatat bahwa banyak ahli bahasa beranggapan bahwa dalam beberapa bahasa terdapat morfem yang salah satu anggotanya tidak mempunyai wujud fonologis alomorf seperti itu di sebut alomorf nol, kosong atau zero.

15)  I have a book dan

16)  I have two books dengan

17)  I have a sheep dan

18)  I have two sheep;

Atau

19)  They call me Rambo dan

20)  They called me Rambo dengan

21)  They cut the grass (every Saturday) dan

22)  They cut the grass (last Saturday)

Dari perbandingan antara (15) dan (16) dengan (17) dan (18) diperoleh perbandingan berikut

Book : books = sheep : sheep = tunggal : jamak

Karena books terdiri dari dua morfem, sheep dalam contoh (18) pun terdiri dari dua morfem.

Morfem dapat juga dibedakan menurut macam maknanya. Ada golongan morfem yang mempunyai semacam makna dasar.

Morf

Tiap bentuk terkecil yang mempunyai makna, yang tidak atau belum dibicarakan dalam hubungan keanggotaan terhadap suatu morfem, disebut morf. Jika morf telah dilihat sebagai anggota morfem tertentu, morf tersebut sekarang berkedudukan sebagai alomorf.

Tampak bahwa sebenarnya morf dan alomorf adalah dua nama bagi wujud yang sama. Penemaan yang berbeda itu dimaksud untuk menunjukan beda tingkat analisisnya. Jika wujud itu tidak dikaitkan dengan morfem tertentu, wujud itu bernama morf.

Infleksi mengubah bentuk suatu kata untuk menetapkan hubungan-nya dengan kata-kata lain dalam kalimat.

23)  . . . are nuisance dan

24)  I saw many . . . in the hall

Namun, tidak mungkin berada dalam lingkungan seperti

25)  . . . is nacessary dan

26)  I saw a . . . in the hall

Proses derivasi mengubah suatu kata menjadi kata baru.

Proses morfologis ada yang produktif dan ada yang tidak produktif. Proses morfologis disebut produktif jika proses itu dapat dijalankan dalam pembentukan kata-kata baru. Afiksasi dalam bahasa indonesia pada umumnya bersifat produktif.

Morfem dan Makna Gramatikal

Pada bagian berjudul “ Jenis Morfem “ dalam bab ini telah di kemukakan dua golongan morfem berdasarkan macam maknanya; morfem dengan makna leksikal dam morfem dengan makna gramatikal.

Sebenarnya bukan hanya morfem-morfem afiks saja yang mempunyai makna gramatikal. Morfem seperti ke, atau, tetapi, itu, untuk, yang, dan dan – yang disebut partikel atau kata tugas juga mempunyai makna gramatikal saja.

Makna gramatikal bermacam-macam. Bahasa yang berbeda menggunakan macam dan warna kata yang berbeda. contoh berikut dalam makna dan pengungkapannya.

27)   Dian sedang bekerja disana.

28)  Dian is working there.

29)  Dian bekerja disana ( kemarin ).

30)  Dian worked there ( yesterday ).

31)  Mahasiswa harus belajar.

32)  Students must study.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Chapter I

affixation
(The application process Additives)

A. Definition of affixation
Adding affixation or word formation is the process by applying affixes (affixes) to form the basis of both the basic form of single or complex. For example affixing affixes to the basic form of sale to be sold, back and forth to flick through. Affixes affixing the basic form of air-play to play, play a role to play roles. Based on these examples affixing affixes can occur in the form of linguistic form of the singular (selling, playing) and complex (back and forth, playing the role).
Affixation very productive for the formation of words in the Indonesian language. Due, Indonesian applying “agglutination”. That is the language system in its formation process elements is done by attaching the element or any other form.
In the process of affixation, affix which it is based. Is a linguistic affix on a word is an element of direct and said not a word or subject, which could form the principal words or new words.
The combination of morphemes go round with a combination of free morphemes or bound morphemes are free morphemes and free morphemes as a form of words kompleks. For example mencium is bound form. Cium forms can stand alone while the shape to stand alone so it can not be regarded as bound forms. Therefore to an affix. Every affix is a form of teikat. And may result affix
(1) to change the form, (2) into certain categories so that the status word or status word when changing category, (3) changing the meaning.

B.AffixTypes
In terms of placement of affixes can be divided into several groups. The types of affixes are as follows.
1) Prefix (prefix), which affixes are placed in front of the base form.
Example: Men-, air-, ter-, pe-, per-, se-
2) Infix (inset), which affixes are placed in a basic form.
For example:-el,-er,-er, and-in.

3) Suffix (suffix), which affixes are placed behind the basic forms.
For example:-an, a,-i.
4) Simulfiks, which affixes the dimanifestikan with segmental characteristics are merged in the basic form.
For example: coffee into coffee, satay be nyate.
5) Konfiks, ie affixes which consists of two elements, namely in front of and behind the basic forms.
For example: the basic form of an on become circumstances exist, the basic form of friend’s on a friendship.
6) Additives combined (combination of affixes), which is a combination of two or more affixes are joined to form the basis.
For example: the word introduce in a familiar basic shape with two prefixes (mem and per)
7) Suprafiks or superfiks is a dimanefestasikan with suprasegmental features or affixes associated with suprasegmental mofem. Affixes are not present in the Indonesian language.
* Note:
Suprafiks contained in Batak language or Toraja.
Example: bitti ‘small’ and bittik ‘infinitesimal’
Malampo ‘fat’ and malo’pok ‘obese’
8) Interfiks, which is kind of affixes that appear between two elements.
Example: interfiks-n and-o in Indonesia and logy combined into Indonesianologi; Java and logy become jawanologi.
9) Transfix, is the type that causes infix form the basis of being decidei. Forms are included in the language of Afro-Asiatic, including Arabic.
For example: root KTB can be transfix aa, la, al, and so become katab (he writes), Katib (the writer).
Based on its origin, affixes in Indonesian can be grouped into two types, namely
1) Affix the original, which affixes are sourced from Indonesia language support. For example, Men-, air-, ter-, el-, em-, er-,-l, a, and others.

2) Affix uptake, ie affixes derived from foreign languages ​​or regional languages​​. For example,-man,-wan,-ism,-ization, and others.

C. affixing prefixes
1. Original Indonesian prefixes
a. Prefix to
1) forms a prefix to
In make words, prefixes to experience change morpheme shapes according to the conditions that follow. N (capital) in the prefix to be not free, but subject to change.
Rule changes to:
a) Prefix to turn to if followed by a basic form that began with the phoneme / k /, / g /, / h /, / kh /, and all vowels (a, i, u, e, o). Phoneme / k / experienced yielding.
example:
meN- + ambil                           mengambil

meN- + ikat                              mengikat

b) Prefix change to be had if followed by a basic form that began with the phoneme / l /, / m /, / n /, / r /, / y /, and / w /.
example:
meN- + makan                          memakan

meN- + ramaikan                      meramaikan

c) Prefix to turn to if followed by a basic form that began with the phoneme / d / and / t /. Phoneme / t / experienced yielding.
example:
MeN- + tanam                          menanam

meN- + datang                         mendatang

d) –Men Prefix changed become mem- if followed by a basic form that began with the phoneme / b /, / p /, / f /. Phoneme / p / leaching
example:
meN- + bantu                           membantu

MeN- + pukul                           memukul

e) -Men Prefix changed to absorb if followed by elementary form which starts with the phoneme / c /, / j /, / s /, and / sy /. Phoneme / s / experienced yielding.
example:
meN- + sayangi                        menyayangi

meN- + sucikan                        menyucikan

f) Men-Prefix changed to pulled-if followed by a monosyllabic base form one.
example:
meN- + tik                                mengetik

meN- + pel                               mengepel

2) The function prefix meN-
Is to form a verb, both transitive and intransitive verb.
3) The meaning of the prefix meN-
Viewed from two aspects, namely as an element forming intransitive and transitive verbs.
As an intransitive-forming elements, the prefix to have the following meanings:
a) Doing something works or movements: dancing, singing, crawlingb) Generate or me, for one thing: mengguak, squeaky, whinny.
c) If the word is basically stating the place, has a menu ari direction: step aside, step aside, step asided) To do such, as applicable, or be like: rampant, help, bush.(e) If the word is essentially the nature or number, has the sense of being: white, modestly, rising other than to Varies meN- + word number is expressed makes for the umpteenth time: toward the day, three day

As a transitive verb-forming element, a prefix to imply:
a) Perform an action: writing, throwing, catching
b) Work with what is contained in the base: sweep, cut, cutc) Create or produce what is called the root word: condiment, butter up

g)      b. Pen-Prefix
1) Shape Pen-Prefix
Just as the prefix to-, pen-prefix is also changing.
Rule changes in the pen:
a) Prefix Pen-turned-lawyer if the basic shape from followed by the phoneme / k /, / g /, / h /, / kh /, and all vowels (a, i, u, e, o). Phoneme / k / experience peluluahn
example:

peN- + ambil                            mengambil

peN- +kothbah                         pengothbah

b) Prefix Pen-turn into pe-if followed by a basic form from the phoneme / l /, / m /, / n /, / ny /, / ng /, / r /, / y /, and / w / .
example:
peN- + ramal                           peramal

peN- + waris                            pewaris

c) Prefix-pen turns into a pen-if followed by a basic form that began with the phoneme / d / and / t /. Phoneme / t / experienced yielding.
example:
peN- + datang                          pendatang

peN- + tanam                           penanam
d) Pen-Prefix changed to development if it is followed by a basic form that began with the phoneme / b /, / p /, / f /. Phoneme / p / experienced yielding.
example:
peN- + bantu                            pembantu

peN- + pukul                            pemukul

e) Pen-Prefix changed to ed-if followed by a basic form that began with the phoneme / c /, / j /, / s /. Phoneme / s / experienced yielding.
example:
peN- + sayang                          penyayang

peN- + sandar                           penyandar

f) Pen-Prefix changed to knowl-if followed by a monosyllabic base form one.
example:
peN- + tik                                 pengetik

peN- + pel                                pengepel

g)     
2) Prefix Functions Pen-
The main function is to form a pen-noun. But it could serve as an adjective.
example:
He was a coward noun ——- ——- He is very timid adjective
He was a slacker nouns ——- ——- He is very lazy adjective
3) Pen-Prefix Meaning
Serves to form nouns of basic words.
Pen-prefix meaning can be classified as follows:
a) Declare an ordinary person doing the action on the basic shape. For example, readers, authors, gauges

b) Declare the equipment used to perform these actions on the basic form. For example, cutters, beaters, tailor
c) puts its properties in its basic form. For example, lazy, timid, shy. d) Declare that cause sufat on basic shapes. For example, loudspeakers, amplifiers, cooling.
e) Declare properties that are redundant in the basic form. For example, shy, timid, brave.
f) Declare the usual brhhubungan perform actions with objects that are in the form dasar.Misalnya, sailor, poet, businessman.( pelaut, penyair, pengusaha)
c. Prefix ber-
1) Form
Prefixes were also able to experience a change bentuk.Terdapat three forms that can occur if the prefix dijdikn basic shapes. That is be-, air-, bell.
Rule changes were:
a) prefixes were changed to be-if placed on the basic form that began with the phoneme / r / or tribe first / er /.
For example:
ber- + ranting                            beranting

ber- + rantai                              berantai

b) The shape had changed to her (no change) if placed on the shape of the tribe first daasar not phoneme / r / or does not contain the / er /.
For example
ber- + main                               bermain

ber- + dasi                                berdasi

c) Prefix had turned into a bell-if placed on teaching basic shapes.
ber- +  ajar                                belajar

2) Function

Is a form of words which belong to the class of verbs. For example, playing, whistling, running.
3) Meaning
Prefix meaning were grouped as follows:
a) Contains or has a sense of belonging. For example: name, a wife, a thousand.
b) Wear something called the basic words. For example: riding, cycling, Berkalung.
c) Working on or duplicate something. For example:-faced, work as a coolie, breathe.
d) obtain or produce something. For example: rain, lucky, whistling.
e) Being on the circumstances as mentioned in said base. For example: rollicking, hurrying.
f) If the word is essentially the number or size stating noun, meaning the set of air-containing. For example: a unified, many meters, many years.
g) To declare the act that is not transitive. For example: running, say, standing.
h) To declare the act of self or reflexive. For example: ornate, shave, take cover.
i) Stating berbalasan or reciprocal action. For example: fighting, boxing, wrestling.
j) Contain the meaning katabila assembled in front of a word berobjek. For example: berkedai rice, flirting, playing ball.
d. Prefix ter-and in-
1) Form prefix ter-and in-
Ter have ter prefix allomorph-and-tel. Form was only occurs in certain words like already and supine, while in-never change shape when placed with other forms.
2) The function prefix and in-ter-
They both form a passive verb. That is a subject verb subject to the action. Example (1) police arrested Burhan (2) The book was carried trochus yesterday.
3) The meaning of prefixes and in-ter-
a) Declare Perfective aspect. For example in the following sentence:
Mataram kingdom is now divided into four kingdoms.

The word means the sentence is divided into has decided or in other words states perspective.
b) Declare accident. For example: trampled; accidentally climbed.
c) Declare the suddenness. For example: waking, sleeping, remembering.
d) To declare a possibility.
For example:
Invaluable       : not rated
Unexpected     : not to be expected

e) To declare the meaning of most. For example: the highest, widest, brightest.

e. Prefix per-
Prefix per-is strongly associated with air-prefix. If the verb beginning with her ​​and never to be found in the form, the noun is become  per-.
For example: basic word tapa
Forms were of the word is imprisoned (verb), not found in the form of download, is menapa.Oleh because it is the noun hermit.
Noun class with the yield to be per-.
For example:
 Ascetic——— ascetic———  hermit
Peasant ———farming- ———  farming
Apart form the noun prefix per-is also beerfungsi forming causative verbs. For example, zooming out, beautify.
f. Prefix ke
The prefix does not change when combined with basic shapes.
Prefix to the noun-forming function and also the word number. the noun form, for example, chairman, will, and lover. The word form of numbers, for example, fourth, fifth, sixth.
The meaning of the prefix ke-:

1) Declare a collection consisting of the amount that is in its basic form:
Two (people): a collection consisting of two people
The four (pairs): a collection consisting of four pairs
2) Declare the order. For example:
He ranks second
g. Prefix se-
A prefix derived from the word sa which means one, but because of the pressure structure of words, a weakened vowel e.
Prefix se-is generally attached to nouns like house, a week, a day. And adjectives such as, height, width, as beautiful.
A prefix meaning is as follows:
1) To declare the meaning of one. For example: a group, a, compatriot.
2) Declare the entire meaning. For example: worldwide, compatriot, derby.
3) Declare the same meaning.
For example: sepohon coconut: equal with coconut trees
4) To declare the meaning of after. For example: when he got, setibamu, sepulangku.
2. Prefix Absorption
Indonesian many absorbing the words and affixes from other languages, both local and foreign language study.
Prefix terssebut uptake include:
1) Pre: ‘preceding’ or ‘previous’.
  Example: prehistoric, prejudice, infrastructure.
2) Tuna: ‘imperfect’ or ‘less’
  Example: blind, deaf, prostitutes.
3) Pramu: ‘officers’
  Example: showgirl, pramusiwi, clerk.
4) The Supreme: ‘large’
  Example: students, professors, maharaj

5) Non: ‘no’
   Example: off, nontechnical, non academic.
6) Self: ‘own’
   Example: private, self-sufficiency, self-rule.
D. Infix affixing
Infix in Indonesia  is-el,-em,-er-. Formation of words with Infix is by inserting the infix between consonants and vowels in the first term basic words.
For example:
Teeth +-er-= serration
Appoints +-el-= index finger
Thunder +-em-= rumble
From these examples, it appears that Infix in the Indonesian language has not changed shape.
Infix meanings as follows:
1) Declare many and varied.
For example:-rigging, teeth, serrations.
2) Stating the intensity or frequency.
For example:
Thunder – roar
Light – temerang
3) Having the nature or have the matters referred to in said base and can also mean that it performs.
For example:
Peck – the trigger
Down – for generations

E. affixing Suffix
Atu suffix suffix is bound morpheme which is placed behind a basic form in a form words. Native suffixes in the language of Indonesia is that,-an,-i, his, and his. While the uptake of suffixes,-man,-wan,-wati,-ization,-ism, and others – others.
1. Original suffix
a. Suffix-an.
1) Form
Suffix-an unchanged form in a merger with other elements.
2) Function
Serves to form nouns or make into money.
3) Meaning
a) Declare the place: puddles, bases, harbor.
b) Declare the entire collection or: ocean, land, dirt.
c) Declare the tool: confinement, weights, yoke.
d) Declare it or the way: education. The leadership.
e) As a result of actions or the results of: artificial, punishment, replies.
f) Something in … or something that has …: prohibitions, taboos, food.
g) Resembling or a clone of: horses, cattle-sapian.
h) Each: daily, monthly, job lot.
i) Ssesuatu that have a nature as mentioned in the basic word: candy, pickles, field.
j) To declare Intensity: vegetables, fruits.
b. The suffix kan-
1) Form
The suffix does not change shape.
1) Function
Function form a transitive verb.

2) Meaning

a) Declare causative, ie make, cause, make something. For example, fly, throw, recorded.
b) A variety of causative is used as a tool or make a. For example, thrust his spear, hitting the stick.
c) Declare benefatif or create for others. For example. Buy, lend.
d) Is a summary of said task will be. For example, pity, kasihkan, unconscious.
c. Suffix-i
1) Form
Suffix-i does not change shape.
2) Function
Serves to form the word karja transitive. Suffix-i have similarities with the suffix, which together form a transitive verb. However, the suffix-i object is stationary, whereas the suffix object is moving.
Example:           (1) The boy climbed the stairs
                          (2) The child was raised ladder

3) Meaning
a) Declare objekdari verb indicates a place or direction of the course of an event. For example: I’m around the city.
b) Sometimes it gets arrti locative meaning, namely to give kapada or cause something to be. Examples: hurting.
c) Declare intetensitas, the work carried out repeatedly (frekuentatif), or the culprit more than one person. For example: The soldier opened fire on the enemy.
d) Of inflicting on the opposite meaning.
    Example:
    I pluck plucked chicken = chicken
d. Suffix- nya
its shape is a suffix function as follows:
1) To hold a transposition or other types of words into nouns (substantiv, namely the distinction of a word, either from the verb and the adjective)
Examples: Good bad
2) Explain or suppress the word in front of him
Example: Take and drink obatnnya
3) Explain the situation
Example: He studied with diligence
4) In addition, there are some words that formed the task of using its suffix. For example: apparently, apparently, sesengguhnya.
2. Absorption Suffix
a. Suffix-man,-wan,-wati

Suffix-man,-wan,-wati derived from the Sanskrit language. In Sanskrit, the suffix-man-wan and worn untukmennjukkan male gender, being female is shown with a form-wati. For example: mage, artist, statesman.
b. Suffix-a,-i
Suffix-a and-i is also derived from the language senskerta. The use of such suffixes beranologi of gods and goddesses. -A state of men, women-i states. For example: the sons and daughters, the students
c. Suffix -in/at
-in/-at Suffix comes from the Arabic language. The plural suffix is ​​stating the sexes. For example: Muslims-muslinat
d. Suffix-i
Suffix-i berararti nature or origin. For example: animal, carnal, divine
e. Suffix-ani
Ani suffix-or means according to nature. For example: the spiritual
f. Suffix-iah
-Iah suffix means that the nature, circumstances sal. For example: physical, natural
g. Suffix-is
Suffix-is meant the nature or people. For example: selfish, novelist, capitalist
h. Suffix-ism

Suffix-ism expressed ideology or stream. For example: animism. Liberalism, tribalism
F. Join affixing Additives
The word complex is a form of words which consist of at least one free morpheme and a bound morpheme.
Morphemes that make complex words can be combined or divided into morphemes konfiks. The characteristics of morphemes combined, namely: (1) does not bersam together to form a new notion or meaning, (2) affixes usually join to form the verb type verb.
1) Additives combined his right, on her, treat her, treated her
Have the following meanings:
1) Contain the causative sense, that is causing the occurrence of a process. For example: raising
2) Make something or think of it as. For example: memperbudakkan
3) Contain the meaning of intensity, confirming the sense referred to in said base, and can mean sent. For example: memperebbutkan
2) Additives join treat or treated-i-i
Have the following meanings:
1) Contain the causative sense, that is causing some thing that is contained in said base. For example: repairing
2) Stating the intensity and the intensity of which there are also connotes repetitive. For example: Studying
3. Affixes join the air
Have the following meanings:
1) The amplifier and can be mean or wear as. For example, based on
2) brevity of it. For example, berharapkan
3) There is also affixes join the air being merely used as a sweetener. For example, studded
4. Affixes join the air
Have the following meanings:
1) Mutual (reciprocal), especially if the word constantly repeated. For instance, write to each other
2) The act occurred repeatedly, still in progress, or did it a lot. Mi sense, but tergolongisalnya, scrambling
G. Affixing Konfiks
Konfiks is the unity of affixes which together form a word class.
Some examples konfiks:
1) Go to – an: Position. If the word is broken will be:
   Keduduk: do not have the Arto] i
   Holder: has no meaning
2) Pen-an: Robbery (substantiva abstract)
  robbers: but the sense of belonging to a class has a concrete substraktiva
  Robberies: have a meaning, but quite substativa concrete.
3) Per’s: fishing (substativa abstract)
  Perikan: has no lexical meaning
  Fisheries: do not have a lexical meaning
4) Ber’s: fall (verb reflective)
  Bergugur: has no meaning
  Avalanches: shall have the meanings (substativa abstract), but not related to falling
5) Per – an or per – it
Per-form is the form of an abstract noun from the verb air-atu memperkan such as: trade
Form the right is the imperative (command) as listen

 

 

 

 

 

 

 

 

 

CHAPTER II

WORDS AND WORD CLASS

A. Sense of the word
1. The word as a unit of phonological
2. The word as a grammatical unit
3. The word as a unit of meaning
Phonological word as a unit, according to:
è Kridalaksana (1985), phonological features:
– Pattern certain fonotatik
– There are no consonant clusters at the final syllable
– Not having suprasegmental characteristics to determine the syllable boundaries
– Pause potential
– That the second phoneme is part of another word
è Ramlan (1996), said:
The word is of two kinds of units, phonological and grammatical units.
è Alisyahbana (1978), said:
is a unitary set of phonemes or letters containing the smallest sense.
è Bloomfield (1996), said:
minimum free form ie as a form that can be separate and meaningful ujarkan but these forms can not be split over the parts that one of its (meaningful).
è (Parera, 1994; Robin, 1992; lyons, 2995)
The overall shape is called the word
B. Handle the details of word class
Word is the word class that behaves more or less the same syntax. Sub-class is part of a device that behaves syntactically similar words.

C. Class words in Indonesian
His point of view to form the shape of derivation and inflection, affixes and word class into its theoretical basis. The experts include:
1. Harimurti Kridalaksana (1994), 13 class said:
a. Verbs
b. Adjective
c. Noun
d. Promina
e. Numeralia
f. Adverb
g. Interogativa
h. Demonstrative
i. Artikula
j. Preposition
k. Conjunction
l. Category fatis
m. Interjection

2. Hasan et al alwi
a. Noun (noun)
b. Verbs (verbs)
c. Adjective (adjective)
d. Adverbs (adverb)
e. The word task

3. Gorys Keraf
1. Noun
a. Form
b. Group says
c. Transposition
d. Subgolongan noun
2. The verb or verb
a. Form
b. Group says
c. Transposition
3. Adjectives and adjective
a. Form
b. Group says
c. Transposition
d. Subgolongan
4. The word task
a. Form
b. Group says
c. Particles kah, tah, lah, even

4. Sutan destiny alisyahbana (STA)
a. Noun and substantive (including pronominal)
b. The verb or verb
c. Word or the adjective condition (including numeralia and adverbial)
d. Conjunctions or konjungs (including prepositions)
e. The article or particles
f. Exclamation or interjection

5. C.A Mees
a. Noun or nomen subtanvium
b. Said state or nomen adjectivum
c. Pronoun or pronominal
d. Verb or Verbum
e. The word numbers or numeri
f. The article or articulus
g. Preposition or praeposition
h. Adverbs or adverbium
i. Or conjunctive conjunction
j. Exclamation or interjection

 

 

 

 

CHAPTER III

FORM derivational

A. derivational
Derivational a different construction of the basic distribution (Samsuri, 1980). Derivations lists the various process of forming new words from the words that already exist (or root, origin) adjective from the noun (seasonal of season), nouns from verbs (singer from s), adjective from verbs (acceptable from accept), and so on (Lynos, 1995). Affix-derivational affixes that can form among others: to-an in goodness, per-an in the show, pe’s in decline.

B. Affix Formator derivational
Formator affixes are affixes that form words, affixes, ie affixes, word-forming affixes that are changing the class-kata.Afiks formator derivational affixes are: 1) to N combined with a noun such as:
– Men + scissors = cut (verb)

– to + broom = sweep (verb)

 – to + drill = drill (verb)
2) were combined with a noun for example:
– Air-+ bike = bicycle (verb)

 – air-garden + garden = (verb)

– air-boating + boats = (verb)
3) per-coupled with adjectives such as:
– Per-+ length = extend (verb)

 – per-+ height = pertinggi (verb)

 – a large-+ = Enlarge (verb)
4) Pen-coupled with: a) the verb for instance:
– Pen-+ lick = sycophant (noun)

 – Pen-+ at = bat (noun)

 – Pen-+ point = pointer (noun)
b) adjectives such as:
– Pen-+ delicious = connoisseur (noun)

– Pen-+ anger = bad-tempered (noun)

– Pen-+ = large magnifying (noun)
5) to-be combined with adjectives such as:

– the old + = head (noun)
6)-i combined with adjectives such as:
-Dear dear +-i = (verb)

+-i-love = love (verb)

+-i-love = love (verb)
7) the combined with: a) noun example:
-Scissors + a = guntingkan (verb)

-glue + a = lemkan (verb)

-drill + a = borkan (verb)
b) adjectives such as:
-White + a = putihkan (verb)

-far + a = away (verb)

-a = + noble Gentlemen (verb)
8)’s coupled with a verb such as:
-Ate +-an = food (noun)

‘-write +-an = writing (noun)

-shot +-an = shot (noun)

C. Compound Compound Affix derivational

 affixes are derivational affixes konfliks or join a form of words, ie konfiks or word-forming affixes join a nature to change the word class. Examples of plural derivational affixes.
1) all combined with an adjective such as:
-Into-an + white = white (noun)

-into-an honest + = honesty (noun)

+ to-peaceful-an = peace (noun)
2) per-an incorporated with:
a) verbs such as:-point+-per-an  = show (noun)

-per-touch + an = contiguity (noun)

-a-bath + an = bath (noun)
b) adjectives such as:

-per-length + an = extension (noun)

 + short-per-an = shortening (noun)

-a-an + peace = peace (noun)
3) coupled with an opinion:
a) verbs such as:

 pen-down +-an = decrease (noun)

-shoot + shooting pen-an = (noun)

-pen-an + transport = transport (noun)
b) adjectives such as:

 pen-round +-an = rounding (noun)

+ short-Pen-an = shortening (noun)

-pen-an + green = green (noun)
4) Men’s combined with:
a) noun eg:

-book download + a = to record (verb)

-to-right image + = describe (verb)

 cover-to-right + = menyampulkan (verb)
b) adjectives such as:

long-to-right + = elongate (verb)

-to-right + close = close (verb)

-to-right + white = whiten (verb)
c) number words such as:

-one + Men’s = unify (verb)

-to-right + two = double (verb)
5) Men-i combined with:
a) The noun for example:

fur +-to-i = plume (verb)

-to-skin + i = flay (verb)

-to-letter + i = write (verb)
b) adjectives such as:

-close to i = + close (verb)

-awe-i = + to admire (verb)

-to-i + anger = angry (verb)
c) adverbs such as:

-have-i = + to finish (verb)
6) treat combined with:
a) said objects such as:

– treat + slave = enslave (verb)
b) adjectives such as:

– treat + beautiful = embellish (verb)

 – treat + beautiful = beautify (verb)

– treat small + = memperkeci (verb)
7) shows the adjective coupled with
For example:

-many + treat it = augment (verb)
8) treat-i combined with an adjective
For example:

-good treat + i = fix (verb)
9) was not coupled with
a) noun
For example:

 Image+-ter a = undefined

-ter his spittle + =  terludahkan

-market was a = terpasarkan
b) adjective
for example: 

ter-forgot-forgotten-

regret it = was a = + tersesalkan
10) was coupled with i:
a) noun
for example:

 image+-ter-i = tergambari

-ter-i + spit = terludahi
b) adjectives such as:

-close to i =  was + ill

unapproachable-ter-i = hurt
12) were not combined with a noun
For example:

air-base + the + = on-husbands were married to-cover right = a + air = bersampulkan
13) in the combined with:
a) noun eg:

-images + in the + spit = portrayed-in-my-land

diludahkan + = in the = landed
b) adjectives such as:-in the missing + = omitted

 +-wide in the dilated-low = + = denigrated in the
14) in-i combined with:
a) noun eg:-

prize + at-i = rewarded

-in-water + i = irrigated

b) such adjectives: fun + at-i = + in the groove-far-i = shunned

 

 

 

 

 

 

 

CHAPTER IV

FORM INFLECTIONAL

A. inflectional
Is inflectional constructions occupying essentially the same distribution (Samsuri, 1980). Affix-inflectional affixes that form is to hear the word, had the words ran, including the words up, pen-on said tiller, in-on says beaten,-i in the word write on, get out the word, the word’s oceans.

B. Affix Formator inflectional
Formator affixes are affixes that form words, affixes, ie affixes, word-forming affixes that nature does not change the class affixes kita.Contoh formator:
1) to be combined with a verb
For example:
– To + hear = hear (verb)
– Men-at = + hit (verb)
– To + rock = compose (verb)

2) were combined with a verb
For example:
– Air-ran = ran + (verb)
– Air-play + play = (verb)
– Air-boxing + boxing = (verb)

3) was combined with:
a) verb
for example:
– Ter-+ lift = lift (verb)
– Was sold = sold + (verb)
– + Was trampled underfoot = (verb)
b) adjective
for example:
– Too high + highest = (adj)
– Was + beautiful = beautiful (adj)
– Too long + = longest (adj)

4) Pen-coupled with a noun
    For example:
– Pen-+ fields = tiller (noun)
– Pen-+ hook = fisherman (noun)
– Pen-drill + = borer (noun)

5) is coupled with a verb
    For example:
– At-+ at = hit (verb)
– At-+ stab = stab (verb)
– At-+ poked prodded = (verb)

6) – i combined with a verb
    For example:
– +-I = write write on (verb)
– +-I = unplug cabuti (verb)
– +-I = kiss kissing (verb)

7) – it combined with a verb
    For example:
– Take + a = fetch (verb)
– Shoot + a = shoot (verb)
– Go + out = insert (verb)

8) – an incorporated with the noun
    For example:
– Hair +-an = rambutan (noun)
– Sea +-an = ocean (noun)
– Mushroom +-an = moldy (noun)
C. Affix Compound inflectional
Konfiks or plural affixes are affixes that join to form the word, namely konfiks join forming words and affixes that nature does not change the class of plural affixes kata.Contoh:
1) to an incorporated with the noun
for example:
– + To the sultan’s empire = (noun)
– + To the king’s = kingdom (noun)
– + To the headman’s village = (noun)

2) per-an object instance coupled with the words:
– + Per house-an = housing (noun)
– + Fish per fishing-an = (noun)
– Ground + a-an = land (noun)
3) an air-coupled with a verb
for example:
– At + air-an = berpukulan (verb)
– Run an = + air-ran (verb)
– Bumper + air-brushed an = (verb)
4)’s pen combined with a noun
For example: – the pen-name + an = naming (noun) – the tomb of + pen-an = funeral (noun)
5) Men’s combined with a verb
For example:
– + Work to do = do (verb)
– + Men’s plunge = plunge (verb)
– Gunshot to right = + shoot (verb)
6) Men-i combined with a verb
For example:
– Pull the Men-i + = pluck (verb)
– To kick + i = kicked (verb)
7) shows a verb combined with
For example:
– Debates + debating treat it =
– Grab + = treat the fight
– Appoint a treat + = showcase
8) was not coupled with a verb
For example:
– Bolsters the ter + = tergulingkan
– It was explained + = decomposed
– + Ter falling out = terjatuhkan
9) was coupled with a verb i
For example:
– And + ter-i = terlalui
– Through ter-i + = elapsed
10) in combination with the verb
For example:
– On the fly + = flown
– Throw in a + = cast
– In the fall + = dropped
11) in-i combined with a verb
For example:
– At + at-i = beaten
– Unplug + at-i = uprooted
– Kick + in-i = kicked

 

 

 

 

 

 

 

CHAPTER V

CATEGORY WORD IN INDONESIAN

A. Category verbs
Verbs can be known through the semantic and syntactic behavior as well as form morfologisnya. In general, verbs have the following cirri.
A. Verb functioning as a predicate or predicate sentence core, such as
(1) a, morning – the morning once they’ve run around the field.
b, We’re playing ball.
c, bombs exploded in Kuta.
Running, playing and exploded in the example above serves as a predicate; word play on’re playing is at the core predicate. Other verbs can also function outside the predicate.
B. Inherently, the word verb meaning “deed (action), process, or condition that is not the nature or not the quality”
C. Verb which means the state can not be given a prefix ter -, to express the meaning of ‘most’. Thus, there is no “terhidup”, “termati”, and “conk”.
D. In general, verbs can not be joined with the word extreme pointer. As a result, forms like: A little shower, so take it or cry while, it becomes unacceptable.
.. Behavior of verbs semantically

Each word has an inherent behavior (meaning contained in it). Verb to eat or bathe, for example inherently implies the act, which usually can answer the question “What happens on the subject? The answer: he was in the shower “. Similarly, the “Singing, learning approaches, steal and pull” (also contains deeds), for example, horse pull the load and Jamie diligent chanting.
Process verbs indicate a change from one state to another, such as yellowing indicates a change from yellow to yellow yet. Another example is the verb to die, die (happened only once, usually sooner), falls, rises, falls, flood, drying, burning, smaller, stranded, and swollen.
Listen verbs, for example, implies the existence of the element of intent. So, he listened to a speech meant he deliberately listen to the speech. But He heard means that he heard (though not intentionally) because anyone who is not deaf he would hear. verbs, such as hearing, seeing, you know, forget, remember, recognize, and feel, quite the experience verbs (the subject is experiencing a change in the mentioned verbs).
Verbs can experience affixation, resulting verbs have additional meaning. For example, the presence of the suffix – right on the verb open and gives cause verb open means open to others and give meaning to give to others. Additional suffix – i on the verb take take, resulting in picking means picking more than once. and prefix – meaning tar on display are drawn inadvertently take.
Syntactic behavior of verbs
Verbs are the most important element in the sentence because verbalah which establishes another element that must, should or prohibited is present in the sentence. Verbs take, for example, requires the present subjects (actors) in front of and forbids any objects behind it, but picking requires the present subjects (actors) and objects. Syntactic behavior is closely related to the meaning of verbs ketransitifan.
Ketransitifan
Ketransitifan determined by nouns verbs contained in the back of the verb (as the object of an active sentence). It may be the subject noun (when the sentence pacified). Therefore, verbs consisting of transitive verbs (which can be pacified) and verbs taktransitif (which can not be pacified). Taktransitif there are prepositional verbs and some do not.
Transitive verbs
Transitive verb requires a noun as an object (in the active voice) and it may be subject (in the passive voice). Such as:
(1) a, Bi Minah was washing dishes.
b, The people longed for a fair and honest leadership.
c, Pak headman prohibits littering citizens.
washing, missed, and banned in the example above is a transitive verb for each – each followed by a noun (the plate and its citizens) or a noun phrase (the leader of a fair and honest) that serves as an object, which can be the subject when the sentence was pacified, such as:
     (2) a, the dishes are being washed by the Bi Minah. b, a fair and honest leader sorely missed by the people. c, Pak Lurah Citizens are prohibited from littering.
Verba Taktransitif
Taktransitf verb has no noun behind it (which would otherwise be the subject of the passive voice).
     (1) a, I’m sorry, little brother, my son was in the shower.
b, we must work hard to achieve dreams – dreams.
          c, farmers planting corn and cassava.
Verbs bath and works in the example (1a, b) above is a verb followed taktransitif Karen atidak nouns as objects, while verbs raise in the example (1c) followed by a noun maize and cassava but the open object noun, but rather a complement (the noun can not be womanly subject when the sentence was pacified). By Karen called it betanam taktransitif verbs.

Here are examples of transitive verbs and verbs taktransitif:
examples of verbs ekatransitif: approve, carry, buy, prove, work, mmepermainkan, spend, try and fix.
a) Example dwitransitif verb: to bring, buy, find, fetch, delegate, memenggil, accusing, send, call, and dub.
b) Examples of verbs semitransitif: eating, drinking, writing, watching, listening and reading.
c) Examples of intransitive verbs taktransitif: stand. Verdant, benighted, sit, run, sink, go, get better, surprise, come, worse, terkicuh, cold, rotting, and arise.
d) Examples of intransitive verbs taktransitif mandatory: the fall, based on, finds, loses, based on, the view (that) merukan, notice, bersendikan, (that), and the like.
e) Examples of intransitive verbs taktransitif arbitrary: roofed, gained, discovered, valuable, shirts, patterned rain, stop, painted, stolen, clothes, walls, door, Mersa, fenced.
Prepositional verbs.
 Taktransitif prepositional verb is a verb which is always followed by certain prepositions, such as:
Will not know / about it                                  talk about agriculture
Interest in the arts                                           depends on the activity
Love on the ground water                              will love truth
Remembering the love                                    thought of his parents
Likes to be liked by the beauty                       of cleanliness
classified in two groups of relatives               decide
fond memories / on                                         consists of two views
occur from ….                                                  Made of
In accordance with existing regulations         sorry for do
In connection                                                  with the related
Similar to                                                         talk about
Preaching about                                              getting into (in)
Exit to / from                                                  the left to / from
Coming to / from the                                      view to / from
Coming to / from                                            similar
In line with                                                      the conflict with
Level as                                                           opposed to
Faced with a                                                   discussion about

Among the prepositional verbs that have the same or nearly the same meaning with a transitive verb, such as:
Talking about                                                  talking
In love / will                                                    love
Like will                                                          love
Tabu will / about                                             knowing
Meeting by                                                      meeting

In in its use, it is often found two kinds of errors, first, the use of transitive form by maintaining proposition.

B. Category Adjective
Characteristic Adjective:
The function of adjectives in the sentence is to give more specific information about something that is expressed by the noun (a noun attribute for). Attribute can be either captions or descriptions regarding the quality or the membership, for example: a small, sincere, honest, heavy, red, round, and the occult. In a small house, a sense of genuine, red shirt, round table, the unseen world.
Predicative adjective or adverbial function. Predicative and adverbial function that can refer to a state, like, drunk, sick, wet well and conscious. Such as:
(1) a, Maybe he was drunk.
b, The sick were already beyond help.
c, He wet rain.
d, Anna May work well.

Adjectives can be used to express the level of quality and level of comparative reference noun He explained. Rate the quality affirmed, among other things, to put it very and somewhat (which is placed in front of adjectives)
Behavior semantically Adjective
There are two main types of adjective class (disclosure quality) and ajdektiva no class (something disclosure of membership in the group). The difference is related to whether or not an adjective may express the degree of quality and level of appeal.
Adjective Level
Adjektifa class consists of:
(1). Pemeri trait adjectives.
(2). Size adjectives.
(3). Color adjectives.
(4). Adjectives the time.
(5). Adjectives distance.
(6). Adjectives mental attitude.
(7). Adjectives perception.
Semantically, the seventh category boundary is not always clear and often overlap. However, secra morphological differences seen in the decline.
non level adjectives.
Adjective noun reference diwatasinya takbertaraf cause inside or outside the group or certain groups. The presence of adjectives that can not be world class standard of reference so that the noun should be inside or outside the group.
C. Category Adverb
Adverbs are at the level of phrases and clauses. At the level of phrases, adverbial function describes verbs, adjectives, or other adverbs. At the level of adverb clauses mewatasi or explain the function syntax. Word or part of the sentence which he describes in general serves as a predicate. However, adverbs can also explain the nature of the word or phrase that is not the predicate. As a result, a number of adverbs can describe noun phrase or preposition.

BEHAVIORsyntacticadverb

1) that precedes the word Adverb described, for example:
 Ialebih strapping and more handsome than his brother.
 Ranau Lake was very beautiful.
2) Adverb yangmengikuti words described, for example:
 Nian beautiful village girl who was friendly.
 We just take it menunggum calm presence.
3) Adverb that precede or follow the words described, for example:
 Jokes the young man was very funny.
 It turned out very funny joke that young.
4) Adverb that precede and follow the words that described, for example:
 Police believe he’s just not the mastermind of the theft.
 That I reached it, for me something very unusual at all.
d. category of noun.
Limits and characteristics of nouns
Noun (noun) can be viewed in terms of semanatis, syntax and form. In terms of semantic noun is a word that refers to humans, animals, objects and concepts or understanding.

Forms of Nouns
Nouns can be either basic words and derivative words. Noun derivative produced through affixation, looping, or compounding.
Basic nouns: berujud on one morpheme, the noun base consisting of basic nouns and common nouns specific basis
  Noun derivatives: produced through affixation, looping or compounding. The thing to remember is that the word is a derivative that is not necessarily derived from the base.

The linkage means to be the basis for determining the source so that nearly every noun derivative has its own sources. It is not easy to determine which is the source verb nouns decline. Generally, the source is a verb or a noun derivative adjectives, but there are also nouns derived from other categories because it has no verb nouns.

 

Chapter VI

Writing Personal Names and Name Type

Name of Self
Proper name (proper name) are used to name people, places, or things, including the concept or idea. The name itself does not have superordinat (no longer proper name under it). A proper name has always stood alone.

The Names Have Yourself

The name of God Self
According to the rules of spelling, proper name of God, including the elements, written in capital letters. Details behind the proper name of God and change God’s word is written with capital letters.

Name of Self Persona
This paper classifies the person’s name, name themselves prophets and apostles, angels proper name, proper name of gods, demons proper name, the name of the devil himself (if the devil had a name), and so on.
There are no rules of writing proper names prophets, apostles, angels, gods, demons, devils, and so forth, but in the example of these names are always written with initial capital letters.

Name of Self-Related Calendar
Important event, year, month, day, date, and time has a proper name. According to the Pedoman Umum EYD, the name, including the elements, written with initial capital letters.
Typical Geographic Objects
Planets, continents, islands, mountains, straits, seas, oceans, bays, rivers, lakes, hills, and valleys can have a proper name. The name itself, including its elements, is written with a capital initial.
Writing the name of the typical urban geography in the form of the name, basically, is written in a word or series, except those consisting of three or more elements of the form and direction of the wind.
Distinctive geographic name that uses the local language is written in accordance with its original name, not because there Indonesianized consideration history, origins plentiful, or distinctive cultural local regions.


Name Objects

Animate Objects
Which includes inanimate objects (animate) is a human being and animals. Good man, animals, and plants can have a proper name.
The name of the person so dependent on intent, purpose, tradition, or indigenous culture in that place. Behalf of animals is not related to the names of animals, but can be a epithet.

 Lifeless Objects
Which includes lifeless objects, such as religion, scripture, and the flow of trust, documents, magazines, newspapers, the name of the program, meeting, place and / or public facilities, organizations institution , societies, nations, tribes, languages, villages, towns, region and so on., royal, state. Lifeless objects can have a proper name.

Type Name
It is rather difficult to distinguish the type name (nomenclature) and proper names (proper name) very well. In the text, for example on legal products and official letters, spelling the name of the type often blurred by the spelling of the name itself. There tendency something that is considered valuable, charismatic, revered, respected, and so on. written with capital letters. In fact, spelling and belief are two different things.
Animals and plants can be grouped hierarchically based similarity nature and / or traits in between animal or plant, such as species, genus, subclass, etc..
Name type is a noun (noun) which designate any member in a class of entities in lifeless or living, or in a class of entities in lifeless.
The name of the type in the Indonesian language can be divided in the name of the type of natural objects (animals, plants, diseases) and the names of objects processed. According to the Pedoman Umum EYD, names of natural objects are distinguished as follows:
a. according binominal system,
b. follow the rules of Indonesian Improved Spelling (without the name of the place or the name of the typical geography),
c. follow the rules of Spelling Improved Indonesian (place names including the name of the type).
Name the type of processed objects can be divided into:
a. name does not include the type of place names (written with small initial letters),
b. include the name of the type of place names,
c. types include the name of the person’s name.

Type Name Not Natural Objects
Name the kind of thing is not natural (lifeless object), for example, type the name of the position, type the name of the rank, name of the type of degree, name of the type of profession, type the name of carpentry tools, stationery type name, the name kind of processed herbs, natural herbs species name, name of the type of house.

Morpheme
Morphology familiar with the basic element or smallest unit in the observations, the smallest grammatical units are called morphemes. As the smallest unit, morphemes can not be split up into smaller sections, each of which contains the meaning. The smallest word that implies the existence of a large satuangramatikallebih of the morpheme. Unit also known as words, phrases, clauses, and sentences. Morfemmenjadi part pembentukatau gramatikalyang constituent units larger.
     Morpheme dapatdikenal repeated occurrences. In practice, morpheme diitemukan in the street to compare the units of speech that contain similarities and contradictions, namely equality and the opposition in the form and in meaning. If the word
1) Carried,
2) Taken,
3) Stolen,
4) Supported
Compared with the words
5) Take
6) Bring
7) Steal
8) Support
First of all will look the same forms fonemnya arrangement, namely / in /. Second, the meaning which distinguishes taken by participating in the pair are also portable, stolen, stole, and supported-support. In other words, / in / have meaning. Form / in / it can not be split up into smaller meaningful parts. By comparison, as above, the position / in / as a morpheme for a while considered to be proven.
By comparing the
9) In Enarotali
10) In Fakfak
11) In Gorontalo
With
12) Enarotali
13) Fakfak
14) Gorontalo
It will be seen also shape the composition of the phoneme / at / meaningful. From the comparison morpheme is also obtained in the form of / in /. However, it soon will be seen that / at / contained in the captured, taken, stolen, and has supported a distinctly different meaning from the meaning of / in / is contained in the Enarotali, in the consortium, in Gorontalo. Second / in / to be seen from two different morphemes. To distinguish the two morpheme, it can use numbers such as {} and {di1 di2}.
From the above examples of morpheme recognition, it appears that the job was easy to do. Examples discussed were an observer of his own language or languages ​​of controlled observer.
Morpheme or allomorph
Morpheme is the unit outward manifestation of an abstraction or fonologisnya form. Phonological form of morphemes regarded as a member of the moorfem.
     Most of the morpheme has the outward form which remains in any place, while others are different from the outward form if different place.
     Based on the above, it can be in saying that, for example, {was} has three allomorph, namely / bər / (in the meet, running, etc.), / bə / (in the works, along with etc.), / bə / (in learning).
     It may be now in saying that every morpheme has at least one allomorph. Allomorph allomorph-occurrence of a morpheme seems to follow certain requirements.
Types of morphemes
Morpheme can be differentiated by type by some measures.
     Morphemes can also be classified according to the likely stand as a word. Morphemes like {in} and {her} under this classification are called bound morphemes, karen neither can stand alone as words, but always there along with other morphemes.
     Phonemes are arranged by type, known segmental morphemes, morphemes suprasegmental and segmental-suprasegmental morphemes. Morphemes like {view}, {person}, {ter}, and {is} is a segmental morpheme.
Burmese, Chinese, and Thai languages ​​are examples of segmental-suprasegmental bermorfem. Different words meaning expressed by the same segmental form. Example;
Muɳ {} ‘to give the roof; mengerumunnya’
MÛɳ {} ‘leading to’
[Múɳ} ‘kelamba’
Segmental and suprasegmental elements together form the third morpheme above.
Formal relationship morpheme parts can also be used as a measure of classification. In this classification there are morphemes intact, such as {ter}, {person}, {see}, {any}, which is part of the formation is not continued.
The difference between a single morpheme by morpheme that others can also be reviewed based on the number of phonemes that shape it.
{I} a phoneme
{To} 2 phonemes
{I} 3 phonemes
It should be noted that many linguists believe that in some languages ​​there is a morpheme that one of its members do not have the phonological shape of allomorph allomorph as it is called zero, blank or zero.
15) I have a book and
16) I have two books with
17) I have a sheep and
18) I have two sheep;
Or
19) They call me Rambo and
20) Rambo They Called me with
21) They cut the grass (every Saturday) and
22) They cut the grass (last Saturday)
From the comparison between (15) and (16) with (17) and (18) obtained the following comparison
Book: books = sheep: sheep = singular: plural
Because the books consist of two morphemes, sheep in the example (18) was composed of two morphemes.
Morphemes can also be distinguished according to the kinds of meaning. There is a class of morphemes that have a sort of basic meaning.
Morf
Each has the smallest form of meaning, which is not or has not been discussed in relation to membership of a morpheme, called Morf. If Morf has been viewed as a member of a particular morpheme, Morf is now located as allomorph.
It appears that the actual Morf and allomorph are two names for the same form. Different Penemaan was meant to show different levels of analysis. If the form is not associated with a particular morpheme, being named Morf.
Morpheme and word
The meaning of this word in the talks is free of the smallest grammatical unit.
One example is the morphological process of affixation pengimbuhan atua. The addition of affixes can be done up front, in the middle, behind, or in front of and behind the base morpheme. Affixes are added in front is called the prefix or prefixes; that in the middle called the insertion or infix; that in the back called the suffix or suffixes.
Examples
Prefix said
                             Feel
                             Sense
                             Feeling
                             Isolated
Infix serrations
                             Rumble
                             Gelosok
Suffix write on
                             Writing
                             Write
The following morphological process called internal additions, changes to internal, or internal modifications. Additions or modifications that occur within a framed fixed base morpheme.
Morphological process, as prosesyang change the shape of words, give a certain grammatical position to form a word which, especially in enabling it plays a role in the marking kalimatatau sintatik relationship.
Inflection change the shape of a word to define its relationship with other words in the sentence.
23). . . are nuisance and
24) I saw many. . . in the hall
However, it may be in an environment such as
25). . . is nacessary and
26) I saw a. . . in the hall
Derivation process of turning a word into a new word.
There is a productive morphological process and there are not productive. Morphological process is called productive if the process can be run in the formation of new words. Affixation in Indonesian in general is productive.
Grammatical morphemes and Meaning
In the section titled “Types of morphemes” in this chapter has been pointed out two classes of morphemes based on the kinds of meanings; morpheme with a lexical meaning dam grammatical morphemes with meaning.
Actually, not only morphemes are affixes that have grammatical meaning. Morphemes like to, or, but, it, for, the, and and – the so-called particle or word task also has a grammatical meaning alone.
Various grammatical meaning. Different languages ​​using a variety of different words and colors. The following examples in meaning and expression.
27) Dian was working there.
28) Dian is working there.
29) Dian worked there (yesterday).
30) Dian worked there (yesterday).
31) Students should learn.
32) Students must study.

a. Number of. Many languages, including English language, which distinguishes the category Single and multiple categories. Written beside the familiar category of singular and plural categories. For example,
Moslem ‘(a) Muslim’
Muslima; ni ‘two Muslims’
Muslimu; na ‘Muslims’
b. Type. Preformance several languages, affixes on nouns or adjectives indicate whether the word in question Uncategorised masculine or feminine or netral.contohnya;
(Masculine) Kabi; run ‘large’
(Feminine) Kabi; ratun
c. Owned. In some languages, the meaning of ‘property’ is expressed by affixes. There are markers in Indonesian mine, yours, his. For example; shoe father.
d. Kala. Time of occurrence of an act now, not long ago, will come, and so on – in several languages ​​is expressed by affixes. Note, for example, the affix-ed and-ing in English.
Walk / walks have Walked Walked be walking
Talk / talks have talked talked some talking
e. Aspects. Aspects related to the kinds of actions. No question the place and time. Known as the categories of meaning kontinuatif (stating that the action continues), progressive (in progress), inseptif (just starting), sesatif (is over), and repetitive (repetitive).
f. Diathesis. Diathesis menggamberkan relationship between the perpetrator to act. Among other kinds of diathesis is active (subjects who did), passive (subject to deed the purpose), reflexive (subject acting on itself), reciprocal (more than one subject which do berbalasan), causative (the perpetrator was the cause actions), and transitive ( maker aims)
g. People. Meaning as the first category (the speaker), second person (the listener or listeners), and a third person (discussed). Data from the swahili language (Africa) and specify the following person affixes pointer;
Wamempiga ‘they had hit him’
Tumempiga ‘we’d hit’
Nimempiga ‘I’d hit’
h. Mode. Mode of action illustrates the atmosphere of a psychological thing as interpreted by the speaker. Among the various modes are indicative or declarative mode, which shows the attitude of objective or neutral; optative, showing hope; interrogative, said the statement; conditional, stating REQUIREMENTS occurrence of the act; and imperative, stated the order.
The example in the Javanese language:
Tulisen ‘write’
Bakaren ‘burn’
Simpenen ‘save’

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Putrayasa, Ida Bagus. 2008. Kajian Morfologi. Bandung: Rafika Aditama

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

bahan seminar STKIP Jombang

 

 

Modern Techniques in English Language Teaching

 

Bambang Yudi Cahyono

State University of Malang, East Java

 

 

INTRODUCTION

 

One of the determinants of success in the teaching of English is the teaching technique used in the classroom. According to Anthony (1963, cited in Richards & Rodgers, 1986: 15), “technique” refers to something in the classroom which is “implementational.” More particularly it refers to “a  particular trick, strategem, or contrivance used to accomplish an immediate objective.” Thus, when a teacher uses a particular way to teach English so that the students can achieve the objectives of the teaching, he or she applies a particular teaching technique.

            This paper presents modern techniques in English Language Teaching (ELT). The word “modern” is understood as recent or current or up-dated in accordance with the trends in the development of language learning theories and information and communication technology, especially the Internet. This paper focuses on the application of techniques based on the development of Information and Communication Technology (ICT), especially the Internet, for the teaching of English language skills (listening, speaking, reading, and writing). Principles of cooperative learning will be implemented in the interactive process of teaching and learning in the English classroom.

 

1.  VARIOUS INTERNET-BASED RESOURCES FOR THE TEACHING OF ENGLISH

 

            There are a great number of Internet resources. Among other Internet resources, some will be mentioned briefly in this section. A book entitled Teaching English by Using Internet Resources (Cahyono, 2010) show how various Internet resources can be used to teach English. Some of the chapters are Internet Games (Fitrianto), Online Thesaurus(Sholichatin), Online Magazines(Satori), and Wikipedia (Wardani), Internet Vocabulary Resources(Indriati), Podcasts(Puspitasari), and YouTube(Marti), WebQuests(Cahyono), Facebook (Sahdan), Webblogs (As’ad),Discussion Board (Sholihah),and Virtual Classroom(Samsuli). Table 1 shows the chapters on the 12 Internet resources that can be used to teach English.

 

No

Title of Selected Chapters

1

Using Internet Games to Teach English

This Chapter highlights the use of Internet Games. Internet Games may be played not only for fun but also for learning. This Chapter also shows some Internet Games that can be used for these purposes, the advantages of Internet Games as a way for learning, and the procedures in using Internet Games for the teaching of English.

2

How to Use an Online Thesaurus to teach English

This Chapter discusses how to use an Online Thesaurus to teach English. This Chapter shows that an Online Thesaurus is useful not only for searching synonyms of words, but also for enriching classrooms with several other features such as “Word of the Day” and “Question of the Day”.

3

Teaching How to Write Descriptive Texts Using Online Magazines       

This Chapter shows that some magazines articles from the Internet can be used as samples of material to teach English writing by giving students the tasks on how to access the data on the Internet, complete the table of information, and write a text based on the information. Online Magazines contain linguistic features that can be advantageous as resources for teaching English.      

4

The Use of Wikipedia as a Resource to Teach English

This Chapter presents the use of Wikipedia to search for educational materials in teaching English. Based on the advantages in using Wikipedia, this Chapter suggests that the application of Wikipedia can help teachers of English in Indonesia to motivate students in learning English.

5

Using Internet Vocabulary Resources to Improve English Vocabulary 

This Chapter describes Internet vocabulary resources that can be used in the process of teaching English. It discusses vocabulary materials related to the daily context. This Chapter also guides students to pronounce the words correctly and understand the meanings, gives follow up activities to maintain their understanding, and assigns the students to utter some words related to things or actions that have been discussed around them.

6

Using Podcasts as a Source of Materials for Teaching Listening

This Chapter discusses Podcasts, digital media files (either audio or video) that are released episodically and can be downloaded through the Internet. Podcast websites are useful as resources for materials. In this Chapter, a sample material is presented and some procedures in using a Podcast to teach English are outlined. This Chapter attempts to convince that the use of a Podcast as a source of material can help students learn English as well as motivate them to learn English better.

7

Using Video Materials from YouTube to Teach English

This Chapter presents YouTube, one of the Internet resources that contain enormous numbers of video contents, which are exploitable in the classroom. It also explains some procedures of teaching English by using YouTube and displays pictures of how to teach simple present tense in English.

8

Helping Students Learn English Using WebQuests

This Chapter explains the use of WebQuests to help students find information by visiting some designated websites. By having WebQuests as a tool of learning online, the teachers can save the students’ time in searching for information and train the students to have purpose in searching information from the Internet.

9

Using Facebook to Teach English

This Chapterprovides some tips in using Facebook to teach students to write English texts. Focusing on the attractive feature of “Profile” in Facebook, this Chapter exemplifies how using teacher’s Facebook account to involve students to learn English. With its popularity in the cyber world among teenagers as well as adults, Facebook is believed to attract students in exploring the features and in giving comments to classmates’ updated status.

10

Using Webblogs to Teach English   

This Chapterpresents the use of Webblog to teach writing in English. Webblog supports writing activities by providing opportunities for drafting, giving feedback, revising, and publishing writing, all of which can be useful as tools for teaching English. Besides, Webblog is more likely to encourage educators to promote writing skills through student-published blogs that by inviting comments from other people. This Chapter also outlines the procedures in using Webblog to teach students to write in English. It ensures that the application of Webblog in English teaching and learning process will increase the students’ English learning motivation and improve their ability in writing.

11

Making English Learning Fun Using aDiscussion Board

This Chapter highlights a Discussion Board. A Discussion Board is an asynchronous communication tool that allows one individual to post a comment or question online. Other individuals who are members of the same Discussion Board may read that comment/question, and respond to online postings with their own remarks over time.

12

Teaching English in Virtual Classroom

This Chapter discusses the teaching of English using Virtual Classroom, a teaching and learning environment employing the computer-mediated communication system. Based on the belief that Virtual Classroom is effective for both individual and interactive learning of language, this Chapter suggests English teachers to use this facility as it offers not only information and resources from websites, but also interesting audio and visual tools.

 

 

2.  THE USE OF YOUTUBE VIDEO MATERIALS FOR TEACHING ENGLISH LANGUAGE SKILLS

 

Many English language learners have been familiar with stories and story-telling activities. In their childhood, they listened to stories which were told or read by members of their family. When they already had the ability to read, they began to read stories on their own. Because stories are close to students’ everyday life, it is important to bring stories to English classrooms.

In English classrooms, teachers may tell or retell stories using different techniques. Examples of these techniques includes “story experience” (students respond to concrete words by acting them out), “spinning stories” (students standing in a circle take turn continuing a story), and “finish the story” (students complete an unfinished story orally or in a written form) (Richard-Amato, 2003) . They may also tell stories with the help of instructional media such as still pictures, stick figures, flash cards, picture books, wordless picture books, picture series, big books, narrative scaffold, overhead projector, and puppets. Occasionally, they just play stories from tape-recorders, video-cassette recorders, compact discs, or CD-Roms. Currently, with the development of Information and Communication Technology (ICT), especially the Internet, teachers may present stories published in one of the most popular video-based Internet sites, YouTube.

YouTube contains digital video-based materials. Materials in YouTube can be visited and watched either online or offline in the classrooms. The web page of YouTube is located at www.youtube.com. Due to its nature as a public domain, video-based materials uploaded in YouTube are the results of video-recording in various types, topics, and languages. This paper focusses on a particular type of materials from YouTube, that is English animation stories. YouTube stores a lot of animation stories which are useful for the teaching of English. Stories in YouTube can be accessed by writing the keywords of the intended stories in the YouTube searching engine (indicated by a horisontal bar in which keywords can be written) as shown in the following.

 

 

 

Keywords can be in the form of the titles of expected stories (e.g., The Fox and the Grapes or The Frog Prince), or the famous character in a series of stories (e.g., Winnie the Pooh or Mouse Deer), or the name of the collections of the stories (e.g., Disney Animated Storybook or Kids Animation Stories).

            English animation stories from YouTube can be used for teaching English in a great number of ways. The very basic activity is to play an English animation story video and to ask the students to watch it as an end-of-the-day activity. In this case, although the video material seems to be considered merey as an entertaining activity given following an instruction, it can expose the students to an authentic use of English, that is, English for storytelling. English animation stories such as Cinderella, Snow White and the Seven Dwarfts, and The Frog Prince are some of the examples of English animation stories suitable for this purpose. Fairy tales such as these are easy to understand and many of the students have been familiar with these kinds of stories.

While almost all of the English animation stories can be played merely as a storytelling means, English teachers may use video-based stories more creatively by using them as part of the main teaching activities or as the main activities in English classroom. In the following, some ways in using of English animation stories for teaching integrated skills (combination of more than one of the four language skills, namely listening, speaking, reading, and writing) are explored by highlighting the focus of the instruction. These include using stories for building students’ English vocabulary, reconstructing a story, completing a story with partners, and understanding the moral of a story.

 

Building English Vocabulary

An English animation story can be used as an instructional medium to teach students integrated skills which entail the improvement of their vocabulary size. An example of this activity is shown by Agustin (2011). In this case, the video of the story is shown to the students as a pre-teaching activity. Then, in the whilst-teaching activity, the students are given a reading text based on the transcript of the story. Using the reading text, the teacher leads a class discussion and then asks the students to work on a vocabulary exercise and to answer some comprehension questions. Agustin used an English animation story entitled The Whispering Palms taken from “Bookbox” collection in YouTube.

 

Reconstructing a Story

            Reconstructing a story is one of the interesting activities that can be done after the students watch the video of a particular story. To help the students remember the plot (the generic structure) of the story played, the students may be given some pictures taken from the video. The pictures should be given in a scrambled order and the students are asked For example, the students are given jumbled pictures taken from Goldilocks and the Three Bears taken from “Children’s Animation” collection in YouTube. In pairs or in groups, ask the students to order the pictures so that the pictures represent the correct orders of the events in the stories. Check the results of the ordered pictures of the students and correct if they are incorrecly ordered. Then,  ask the students with their partners or other group members to reconstruct the story either orally or in a written form. Finally, one or two of the students may be ask to retell the stories in front of the class by bringing the pictures that have been properly sequenced.

 

Completing Stories with Partners

            Another way to deal with an English animation story is to ask the students to complete an incomplete story. For this purpose the students can be divided into two big groups. One group of the students are ask to go outside the classroom, and the first half of the story is played to the students in the second group who stay in the classroom. Once the students in the second group has finished watching the first half of the story, they should be asked to go outside the classroom. Meanwhile, the students in the first group who have been outside the classroom are asked to go into the classroom to watch the second half of the story. After the students in the first group watch the video, the students of the second group who have been outside the classroom to go into the classroom to meet their partners from the first group. Then, the students who have understood the first half of the story should share what they understand to the students who have watched the second half of the story, and the students who have understood the second half of the stroy should share that part to the students who have watched the first half of the story. By listening to the parts of the story shared by their partners, the students will be able to understand the complete story. A story entitled The Wise Son from “Animated Stories in English” collection in YouTube can be used as an example. The summary of the story is as follows:

 

The Wise Son

In the village of Mohanpur, there lived a farmer who pampered his little son Nandu and never let him do any hard work. However, the farmer’s wife became worried about her husband’s attitude and felt that they are not making their son independent. Days pass by where in the farmer becomes unwell and his only son Nandu does not take proper care of him. Nandu’s wife asked him to throw his father into the river or to bury him alive in the forest. In the following night Nandu put his father on his bull cart and brought him to the forest. Looking at his grandpa on the cart, Nandu’s son, Krisna, asked his father to allow him to go along with his father. In the forest, Nandu dug a pit and at that time Krisna asked him what he would do with the pit. Nandu told Krisna that the pit was to put Krisna grandfather so that he could take a rest in peace. Knowing the answer, Krisna asked Nandu to give him the tool to dig another pit to put Nandu when he gets sick. As a matter of fact, Nandu realized what he had done was wrong and he decided to bring back his father and to send him to the hospital for health treatment.

 

Understanding the Moral of a Story

            Another interesting way in using English animation stories is to ask the students to discuss the moral of a story. A story has a generic structure (story line) that contains orientation, complication, series of events in the complication, resolution and an optional element called coda. Coda refers to the lesson or moral that we can learn from a story. Coda may be presented as part of the textual element of the narrative text, or it can stay in the readers or listeners’ mind. Following activities based on video, the students can be asked to mention the moral of a story. An animal story (fable) usually has coda in the form of moral that we can get from the story. As an example, the video The Wolf in Sheep’s Clothing from “Kids Animation” collection in YouTube  can be played as a model. Then the students are asked to work with partners or other members of the group. The moral of the story The Wolf in Sheep’s Clothing is that “Appearances are deceptive.” For exercise, the video entitled “Foolish Crane” can be played and the students are asked to discuss the moral of the story.

 

3. THE TEACHING OF OTHER TEXT-TYPES

 

The teaching of English in Secondary Schools is based on genres or text types (Emilia, 2011). Out of a number of text types that should be taught to Senior High School (Sekolah Menengah Atas/SMA) and Vocational High School (Sekolah Menengah Kejuruan/SMK) students are Procedure, Explanation, and Exposition Texts. This course materials presents the nature of the three text types, and model materials. The presentation is grouped into the three text types: Procedure, Explanation, and Exposition Texts.

 

Procedure Text

            Procedure Text is a text that shows the readers how to do something or how to work on something. This text type is very common in everyday life. Some examples of this text type can be found in recipes, instructional manuals, and operational guides. Procedure text has a specified goal, generic structure (also called ‘organizational structure’) and linguistic features.

            Goal. Procedure texts aim to show how something is done in a step-by-step fashion.

            Generic Structure. A procedure text is usually composed of the following structures:

  1. Aim: This part states the aim of the writing.
  2. Materials and tools: This part informs the materias and tools that are needed.
  3. Steps: This part shows the procedures mentioned in a particular order. Usually, the sentences used in the step-by-step sequence are stated in the “imperative forms” or “command forms”.

Linguistic Features. Procedure texts are usually written in the following way:

  1. Showing the materials and tools needed.

For example: To make “STM” drink, a mug, a spoon, and a boiling pan are needed.

  1. Using action verbs and command forms.

For example: Prepare an egg, a glass of fresh milk and a spoon of honey.

  1. Using enumerative expressions.

For example: First, break the egg and remove the white part.

 

Explanation Text

Explanation Text is a text that explains how something happens or how a phenomenon is formed. This text type is very useful in order to provide understanding of a phenomenon that takes place in daily life. For example, this text type can be used to explain about lightning, tornado, or tsunami. Explanation text has a specified goal, generic structure, and linguistic features.

            Goal. Explanation texts aim to explain something or a particular penomenon.

            Generic Structure. An explanation text is usually composed of the following structures:

  1. a.      Phenomenon identification: This part identifies something to be explained.
  2. b.      Explanation sequence: This part shows the sequence of happenings with regard to the phenomenon being explained.

It is important to note that explanation texts can be in the form of “explanation sequence” (explaining how) and in the form of “consequential explanation” (explaining why). Explanation sequence shows a process, such as how a computer works and how a mountain is formed. Whereas, consequential sequence shows the reasons for a phenomenon, such as why the ozone layer is thinning and why iron goes rusty.

Linguistic Features. Explanation texts are usually written in the following way:

  1. Using generalized non-human participants.

For example: water, evaporation, computers, tornado, tsunami.

  1. Usually, using time relation in “explanation sequence”.

For example: First, then, following, finally.

  1. Usually, using cause-effect markers in “consequential explanation.”

For example: If …then, so, as a consequence, since.

 

Exposition Text

Exposition Text is a text that evaluates an idea or an opinion in the form of argument. Exposition text has a specified goal, generic structure, and linguistic features.

            Goal. Exposition texts aim to argue for or against an idea or an opinion and to provides reasons for the arguments.

            Generic Structure. An exposition text is usually composed of the following structures:

  1. Thesis: This part introduces the writer’s opinion or position.
  2. A series of arguments: This part shows a number of convincing arguments. In order to be convincing, an argument needs to be supported with facts, statistics, or quotations.
  3. Restatement or reiteration of the thesis: This part restate the thesis in different words. 

An exposition text may be written in five-paragraph essay, where the first paragraphs serve as the introductory paragraph, the second to fourth paragraphs are the supporting paragraphs, while thelast paragraph is the concluding paragraph. The first paragraph contains the thesis and the last paragraph contains the restatement of the thesis; meanwhile, each of the supporting paragraphs contains each of the arguments.

There are two kinds of exposition texts: “analytical exposition” and “hortatory exposition”.  “Analytical exposition” aims to argue that something is important or unimportant, something is good or bad, or something is right or wrong. “Hortatory exposition” aims to persuade someone (people) to do something. Sometimes, the former type of exposition is said to be about “something is the case”, while the latter one is about “something should be the case.”

Both types of exposition texts are common in an editorial rubric of a newspaper, in a political speech, an essay, a letter to the editor, and a debate.

 

Linguistic Features. Exposition texts are usually written in the following way:

  1. Focusing on a particular topic.

For example: the increase of oil price, the necissity to wear school uniform.

  1. Using “mental verbs”.

For example: In my opinion,I believe, I think, ….

  1. Using connectives.

For example:

The first reason is,the next reason is (temporal connectives)

However, on the other hand (comparative connectives)

Because, lead to, the consequence of (causal connectives)

Thus, therefore, all in all (connectives in concluding statement)

 

CONCLUSION

 

            This paper has presented three major issues: The teaching of English using Internet resources, the use of YouTube video materials to teach English, and the teaching of three text types – procedure, explanation, and exposition texts – in a sketchy manner, meaning that only the major principles are outlined. The application of the techniques and some model texts will be provided in the presentation so that they could be references in understanding the nature of the issues and how to apply them in the English classroom. When actually teaching students, it is expected that teachers use integrated skills of English and use more types of texts. More importantly, the students should not only be exposed to the model texts, but they also need to be guided in using the language teaching media and various activities to improve their proficiency in all English language skills.

 

BIBLIOGRAPHY

 

Agustin, K. N. I. 2011. The Use of Videos to Improve the Ability of the Eleventh Graders of Social Program 4 at SMA Negeri 7 Malang in Writing Narrative Texts. Unpublished Undergraduate Thesis. Malang: State University of Malang.

Cahyono, B. Y. (Ed.). 2010. Teaching English by Using Internet Resources. Malang: State University of Malang Press.

Emilia, E. 2011. Pendekatan Genre-Based dalam Pengajaran Bahasa Inggris: Petunjuk untuk Guru. Bandung: Rizqi Press & TEFLIN.

Hawkins, R. 1998. Learning Strategies. In K. Johnson & H. Johnson (Eds.), Encyclopedic Dictionary of Applied Linguistics (pp. 195-197). Oxford: Blackwell.

Richard-Amato, P. A. 2003. Making it Happen: From Interactive to Participatory Language Teaching (3rd ed.). White Plains, NY: Pearson Education.

Richards, J. C., & Rodgers, T. S. 1986. Approaches and Methods in Language Teaching. Cambridge: Cambridge University Press.